![]() |
| Kiri ke Kanan : Fr Andre, OFM, P. HENDRIK, OFM dan Bapak Falentinus Jempo (ketua DPP PSFAT) Foto by : Falens Jempo |
Labuan Bajo-WARTAPAROKI – Semangat pembaruan dan persaudaraan menyelimuti Rumah Spiritualitas Unio Keuskupan Labuan Bajo. Dalam suasana penuh doa, para pelayan umat berkumpul untuk mengikuti Sidang Pastoral Post-Natal 2026. Mengusung tema besar “Tahun Persekutuan Sinergis : Membangun Gereja Katolik yang Sinodal dan Solid dalam Pelayanan,” kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi peziarahan iman umat di ujung barat Pulau Flores. Sidang ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah refleksi mendalam atas panggilan Gereja untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Perwakilan dari berbagai Paroki se-Keuskupan Labuan Bajo hadir dengan satu tujuan mempererat tali persekutuan demi pelayanan yang lebih menyentuh hati umat. Hadir sebagai delegasi dari Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Bapak Falentinus Jempo (Ketua DPP) bersama Pater Hendrik, OFM (Vikaris Paroki) dan Frater Andre, OFM. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen paroki dalam mendukung visi besar Keuskupan. Sepanjang kegiatan, Bapak Falens Jempo secara aktif memastikan alur komunikasi tetap terjaga dengan Tim Komsos Paroki Tentang dalam mendokumetasi seluruh rangkaian kegiatan. Keterbukaan informasi dan dokumentasi setiap sesi menjadi bukti nyata bahwa semangat sinodalitas—yakni berjalan bersama dimulai dari transparansi dan koordinasi yang baik dinykia dari kehidupan paroki.
Landasan Akademis dan Strategis - Gereja yang kuat adalah Gereja yang terencana. Untuk itulah, sidang ini juga menghadirkan para pakar sebagai Tim Perumus Rencana Strategis (Renstra) Keuskupan Labuan Bajo. Kehadiran para akademisi dari Universitas Santu Paulus Ruteng, yakni: RD Dr. Fransiskus Sawan, Dr. Marinus Mantovany Tapung, M.Pd dan Dr. Kristianus Viktor Pantaleon, M.Pd.Si. Kehadiran mereka memberikan bobot edukatif yang signifikan, menyelaraskan nilai-nilai iman dengan kajian akademis yang sistematis. Hal ini diharapkan mampu melahirkan program pastoral yang tepat sasaran, inklusif, dan visioner bagi seluruh umat di Labuan Bajo. Menuju Gereja yang Solid "Tahun Persekutuan Sinergis" ini mengajak seluruh elemen Gereja mulai dari klerus hingga awam untuk melepaskan ego sektoral dan mulai bekerja dalam harmoni. Dengan semangat "Sinodal," setiap suara didengarkan, dan dengan semangat "Solid," setiap langkah diperkuat. Melalui Sidang Pastoral Post-Natal ini, Keuskupan Labuan Bajo kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi pelita yang terang dan rumah yang hangat bagi setiap jiwa, melalui pelayanan yang profesional namun tetap berlandaskan kasih Kristiani. Tentu inilah yang telah ditegaskan oleh Santu Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Korintus "Sebab sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak... demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12). Di tengah balutan udara awal tahun yang penuh harapan, Gereja Lokal Keuskupan Labuan Bajo memulai langkah strategisnya melalui Sidang Pastoral tahun 2026. Berlangsung selama tiga hari sejak Selasa (6/1/2026), pertemuan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk mempertegas identitas Gereja yang hidup dan bergerak.
