TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

https://drive.google.com/file/d/1Jgtp6biGAJps4uGnjR7evJkWMekPSzHw/view?usp=drive_link

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 27 Desember 2025

MENEMBUS BATAS, MELAYANI DENGAN HATI: Kisah Lima Gembala yang Membawa Terang Natal ke Pelosok Paroki Tentang

Foto by : Tim Komsos

Tentang-WARTAPAROKI– Di balik riuh rendah lonceng gereja dan gemerlap lilin altar, Natal di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang tahun ini menyimpan sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui sekadar rutinitas liturgi. Natal kali ini bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang sejauh mana seorang gembala bersedia melangkah demi domba-dombanya. Demi memastikan setiap umat dapat mengecap sukacita kelahiran Kristus, Paroki Tentang mengambil langkah berani dengan membagi perayaan Ekaristi ke tujuh titik lokasi yang berbeda. Mulai dari Pusat Paroki (Stasi Tentang), hingga menjangkau Stasi Lareng, Kalo, Raca, Sirimese, Lumut, dan Reca. Langkah ini bukanlah perkara mudah. Hal ini menuntut pengorbanan dan dedikasi penuh dari para imam yang melayani. Sosok Pater Andreas Bisa, OFM, Pater Eduardus Da Silva, OFM, Pater Hendrik, OFM, Pater Dion, dan Romo Coky, Pr menjadi potret nyata dari apa yang disebut sebagai "pelayanan total". Mereka tidak menunggu umat datang, melainkan mereka yang mendatangi umat. Melalui medan yang mungkin tak selalu mudah, para gembala ini membawa pesan damai Natal hingga ke sudut-sudut stasi agar tak ada satu pun jiwa yang merasa terlupakan di hari yang kudus ini.  "Natal bukanlah sekadar putaran kalender. Ia adalah perjumpaan. Dan hari ini, para imam kami menunjukkan bahwa hakekat Natal adalah kehadiran yang nyata," ungkap salah seorang umat dengan mata berkaca-kaca. Kontributor Tim Komsos Paroki Tentang melaporkan beragam momen haru dari lapangan. Kehadiran imam di setiap lokasi disambut hangat dan bahagia umat yang merasa begitu diperhatikan, juga cerita tentang kesederhanaan kandang Natal di stasi-stasi justru menambah kekhusyukan yang tak ternilai harganya. Setiap lokasi memiliki ceritanya sendiri, ada tawa anak-anak, ada doa khusyuk para lansia, ada semangat gotong royong yang dibangun dalam menyiapkan perayaan. Namun, benang merahnya tetap sama; Syukur dan Damai. 

Natal di Stasi Raca; Merayakan Ketidaksempurnaan dengan Cinta.

Di bawah naungan langit malam yang tenang di Stasi Raca, ribuan hati berkumpul dalam sebuah harmoni iman yang luar biasa. Perayaan Natal tahun 2025 di stasi ini tidak hanya menjadi rutinitas doa, tetapi menjelma menjadi momen refleksi mendalam tentang cinta, persaudaraan, dan kesederhanaan seorang anak kecil yang membawa keselamatan bagi dunia. Perayaan dimulai pada Malam Natal, Rabu (24/12), pukul 19.00 WITA. Sebanyak 800 umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati gereja dengan khusyuk. Di bawah arahan liturgi dari umat Dusun Kaput, suasana terasa begitu hidup dan syahdu. Pater Andre, OFM, yang memimpin Ekaristi malam itu, memberikan siraman rohani yang menyentuh relung hati umat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal adalah perayaan persaudaraan yang melintasi batas semesta. "Mari kita menumbuhkan dalam diri kita cinta kepada sesama. Sadarilah bahwa tidak ada anak, pasangan, ataupun sesama yang sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itulah, kasih Natal memanggil kita untuk saling menerima," pesan Pater Andre sebagaimana didokumentasikan oleh kontributor Komsos, Leksan Serdi. Sukacita berlanjut pada puncak Hari Raya Natal, Kamis (25/12). Sejak pukul 07.30 WITA, lebih dari 600 umat termasuk para lansia yang datang dengan langkah perlahan namun penuh semangat; telah memenuhi ruangan. Alunan koor dari umat Dusun Ting membubung tinggi, menambah kekhidmatan suasana. Pater Eduardus Da Silva, OFM (Pater Edo), yang memimpin perayaan pagi itu, membawa pesan yang sangat puitis namun nyata. Ia mengingatkan umat bahwa Tuhan memilih hadir sebagai anak kecil, sebuah simbol kemurnian yang tanpa noda kebencian. "Tuhan hadir sebagai anak kecil membawa keselamatan tanpa ada kebencian. Sebab, kebencian biasanya baru tumbuh ketika orang menjadi dewasa," ungkap Pater Edo, yang disambut anggukan reflektif dari ribuan umat yang hadir. Natal tahun 2025 ini juga terasa istimewa karena sebuah "kebetulan" yang cantik. Pater Edo menyoroti keunikan angka 5 yang muncul secara berulang; tanggal 25, tahun 2025. Keunikan ini menjadi inspirasi filosofis bagi Stasi Raca untuk menghadirkan lima buah pohon natal yang berdiri anggun, melambangkan berbagai makna mendalam dalam kehidupan dan iman. Filosofi angka lima ini bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat akan keseimbangan dan kelengkapan dalam melayani sesama. Di penghujung perayaan, Ketua Dewan Stasi Raca, Bapak Nikolaus Danggur, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Ia mengapresiasi totalitas para imam dan kerja keras seluruh umat yang telah bahu-membahu menyukseskan perayaan ini. "Terima kasih kepada Pater Andre dan Pater Edo yang telah melayani kami dalam Ekaristi Natal tahun 2025. Terima kasih juga untuk panitia dan seluruh umat yang telah bekerja keras. Kehadiran para Pastor adalah kado Natal terindah bagi iman kami di Stasi Raca," pungkasnya dalam sambutan yang penuh haru. Perayaan Natal di Stasi Raca tahun ini menjadi bukti bahwa di tengah kesederhanaan, jika cinta dan kerja sama menjadi landasannya, sukacita surga benar-benar bisa dirasakan di bum

