![]() |
| Penandatangan dokumen Serah Terima Penugasan Pastor Paroki Tentang (Tentang, 18 Januari 2026) |
TENTANG-WARTAPAROKI_Pagi ini Minggu, 18 Januari 2026 lonceng Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang berdentang tidak seperti biasanya. Suaranya seolah membawa getaran yang menyentuh kalbu setiap umat yang melangkah masuk. Di balik jubah-jubah cokelat yang sederhana, tersimpan sebuah narasi besar tentang ketaatan, pengabdian, dan sebuah perpisahan yang menyesakkan dada namun penuh rahmat. Hari ini bukan sekadar hari Minggu biasa melainkan sebuah hari sebagai saksi bisu sebuah "Estafet Kasih". Di atas altar suci, dua jiwa terpanggil sedang berdiri di persimpangan jalan: Pater Wilibrodus Andreas Bisa, OFM yang akrab disapa Pater Andre bersiap memberikan tongkat penggembalaannya, sementara Pater Leonardus Hendradus, OFM (Pater Hendra) bersiap memikul beban suci itu di pundaknya.
Mezbah Terakhir Sang Gembala ke-18
Suasana di dalam gereja begitu hening saat RD. Didimus A. Mbembo memulai Perayaan Ekaristi. Di barisan umat, mata-mata mulai berkaca-kaca melihat sosok Pater Andre. Ini adalah kali terakhir beliau berdiri di sana sebagai Pastor Paroki gembala ke-18 yang telah memahat namanya di dinding hati umat Tentang. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Di setiap sudut paroki ini, ada jejak kaki Pater Andre; ada bisikan doanya di telinga orang sakit, ada tawa renyahnya bersama anak-anak, dan ada tetesan keringatnya saat membangun iman umat. Kini, ia harus pergi. Bukan karena ia tak lagi cinta, tapi karena "Ketaatan Fransiskan" memanggilnya untuk menabur benih di ladang Tuhan yang lain. Keharuan semakin memuncak dengan kehadiran para imam: Pater Patris (Gardian OFM Labuan Bajo), RD. Robert (pastor paroki Waning) RD. Edy (pastor paroki Wajur) RD. Lorens (pastor paroki Ranggu), dan Pater Hendrik, OFM. Kehadiran mereka seolah menjadi pagar doa yang menguatkan. Mereka hadir untuk menyaksikan bagaimana seorang saudara melepaskan miliknya demi sebuah misi yang lebih besar. Saat prosesi serah terima berlangsung, suasana berubah menjadi begitu khidmat. Pater Hendra, OFM melangkah maju dengan wajah penuh keteguhan namun rendah hati. Ini adalah Ekaristi perdananya sebagai gembala baru. Di tangannya kini diletakkan harapan ribuan umat. Ada beban, ada syukur, dan ada tanggung jawab yang besar untuk melanjutkan warisan kasih yang ditinggalkan pendahulunya. Hari ini, langit Tentang seolah ikut tersenyum dalam haru. Sebuah estafet pelayanan telah terjadi, dan Tuhan tersenyum melihat anak-anak-Nya saling mengasihi dalam tugas perutusan yang suci. RD. Didimus A. Mbembo, sang Vikep Pacar, berdiri dengan wibawa yang lembut. Suaranya memecah keheningan, membawa pesan dari masa ribuan tahun lalu ke dalam realitas hari ini. Beliau mengajak umat menyelami hati Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis. "Kita belajar dari Nabi Yesaya," ucap Romo Didi lirih namun bertenaga. "Ia berani bukan karena ia kuat, tapi karena ia yakin ada Tuhan di balik setiap langkahnya", lanjutnya. Selain itu juga Romo Dedi, mengajak umat untuk bersyukur karena kita juga ditunjuk oleh Tuhan untuk mewartakan keselamatan sebab tugas perutusan bukan hanya untuk imam tetapi juga kepada umat telah diberikan tugas perutusan dengan segala kekuatan dan talenta. Bahwa setiap talenta yang kita miliki adalah pinjaman suci untuk mewartakan keselamatan. Namun, saat ia menyebut nama Yohanes Pembaptis, sesuai Injil yang diperdengarkan keheningan semakin mencekam. "Yohanes tahu siapa dirinya. Ia sadar ia hanyalah suara yang mempersiapkan jalan bagi Sang Juru Selamat, ungkap Romo Dedi. Pesan itu seolah menjadi pengingat bagi setiap pelayan Tuhan: bahwa pada akhirnya, kita semua akan pergi, dan hanya Kristuslah yang harus tetap tinggal di hati umat.
