![]() |
| Foto by : Tim Komsos |
TENTANG-WARTAPAROKI_ Suasana senja di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang terasa berbeda pada Kamis pekan ini. Ketika lonceng gereja mulai bertalu, bukan hanya pusat paroki yang berdenyut, melainkan seluruh stasi yang tersebar di medan-medan menantang. Tahun ini, perayaan Kamis Putih—momen peringatan Perjamuan Malam Terakhir dan pembasuhan kaki para rasul; menjadi bukti nyata bahwa kasih Tuhan tidak terbatas oleh jarak dan topografi. Memahami kerinduan umat akan sakramen ekaristi, Gereja memutuskan untuk turun gunung. Tidak ada lagi umat yang harus menempuh perjalanan jauh ke pusat paroki; para pastor-lah yang mendatangi mereka.
Misi pelayanan ini digerakkan oleh "tim gembala" dari Ordo Saudara Dina (OFM). Pater Hendra, OFM, Pater Hendrik, OFM, Pater Wolf, OFM, dan Pater Patris, OFM, membagi diri ke berbagai titik stasi. Mereka tidak sendirian; Diakon Andre, OFM, Bruder Damas, OFM, bersama para Postulan dan katekis bahu-membahu memastikan setiap sudut paroki merasakan sakralnya malam perjamuan. Topografi Paroki Tentang yang berbukit dan menantang bukanlah sekadar hiasan alam. Bagi para pelayan Tuhan ini, setiap tanjakan dan jalanan terjal adalah ziarah kasih. Semangat mereka tidak surut oleh kelelahan fisik. “Kami ingin umat benar-benar merasakan kasih yang melampaui kata-kata. Bukan sekadar khotbah di atas mimbar, tapi kehadiran nyata di tengah-tengah mereka," ujar salah satu pelayan umat.
Keputusan untuk merayakan Kamis Putih di setiap stasi adalah upaya agar pelayanan menjadi lebih dekat dan personal. Di bawah temaram lampu gereja-gereja stasi, momen pembasuhan kaki menjadi begitu emosional. Para Pastor membasuh kaki para petani, orang tua, dan pemuda setempat; melambangkan kerendahan hati Kristus yang melayani tanpa memandang status.
Bagi umat di pelosok, kedatangan para gembala ini adalah kado iman yang luar biasa. Senyum yang merekah di wajah umat yang sederhana menjadi upah yang setimpal bagi perjalanan panjang para Pastor dan Bruder.
Perayaan ini bukan sekadar rutinitas liturgi tahunan. Di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Kamis Putih tahun ini adalah proklamasi tentang kesetiaan. Bahwa di mana ada domba yang rindu, di sana sang gembala akan hadir menjumpai mereka dengan kasih yang tulus. Kisah ini memberikan pesan bahwa medan yang berat sekalipun akan terasa ringan jika dilalui dengan cinta, dan kasih Tuhan akan selalu menemukan jalan untuk sampai ke hati setiap insan.
Teladan Basuh Kaki di Stasi Lareng: Pater Patris, OFM Ajak Umat Tanggalkan Ego dan Hidupi Kerendahan Hati
Suasana khidmat menyelimuti Stasi Lareng saat ribuan umat Katolik berkumpul merayakan Misa Kamis Putih, pembuka Tri Hari Suci. Melalui lensa kamera dan untaian pesan singkat dari tim Komsos di lapangan, terekam antusiasme luar biasa dari warga Kampung Paci, Lareng, dan Kubur yang memadati rumah ibadah untuk mengenang perjamuan malam terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Patris, OFM ini menjadi momen refleksi mendalam, terutama saat ritual pembasuhan kaki dilakukan. Dalam homilinya, Pater Patris menekankan bahwa tindakan Yesus membasuh kaki para murid bukanlah sekadar seremoni historis, melainkan simbol radikal dari keteladanan dan kerendahan hati yang melampaui batas-batas kemanusiaan. Perayaan Kamis Putih menggambarkan cinta kasih yang utuh bagi sesama. Di sini, Yesus menunjukkan totalitas cinta-Nya, bahkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Ia merendahkan diri-Nya, menanggalkan keilahian-Nya sejenak untuk membasuh kaki murid-Nya,” ungkap Pater Patris dengan penuh penekanan.
Menurutnya, esensi dari kerendahan hati adalah keberanian seseorang untuk melepaskan diri dari keterikatan duniawi, termasuk jabatan dan gengsi. Orang yang rendah hati adalah mereka yang memiliki kelapangan dada untuk mengakui kesalahan, kesediaan untuk mendengarkan nasihat, serta keterbukaan hati dalam menerima kritik dari siapa pun tanpa rasa sombong.