Natal di Stasi Lareng; Sapaan Lembut "Tamu Agung" dalam Bahasa Manggarai. Perayaan Natal di Stasi Lareng tahun ini menyisakan jejak spiritual yang mendalam bagi umatnya. Bukan sekadar perayaan rutin yang berlalu bersama riuh rendah lagu Natal, namun sebuah perjumpaan batin yang dikemas dalam dua cara istimewa: melalui ketegasan iman seorang gembala muda dan kelembutan bahasa ibu dari seorang gembala senior. Saudara Satri Darmon, selaku seksi komsos di Stasi Lareng menyampaikan kisah perayaan Natal yang berkesan ini. Romo Coky, Pr: Natal Adalah Revolusi Diri; Malam Natal di Stasi Lareng dipimpin oleh Romo Coky, Pr. Sosoknya menarik perhatian bukan hanya karena jubah yang dikenakannya, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai seorang polisi aktif. Di balik wibawa kedisiplinannya, Romo Coky membawa pesan transformasi yang kuat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal bukanlah sekadar rutinitas seremoni tahunan. "Perayaan Natal yang diadakan setiap tahun bukan sebuah seremoni atau kegiatan rutin. Kita harus memaknai Natal itu sebenarnya, yaitu menjadi Manusia Baru di tengah keluarga dan masyarakat," tegas Pastor muda ini. Baginya, kelahiran Kristus harus menjadi momentum bagi setiap umat untuk meninggalkan tabiat lama dan hadir sebagai sosok yang baru, membawa damai serta ketertiban mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Pemandangan berbeda namun tak kalah menyentuh terjadi pada Misa Hari Raya Natal (25/12). Kali ini, Pater Hendrik, OFM, gembala senior yang dikenal sarat pengalaman, menyuguhkan siraman rohani yang sangat personal. Sepanjang khotbahnya, Pater Hendrik memilih menggunakan bahasa Manggarai; bahasa yang menyentuh akar terdalam budaya dan perasaan umat setempat. Dengan nada yang teduh, ia mengibaratkan kelahiran Yesus sebagai kehadiran seorang Tamu Agung yang datang dari tempat tinggi untuk mengunjungi setiap pribadi. "Leso ho'o dite manga cai meka, meka eta mai Surga ata manga nuk agu ngoeng latang ite neteng-neteng weki," (Hari ini kita kedatangan tamu, tamu dari Surga yang memiliki pikiran dan kerinduan untuk kita masing-masing), ungkap Pastor Tua ini dengan penuh perasaan. Gaya bahasa yang membumi ini memberikan penegasan bahwa Tuhan tidak jauh. Ia adalah tamu yang rindu mengetuk pintu rumah setiap umat di Stasi Lareng, tanpa terkecuali. Stasi Lareng telah menunjukkan betapa indahnya keberagaman pelayanan. Kehadiran Romo Coky dengan seruan pembaharuan dirinya, serta Pater Hendrik dengan pendekatan kultural yang menyentuh, menjadi perpaduan sempurna bagi pertumbuhan iman umat. Di bawah langit Lareng, Natal tahun ini benar-benar menjadi momen di mana umat merasa dipanggil secara pribadi untuk pulang ke pelukan Tuhan—baik sebagai manusia baru yang disiplin dalam kasih, maupun sebagai tuan rumah yang layak bagi Sang Tamu Agung dari Surga.


Natal di Stasi Sirimese; Simponi Persatuan.

Jarak geografis boleh saja menempatkan Stasi Sirimese di titik paling ujung Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Namun, dalam urusan iman dan semangat persaudaraan, umat di stasi ini membuktikan bahwa mereka adalah jantung yang berdetak kencang dengan sukacita Natal yang luar biasa. Melalui laporan Saudara Tus, Seksi Komsos Stasi Sirimese, tergambar jelas bagaimana perayaan kelahiran Sang Juru Selamat tahun ini menjadi panggung kolaborasi yang penuh haru dan kekhidmatan. Perayaan Malam Natal dimulai pada pukul 16.00 WITA yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Namun, ada pemandangan unik yang mencuri perhatian dan menggetarkan hati umat. Sebuah kolaborasi indah lahir dari rahim tiga Komunitas Basis Gerejani (KBG), yakni KBG Santu Mikael, Fransiskus, dan Gabriel, yang melebur menjadi satu kelompok koor bernama MIFAGA (Mikael, Fransikus dan Gabriel). Sekitar 600 umat yang hadir menyaksikan betapa perbedaan nama KBG bukan penghalang untuk melantunkan satu nada pujian yang sama. Suara-suara mereka membubung tinggi, mengisi ruang gereja, seolah menegaskan bahwa Natal adalah tentang menyatukan yang terpisah. Pada puncak perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember, suasana spiritual di Sirimese semakin terasa istimewa. Misa dipimpin oleh Romo Coky, Pr, imam Diosesan asal Paroki Tentang yang sedang dalam masa liburan. Di tengah waktu istirahatnya, pastor muda yang juga merupakan seorang anggota polisi ini memilih untuk memberikan dirinya, melayani umat di garis batas paroki. Jika Malam Natal dimeriahkan oleh MIFAGA, pada Misa Hari Raya ini, giliran paduan suara dari gabungan KBG Santu Antonius, Yohanes, dan Santa Matildis yang mengiringi langkah sekitar 600 umat dalam kekhusyukan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo Coky membawa pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk memperluas makna damai, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam ciptaan. "Mari kita saling berdamai dengan sesama dan seluruh makhluk Tuhan yang terkecil," ungkap Romo Coky dengan nada persuasif yang menyentuh hati. Kedamaian yang Inklusif; Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat di Sirimese bahwa Natal tidak berhenti di dalam gedung gereja. Damai Natal harus dibawa pulang ke rumah, ke kebun-kebun, dan ke tengah masyarakat, bahkan ditujukan kepada makhluk ciptaan yang paling kecil sekalipun. Meski berada di ujung wilayah pelayanan, Stasi Sirimese telah menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dengan jarak kilometer dari pusat paroki, melainkan dari kedekatan hati antar sesama melalui kolaborasi dan kerendahan hati untuk saling berdamai. Natal di Sirimese tahun ini adalah bukti bahwa di tempat yang paling jauh sekalipun, kasih Tuhan tetap hadir secara utuh, nyata, dan penuh kehangatan.


Natal di Stasi Lumut; Kabar Sukacita di Tengah Kegelapan; 

