TENTANG, WARTAPAROKI - Umat Katolik Paroki Santu Fransiskus Asisi Tentang di Kabupaten Manggarai Barat merasakan sukacita dan berkat istimewa. Untuk pertama kalinya sejak ditahbiskan setahun lalu, Yang Mulia Mgr. Maksimus Regus, Uskup Labuan Bajo, memimpin perayaan Ekaristi di tengah umat Paroki Tentang pada Minggu Biasa Ke-XXXIII. Kunjungan perdana ini menjadi momentum yang penuh inspirasi dan peneguhan iman bagi lebih dari 2.000 umat yang hadir, termasuk utusan dari enam stasi.
Perarakan Meriah dan Inkulturasi Budaya-Setelah sesi penerimaan di Rumah Pastoran, prosesi perarakan menuju Gereja berlangsung meriah. Mgr. Maksimus Regus, didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan RD. Rikardus Manggu, Pastor Paroki P. Andreas Bisa, OFM, dan P. Eduardus Da Silva, OFM, disambut dengan tarian penyambutan yang anggun dari penari SMAN 1 Ndoso. Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat dan semarak, diperindah oleh keberagaman petugas liturgi dari para katekis dan pengurus stasi. Keagungan liturgi semakin terasa dengan dekorasi altar bernuansa warna liturgi hijau, yang merupakan hasil karya tangan para suster biara SFSC Tentang. Puncak inkulturasi budaya tampak pada persembahan. Para pembawa persembahan dari perwakilan stasi dan tokoh umat tampil dalam busana adat Manggarai dan membawa bahan persembahan lokal, diiringi tarian meriah, serta penyampaian Torok Tae (doa adat) oleh Bapak Rikardus Galus, tokoh adat kampung Tentang yang memohon untuk perlindungan dan penyertaan Tuhan bagi tugas kegembalaam Yang Mulia Uskup Maksimus.
Siraman Rohani: Bekerja Keras, Tekun, dan Memelihara Persatuan - Dalam homilinya, Mgr. Maksimus Regus menggarisbawahi tiga pilar utama yang bersumber dari Bacaan Suci dan relevan dengan kehidupan umat Katolik Manggarai: Pertama : Bekerja Keras dan Hidup Tertib; Mengambil pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, Bapa Uskup menegaskan pentingnya bekerja keras, tekun, dan jujur. Beliau menghubungkan ajaran iman ini dengan falsafah perjuangan hidup masyarakat Manggarai: "Tela Tuni Dempul Wuku" (bekerja gigih dengan membanting tulang) agar bisa hidup. "Kita harus bekerja, kalau tidak bisa bekerja tidak bisa makan. Bekerja dengan tenang dan makan dari hasil jerih payah sendiri," pesan Uskup, menekankan nilai moral Katolik dalam etos kerja. Kedua: Ketekunan dan Ketahanan Iman; Merefleksikan Injil Lukas tentang tanda-tanda akhir zaman, Mgr. Maksimus Regus menasihati umat untuk waspada, tidak takut, dan tetap bertahan (bertekun) dalam iman. Walaupun menghadapi bencana, persoalan, atau peperangan, umat dipanggil untuk memelihara iman dan persaudaraan, karena "dengan ketekunan mereka, jiwa mereka akan diselamatkan." Ketiga : Persatuan dan Persaudaraan sebagai Kunci Keselamatan; Pesan yang sangat mendalam dan ditekankan adalah pentingnya persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan sebagai umat Katolik. Uskup Maksimus menyoroti kekhasan budaya Manggarai yang kuat dalam semangat persatuan. Nilai persatuan dan kebersamaan serta persaudaraan adalah kunci untuk kita berziarah bersama menuju keselamatan yang Tuhan janjikan. Persatuan secara budaya diharapkan juga memperkuat kehidupan menggereja, baik dalam membangun iman maupun gereja secara fisik. Kita dipanggil untuk memberi hidup dalam kebersamaan, sebab, "bila kita hidup dalam kebersamaan dan persaudaraan maka tidak ada yang bisa mengalahkan kita."
Harapan dan Apresiasi untuk Paroki Tentang - Di akhir homilinya, Uskup Maksimus menyampaikan kegembiraan atas kunjungannya. Beliau memberikan apresiasi yang tinggi untuk Paroki Tentang: "Ini merupakan paroki yang kaya Iman, punya sejarah yang luar biasa, semangat partisipasi dan punya tradisi Katolik yang kuat dan selalu dijaga, juga benih-benih panggilan yang kuat." Beliau berharap warisan iman ini terus dijaga di setiap keluarga, Kelompok Basis Gerejawi (KBG), dan masyarakat. Peristiwa yang penuh rahmat juga dirasakan oleh Paduan Suara Magnificat, yang mendapat berkat khusus dan dorongan spiritual dari Bapa Uskup untuk terus ambil bagian dalam pelayanan Gereja. Hal yang mengharukan terjadi saat anak-anak yang belum komuni pertama terlihat antusias dan bersemangat menerima berkat istimewa dari Mgr. Maksimus Regus.
Tata Kelola Partisipatif dan Semangat Sinodal - Sebelum berkat penutup, Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, RD. Rikardus Manggu, memperkenalkan Santa Pelindung Keuskupan, Santa Maria Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, serta tema Tahun Pastoral 2025: Tata Kelola Partisipatif. Romo Vikjen juga mengajak umat untuk menjadi Gereja yang Sinodal (berjalan bersama), sejalan dengan filosofi budaya Manggarai: "Bantang Cama Reje Leleng; Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng" (bermusyawarah, berjalan bersama; sekata, satu konsepsi), yang intinya mengajak untuk bersatu dan bekerja sama. Romo Vikjen juga memberikan tantangan kepada umat untuk memikirkan renovasi Gereja Paroki yang sudah berusia puluhan tahun.
Pastor Paroki, P. Andreas Bisa, OFM, turut menyampaikan deskripsi paroki, termasuk rencana merenovasi gereja dan keberadaan UMKM umat dengan produk lokal minuman jahe dan temulawak, serta minuman sopi khas paroki Tentang yang telah dipromosikan. Beliau memohon dukungan Bapa Uskup untuk program-program pastoral paroki. Perayaan Ekaristi ditutup dengan Berkat Penutup Uskup dan sesi foto bersama. Kunjungan Mgr. Maksimus Regus ini menjadi tonggak sejarah, meneguhkan iman, dan menginspirasi umat Paroki Tentang untuk terus meneladani spirit bekerja keras dan memelihara persatuan dalam semangat Katolik dan kearifan lokal Manggarai.
*Frengky Jamento (Komsos Paroki Tentang)








0 comments:
Posting Komentar