Di hadapan lebih dari seribu umat yang hadir, Pater Patris juga menyoroti fenomena sosial masa kini, yakni krisis keteladanan. Ia mengakui bahwa menjadi pribadi yang rendah hati di zaman yang serba kompetitif dan individualis ini bukanlah perkara mudah. “Menjadi rendah hati dan menjadi teladan di zaman sekarang memang sulit. Namun, kita diajak belajar dari Yesus yang telah memberikan cinta total kepada kita,” pungkasnya. Pater Patris menggarisbawahi bahwa momen Tri Hari Suci tahun ini harus menjadi peristiwa berahmat. Umat diundang untuk membawa api cinta yang sama ke dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai pembawa damai. Dengan saling mengasihi dan berdamai, makna Kamis Putih tidak berhenti di altar, tetapi hidup dalam keseharian setiap insan beriman.
Laporan jalannya perayaan ini merupakan buah kerja keras tim kontributor Seksi Komsos dari berbagai stasi yang secara aktif mengirimkan dokumentasi dan narasi melalui jaringan WhatsApp. Saudara Satri Darmon, selaku tim Komsos di Stasi Lareng, menjadi salah satu garda terdepan yang memastikan setiap momen religius ini tersampaikan kepada umat luas sebagai sarana pewartaan digital yang inspiratif.
Malam Kamis Putih di Sirimese: Saat Kata-Kata Tak Lagi Cukup, Teladan Menjadi Nyawa
Suasana syahdu menyelimuti Stasi Sirimese pada Kamis malam. Di bawah sinar lampu gereja yang hangat, ratusan umat larut dalam kekhusyukan Perayaan Ekaristi Kamis Putih. Malam itu bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah pengingat tajam tentang esensi cinta yang paling murni Pelayanan. Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Pater Hendra, OFM, Pastor Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang ini, berlangsung begitu khidmat. Harmoni suara dari koor gabungan KBG Santu Gabriel dan KBG Santu Fransiskus seolah membawa jiwa setiap umat yang hadir masuk lebih dalam ke dalam misteri perjamuan terakhir.
Dalam homilinya yang menyentuh sanubari, Pater Hendra mengajak umat untuk menengok kembali peristiwa ribuan tahun silam di ruang atas Yerusalem. Saat itu, Yesus tidak hanya memberikan Tubuh dan Darah-Nya, tetapi juga merendahkan diri-Nya untuk membasuh kaki para murid. Sebuah aksi yang menurut Pater Hendra adalah tamparan bagi dunia modern. “Kata-kata saja tidak cukup. Kita harus mampu menjadi teladan kasih dalam kehidupan kita masing-masing,” tegasnya di hadapan umat. Pater Hendra menyoroti fenomena sosial saat ini dengan kalimat yang lugas namun mendalam. Menurutnya, tantangan terbesar manusia saat ini bukanlah kurangnya informasi atau ilmu, melainkan krisis keteladanan. Banyak orang pandai berbicara tentang kasih, namun sedikit yang bersedia "membasuh kaki" sesamanya.
Pater Hendra mengingatkan bahwa menjadi teladan tidak harus dimulai dengan gebrakan besar yang mengguncang dunia. Sebaliknya, misi kasih itu harus berakar dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Beliau mengajak para orang tua untuk menjadi cermin kebaikan bagi anak-anak mereka. Aksi sederhana di rumah, sikap saling menghargai antara suami dan istri, serta ketaatan dalam iman adalah bentuk nyata dari khotbah yang hidup. “Kita mesti menjadi teladan sebagai orang tua dan juga teladan menjadi orang Katolik,” lanjutnya dengan penuh penekanan.
Saudra Beni, dari Tim Komsos Stasi Sirimese, melaporkan bahwa antusiasme umat sangat terasa sepanjang perayaan. Pesan yang disampaikan Pater Hendra seolah menjadi oase di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang kian individualis. Perayaan Kamis Putih di Sirimese malam itu diakhiri dengan perarakan Sakramen Mahakudus, namun pesan Pater Hendra tetap bergema di hati umat bahwa menjadi pengikut Kristus berarti siap untuk melayani, bukan dilayani. Malam itu, Stasi Sirimese tidak hanya merayakan tradisi, tetapi sedang memupuk benih-benih teladan baru yang diharapkan akan mekar dalam keseharian masyarakat Sirimese dan sekitarnya.
Editor : Frengky Jamento (Tim Redaksi)
Kontributor: Beni (Komsos Stasi Sirimese) dan Satri (Komsos Stasi Lareng)







0 comments:
Posting Komentar