Di bawah langit Stasi Lumut yang tenang, sebuah peristiwa iman yang menggetarkan jiwa baru saja berlangsung. Perayaan Natal tahun ini di Stasi Lumut bukan sekadar pengulangan tradisi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa umat dari Kampung Lumut dan Kakor merenung jauh ke dalam batin, menjemput Terang yang telah lama dijanjikan. Saudara Sil selalu seksi komsos Stasi Lumut yang selalu setia mendokumentasikan moment berahmat ini, menyampaikan kisahnya tentang perayaan Natal yang berlangsung hikmat dan berkesan. Suasana penuh kegembiraan menyelimuti gereja saat perayaan Malam Natal dimulai. Kehadiran Pater Dion, putra Paroki Tentang yang sedang dalam masa libur namun memilih mengabdikan waktunya untuk melayani umat, memberikan warna tersendiri. Bagi umat, kehadiran imam yang "pulang kampung" untuk melayani adalah kado Natal yang menghangatkan. Dalam homilinya yang sarat akan makna puitis sekaligus teologis, Pater Dion mengingatkan umat bahwa Natal adalah jawaban Allah atas keputus-asaan dunia."Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan dunia ini tenggelam dalam kegelapan. Ia datang, hadir, dan menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus. Terang itu menembus dosa, kebohongan, dan keputusasaan," ungkap Pater Dion dengan nada yang penuh keyakinan. Pesan ini seolah menjadi pelita bagi umat, menegaskan bahwa seberat apa pun beban hidup, kegelapan tidak akan pernah bisa menguasai Terang sejati yang telah lahir di palungan hati. Sukacita terus mengalir hingga puncak Hari Raya Natal yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Berbeda dengan malam sebelumnya, Pater Edo membawa umat pada sebuah permenungan yang lebih intim dan reflektif. Dikenal dengan gaya berkotbah yang dialogis, ia tidak menyuapi umat dengan jawaban, melainkan mengetuk pintu kesadaran mereka melalui sebuah pertanyaan sederhana namun sangat dalam. "Sudah pantaskah saya menerima kehadiran Yesus?" tanya Pater Edo lembut. Pertanyaan itu menggantung di udara gereja, menciptakan keheningan yang suci. Pater Edo melanjutkan, "Jawabannya ada pada diri kita masing-masing." Ruangan seketika dipenuhi anggukan kepala umat; sebuah tanda bahwa pesan tersebut telah mendarat tepat di relung hati mereka, memicu pemeriksaan batin yang jujur di hari yang kudus tersebut. Keberhasilan perayaan yang khidmat ini tak lepas dari kerja keras banyak tangan. Ketua Dewan Stasi Lumut, Bapak Stef Jon, dengan penuh haru menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia mengapresiasi totalitas Pater Edo dan Pater Dion, serta kehadiran Suster dan Frater yang memperkaya suasana rohani di stasi tersebut. "Terima kasih kepada para Pastor, Suster, Frater, serta anak-anak putra-putri altar dan seluruh umat yang telah terlibat. Kerja keras dan kehadiran Anda semua telah memperlancar jalan bagi perayaan Ekaristi ini," ungkap Bapak Stef Jon dalam sambutannya yang penuh apresiasi. Natal di Stasi Lumut tahun ini ditutup dengan sebuah pemahaman baru: bahwa Kristus telah datang sebagai Terang, namun apakah kita sudah cukup layak menyediakan tempat bagi-Nya? Di antara Kampung Lumut dan Kakor, pertanyaan reflektif itu kini dibawa pulang oleh umat, menjadi bekal untuk menjalani hari-hari mendatang dengan hati yang lebih murni.


Natal di Stasi Kalo; Membasuh Hati dari Debu Kebencian.

Sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat dan udara sejuk khas pedesaan mulai menyelimuti perbukitan, lonceng gereja di Stasi Kalo berdentang dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar penanda waktu, dentang itu adalah undangan bagi umat di Kampung Purek dan War untuk menjemput sebuah peristiwa iman yang tak terlupakan. Tepat pukul 16.00 WITA, perayaan Ekaristi Malam Natal dimulai. Di tengah kesederhanaan suasana desa, sekitar lebih dari 400 umat berkumpul dengan hati yang penuh rindu. Di sana, telah menanti seorang gembala senior, Pater Hendrik, OFM, yang datang membawa warta sukacita. Sebagaimana dilaporkan oleh Saudara Ran Pranatalion, Seksi Komsos Stasi Kalo, suasana spiritual malam itu terasa begitu intim. Pater Hendrik, dengan gaya yang khas, memilih untuk melepaskan sekat jarak antara altar dan umat dengan menggunakan bahasa Manggarai sepanjang homilinya. Bagi umat di pelosok, mendengar Kabar Gembira dalam bahasa ibu adalah seperti merasakan dekapan Tuhan secara langsung. Pater Hendrik menekankan bahwa Yesus yang lahir di palungan bukanlah sosok yang jauh, melainkan seorang "Tamu Agung" (Meka) yang datang dari Surga khusus untuk mengunjungi mereka. "Leso ho ite mai meka eta mai Surga, mai latang sanggen taung ite ba dai di'ad..." (Hari ini kita kedatangan tamu dari Surga, yang datang membawa kebaikan bagi kita semua...), ucap Pater Hendrik dengan suara yang bergetar penuh kasih. Lebih jauh, pesan Pater Hendrik menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar. Ia mengajak seluruh umat Stasi Kalo untuk menjadikan kedatangan "Tamu Agung" ini sebagai momentum pembersihan diri. Natal bukan tentang baju baru, melainkan tentang hati yang baru. Dalam petuahnya yang mendalam, ia meminta umat untuk membuang segala hal yang merusak persaudaraan, "...oke taung toe di'a agu hae ata, iri hati agu ata, porong mai Diha ga pande Nggeluk taung nai dite sanggen taung umat ce stasi Kalo." (Buanglah semua yang tidak baik terhadap sesama, jauhkan iri hati, dan biarlah Dia yang datang menyucikan seluruh hati kita semua umat di Stasi Kalo ini). Mendengar pesan tersebut, keheningan menyelimuti gereja. Banyak umat tertunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari lisan sang gembala. Ada rasa haru yang membuncah ketika menyadari bahwa di stasi kecil ini, Tuhan mau hadir dan menyapa mereka dengan bahasa yang mereka cintai. Perayaan di Stasi Kalo menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Natal tidak diukur dari gemerlap lampu atau megahnya bangunan, melainkan dari ketulusan hati umat yang menyambut Tuhannya. Di bawah pimpinan Pater Hendrik, Natal tahun 2025 di Kalo telah bertransformasi menjadi sebuah "perjamuan suci" di mana kebencian dikalahkan oleh kasih, dan iri hati dibasuh oleh kerendahan hati. Ketika Misa berakhir dan umat melangkah pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan malam pedesaan, mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada cahaya "Tamu Agung" yang kini menyala terang di dalam hati setiap orang yang hadir.

Pesan Keteleladaan dari Sang Gembala.

Apa yang telah ditunjukkan oleh sang gembala umat Pater Andre dan rekan-rekan imam lainnya di Paroki Tentang adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa pelayanan sejati tidak mengenal jarak dan kenyamanan pribadi. Dengan terjangkaunya seluruh stasi, Paroki Tentang telah berhasil menghidupkan hakekat Natal yang inklusif Natal yang menyapa semua orang tanpa terkecuali. Luar biasa. Sebuah teladan yang membuktikan bahwa ketika kasih menjadi dasar, maka kelelahan fisik akan kalah oleh sukacita melihat umat tersenyum menyambut Sang Juru Selamat.