Roh yang Menghidupkan: Semilir Sabda dan Doa - Suasana khidmat menyelimuti pembukaan sidang yang diawali dengan "Semilir Sabda". Melalui renungan Kitab Suci dan pendarasan doa "Tahun Persekutuan Sinergis", para peserta diajak untuk menyadari bahwa setiap rencana manusiawi harus berakar pada kehendak Ilahi. RD Lian Angkur, mewakili panitia, menyambut hangat kehadiran Yang Mulia Bapak Uskup Maksimus Regus, Dewan Kuria, serta seluruh peserta. Di balik ucapan selamat Natal dan Tahun Baru, terselip pesan edukatif tentang kedisiplinan dan kesungguhan dalam menjalankan perutusan pastoral. Visi 3S: Sinodal, Solid, dan Solider- Salah satu pilar edukatif dalam sidang ini muncul melalui sesi rekoleksi yang dibawakan oleh RD Mathias. Ia menguraikan visi besar Keuskupan Labuan Bajo yang diringkas dalam tiga kata kunci: Sinodal, Solid, dan Solider. Tentunya Gereja yang Sinodal berarti berjalan bersama; Solid berarti kuat secara internal; dan Solider berarti memiliki kepedulian yang nyata terhadap sesama, terutama mereka yang terpinggirkan menjadi hakekat dan ciri khas kehidupan pastoral Keuskupan Labuan Bajo. Pesan ini menjadi pengingat bagi para pelayan umat bahwa struktur organisasi Gereja harus dibarengi dengan kedalaman empati dan persaudaraan.
Pesan Gembala: Gereja Harus Hidup, Bukan Sekadar Ada - Puncak inspirasi pada hari pertama hadir melalui input awal dari Yang Mulia Bapak Uskup Maksimus Regus. Beliau memberikan penegasan teologis sekaligus praktis mengenai arah gerak Gereja ke depan. Ada dua poin mendasar yang ditekankan yaitu Pertama ; Mendengar semua suara. Gereja dipanggil untuk bergerak dalam Roh. Uskup Maksimus mengingatkan agar Gereja tidak terjebak dalam "situasi dingin" atau sikap apatis. Sebaliknya, setiap elemen harus saling menopang dan memiliki telinga yang peka baik terhadap suara yang keras, suara yang lemah, maupun mereka yang tidak bersuara sama sekali. Kedua; Saksi keselamatan. Menyadari bahwa keselamatan berasal dari Kristus, maka Gereja memiliki tugas edukatif untuk menjadi saksi hidup dari keselamatan tersebut di tengah dunia. "Persekutuan dan sinergitas tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus nyata dalam tindakan pastoral yang konkret dan relevan. Gereja bukan sekadar ada, tetapi hidup, "tegas Uskup Maksimus. Melalui sidang ini, Keuskupan Labuan Bajo sedang membangun fondasi bagi pelayanan yang lebih berdampak. Dengan demikian bahwa melalui semangat persekutuan yang sinergis, sidang ini diharapkan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang mampu menjawab tantangan zaman, menjadikan iman bukan sekadar kata-kata, melainkan gerakan cinta kasih yang nyata. Di bawah arahan Direktur Pusat Pastoral (Puspas), RD Charles, forum ini ditegaskan sebagai sebuah "Peristiwa Iman". Sebuah momentum di mana seluruh elemen Gereja lokal berhenti sejenak untuk melihat jejak Tuhan dalam pelayanan dan merajut langkah bersama menuju masa depan.
Menemukan Tuhan dalam Metode 3M-Dalam arahannya, RD Charles menekankan bahwa arah dasar sidang ini adalah peneguhan identitas Gereja yang berjalan bersama (sinodal). Untuk mencapai hal tersebut, sidang menggunakan metode 3M: Melihat, Menilai, dan Memutuskan. Metode ini bukan sekadar alat analisis organisasi, melainkan sebuah proses rohani. Melihat: Menatap dengan jujur apa yang telah dicapai. Menilai: Mengajak peserta menafsirkan realitas hidup sehari-hari dalam terang iman dan visi Gereja. Memutuskan: Merumuskan langkah konkret untuk persekutuan sinergis di tahun 2026. "Sikap dasar yang dibutuhkan adalah partisipasi aktif, keterbukaan hati, dan semangat berjalan bersama," ungkap RD Charles. Pesan ini menjadi ajakan bagi seluruh peserta untuk menanggalkan ego sektoral demi kepentingan umat yang lebih besar.
