![]() |
| P. Andre, OFM saat merayakan Ekaristi dan Acara Adat di Gendang Rahong - Sirimese |
SIRIMESE_WARTAPAROKI – Senja di ufuk barat Sirimese pada Sabtu, 10 Januari 2026, terasa lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Meski mentari tenggelam dengan cahaya keemasan yang indah, ada mendung kesedihan yang menggelayuti hati lebih dari 300 umat Stasi Sirimese. Di dalam Gereja kecil itu, napas doa terasa berat; Pater Andre, OFM, memimpin Ekaristi untuk terakhir kalinya. Bagi umat, Pater Andre bukan sekadar Pastor Paroki. Selama enam tahun, ia adalah anak, kakak, sekaligus gembala yang membasuh dahaga iman mereka. Kini, ketaatan sebagai seorang Fransiskan sejati memanggilnya pergi, jauh menyeberangi lautan menuju tanah misi suku Dayak di Meratus, Kalimantan Selatan. Saudara Tus yang adalah Tim Komsos di Stasi Sirimese mendokumetasi rangkaian moment acara ini dengan narasi perpisahan yang dikirim via chating WhatsApp ke media Komsos PSFAT. Dari kiriman informasinya terekam jelas moment setiap sesi berlangsung haru.
"Kesalahan Kita, Biarlah Hanyut Bersama Aliran Air"_Suasana haru mulai pecah saat Pater Andre memberikan sambutan. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca mengenang enam tahun perjalanan cinta di Sirimese. Tak ada jarak antara altar dan umat; yang ada hanyalah ikatan batin yang tulus. Ketua Dewan Stasi Sirimese, Bapak Karolus Jemada, berdiri dengan suara parau menahan tangis. Ia mengutip sebuah pepatah tua Manggarai yang menyayat hati: "Dasor sala lampa ceot wejong selama nempung cama dasor one waes laud one lesos saled." (Semoga segala salah kata dan salah langkah kita selama bersama, biarlah hanyut bersama aliran air dan terbenam bersama matahari di ufuk barat). Kalimat itu menjadi simbol permohonan maaf yang tulus, mencuci bersih segala luka masa lalu agar kepergian sang gembala menjadi suci dan tanpa beban.
Ritual "Wuat Lako": Cinta yang Mengalir dalam Topi Re’a_Usai misa, prosesi berlanjut ke Rumah Gendang Rahong Sirimese. Di sanalah, dalam kehangatan rumah adat, ritual Wuat Lako (utusan pergi) digelar. Suasana semakin menyayat hati ketika tetua adat, Bapak Alo Ngamal, menyampaikan pesan terakhirnya mewakili Tua Adat dan masyarakat menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pater Andre OFM. "Kapu neho wua pau, naka neho wua nangka lami Ite one 6 ntaung olo. Hoo kali Ite kut lako kole ngger one tana weru, ngaji dami di'a-di'a Ite one tempat weru gitu. Neka ngger ones sangged damang ko adong de jing daat ata kut pande loak stola Dite. Porong Ite jadi Tuang sampe tu'a", ("Kami menyayangimu laksana manisnya buah mangga dan nangka selama enam tahun ini, Pater," ujarnya dengan nada rendah. "Pergilah ke tanah yang baru. Doa kami menyertaimu agar tidak ada roh jahat yang mengusik jubah dan stolamu. Jadilah gembala sampai tua)." ungkap Bapak Alo dengan terbata-bata.
Puncak kesedihan meledak saat tangan lembut seorang Ende (ibu) Paulina Barabara, maju ke depan. Dengan jemari yang gemetar karena menahan isak, ia mengenakan Topi Re’a dan menyampirkan Selempang Manggarai ke tubuh Pater Andre. Momen itu terekam begitu pilu. Pater Andre menunduk dalam, seolah berat meninggalkan pelukan hangat Ende Ema (Ibu Ayah) umat Sirimese. Namun, sebagai seorang pengikut Santo Fransiskus, ketaatan adalah komitmen tertinggi. Di atas segalanya, tugas pelayanan adalah prioritas, meski hati harus teriris karena perpisahan.
"Sayonara, Sampai Jumpa Lagi"_ Pria kelahiran Lembata, 7 November 1984 ini meminta satu hal dari umatnya: Doa. "Saya memohon doa Bapak dan Ibu untuk perjalanan tugas saya. Sebaliknya, saya akan selalu mendoakan hidup kalian di sini," ucapnya sembari menghapus air mata yang jatuh ke pipinya. Ia menitipkan pesan agar sinergi antara gereja, pemerintah, dan adat yang telah terjalin tetap dijaga. Semangat gotong royong dan cinta pada alam (JPIC) harus terus mengakar di bumi Sirimese."Maafkan saya jika pelayanan saya pernah melukai hati Bapak dan Ibu semua. Mewakili rekan saya, Pater Edo OFM, kami memohon maaf setinggi-tingginya. Sayonara, sampai jumpa lagi," tutupnya. Malam itu ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh kehangatan namun menyesakkan dada. Umat dari berbagai kalangan; mulai dari anak sekolah hingga Pemuda Penjaga dan Penyelamat Kampung ( P3K) Komisi Justice Peace And Integrity Of Creation ( JPIC) OFM Indonesia bergantian memeluk dan menyalami sang gembala.
Topi Re’a itu sebentar lagi akan berkelana ke tanah Borneo. Ia tidak hanya menjadi pelindung kepala dari terik matahari Meratus, tapi menjadi pengingat bahwa di sebuah desa kecil bernama Sirimese, ada umat yang selalu menyebut nama Pater Andre dalam setiap sujud doa mereka. Selamat sampai di tanah Misi Tuang. Jadilah garam dan terang di tanah misi yang baru.
Laporan: Saudara Tus (Komsos Stasi Sirimese) Editor: Frengky Jamento







0 comments:
Posting Komentar