TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

Jumat, 05 September 2025

Suster Pertama dari Kampung Puntu

Ribuan Umat Menghadiri Syukuran Kaul Kekal dari Suster MARIA PAHUT, SASMP di Kampung Puntu.

Foto by: kiriman keluarga

Puntu_WartaParokiTentang_Perayaan ekaristi syukuran  atas kaul kekal yang telah diterima oleh Sr. Maria Pahut,  SASMP dihadiri ribuan umat yang berlangsung secara agung, meriah dan haru di kampung Puntu (Jumat, 5 September 2025). Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh P. Eduardus Da Silva, OFM bersama Romo Fransiskus Sawan, Pr; Romo Endik, Pr; dan Romo Remi, Pr. Hadir juga dalam perayaan Ekaristi rekan suster sesama  Ordo SASM dan juga suster  SFSC serta para Bruder OFM dari paroki Tentang dan Karot. Selain umat Kampung Puntu juga hadir keluarga besar anak rona, anak wina, umat dari kampung lain di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang  serta tamu undangan dari luar Paroki Tentang. Suster Maria Pahut, SASMP adalah anak bungsu dari Bapak Stefanus Ruben (alm) dan Ibu Agnes Jimin (almh). Suster Maria, SASMP (ia disapa) menyelesaikan pendidikan sekolah Dasar di SDK Tentang 1 (2006), SMP Kemasyarakatan Ndoso (2009) dan SMA Negeri 1 Ndoso (2012). Setelah lulus dari SMAN 1 Ndoso Suster Maria, SASMP mengikuti Sekolah Formasi hingga selesai tahun 2015 dan menerima kaul pertama tahun 2016. Sejak saat itu ia menjadi Guru di TKK St. Fransiskus Assisi Karot hingga 2017.

Selama menjalani masa persiapan hidup membiaranya, Suster Maria, SASMP banyak mendapat inspirasi dan dukungan doa dari saudara Fransiskan di Biara OFM Tentang dan Karot. Hal inilah yang menambah keyakinan suster untuk terus belajar lebih dekat dalam menghayati panggilannya. Tahun 2018 Sr. Maria, SASMP melanjutkan pendidikan di UNIKA Santu Paulus Ruteng pada program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) hingga memperoleh ijazah sarjana pendidikan pada tahun 2022. Usai memperoleh gelar sarjana Sr. Maria, SASMP langsung mengabdi sebagai guru di SD Santa Juliana Ruteng. Pada tahun 2023 sebelum menerima kaul kekal, Suster Maria, SASMP dipercaya menjadi kepala sekolah di SD Santa Juliana Ruteng hingga sekarang. Panggilan menjadi Biarawati kini telah ia ikrarkan melalui penerimaan Kaul Kekal (kaul ketaatan, kemiskinan dan kemurnian) pada tanggal 22 Agustus 2025 di Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang. Tentu sampai pada titik ini ada banyak kisah dan pengalaman serta pergumulan yang dilalui oleh Sr. Maria, SASMP yang ia ungkapkan dalam mottonya, "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan (Filipi 1 : 21)." Sr. Maria, SASMP secara runtut menjelaskan kisah di balik motto yang dipilihnya ini. Sebagai Suster pertama dari Kampung Puntu, Sr. Maria, SASMP tentu menjadi kebanggaan umat kampung Puntu juga umat Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang sehingga berharap ada adik-adik dari kampung Puntu yang mengikuti jejaknya kelak.

Romo Fransiskus Sawan, Pr yang juga adalah imam pertama dari kampung Puntu dalam perayaan Ekaristi memberikan renungan dengan sangat mendalam untuk menghayati motto  panggilan yang dipilih Sr. Maria, SASMP. Dalam homilinya Romo Frans Sawan, Pr memberikan rasa kagumnya terhadap Sr. Maria SASMP dengan melukiskan kisah perjalanan hidupnya mulai dari keluarga hingga kuliah di UNIKA Santu Paulus Ruteng. Romo Frans, Pr memaknai motto yang dipilih oleh Suster Maria, SASMP sebagai sebuah karya Allah untuk memilih orang yang dikasihi-Nya dari keluarga biasa untuk menjadi alat untuk mewartakan Kristus. "Tentu pilihan motto ini merupakan hasil dari pergumulan perjalanan panjang tentang hidupnya bahwa Ia (Sr. Maria, SASMP) memilih panggilan menjadi Biarawati sebagai anugrah. Anugrah panggilan Sr. Maria, SASMP merupakan hadiah dari Allah secara gratis kepada orang yang dipilihnya," ungkapnya.

Romo Frans, Pr juga membagi refleksi bahwa saat-saat menjelang penerimaan kaul kekal (kaul ketaatan, kemiskinan dan kemurnian) oleh Sr. Maria SASMP yang dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2025 sungguh merupakan peristiwa penting dengan penuh tantangan berat untuk memutuskan ya atau tidak. "Saya pernah merasakan dan mengalami betapa sulitnya masa pada saat menentukan pilihan antara ya atau tidak sebelum menerima kaul kekal, antara lanjut atau mundur sama kuatnya; dibutuhkan ketekunan dan pemikiran yang sangat matang untuk memutuskan menerima kaul kekal menjadi biarawan-biarawati,"ungkap Romo Frans, Pr.