Pena yang Bergetar dan Tongkat yang Berpindah;
Puncak keharuan menyelimuti gereja saat Pater Patris, OFM, melangkah maju. Lembaran kertas di tangannya bukan sekadar surat keputusan (SK) dari Yang Mulia Uskup Labuan Bajo; lembaran itu adalah saksi dari sebuah perpisahan dan awal yang baru. Dengan suara yang begitu berat Pater Patris membacakan surat keputusan Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus tentang pembebasan tugas bagi Pater Andre, OFM sebagai Pastor Paroki dan Penugasan sebagai Pastor Paroki bagi Pater Hendra, OFM. Saat nama Pater Andre, OFM dibacakan untuk dibebastugaskan, ada isak kecil yang tertahan di barisan umat. Bertahun-tahun lamanya, tangan itulah yang memberkati anak-anak mereka, telinga itulah yang mendengarkan keluh kesah mereka, dan hati itulah yang menjadi rumah bagi duka mereka. Kini, tugas itu telah usai. Lalu, nama Pater Hendra, OFM menggema sebagai gembala yang baru, didampingi oleh Pater Hendrik, OFM yang akan berperan sebagai vikaris paroki. Momentum yang paling menyayat hati adalah saat penandatanganan berita acara. Suara gesekan pena di atas kertas terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang kudus. Setiap goresan tinta adalah simbol pelepasan beban dari pundak yang satu ke pundak yang lain. Pater Andre menyerahkan domba-dombanya dengan cinta, dan Pater Hendra menerimanya dengan ketaatan yang tulus.
Menuju Persekutuan Sinergis 2026
Di tengah tetesan air mata umat yang kehilangan dan harapan yang baru tumbuh, Romo Didimus menitipkan pesan terakhir untuk Tahun Pastoral 2026. Ia mengajak semua orang untuk tidak hanya terpaku pada duka perpisahan, tetapi menemukan "keunggulan diri". "Dalam persekutuan sinergis ini, carilah apa yang terbaik dalam dirimu untuk masa depan Gereja dan Paroki kita," pesannya. Gereja Tentang hari itu menjadi saksi: bahwa di dalam Tuhan, tidak ada perpisahan yang abadi. Yang ada hanyalah estafet kasih. Para pengabdi datang dan pergi, namun kasih Tuhan tetap tinggal, dipahat dalam administrasi yang tertib dan doa yang tak kunjung putus. Dalam sambutannya Bapak Falentinus Jempo selaku Ketua DPP, berdiri di mimbar dengan suara yang sesekali bergetar. Matanya menatap Pater Andre, OFM; sosok gembala yang selama ini tak hanya berkhotbah di atas mimbar, tetapi juga hadir bersama umat di setiap kampung, bekerja bersama kelompok tani demi pemberdayaan ekonomi umat (UMKM) dan menggerakkan kegiatan konservasi alam melalui gerakan Ekopastoral. "Terima kasih, Pater," bisiknya lirih, namun gema syukurnya menembus kalbu setiap orang yang hadir. "Terima kasih telah menghidupi semangat Santo Fransiskus Asisi di tanah kami. Pater tidak hanya melayani jiwa kami, tapi Pater juga mencintai alam kami dan peduli dengan kaum kecil dan sederhana." ungkapnya dengan penuh haru. Suasana semakin hening saat permohonan maaf terucap. Sebuah pengakuan jujur bahwa dalam interaksi manusiawi, ada luka-luka kecil yang mungkin tertinggal. Namun, semua itu seolah luruh oleh satu kalimat dalam bahasa Manggarai yang menyayat hati, sebuah doa yang melampaui jarak ribuan kilometer: "Dasor wekin koe ite lau Kalimantan nai manga kin agu ami ce Tentang." (Semoga raga saja yang berada di Kalimantan, namun