*Frengky Jamento (komsos Paroki Tentang)


Kamis, 25 Desember 2025

Sapaan Lembut di Kaki Langit Kalo: Kala "Tamu Agung" Bertamu dalam Bahasa Ibu

 

Foto by : Ran Pranatalion 

KALO-WARTAPAROKI – Sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat dan udara sejuk khas pedesaan mulai menyelimuti perbukitan, lonceng gereja di Stasi Kalo berdentang dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar penanda waktu, dentang itu adalah undangan bagi umat di Kampung Purek dan War untuk menjemput sebuah peristiwa iman yang tak terlupakan. Tepat pukul 16.00 WITA, perayaan Ekaristi Malam Natal dimulai. Di tengah kesederhanaan suasana desa, sekitar lebih dari 400 umat berkumpul dengan hati yang penuh rindu. Di sana, telah menanti seorang gembala senior, Pater Hendrik, OFM, yang datang membawa warta sukacita.

Kehangatan Bahasa Manggarai: Membawa Surga ke Dalam Hati; Sebagaimana dilaporkan oleh Saudara Ran Pranatalion, Seksi Komsos Stasi Kalo, suasana spiritual malam itu terasa begitu intim. Pater Hendrik, dengan gaya yang khas, memilih untuk melepaskan sekat jarak antara altar dan umat dengan menggunakan bahasa Manggarai sepanjang homilinya. Bagi umat di pelosok, mendengar Kabar Gembira dalam bahasa ibu adalah seperti merasakan dekapan Tuhan secara langsung. Pater Hendrik menekankan bahwa Yesus yang lahir di palungan bukanlah sosok yang jauh, melainkan seorang "Tamu Agung" (Meka) yang datang dari Surga khusus untuk mengunjungi mereka. "Leso ho ite mai meka eta mai Surga, mai latang sanggen taung ite ba dai di'ad..." (Hari ini kita kedatangan tamu dari Surga, yang datang membawa kebaikan bagi kita semua...), ucap Pater Hendrik dengan suara yang bergetar penuh kasih.

Membasuh Hati dari Debu Kebencian; Lebih jauh, pesan Pater Hendrik menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar. Ia mengajak seluruh umat Stasi Kalo untuk menjadikan kedatangan "Tamu Agung" ini sebagai momentum pembersihan diri. Natal bukan tentang baju baru, melainkan tentang hati yang baru. Dalam petuahnya yang mendalam, ia meminta umat untuk membuang segala hal yang merusak persaudaraan, "...oke taung toe di'a agu hae ata, iri hati agu ata, porong mai Diha ga pande Nggeluk taung nai dite sanggen taung umat ce stasi Kalo." (Buanglah semua yang tidak baik terhadap sesama, jauhkan iri hati, dan biarlah Dia yang datang menyucikan seluruh hati kita semua umat di Stasi Kalo ini). Mendengar pesan tersebut, keheningan menyelimuti gereja. Banyak umat tertunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari lisan sang gembala. Ada rasa haru yang membuncah ketika menyadari bahwa di stasi kecil ini, Tuhan mau hadir dan menyapa mereka dengan bahasa yang mereka cintai.

Natal yang Bersahaja namun Berbekas; Perayaan di Stasi Kalo menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Natal tidak diukur dari gemerlap lampu atau megahnya bangunan, melainkan dari ketulusan hati umat yang menyambut Tuhannya. Di bawah pimpinan Pater Hendrik, Natal tahun 2025 di Kalo telah bertransformasi menjadi sebuah "perjamuan suci" di mana kebencian dikalahkan oleh kasih, dan iri hati dibasuh oleh kerendahan hati. Ketika Misa berakhir dan umat melangkah pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan malam pedesaan, mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada cahaya "Tamu Agung" yang kini menyala terang di dalam hati setiap orang yang hadir.

Kontributor: Ran - Editor: Frengky Jamento

Cahaya di Palungan Lumut: Kala Terang Sejati Menembus Kegelapan dan Mengetuk Pintu Hati

Foto by : Saudara Sil

LUMUT-WARTAPAROKI – Di bawah langit Stasi Lumut yang tenang, sebuah peristiwa iman yang menggetarkan jiwa baru saja berlangsung. Perayaan Natal tahun ini di Stasi Lumut bukan sekadar pengulangan tradisi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa umat dari Kampung Lumut dan Kakor merenung jauh ke dalam batin, menjemput Terang yang telah lama dijanjikan. Saudara Sil selalu seksi komsos Stasi Lumut yang selalu setia mendokumentasikan moment berahmat ini, menyampaikan kisahnya tentang perayaan Natal yang berlangsung hikmat dan berkesan.

Malam Natal: Kabar Sukacita di Tengah Kegelapan; Suasana penuh kegembiraan menyelimuti gereja saat perayaan Malam Natal dimulai. Kehadiran Pater Dion, putra Paroki Tentang yang sedang dalam masa libur namun memilih mengabdikan waktunya untuk melayani umat, memberikan warna tersendiri. Bagi umat, kehadiran imam yang "pulang kampung" untuk melayani adalah kado Natal yang menghangatkan.

Dalam homilinya yang sarat akan makna puitis sekaligus teologis, Pater Dion mengingatkan umat bahwa Natal adalah jawaban Allah atas keputus-asaan dunia."Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan dunia ini tenggelam dalam kegelapan. Ia datang, hadir, dan menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus. Terang itu menembus dosa, kebohongan, dan keputusasaan," ungkap Pater Dion dengan nada yang penuh keyakinan. Pesan ini seolah menjadi pelita bagi umat, menegaskan bahwa seberat apa pun beban hidup, kegelapan tidak akan pernah bisa menguasai Terang sejati yang telah lahir di palungan hati.

Pagi Natal: Sebuah Pertanyaan yang Mengetuk Nurani; Sukacita terus mengalir hingga puncak Hari Raya Natal yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Berbeda dengan malam sebelumnya, Pater Edo membawa umat pada sebuah permenungan yang lebih intim dan reflektif. Dikenal dengan gaya berkotbah yang dialogis, ia tidak menyuapi umat dengan jawaban, melainkan mengetuk pintu kesadaran mereka melalui sebuah pertanyaan sederhana namun sangat dalam. "Sudah pantaskah saya menerima kehadiran Yesus?" tanya Pater Edo lembut. Pertanyaan itu menggantung di udara gereja, menciptakan keheningan yang suci. Pater Edo melanjutkan, "Jawabannya ada pada diri kita masing-masing." Ruangan seketika dipenuhi anggukan kepala umat; sebuah tanda bahwa pesan tersebut telah mendarat tepat di relung hati mereka, memicu pemeriksaan batin yang jujur di hari yang kudus tersebut.

Syukur dari Ujung Pelayanan; Keberhasilan perayaan yang khidmat ini tak lepas dari kerja keras banyak tangan. Ketua Dewan Stasi Lumut, Bapak Stef Jon, dengan penuh haru menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia mengapresiasi totalitas Pater Edo dan Pater Dion, serta kehadiran Suster dan Frater yang memperkaya suasana rohani di stasi tersebut. "Terima kasih kepada para Pastor, Suster, Frater, serta anak-anak putra-putri altar dan seluruh umat yang telah terlibat. Kerja keras dan kehadiran Anda semua telah memperlancar jalan bagi perayaan Ekaristi ini," ungkap Bapak Stef Jon dalam sambutannya yang penuh apresiasi.