Cermin Keberhasilan: Belajar dari Paroki Tentang- Dalam laporan Monitoring dan Evaluasi (Monev) tahun 2025 bertema "Tata Kelola Partisipatif", terungkap kabar menggembirakan. Meski Gereja Keuskupan Labuan Bajo masih perlu memperdalam praktik pendampingan, kesadaran bersama umat telah terbangun dengan kuat. Salah satu permata dalam sidang kali ini adalah capaian Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Paroki ini berhasil masuk dalam jajaran lima paroki rujukan (bersama Katedral, Sok Rutung, Wae Nakeng, dan Wae Sambi) dengan tingkat keterlaksanaan program yang tinggi dan terintegrasi. Yang paling menginspirasi, Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang dinilai berhasil menampilkan wajah Gereja yang inklusif, kontekstual, dan transformatif. Gereja tidak lagi hanya berdiam di dalam gedung, tetapi hadir di tengah alam dan lumbung ekonomi umat. Fokus kuat pada Ekologi Integral dan Ekonomi Produktif Berbasis Umat di Paroki Tentang menjadi bukti nyata bahwa iman yang hidup adalah iman yang merawat bumi dan menyejahterakan sesama. Ini adalah manifestasi dari "Gereja yang Bernapas"; Gereja yang peduli pada lingkungan hidup dan kemandirian ekonomi jemaatnya. Laporan ini menjadi suplemen semangat bagi paroki-paroki lain. Bahwa dengan tata kelola yang baik dan hati yang terbuka pada Roh Kudus, Gereja mampu menjadi agen perubahan yang nyata di Labuan Bajo. Sidang Pastoral 2026 ini pada akhirnya adalah sebuah undangan: untuk mengajak setiap pribadi untuk tidak hanya menjadi penonton dalam Gereja, tetapi menjadi bagian dari persekutuan sinergis yang membawa perubahan bagi dunia.
Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo memasuki fase krusial pada hari pertama dan kedua (6-7 Januari 2026). Momentum ini menandai lahirnya peta jalan (roadmap) bagi umat Katolik di ujung barat Pulau Flores untuk lima tahun ke depan. Hari pertama ditutup dengan simbolisme yang kuat. Yang Mulia Mgr. Maksimus Regus secara resmi meluncurkan Dokumen Kebijakan Keuskupan Labuan Bajo. Langkah ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah komitmen pelayanan yang kemudian dibawa ke hadapan Tuhan melalui Perayaan Ekaristi pembukaan yang dipimpin oleh RD Yuvens dan RD Mathias. Mendaraskan doa di altar, seluruh rencana manusiawi diserahkan sepenuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi, menegaskan bahwa setiap strategi Gereja harus berakar pada Kristus sebagai sang Gembala Utama.
Membedah Realitas: Suka Duka yang Menjadi Berkat - Memasuki hari kedua, Rabu (7/1/2026), fokus sidang beralih pada penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2026-2030. Sekjen Keuskupan, RD Frans Nala, memberikan fondasi yang kokoh melalui landasan Biblis-Teologis. Beliau mengingatkan bahwa Renstra ini adalah alat untuk mewujudkan Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider. Ketajaman analisis hadir melalui pemaparan Dr. Mantovany Tapung. Berdasarkan hasil penelitian yang mendalam, ia membeberkan realitas kehidupan masyarakat Manggarai Barat mulai dari peluang, tantangan, hingga "suka duka dan kecemasan" umat. Di sinilah sisi edukatif sidang menonjol bahwa Gereja diajak tidak menutup mata terhadap realitas sosial, melainkan menjadikannya ladang pengabdian.