hati tetaplah ada bersama kami di Tentang)", pesannya kepada Pater Andre. Kalimat itu jatuh seperti rintik hujan di musim kemarau. Beberapa umat nampak meneteskan air mata saat sebuah kehilangan yang nyata, namun ada pula kepasrahan religius bahwa seorang imam adalah milik Gereja, seorang utusan yang harus siap melangkah ke mana pun Roh Kudus berhembus kali ini, menuju Keuskupan Banjarmasin. Namun, di balik duka perpisahan, Gereja tetap mengajarkan tentang harapan. Kedatangan Pater Hendra, OFM dan Pater Hendrik, OFM disambut dengan tangan terbuka. Seperti sebuah tenunan, saat satu benang mencapai ujungnya, benang baru akan masuk untuk melanjutkan pola kebersamaan yang telah dirajut dengan penuh cinta. Momen puncak yang menguras air mata terjadi saat Bapak Martinus Mboe, selaku Ketua DKP, melangkah maju. Tangannya gemetar saat memegang bingkisan sederhana sebuah tanda cinta yang tak akan mampu menandingi besarnya pengabdian Pater Andre. Dengan suara parau yang nyaris pecah, ia menyampaikan kata-kata perutusan. Bingkisan itu bukan sekadar benda, melainkan sepotong hati dari umat Paroki Tentang yang dititipkan untuk menemani perjalanan Pater Andre di tanah Borneo. Pater Andre pergi membawa tas yang mungkin ringan, namun ia meninggalkan jejak yang teramat dalam di rahim tanah Tentang. Benarlah apa yang dikatakan, bahwa seorang gembala yang baik tidak akan pernah benar-benar pergi; ia hanya sedang memperluas kandangnya, sementara namanya tetap abadi dalam setiap selipan doa umat yang pernah dicintainya.
Mimbar yang Menjadi Saksi Air Mata; Ketika Sang Gembala Berpamitan
Suasana di dalam Gereja semakin terasa lebih berat dari biasanya. Udara seolah membeku, tertahan oleh sesak di dada ratusan umat yang hadir. Saat di mimbar, berdiri seorang pria bersahaja dengan jubah cokelat khas Fransiskan. Ia adalah Pater Andre, OFM untuk berpamitan di hadapan dombanya. Biasanya, suaranya tenang dan menguatkan. Namun kali ini, saat ia berdiri di balik mimbar untuk menyampaikan kata perpisahan, keheningan yang mencekam pecah oleh getaran suara yang tak mampu lagi ia bendung dan tetesan airmata terlihat jelas dari tempat duduk umatnya. "Terima kasih... telah menjadi guru, sahabat, kakak, adik, dan orang tua bagi saya," ucap Pater Andre dengan suara terbata-bata dan tetesan air mata. Butiran air mata jatuh tanpa permisi, membasahi kayu mimbar yang selama ini menjadi saksi bisu khotbah-khotbahnya yang menghidupkan jiwa. Di kursi-kursi umat, isak tangis mulai terdengar. Tidak ada yang mampu menahan lara melihat sang gembala, yang biasanya tegar, kini tersedu dalam ketulusan yang paling dalam, terlihat tak berdaya namun ia tetap berusaha untuk tegar dan tersenyum walau terasa sungguh sangat berat. Bagi Pater Andre, Paroki Tentang bukan sekadar tempat tugas. Di sini, ia belajar menjadi seorang Fransiskan sejati. Ia mengenang kembali kata-kata Santu Fransiskus dari Assisi: bahwa orang-orang kecil dan miskin adalah guru yang sesungguhya. Di wajah-wajah petani, di tangan-tangan lelah umatnya, ia melihat wajah Kristus. "Kalian sudah membentuk saya dan Saudara Edo menjadi benar-benar seorang Fransiskan. Perpisahan ini adalah wujud ketaatan kami," bisiknya di tengah tangis.