Refleksi Natal di Lumut; Natal di Stasi Lumut tahun ini ditutup dengan sebuah pemahaman baru: bahwa Kristus telah datang sebagai Terang, namun apakah kita sudah cukup layak menyediakan tempat bagi-Nya? Di antara Kampung Lumut dan Kakor, pertanyaan reflektif itu kini dibawa pulang oleh umat, menjadi bekal untuk menjalani hari-hari mendatang dengan hati yang lebih murni.

* Kontributor: Sil / Editor: Frengky Jamento 


Cahaya dari Ujung Paroki: Harmoni "MIFAGA" dan Pesan Damai Romo Polisi di Stasi Sirimese

Foto by : Tus 

SIRIMESE-WARTAPAROKI– Jarak geografis boleh saja menempatkan Stasi Sirimese di titik paling ujung Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Namun, dalam urusan iman dan semangat persaudaraan, umat di stasi ini membuktikan bahwa mereka adalah jantung yang berdetak kencang dengan sukacita Natal yang luar biasa. Melalui laporan Saudara Tus, Seksi Komsos Stasi Sirimese, tergambar jelas bagaimana perayaan kelahiran Sang Juru Selamat tahun ini menjadi panggung kolaborasi yang penuh haru dan kekhidmatan.

MIFAGA: Simponi Persatuan di Malam Natal; Perayaan Malam Natal dimulai pada pukul 16.00 WITA yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Namun, ada pemandangan unik yang mencuri perhatian dan menggetarkan hati umat. Sebuah kolaborasi indah lahir dari rahim tiga Komunitas Basis Gerejani (KBG), yakni KBG Santu Mikael, Fransiskus, dan Gabriel, yang melebur menjadi satu kelompok koor bernama MIFAGA (Mikael, Fransikus dan Gabriel). Sekitar 600 umat yang hadir menyaksikan betapa perbedaan nama KBG bukan penghalang untuk melantunkan satu nada pujian yang sama. Suara-suara mereka membubung tinggi, mengisi ruang gereja, seolah menegaskan bahwa Natal adalah tentang menyatukan yang terpisah.

Pulang untuk Melayani: Pesan Damai Romo Coky, Pr; Pada puncak perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember, suasana spiritual di Sirimese semakin terasa istimewa. Misa dipimpin oleh Romo Coky, Pr, imam Diosesan asal Paroki Tentang yang sedang dalam masa liburan. Di tengah waktu istirahatnya, pastor muda yang juga merupakan seorang anggota polisi ini memilih untuk memberikan dirinya, melayani umat di garis batas paroki.

Jika Malam Natal dimeriahkan oleh MIFAGA, pada Misa Hari Raya ini, giliran paduan suara dari gabungan KBG Santu Antonius, Yohanes, dan Santa Matildis yang mengiringi langkah sekitar 600 umat dalam kekhusyukan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo Coky membawa pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk memperluas makna damai, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam ciptaan. "Mari kita saling berdamai dengan sesama dan seluruh makhluk Tuhan yang terkecil," ungkap Romo Coky dengan nada persuasif yang menyentuh hati.

Kedamaian yang Inklusif; Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat di Sirimese bahwa Natal tidak berhenti di dalam gedung gereja. Damai Natal harus dibawa pulang ke rumah, ke kebun-kebun, dan ke tengah masyarakat, bahkan ditujukan kepada makhluk ciptaan yang paling kecil sekalipun. Meski berada di ujung wilayah pelayanan, Stasi Sirimese telah menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dengan jarak kilometer dari pusat paroki, melainkan dari kedekatan hati antar sesama melalui kolaborasi dan kerendahan hati untuk saling berdamai. Natal di Sirimese tahun ini adalah bukti bahwa di tempat yang paling jauh sekalipun, kasih Tuhan tetap hadir secara utuh, nyata, dan penuh kehangatan.

Kontributor:  Tus / Editor: Frengky Jamento 

Dua Sisi Kasih di Stasi Lareng: Dari Transformasi "Manusia Baru" hingga Sapaan Hangat Sang Tamu Agung

Foto by : Satri Darmon

LARENG-WARTAPAROKI– Perayaan Natal di Stasi Lareng tahun ini menyisakan jejak spiritual yang mendalam bagi umatnya. Bukan sekadar perayaan rutin yang berlalu bersama riuh rendah lagu Natal, namun sebuah perjumpaan batin yang dikemas dalam dua cara istimewa: melalui ketegasan iman seorang gembala muda dan kelembutan bahasa ibu dari seorang gembala senior. Saudara Satri Darmon, selaku seksi komsos di Stasi Lareng menyampaikan kisah perayaan Natal yang berkesan ini.

Romo Coky, Pr: Natal Adalah Revolusi Diri; Malam Natal di Stasi Lareng dipimpin oleh Romo Coky, Pr. Sosoknya menarik perhatian bukan hanya karena jubah yang dikenakannya, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai seorang polisi aktif. Di balik wibawa kedisiplinannya, Romo Coky membawa pesan transformasi yang kuat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal bukanlah sekadar rutinitas seremoni tahunan. "Perayaan Natal yang diadakan setiap tahun bukan sebuah seremoni atau kegiatan rutin. Kita harus memaknai Natal itu sebenarnya, yaitu menjadi Manusia Baru di tengah keluarga dan masyarakat," tegas Pastor muda ini. Baginya, kelahiran Kristus harus menjadi momentum bagi setiap umat untuk meninggalkan tabiat lama dan hadir sebagai sosok yang baru, membawa damai serta ketertiban mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.

Pater Hendrik, OFM: Sapaan Lembut "Tamu Agung" dalam Bahasa Manggarai.

Pemandangan berbeda namun tak kalah menyentuh terjadi pada Misa Hari Raya Natal (25/12). Kali ini, Pater Hendrik, OFM, gembala senior yang dikenal sarat pengalaman, menyuguhkan siraman rohani yang sangat personal. Sepanjang khotbahnya, Pater Hendrik memilih menggunakan bahasa Manggarai; bahasa yang menyentuh akar terdalam budaya dan perasaan umat setempat. Dengan nada yang teduh, ia mengibaratkan kelahiran Yesus sebagai kehadiran seorang Tamu Agung yang datang dari tempat tinggi untuk mengunjungi setiap pribadi. "Leso ho'o dite manga cai meka, meka eta mai Surga ata manga nuk agu ngoeng latang ite neteng-neteng weki," (Hari ini kita kedatangan tamu, tamu dari Surga yang memiliki pikiran dan kerinduan untuk kita masing-masing), ungkap Pastor Tua ini dengan penuh perasaan. Gaya bahasa yang membumi ini memberikan penegasan bahwa Tuhan tidak jauh. Ia adalah tamu yang rindu mengetuk pintu rumah setiap umat di Stasi Lareng, tanpa terkecuali.

