
P. Hendra, OFM saat memimpin ibadat Jumat Agung di Kapela Santu Damian Lareng
LARENG-WARTAPAROKITENTANG_Langit di atas Kapela Santu Damian Lareng mungkin sedang tidak bersahabat. Hujan deras mengguyur bumi, menciptakan gemuruh di atas atap seng dan hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, bagi umat Stasi Lareng, cuaca ekstrem tersebut bukanlah penghalang. Di tengah derasnya hujan, mereka hadir dengan hati yang hangat untuk memperingati wafatnya Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, dalam Ibadat Jumat Agung yang dipimpin oleh Pater Hendra, OFM.
Laporan dari Saudara Satri Darmon (Komsos Stasi Lareng) menggambarkan suasana haru sekaligus heroik. Hujan yang turun seolah menjadi "padang gurun" kecil bagi umat dan sang gembala, menguji sejauh mana kesetiaan mereka untuk menemani Kristus di puncak Golgota.
Mengawali homilinya dengan gaya yang humanis dan menyentuh sisi emosional, Pater Hendra, OFM mengajak umat menyelami kembali pengalaman hidup mereka. Ia menekankan bahwa setiap manusia pasti memiliki "Jalan Salib"-nya masing-masing. "Dalam hidup kita, ada masa dan saat kita harus memanggul salib. Entah kapan dan di mana, kita pasti pernah merasa tak berdaya. Di titik nadir itulah, kita teringat akan Seseorang yang kita cintai, yang kematian-Nya kita peringati hari ini: Yesus Kristus," ujar Pater Hendra dengan nada tenang namun mendalam. Refleksi ini membawa umat pada keheningan. Di tengah suara hujan, setiap pribadi diajak melihat kembali luka, kegagalan, dan beban hidup mereka, lalu menyatukannya dengan penderitaan Kristus.
Lebih lanjut, Pater Hendra mengingatkan umat bahwa Gereja Katolik tidak dibangun di atas fondasi kejayaan duniawi atau kemegahan materi. Sebaliknya, Gereja lahir dari pengorbanan yang radikal. "Sejarah Gereja Katolik berdiri di atas dasar salib—salib Kristus sendiri, para rasul, para murid, dan para martir yang meneteskan darah mereka," tegasnya. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa identitas Katolik adalah identitas perjuangan dan ketulusan.
Pater Hendra juga memberikan sentilan tajam namun mendidik mengenai fenomena krisis keteladanan di era modern. Menurutnya, saat ini dunia dipenuhi oleh orang-orang yang mahir berbicara, namun miskin dalam tindakan nyata.
Pertama : Panggilan Keteladanan; Umat diajak untuk menjadi teladan, minimal bagi diri sendiri dan keluarga terdekat.
Kedua : Melampaui Identitas Formal; Menjadi Katolik bukan sekadar urusan administratif di Dinas Dukcapil, melainkan sebuah cara hidup.
Ketiga : Menuju Sumber Kehidupan; Kematian adalah kepastian, namun bagi orang beriman, kematian adalah jalan menuju sumber kehidupan abadi.
Sebagai penutup rangkaian renungan yang emosional tersebut, Pater Hendra mengajak umat untuk terus berbenah diri. Ia berpesan agar setiap langkah hidup umat Katolik senantiasa mencerminkan keteladanan Yesus. "Mari kita belajar dari keteladanan Yesus Kristus. Suatu saat, dengan cara apa pun, kita akan mengalami kematian. Mari kita pastikan bahwa kita melaluinya sebagai orang Katolik yang sah secara iman, yang mampu memberi teladan bagi Gereja dan sesama," tutupnya.
Ibadat yang berlangsung di tengah guyuran hujan itu berakhir dengan kekhusyukan yang luar biasa. Umat pulang tidak hanya dengan pakaian yang mungkin basah, tetapi dengan api iman yang menyala lebih terang; siap menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang rindu akan keteladanan.
Editor: Tim Redaksi WARTAPAROKITENTANG
Kontributor: Satri Darmon (Komsos Stasi Lareng)






0 comments:
Posting Komentar