Warisan Cinta yang Tertinggal
Pater Andre tidak pergi dengan tangan kosong. Ia meninggalkan jejak-jejak iman yang nyata. Ia mengingatkan umat untuk menjaga Gua-Gua Maria di setiap kampung; sarana mereka berbisik kepada Bunda Tuhan. Ia juga menitipkan Rumah Ekonomi Kreatif (UMKM) dan Kelompok Tani (Poktan) yang telah ia rintis dengan kasih. Bagi Pater Andre, melayani Tuhan berarti juga memastikan umatnya bisa makan dan berdaya. Ia ingin semangat orang muda tetap menyala, menjadi motor penggerak gereja yang hidup. "Kalimantan dan Tentang itu tidak jauh," ujarnya berusaha memberikan senyum di balik mata yang sembab. "Media sosial akan mendekatkan kita, tapi yang lebih utama, doa akan menyatukan kita di hadapan Sang Gembala Baik." ungkapnya untuk memberikan kekuatan. Di penghujung sambutannya, Pater Andre memberikan pesan yang sangat menyentuh hati. Ia tahu bahwa akan ada penggantinya, dan ia ingin umatnya mencintai gembala baru itu sebesar mereka mencintainya. "Jangan membeda-bedakan kami para Imam. Setiap orang ada zamannya, dan setiap zaman ada orangnya. Kami semua berbeda, namun tujuannya satu: melayani kalian", pesannya dengan nada lembut. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang gemetar, ia menutup dengan kalimat yang meruntuhkan pertahanan hati siapa pun yang mendengarnya, "Sebagai manusia yang tidak sempurna, saya mohon maaf untuk segala yang melukai hati... semuanya, mohon dimaafkan." Hari itu, Paroki Tentang tidak hanya melepas seorang imam. Mereka melepas sebagian dari hati mereka. Pater Andre pergi menuju tanah Kalimantan, namun jubah cokelatnya, tawanya, dan air matanya akan selamanya menetap dalam setiap doa yang dipanjatkan di Gua Maria dan setiap butir peluh umat di Tentang. Keheningan pecah saat seorang pria berjubah cokelat khas Fransiskan berdiri. Ia adalah Pater Hendra, OFM. Suaranya rendah namun bergetar dengan ketulusan yang murni. "Saya berasal dari Paroki Pagal, dan sebelumnya saya melayani di tanah Kalimantan Barat," ucapnya mengawali kenangan. Bayangan akan perjalanan jauh dari hutan Kalimantan menuju tanah Manggarai terpancar di matanya. Ia tidak datang membawa kemegahan, ia datang membawa kerinduan untuk melayani. Dengan suara yang nyaris tertahan karena haru, ia memandang umatnya; domba-domba baru yang kini menjadi bagian dari hidupnya. "Terima kasih telah menerima saya. Di tahun Persekutuan Sinergis ini, saya mengajak kita semua, Ase Kae, (adik kakak) untuk berjalan bersama. Mari kita lanjutkan apa yang telah ditanam dengan air mata dan keringat oleh Pater Andre dan Pater Edo. Jangan biarkan karya itu berhenti. Mari kita saling mendoakan, saling menguatkan", ungkapnya dengan penuh keyakinan. Mendengar nama Pater Andre dan Pater Edo disebut, beberapa ibu di barisan depan mulai menyeka air mata. Mereka teringat bagaimana kedua imam itu telah menyentuh tanah mereka, memberdayakan ekonomi mereka, dan mencintai jiwa mereka.