Dream, Design, Destiny: Lima Pilar Masa Depan. Dalam kesempatan tersebut, RD Frans Sawan menguraikan lima tujuan strategis yang akan menjadi kompas pelayanan hingga tahun 2030. Ada lima hakekat hidup menggereja yang ingin dicapai yaitu Iman dan Liturgi yang menghidupkan, Gereja Sinodal yang kolegial dan komunikatif, Pelayanan Solider yang transformatif, Tata Kelola Solid yang akuntabel dan Pewartaan Injil yang kontekstual dan digital. Untuk menggapai visi besar ini, para peserta diajak berefleksi melalui tiga pertanyaan kunci : Dream: Ke mana kita akan pergi? (Mimpi kolektif umat). Design: Bagaimana kita bisa sampai ke sana? (Strategi dan kerja nyata). Destiny: Bagaimana kita tahu kita telah sampai? (Evaluasi dan buah pelayanan). Puncak acara hari kedua ditandai dengan penyerahan naskah Renstra dari Tim Penyusun kepada Bapak Uskup Mgr. Maksimus Regus. Penyerahan ini adalah simbol penyerahan seluruh jerih payah pikiran dan hati para pelayan Tuhan untuk direstui dan dilaksanakan sebagai gerakan bersama.
Sidang Pastoral ini memberikan pesan kua bahwa Gereja Labuan Bajo sedang bertransformasi. Dari Gereja yang sekadar "menjaga tradisi" menjadi Gereja yang berani bermimpi, merancang masa depan, dan merangkul teknologi digital tanpa kehilangan kedalaman spiritualitasnya. Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo hari kedua, Rabu (7/1/2026), menjadi sebuah perjalanan yang tidak hanya mengasah pikiran melalui diskusi strategis, tetapi juga menyentuh hati melalui perjumpaan nyata dengan sesama. Dari ruang sidang hingga ke sudut-sudut pengabdian masyarakat, seluruh peserta diajak untuk melihat wajah Kristus dalam pelayanan yang konkret. Kegiatan dimulai dengan diskusi kelompok yang terbagi dalam lima komisi. Di sini, semangat Sinodalitas (berjalan bersama) benar-benar dipraktikkan. Para peserta duduk melingkar untuk membedah progres program tahun 2025. Dengan jujur, mereka melihat keberhasilan untuk disyukuri dan kegagalan untuk diperbaiki. Diskusi ini bukan sekadar mengevaluasi angka, melainkan mencari kehendak Tuhan di tengah tantangan dan peluang. Hasil refleksi ini akan menjadi fondasi kokoh bagi penyusunan program di "Tahun Persekutuan Sinergis 2026". Sebuah pesan kuat muncul: bahwa untuk melangkah jauh ke depan, kita harus berani berkaca pada jejak-jejak yang telah ditinggalkan.
Momen haru terjadi saat RD Frans Sawan, mewakili UNIKA St. Paulus Ruteng, menyerahkan cendramata kepada Yang Mulia Mgr. Maksimus Regus. Penyerahan ini merupakan simbol terima kasih atas kepercayaan Keuskupan Labuan Bajo kepada institusi pendidikan untuk melakukan penelitian dan penyusunan Renstra 2026-2030.
Ini adalah perpaduan harmonis antara Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi). Gereja menunjukkan sisi edukatifnya dengan melibatkan riset ilmiah dalam merancang masa depan umat, membuktikan bahwa pelayanan pastoral di era modern harus dijalankan secara profesional namun tetap rendah hati.
"City Tour" Kemanusiaan: Melihat Wajah Kristus yang Menenun-Usai santap siang, suasana sidang berganti dari diskusi formal menjadi kunjungan kasih (city tour). Dengan dukungan kendaraan dari Korps Brimob dan TNI-AD sebuah simbol sinergi luar biasa antara Gereja dan alat negara—para peserta menuju Susteran KSSY Gorontalo. Di sana, para peserta sidang disuguhi pemandangan yang menyentuh jiwa aktivitas anak-anak dari kelompok rentan. Di tangan-tangan yang dianggap lemah oleh dunia, lahir karya-karya indah melalui jemari yang menenun dan semangat membuat gorengan untuk kemandirian. "Melalui kunjungan ini, para peserta diajak menyadari bahwa inti dari sinergi adalah merangkul yang lemah agar mereka merasa memiliki martabat yang sama dalam persekutuan Gereja." Perjalanan berlanjut menyisiri keindahan Labuan Bajo, mulai dari kawasan MAWATU hingga ke arah Pelabuhan Pelindo. Di bawah langit sore yang mulai memerah, para peserta kembali dengan satu kesadaran baru: bahwa program-program yang disusun di ruang sidang harus bermuara pada kesejahteraan umat dan kelestarian lingkungan. Sidang hari kedua ini mengajarkan satu hal religius yang mendalam: bahwa doa yang paling tinggi adalah kerja nyata bagi sesama, dan strategi yang paling hebat adalah strategi yang melibatkan kasih.