Harmoni Antar Generasi; Stasi Lareng telah menunjukkan betapa indahnya keberagaman pelayanan. Kehadiran Romo Coky dengan seruan pembaharuan dirinya, serta Pater Hendrik dengan pendekatan kultural yang menyentuh, menjadi perpaduan sempurna bagi pertumbuhan iman umat. Di bawah langit Lareng, Natal tahun ini benar-benar menjadi momen di mana umat merasa dipanggil secara pribadi untuk pulang ke pelukan Tuhan—baik sebagai manusia baru yang disiplin dalam kasih, maupun sebagai tuan rumah yang layak bagi Sang Tamu Agung dari Surga.

*Kontributor: Satri Darmon/Editor : Frengky Jamento 

Natal di Stasi Raca: Dari Pesan Persaudaraan Hingga Filosofi "Angka Lima" yang Memikat Hati

Foto by : Leksan

RACA-WARTAPAROKI – Di bawah naungan langit malam yang tenang di Stasi Raca, ribuan hati berkumpul dalam sebuah harmoni iman yang luar biasa. Perayaan Natal tahun 2025 di stasi ini tidak hanya menjadi rutinitas doa, tetapi menjelma menjadi momen refleksi mendalam tentang cinta, persaudaraan, dan kesederhanaan seorang anak kecil yang membawa keselamatan bagi dunia.

Malam Natal: Merayakan Ketidaksempurnaan dengan Cinta.
Perayaan dimulai pada Malam Natal, Rabu (24/12), pukul 19.00 WITA. Sebanyak 800 umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati gereja dengan khusyuk. Di bawah arahan liturgi dari umat Dusun Kaput, suasana terasa begitu hidup dan syahdu. Pater Andre, OFM, yang memimpin Ekaristi malam itu, memberikan siraman rohani yang menyentuh relung hati umat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal adalah perayaan persaudaraan yang melintasi batas semesta. ​"Mari kita menumbuhkan dalam diri kita cinta kepada sesama. Sadarilah bahwa tidak ada anak, pasangan, ataupun sesama yang sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itulah, kasih Natal memanggil kita untuk saling menerima," pesan Pater Andre sebagaimana didokumentasikan oleh kontributor Komsos, Leksan Serdi.

Pagi Natal: Kehadiran Tuhan dalam Sosok Anak Kecil. Sukacita berlanjut pada puncak Hari Raya Natal, Kamis (25/12). Sejak pukul 07.30 WITA, lebih dari 600 umat termasuk para lansia yang datang dengan langkah perlahan namun penuh semangat; telah memenuhi ruangan. Alunan koor dari umat Dusun Ting membubung tinggi, menambah kekhidmatan suasana. Pater Eduardus Da Silva, OFM (Pater Edo), yang memimpin perayaan pagi itu, membawa pesan yang sangat puitis namun nyata. Ia mengingatkan umat bahwa Tuhan memilih hadir sebagai anak kecil, sebuah simbol kemurnian yang tanpa noda kebencian. ​"Tuhan hadir sebagai anak kecil membawa keselamatan tanpa ada kebencian. Sebab, kebencian biasanya baru tumbuh ketika orang menjadi dewasa," ungkap Pater Edo, yang disambut anggukan reflektif dari ribuan umat yang hadir.
Keunikan Angka Lima dan Lima Pohon Natal.
Natal tahun 2025 ini juga terasa istimewa karena sebuah "kebetulan" yang cantik. Pater Edo menyoroti keunikan angka 5 yang muncul secara berulang; tanggal 25, tahun 2025. Keunikan ini menjadi inspirasi filosofis bagi Stasi Raca untuk menghadirkan lima buah pohon natal yang berdiri anggun, melambangkan berbagai makna mendalam dalam kehidupan dan iman. Filosofi angka lima ini bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat akan keseimbangan dan kelengkapan dalam melayani sesama.
Apresiasi dan Rasa Syukur;
Di penghujung perayaan, Ketua Dewan Stasi Raca, Bapak Nikolaus Danggur, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Ia mengapresiasi totalitas para imam dan kerja keras seluruh umat yang telah bahu-membahu menyukseskan perayaan ini. ​"Terima kasih kepada Pater Andre dan Pater Edo yang telah melayani kami dalam Ekaristi Natal tahun 2025. Terima kasih juga untuk panitia dan seluruh umat yang telah bekerja keras. Kehadiran para Pastor adalah kado Natal terindah bagi iman kami di Stasi Raca," pungkasnya dalam sambutan yang penuh haru. Perayaan Natal di Stasi Raca tahun ini menjadi bukti bahwa di tengah kesederhanaan, jika cinta dan kerja sama menjadi landasannya, sukacita surga benar-benar bisa dirasakan di bumi.

*Kontributor: Leksan Serdi
*Editor : Frengky Jamento 

Rabu, 17 Desember 2025

"Kematian Bukanlah Kehilangan Segalanya"

 Pastor Hendrik OFM Teguhkan Keluarga Bapak Nikolaus Sanggur

Foto by: Satri
PACI, WARTA PAROKI – Senja di hari Rabu (17/12/2025) menjadi saksi bisu duka yang menyelimuti Kampung Paci. Tepat pukul 17.00 WITA, Bapak Nikolaus Sanggur mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan seorang istri terkasih dan empat orang buah hati yang kini harus menapaki hari tanpa sosok ayah secara fisik. Namun, di tengah kabut duka itu, cahaya iman Katolik hadir memberikan kekuatan. Pada hari Kamis (18/12/2025), suasana haru menyelimuti rumah duka saat umat Kampung Paci berkumpul untuk menghadiri Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh P. Hendrik, OFM. Misa yang dimulai pukul 10.30 WITA ini menjadi momen sakral untuk menghantar jiwa Bapak Nikolaus kembali ke pangkuan Bapa.

"Kematian Bukan Akhir Segalanya". Dalam homilinya yang dibawakan dengan sentuhan gaya bahasa Manggarai yang khas dan menyentuh hati, Pastor Hendrik, OFM hadir bukan sekadar sebagai pemimpin ibadat, melainkan sebagai peneguh hati bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia menekankan bahwa air mata perpisahan adalah wajar, namun iman Kristen menawarkan perspektif yang lebih agung. ​"Kita berkumpul berdoa untuk menghantar kepergian saudara kita, sebab kita yakini bahwa kematian bukanlah kehilangan segalanya. Hanya badan yang tidak bersama kita, namun rohnya tetap bersama kita," ujar Pastor Hendrik dengan lembut. Kata-kata tersebut seolah menjadi oase di tengah gurun kesedihan keluarga. Pastor Hendrik menegaskan bahwa kematian adalah sebuah "jalan pulang". Layaknya awal kehidupan di mana manusia diciptakan karena cinta Tuhan, maka kepulangannya pun adalah panggilan cinta yang sama dari Sang Pencipta.