Jejak Cinta yang Takkan Terhapus
Suasana semakin syahdu saat RD Didimus A. Mbembo, sang Vikep Pacar, berdiri memberikan pesannya. Suaranya merasuk kalbu, mengingatkan semua orang bahwa gereja bukan sekadar bangunan batu, melainkan kumpulan cinta yang nyata. "Terima kasih atas segala bentuk kebaikan dan cinta yang telah umat berikan kepada para imam, bruder, dan suster Fransiskan di sini," ungkap Romo Dedi dengan nada yang dalam. Ia berhenti sejenak, memandang ke umat yang kini senang sedih. Ia mengingatkan betapa Pater Andre dan Pater Edo telah memberikan hidup mereka untuk paroki ini bukan hanya melalui mimbar, tapi melalui tanah-tanah pertanian, melalui unit-unit UMKM, dan melalui sapaan hangat di setiap rumah. "Apa yang unik di sini, mulai dari ekopastoral hingga kelompok tani, adalah persembahan nyata untuk kemuliaan Tuhan. Pertahankanlah itu, kembangkanlah itu," pesannya yang terasa seperti wasiat suci. Di akhir narasinya, Romo Dedi menyentuh relung terdalam identitas mereka sebagai orang Manggarai. Ia mengingatkan tentang "Bantang Cama"; sebuah warisan leluhur untuk selalu berkumpul, berembuk, dan bersatu. "Dalam budaya kita, kita selalu Bantang Cama. Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama dalam iman. "Mari kita berkolaborasi dengan siapa saja, memperkuat tali persaudaraan ini. Selamat datang, Pater Hendra dan Pater Hendrik. Kami bersyukur kalian ada di sini", ungkap Romo Dedi.
Penutup: Sebuah Doa yang Tak Berucap
Ketika lilin-lilin mulai meredup di akhir perayaan, ada rasa syukur yang membuncah. Umat menyadari bahwa imam bisa datang dan pergi, namun cinta Tuhan tetap tinggal di tanah Tentang. Pater Hendra kini berdiri di sana, siap untuk menjadi bapak, kakak, dan sahabat bagi mereka. Di bawah naungan langit Tentang, sebuah babak baru dimulai. Bukan tentang siapa yang memimpin, tapi tentang bagaimana mereka semua; imam dan umat berjalan bersama menuju kebahagiaan kekal. Air mata yang jatuh selain ungkapan kesedihan, namun kita yakin air mata juga wujud kelegaan dan harapan sama bahwa di tangan gembala yang baru, Tuhan tetap menyertai langkah umat paroki Tentang. Selamat menuju tempat baru, terima kasih Pater Andre. Isak tangis mulai terdengar pelan di antara bangku-bangku gereja saat para saudara Fransiskan menumpangkan tangan ke arah Pater Andre yang berlutut di hadapan mereka untuk memohon doa restu dan perutusannya ke tanah Misi. Umat paroki Tentang sadar, setelah hari ini, mereka tak lagi melihat senyum Pater Andre di pastoran. Mereka kehilangan seorang ayah, seorang guru, dan seorang sahabat yang selama ini menjadi jembatan mereka menuju Tuhan. Namun, di balik air mata yang jatuh, ada sebuah kesadaran religius yang mendalam: Bahwa imam boleh berganti, namun Sang Imam Agung, Yesus Kristus, tetap tinggal. Pater Andre pergi meninggalkan cinta yang sudah matang, dan Pater Hendra datang membawa harapan yang baru bersemi. Keduanya adalah "Saudara Dina" yang taat pada suara Tuhan di atas keinginan pribadi. Ekaristi berakhir, namun sejarah baru baru saja dimulai. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, Paroki Tentang hari ini mengajarkan pada kita semua: bahwa mencintai berarti berani merelakan, dan melayani berarti siap diutus ke mana saja. Selamat bertugas, Pater Andre. Doa kami menyertai setiap langkah kakimu di tempat baru. Dan selamat datang, Pater Hendra. Di sini, di hati umat Tentang, engkau akan menemukan rumah dan keluarga baru yang siap berjalan bersamamu menuju Yerusalem Baru.
*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)







0 comments:
Posting Komentar