Menuju Gereja yang Melayani dan Transparan: Puncak Sidang Pastoral -Memasuki hari ketiga sekaligus penutup, Kamis (8/1/2026), Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo semakin menajamkan arah pelayanannya. Fokus utama hari ini adalah merumuskan "Program Pastoral Tahun Persekutuan Sinergis 2026", sebuah peta jalan yang mengajak seluruh umat; dari altar hingga ke pasar untuk bergerak dalam harmoni yang sama. Sidang diawali dengan pengantar inspiratif dari Dr. Kristianus Viktor Pantaleon, akademisi dari UNIKA St. Paulus Ruteng. Ia menekankan bahwa sebuah program sukses bukan karena kecanggihan konsepnya, melainkan karena keterlibatan semua pihak. "Keberhasilan pastoral adalah buah dari kerja sama agen pastoral yang tertahbis (kaum klerus) dan agen pastoral yang terbaptis (umat awam)," ungkapnya. Pesan ini menjadi pengingat edukatif bahwa setiap orang memiliki peran unik dalam membangun Tubuh Mistik Kristus. Peluang, mimpi, dan keberhasilan masa lalu dikumpulkan menjadi bahan bakar untuk menyalakan api pelayanan di tahun 2026. Dalam dinamika diskusi enam kelompok, termasuk kelompok Forum Komunikasi Kelompok Rentan (FKKR), sebuah kesadaran religius yang kuat muncul ke permukaan. Mayoritas peserta sepakat bahwa jantung dari seluruh pelayanan adalah Iman dan Liturgi yang Menghidupkan.
Gereja menyadari bahwa tanpa akar iman yang kuat dalam liturgi, segala program sosial hanyalah aktivitas kemanusiaan biasa. Namun, iman tersebut haruslah iman yang bergerak (faith in action). Hal ini tercermin dari fokus program yang diusulkan: Pembekalan dan pelatihan bagi agen pastoral awam; Pemberdayaan kaum muda sebagai tulang punggung Gereja masa depan dan Perhatian khusus dan pendampingan bagi kelompok rentan. Momen yang sangat menarik dan progresif terjadi ketika spiritualitas bertemu dengan profesionalisme. Keuskupan Labuan Bajo secara resmi melakukan penandatanganan kerja sama dan peluncuran CMS (Cash Management System) dengan BRI Cabang Labuan Bajo. Langkah ini bukan sekadar urusan perbankan, melainkan bentuk pertanggungjawaban iman dalam tata kelola keuangan yang solid dan akuntabel. Dengan sistem digital ini, Gereja ingin memberikan teladan tentang kejujuran dan transparansi, membuktikan bahwa "harta Gereja adalah harta orang miskin" yang harus dikelola dengan penuh integritas.
Penutup ; Dari Rekomendasi Menjadi Aksi - Tim Perumus dari UNIKA St. Paulus Ruteng memberikan catatan penutup yang menegaskan bahwa hasil pleno ini akan segera dikristalisasi menjadi rekomendasi resmi sidang. Sidang Pastoral 2026 ini berakhir dengan sebuah keyakinan: bahwa dengan sinergitas antara gembala dan domba, serta dukungan teknologi dan tata kelola yang modern, Keuskupan Labuan Bajo siap menjadi garam dan terang yang nyata bagi masyarakat Manggarai Barat.
Sumber/Kontributor: Falentinus Jempo
Editor : Frengky Jamento (Komsos PSFAT)







0 comments:
Posting Komentar