Janji Kebangkitan- Lebih jauh, Pastor Hendrik mengajak seluruh umat yang hadir untuk memeluk erat iman Katolik. Ia mengingatkan kembali akan janji Kristus yang telah mengalahkan maut dan bangkit pada hari ketiga. Dasar iman inilah yang menjadi pelita harapan bagi Bapak Nikolaus. "Tuhan sangat mencintai umat-Nya, dan kematian merupakan kehidupan kembali yang lebih besar," tegas Pastor Hendrik. Ia mengajak umat untuk tidak membiarkan kesedihan berlarut-larut, melainkan mengubah rindu menjadi doa. ​Sebagai penutup homili yang penuh makna tersebut, Pastor Hendrik menitipkan pesan suci kepada kita yang masih berziarah di dunia ini. ​"Sekarang Bapak Nikolaus sudah tidak ada bersama kita secara fisik, mari kita merawatnya dengan doa." 

Misa arwah ini didokumentasikan oleh Saudara Satri Darmon, tim Komsos Stasi Lareng yang setia mewartakan kabar umat. Kepergian Bapak Nikolaus Sanggur mungkin meninggalkan ruang kosong di meja makan keluarga, namun iman yang diteguhkan hari ini memastikan bahwa jiwanya kini telah utuh dalam dekapan kasih Ilahi. Selamat jalan, Bapak Nikolaus. Doa kami menyertai perjalananmu menuju keabadian.

Informasi Redaksi

  • Kontributor: Satri Darmon (Komsos Stasi Lareng)
  • Editor: Frengky Jamento

Senin, 15 Desember 2025

KASIH DARI TENTANG; Aksi Solidaritas OMK dan SEKAMI untuk Sesama Saudara di Sumatra

Foto by ; Andry

TENTANG- WARTAPAROKI_Minggu itu, 14 Desember 2025, suasana di depan Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang terasa berbeda. Di tengah lilin merah muda yang menyala menandakan Minggu Adven III atau minggu sukacita (Gaudete), sebuah gerakan kemanusiaan sederhana namun bermakna besar lahir dari tangan-tangan orang muda. Ketika saudara-saudara di Sumatra sedang berjuang bangkit dari puing-puing bencana alam, jarak ribuan kilometer tidak menyurutkan semangat bela rasa dari pelosok Paroki Tentang. Dimotori oleh Orang Muda Katolik (OMK) dan Serikat Kepausan Anak Misioner (SEKAMI), pendopo gereja disulap menjadi ladang amal melalui sebuah bazaar sederhana.

Bukan Sekadar Sumbangan, Tapi Keringat dan Cinta. Apa yang membuat aksi ini begitu menyentuh bukanlah nominal uang yang terkumpul semata, melainkan usaha yang diberikan. Mereka tidak sekadar menadahkan tangan meminta donasi. Sejak pagi, para pemuda dan anak-anak ini telah sibuk menyiapkan bungkusna sajian daging untuk jembatan aksi solidaritas penggalangan dana. Aroma sedap olahan daging dan aneka snack racikan lokal memenuhi udara, mengundang umat yang baru saja selesai merayakan Ekaristi untuk singgah. Setiap porsi makanan yang terjual adalah wujud kepedulian yang nyata. Sajian menu sekadar ya itu dijual dengan harga Rp. 25.000 per bungkus. Hasil jualan daging dan sumbangan spontan dari umat yang hadir  terkumpul dengan total Ro. 2.500.000. Tentu hasil ini sangat luar biasa bagi kontek lokal gerakan kepedulian anak muda. Handry, Ketua OMK Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang, dengan mata berbinar menjelaskan bahwa kegiatan ini murni inisiatif solidaritas. ​"Kami mengolah daging ini dengan racikan standar lokal untuk dijual kepada umat setelah perayaan Ekaristi. Ini bukan tentang jualan, ini adalah sebagian bentuk solidaritas kami—keringat kami—untuk sesama umat yang terkena musibah di Sumatra," ungkap Handry dengan penuh semangat.

Hal Kecil dengan Cinta yang Besar. Pemandangan di bazaar tersebut sungguh menggetarkan hati. Melihat anak-anak SEKAMI yang masih belia berdiri berdampingan dengan kakak-kakak OMK, menawarkan dagangan dengan senyum tulus, seolah menegaskan pesan Bunda Teresa yang menjadi jiwa kegiatan ini: "Lakukanlah perbuatan yang kecil (sederhana) dengan cinta yang besar." ​Umat paroki pun menyambut dengan antusias. Mereka membeli bukan hanya karena lapar, tapi karena ingin menitipkan kasih sayang mereka untuk saudara di Sumatra melalui setiap suapan makanan yang disajikan oleh anak-anak mereka sendiri.​ Aksi solidaritas OMK - SEKAMI Stasi Tentang ini menjadi bukti bahwa empati tidak mengenal batas wilayah. Di Minggu penantian ini, mereka tidak hanya menanti kedatangan Kristus di altar, tetapi juga menghadirkan wajah Kristus yang peduli kepada mereka yang menderita. Semoga langkah kecil dari Paroki Tentang ini menjadi riak air yang menyebar luas, menggerakkan lebih banyak orang muda dan umat Katolik di mana pun untuk berani berbagi. Dari Tentang untuk Sumatra, doa dan kasih itu telah dikirimkan.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Senin, 01 Desember 2025

