TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

Jumat, 16 Januari 2026

Estafet Kasih Saudara Fransiskan : Sebuah Peziarahan Persaudaraan

P. Hendra, OFM bersama P. Hendrik OFM dan Fr. Andre, OFM
diterima secara Adat di Paroki Tentang 

TENTANG-WARTAPAROKI_Pada Sabtu pagi yang cerah, 17 Januari 2026, tepat saat jarum jam menunjuk pukul 11.05 WITA, langit di atas Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang seolah membuka tirainya dengan kelembutan. Matahari tidak membakar, melainkan memeluk. Di sinilah, dalam sebuah bingkai waktu yang telah diatur oleh Penyelenggaraan Ilahi, Pater Hendra, OFM menapakkan kaki untuk pertama kalinya sebagai Gembala baru, melanjutkan tongkat estafet pengabdian dari Pater Andre Bisa, OFM.

Senyum Pertama: Getaran Kasih yang Tak Bertepi-Langkah kaki Pater Hendra memasuki halaman gereja bukan sekadar perpindahan raga, melainkan sebuah ziarah hati. Di ambang pastoran, ia disambut oleh jabat tangan hangat para pengurus DPP/DKP, Ketua Stasi, serta para tokoh adat dan masyarakat. Ada getaran yang tak terucap namun terasa dalam sebuah pancaran kasih dalam senyum pertama. Di sanalah kita melihat wajah Gereja yang hidup; Gereja yang tidak dibangun dari batu, melainkan dari sapaan, penerimaan, dan ketulusan. Senyum itu adalah janji bahwa "Sang Gembala kini berada di tengah domba-dombanya."

Jubah Coklat dan Towe Songke: Perjumpaan Dua Dunia-Di dalam Pastoran, Pater Andre Bisa, OFM telah menanti. Pemandangan ini sungguh puitis dan sarat makna religius. Jubah coklat khas Santu Fransiskus Assisi yang mereka kenakan bersanding anggun dengan balutan "Towe Songke" (kain songke). Ini adalah simbol Inkulturasi yang Sempurna: Jubah Coklat melambangkan kemiskinan dan kerendahan hati Fransiskan, dan Towe Songke melambangkan harkat, martabat, dan akar budaya Manggarai yang kuat. Pertemuan kedua putra Fransiskus ini adalah potret persaudaraan sejati (Fraternitas). Pater Andre, yang akan segera melayani di Keuskupan Banjarmasin, menyerahkan ladang pelayanan ini dengan hati lapang, sementara Pater Hendra menerimanya dengan ketaatan yang suci.

Secangkir Kopi dan Restu Semesta - Di tengah percakapan ringan tentang perjalanan dan cuaca yang begitu bersahabat, tersaji kopi hangat dari dapur Pastoran. Dalam tradisi kita, kopi bukan sekadar minuman; ia adalah simbol keramahtamahan (hospitality). Sembari menyesap kehangatan, terungkap rasa syukur bahwa semesta seolah merestui. Cuaca yang teduh bukan sebuah kebetulan, melainkan tanda bahwa Tuhan dan Santu Fransiskus Assisi sedang tersenyum, memberkati awal mula pengabdian ini. Di balik uap kopi, ada doa yang melangit, memohon penyertaan Tuhan bagi kedua imam ini dalam tugas baru mereka.

Bapak Fransikus Malur, selaku Ketua Dewan Stasi Tentang, telah merajut seluruh rangkaian acara dengan penuh ketelitian. Baginya, persiapan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Khalik. Melalui kolaborasi ritus adat Reis, Curu, dan Kapu, tradisi Manggarai bersenyawa indah dengan iman Katolik, menciptakan sebuah simfoni penyambutan yang hangat. "Peristiwa hari ini adalah momen istimewa, sebuah berkat dan rahmat Tuhan yang nyata bagi seluruh umat Paroki Tentang. Kita menyambut Sang Gembala baru dengan hati terbuka," ungkap Bapak Fransikus dengan suara yang bergetar penuh syukur.

Simbol Persaudaraan di Ambang Pintu - Di ambang pintu ruangan sayap gereja, tradisi berbicara melalui simbol. Selembar Selendang Motif Songke yang indah dikalungkan pada leher Pater Hendra, OFM, disusul oleh Pater Hendrik, OFM (Vikaris Paroki baru), dan Frater Andre, OFM. Tidak hanya selendang, Topi Manggarai pun disematkan di kepala mereka. Momen ini adalah proklamasi batin; Bahwa mulai hari ini, mereka bukan lagi orang asing, melainkan bagian dari detak jantung keluarga besar Paroki Tentang.

