Karya : Frengky Jamento
Di lembah sunyi, tempat kabut
bersemayam,
Terhampar Tentang, di mana jiwa
berdiam.
Mentari pagi merangkak, memecah
sepi,
Di sanalah Sang Imam, Fransiskan
sejati, berdiri.
Jubah cokelatnya memeluk angin pegunungan,
Memanggul Injil, bekal perjalanan.
Dari stasi ke stasi, kampung demi
kampung,
Langkah kaki setia, tanpa pernah
bimbang.
Menghirup Kopi Pa'it, racikan
khas dari setiap gubuk,
Pahitnya serupa janji, tulus tak
terhalang.
Ia bukan sekadar pelayan altar dan
mimbar,
Namun Gembala yang sungguh peduli,
tak gentar.
Di setiap rumah, bahkan gubuk,
Ia hadirkan wajah Bapa, penuh kasih
dan pengayoman.
Bagi Sang Fransiskan, dunia adalah
nyanyian suci,
Burung-burung, sungai bening,
batu-batu di bumi.
Alam adalah Saudari, bukan sekadar objek yang ditatap,
Ia menghormati hutan, sawah, dan
pohon yang meratap.
Menjaga keutuhan Ciptaan, pesan dari
Assisi,
Sebab di sana, wajah Tuhan nyata,
tak tersembunyi.
Kopi Pa'it itu mengalir,
menghangatkan dinginnya pagi,
Menguatkan raga untuk tugas mulia
yang rapuh.
Ia membagikan roti, membalut luka,
menyiram iman,
Di lembah Tentang, karya pastoralnya
adalah keteladanan.
Ia tak mencari harta, tak mengharap
puji-pujian,
Hanya setia pada jalan sunyi: Saudara
Dina bagi Umat Tuhan.
Dan ketika senja turun, tinggalkan lembah yang terjal,
Ia kembali berlutut, memanjatkan doa
yang kekal.
Mengenang setiap wajah, setiap
peluh, setiap harapan,
Sambil mencium aroma tanah, lambang
kesederhanaan.
Kopi Pa'it telah habis, namun
semangatnya takkan lekang,
Demi kasih Kristus, ia terus
melayani, sepanjang jalan.







0 comments:
Posting Komentar