Lebih lanjut Romo Frans, Pr; menyampaikan bahwa, " Syukuran hari ini merupakan peristiwa pertama dalam perjalanan ziarah kampung Puntu. Sejak saya ditahbiskan menjadi imam dalam kurun 20 tahun yang lalu sudah ada beberapa imam dari kampung Puntu mulai dari saya sendiri, Pater Egin, SMM; Romo Endik, Pr dan baru pada tahun 2025 sudah lahir seorang suster pertama dari Kampung Puntu yang kita rayakan syukurannya ini. Artinya butuh waktu 20 tahun untuk melahirkan panggilan seorang suster, "ungkapnya. Syukuran menjadi meriah dengan paduan suara dengan alunan lagu yang dipersembahkan oleh kelompok koor dari Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang. 

Selain dihadiri keluarga besar, anak wina dan anak rona juga Ketua DPR Manggarai Barat Bapak Benediktus Nurdin, S.T bersama rombongan hadir dalam perayaan syukuran. Kehadiran Pa Beny (akrab disapa) menjadi moment istimewa untuk bisa sharing pengalaman dan kisahnya betapa panggilan hidup apapun yang kita pilih memiliki tantangan masing-masing.

Dalam sambutannya Bapak Beni Nurdin, ST menyampaikan rasa bangga dan kagumnya terhadap panggilan membiara yang dipilih oleh Sr. Maria. Ia berharap semoga dalam hidup dan karya pelayanan selanjutnya untuk tetap setia serta mengandalkan Kristus dalam mengahadapi segala tantangan. Kepada Suster Maria, Ia berpesan, "Mudahan saat suster nanti menjumpai krikil tajam dalam hidup membiara dan tantangan  dalam karya pelayanan, ingatlah akan peristiwa berahmat hari ini bahwa kami yang hadir untuk memberi dukungan doa  untuk suster."

Kepada para biarawan/i yang hadiri serta seluruh umat yang hadir perayaan syukuran Sr. Maria mengulas kisahnya saat benih cita-cita mulai tumbuh sejak kecil. Suster Maria dalam cerita pengalamannya mengungkapkan peristiwa -peristiwa penting dalam hidupnya yang memotivasi dirinya untuk menjadi pelayan Tuhan dan mengikuti teladan hidup Bunda Maria sesuai tarekat yang dipilihnya. Ia menceritakan bahwa sepanjang pendidikan dan proses persiapan ia harus mengalami beberapa peristiwa duka yang terjadi. Mulai dari Ibunya meninggal dunia,  kakak sulung, juga keluarga terdekat serta pada tahun 2024 ia harus kehilangan seorang ayah tercinta dari tengah  keluarga. Duka dan pengalaman ini sungguh merupakan pergumulan yang sangat mendalam. Suster Maria, menceritakan motivasinya menjadi suster semata-mata karena sungguh merasakan betapa besar cinta Tuhan kepadanya. "Saya pernah mengalami sakit parah waktu SD hingga tak ada harapan untuk hidup karena ditolak dari Rumah Sakit, mata saya juga pernah buta saat duduk di kelas 5 SD namun cinta Tuhan menyembuhkan saya dari sakit yang dialami," ungkapnya. Suster juga mengungkapkan kisah kehidupan keluarga mereka yang serba kekurangan sehingga tidak semua mereka dalam keluarga bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam sambutannya atas nama Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Tentang; P. Eduardus Da Silva, OFM memberikan penguatan kepada Suster Maria, SASMP bahwa peristiwa hari ini merupakan anugerah istimewa. Tuhan memilih dari orang yang dikehendakinya, bukan karena kemampuan melainkan karena pilihan Tuhan sendiri. Ada banyak tantangan yang akan dijumpai dalam hidup membiara namun kita yakin pasti bisa melewatinya. Kepada umat yang hadir Pastor Edo (akrab disapa) meminta doa untuk biarawan-biarawati. Kepada Suster Maria, Pastor Edo, OFM memberikan penguatan, "Bahwa Tuhan tidak memilih orang yang mampu namun yakin Tuhan akan memampukan orang yang dipilihnya," demikian ia mengakhiri sambutan singkatnya.

Ada kisah mengharukan saat sebelum berkat penutup perayaan Ekaristi; di akhir sesi sambutannya, Sr. Maria, SASMP bersama saudara-saudari kandungnya menyanyikan lagu Manggarai yang sangat menyentuh hati. Umat yang hadir terharu dan menangis mendengar lantunan suara dari Roman (saudara kandung suster Maria) saat menyanyikan lagu Manggarai "Cos Laku Leko" (Bagaimana Aku Membalasnya). Lagu ini sangat menyentuh dengan perjalanan hidup dari Suster Maria bersama saudaranya yang kehilangan ayah dan ibu mereka. Umat yang hadir tak sadar meneteskan air mata kesedihan saat mendengar persembahan lagu ini dengan penuh makna.  Setelah selesai perayaan Ekaristi dilanjutkan acara Resepsi bersama yang diselingi dengan persembahan tarian dari nak-anak SDN Puntu dan SMPK Kemasyarakatan Ndoso. Suasana sungguh bahagia dan penuh sukacita serta penuh persaudaraan.

*Frengky Jamento (komsos PSFAT)

0 comments:

Posting Komentar