Di Atas "Loce": Merunduk dalam Adat, Tegak dalam Iman - Puncak dari keindahan ini terjadi di emperan Gereja. Para Tua Adat, Tokoh Masyarakat, dan pengurus gereja duduk bersila di atas "Loce" (tikar pandan). Inilah saat iman bertemu dengan budaya. Duduk bersila di atas tikar adalah bentuk kerendahan hati yang paling dalam. Dalam balutan pakaian adat Manggarai, umat Paroki Tentang menyambut Pater Hendra bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Di atas tikar pandan itu, tidak ada sekat; yang ada hanyalah musyawarah, persaudaraan, dan penyerahan diri kepada kehendak Sang Pencipta. Setelah kepulan uap kopi terakhir di ruang tamu memudar, Pater Hendra, OFM bersama rombongan melangkah pasti menuju ruangan sayap Gereja. Setiap langkah yang diambil bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan sebuah ziarah iman untuk memulai babak baru pelayanan di ladang Tuhan.

Ritus Kapu: "Menyambut Penuh Kasih - Di dalam ruangan, suasana menjadi semakin sakral. Para tokoh adat dan pengurus Gereja duduk bersila di atas Loce (tikar), melambangkan kerendahan hati dan kesetaraan. Bapak Alfons Jagom, sebagai Tokoh Adat, memulai ritus dengan untaian kata-kata puitis dalam bahasa Manggarai yang menyentuh jiwa: "Kapu lami neho wua pau, Naka nego wua nangka... Hoo Kole manuk Lalong kudut kapu agu naka Ite..."  (Kami menyambutmu penuh kasih dan persaudaraan dengan sebuah genggaman yang begitu erat dan pelukan hangat. Ini ayam jantan sebagai simbol penerimaan kami, agar engkau menjadi bapa dan pelindung yang berjalan bersama kami di jalan yang benar di Paroki Tentang ini.) Sembari menerima Robo berisi Tuak dan Manuk Kapu, Pater Hendra tersenyum penuh kasih. Baginya, ini adalah peneguhan bahwa tugas kegembalaan selalu berakar pada kearifan lokal dan persaudaraan yang tulus.

Lako Cama-Cama: Harapan Sang Gembala Baru - Dalam sambutan singkatnya, Pater Hendra tidak menjanjikan kemegahan, melainkan kesetiaan untuk berjalan bersama. Dengan bahasa Manggarai yang merakyat, ia menyampaikan kerinduan hatinya: "Tegi Daku dasor ite lako cama-cama one mose Paroki hoo...eme manga do'ong mai ga lenjong cama tombo cama...." (Permohonan saya adalah mari kita berjalan bersama dalam kehidupan paroki ini. Jika ada hambatan, mari kita bicarakan bersama dan selesaikan bersama). Pater Hendra juga menitipkan satu hal yang paling berharga yaitu saling mendoakan, "Kami mendoakan umat, dan kami mohon umat juga mendoakan kami para Imam, agar kita semua sehat pikiran, jiwa, dan raga dalam melayani Tuhan."

Kedinaan di Tengah Tantangan Topografi - Pater Andreas Bisa, OFM, yang akan melanjutkan perutusannya ke Banjarmasin, memberikan gambaran jujur tentang medan pelayanan di Tentang. Dengan 7 Stasi dan 88 KBG yang tersebar di wilayah topografi yang menantang, Tentang adalah sekolah kehidupan yang nyata. "Di sini, kaul 'Kedinaan' (Minoritas) Fransiskan sungguh menjadi nyata. Wilayah yang sulit menantang kita untuk benar-benar hadir sebagai pelayan yang rendah hati," ujar Pater Andreas. Ia berpesan agar umat terus bersatu dalam semangat sinergis, menciptakan terobosan pastoral yang relevan dengan zaman, seturut harapan Keuskupan Labuan Bajo. "Harapannya kita bisa bersatu, mewujudkan persekutuan sinergis, menemukan model-model pastoral dengan terobosan baru yang bila dirasa kontekstual dan relevan itu bisa dikembangkan bersama dengan kehadiran para tenaga pastoral. Terus membangun persaudaraan, saling mempertahankan kesatuan yang diwarnai dengan spritualitas Fransiskan. Kreatif untuk kemuliaan Allah dan kebaikan sesama, berkolaborasi dan bersinergi, " ungkap Pater Andre.

Perjamuan Kasih ; Peristiwa hari ini mengajarkan kita bahwa kepemimpinan dalam Gereja adalah sebuah pelayanan kasih. Pater Andre pergi membawa kenangan dan cinta, sementara Pater Hendra datang membawa harapan dan semangat baru. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, Paroki Tentang terus berjalan dalam cahaya iman, di mana adat dihormati dan Tuhan dimuliakan. Acara puncaknya bukan hanya tentang kata-kata, melainkan kebersamaan dalam perjamuan. Makan siang bersama menjadi penutup yang manis, berbagi cerita, dan menyatukan hati. Hari ini, Paroki Tentang tidak hanya menyambut pemimpin baru, tetapi merayakan cinta Tuhan yang terus mengalir melalui kehadiran para gembala-Nya. Semangat Fransiskan,; persaudaraan, kesederhanaan, dan sukacita kini siap bersemi lebih indah di atas bukit dan lembah Tentang.

* Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

0 comments:

Posting Komentar