Kaum Muda: Bukan 'Penjaga Parkir', Tapi Aset Gereja

Refleksi Perjumpaan OMK di Labuan Bajo

Saudara Andry, dkk Saat Mengikuti Kegiatan 
Labuan Bajo-WARTAPAROKI_Seksi Kepemudaan keuskupan Labuan Bajo menyelenggarakan kegiatan "TEMU OMK (Orang Muda Katolik)" dengan menghadirkan perwakilan orang muda dari setiap Paroki di Labuan Bajo pada hari Sabtu dan Minggu, 29 - 30 November 2025. Moment istimewa ini selain sebagai silahturahmi kaum muda di keuskupan Labuan Bajo, juga untuk merayakan momen Hari Orang Muda Sedunia yang ke-40 melalui seminar dan refleksi. Trending topik dalam seminar ini adalah Evangelisasi Digital Orang Muda Keuskupan Labuan Bajo dengan bingkai tema "Menjadi Saksi Kristus yang Berani, Bersahabat, dan membawa Damai". Kegiatan yang dihadiri utusan OMK (Orang Muda Katolik) setiap paroki se-keuskupan Labuan Bajo selain memberikan makna dan inspirasi namun di sisi lain penuh dengan tantangan yang harus diwujudnyatakan oleh peserta sebagai kaum muda andalan masa depan Gereja. Paroki Santu Fransikus Assisi Tentang mengutus anak muda terbaik yaitu saudara Andry Bon (Ketua OMK), saudara Eren Masyur dan saudari Cindy Suwardi (OMK Stasi Tentang) serta saudari Fani Nado (OMK Stasi Lumut). Ada banyak kisah inspirasi yang mereka bagikan. "Evangelisasi Digital : Menjadi Saksi Kristus yang Berani, Bersahabat dan Membawa Damai" adalah pilihan tema inspirasi serta relevan bagi kaum muda pada zaman serba digital; dengan menempatkan media sosial sebagai salah satu sarana pewartaan terbaik saat ini.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dengan dinamika kelompok yang selalu terasa menyenangkan menjadikan peserta sangat antusias serta berusaha hadir sepenuhnua untuk saling mendengarkan dan berbagi praktik baik. Saudara Andry, selalu ketua OMK dari Paroki Tentang yang juga adalah anggota Tim Komsos Paroki menuturkan rangkaian kegiatan yang telah dikutinya. Ia menyamaikan bahwa, bersama dengan ketiga teman dari OMK Paroki Tentang di utus untuk mengikuti kegiatan Seminar "EVANGELISASI DIGITAL ORANG MUDA" dengan tema: Menjadi saksi Kristus yang berani, bersahabat, dan membawa Damai yang dilaksanakan di Family Center Seminari Santi Paulus Labuan Bajo. Kegiatan ini di buka secara resmi oleh RD Rikardus Manggu  selalu Vikjen Keuskupan Labuan Bajo. Dalam sambutannya RD Rikardus berpesan kepada orang-orang muda dengan sebuah pertanyaan reflektif, "Sanggupkah Saya Hadir sebagai Orang Muda Katolik di tengah-tengah pergumulan sosial tidak hanya media, tetapi juga dalam kehidupan perjumpaan kongkrit?" Pertanyaan ini memberikan sebuah tantangan berat bagi kaum muda untuk mampu menempatkan diri dan berani mewartakan kebaikan di era digital sekarang.

Selanjutnya selesai acara pembukaan peserta mengikuti sesi pertama melalui pendalaman materi pertama tentang "ORANG MUDA : MASA KINI DAN MASA DEPAN GEREJA" yang di bawakan oleh RD Sevri, Pr selalu aeksi  Kepemudaan Keuskupan Labuan Bajo. Beberapa poin dan catatan penting dari materi yang disampaikan oleh RD Sevri, yakin menekankan dan mengajak peserta untuk mengubah mindset tentang anggapan bahwa OMK (Orang Muda Katolik) dekat kehidupan gereja. "kita harus menghindari pandangan tentang OMK itu tidak hanya mereka yang dekat dengan gereja, tidak hanya yang aktif di gereja, tetapi juga teman-teman kita yang muda yang belum bergabung di OMK", ungkapnya. Kepada peserta, RD. Sevri, berpesan bahwa sebagai orang muda kita juga dituntut untuk menjadi Orang Muda Katolik yang kreatif, energi, mudah beradaptasi, juga bisa membawa pengaruh dalam gereja. Selanjutnya materi kedua dalam kegiatan ini, yaitu "Sharing Praktik Baik Pendampingan Orang-orang Muda" yang disampaikan oleh Pater Viktor,SDB. Dalam pemaparan materinya Pater Viktor, SDB menggarisbawahi peran sentral kaum muda dalam Gereja. "Kaum muda itu bukan penjaga parkir, bukan susah diatur, bukan juga tidak mampu; mereka (kaum muda) adalah aset Gereja", ujarnya dengan penuh semangat. Melalui pemamparan materi yang sangat bermakna ini, para peserta betul-betul dibekali dengan pemahaman akan betapa pentingnya peran kaum muda dalam Gereja dewasa sekarang. Bukan hanya untuk melengkapi tetapi lebih dari itu untuk menjadi pewarta kabar baik bagi dunia baik melalui perjuangan langsung maupun via media sosial sebagai salah satu media pewartaan yang ampuh.  Tentu kita memahami bahwa Evangelisasi sebagai pewartaan "Kabar Baik" tentang  Injil (Yesus Kristus) kepada sesama, melalui kata-kata maupun tindakan, untuk mengajak mereka kepada iman dan pertobatan. Inti pewartaan adalah pesan keselamatan dan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari sehingga setiap orang bisa mengenal ajaran Yesus lebih mendalam dan mewujudkannya.

Sebuah kehormatan dalam moment seminar ini sebagai aksi nyata, bahwa salah satu peserta perwakilan dari OMK Paroki Tentang saudari Fani mendapatkan apresiasi nominasi dengan mendapat juara sebagai peserta dengan postingan terbaik dalam karya evangelisasi digital. Fany memberikan sebuah narasi tentang pewartaan kaum muda yang diinspirasi dari  rangkaian kegiatan temu OMK ini, bahwa, "Orang muda Keuskupan Labuan Bajo dipanggil bukan hanya untuk hadir, tetapi bersuara. Di dunia yang bergerak cepat, di ruang digital yang tak berbatas, kita diutus menjadi terang, mewartakan harapan, membawa damai, dan menabur kabar sukacita lewat setiap jari yang menekan layar. Evangelisasi hari ini bukan lagi soal sejauh apa kaki melangkah, tapi sejauh apa hati berani membagikan kasih-Nya melalui konten, cerita, dan kesaksian hidup. Selamat Hari Kaum Muda Sedunia. Mari menjadi saksi Kristus yang kreatif, berani, dan relevan di dunia nyata maupun dunia digital."

Melalui pesan singkat di WhatsApp Fany mengirimkan kesan inspirasi serta pesannya kepada kaum muda serta komitmen untuk menjadi pewarta di tengah tantangan dan perubahan zaman bahwa Fany mengingatkan rasa bahagia dan haru yang menyelimutinya saat moment kebersamaan dan dinamika kegiatan yang berlangsung. "Saya bahagia, saya sebagai salah satu delegasi dari bisa  menghadiri kegiatan ini di Labuan Bajo. Jujur saja bahwa perkembangan dunia digital di kota ini sangat bergerak cepat, dapat merubah gaya hidup, mempengaruhi cara berpikir dan kekeringan masa depan anak muda", ungkapnya. Fani mengaku ada banyak hal yang saya dapat melalui kegiatan ini. "Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan, karena saya merasa Tuhan kembali mengingatkan saya akan panggilan ini. Bahwa saya tidak diutus hanya untuk hadir, tapi untuk melihat, merasakan, dan menyadari betapa besarnya luka-luka yang tidak tampak di hati anak-anak muda," ungkapnya melalui WhatsApp ke Tim Komsos Paroki Tentang. Inilah rasa mendalam dalam sederet kata dari sebuah perjumpaan kasih yang dialami saudari Fani. Melalui refleksi Fani tentunya merasakan betapa kuatnya keyakinan untuk menjadi saksi Kristus yang siap hadapi tantangan dengan suatu kemampuan untuk bersama berjuang ketika menegakkan  kebenaran. "Saya harus bersahabat dengan hati yang rapuh, meski terkadang saya sendiri tidak kuat. Harus membawa kedamaian, bahkan ketika dunia justru memelihara konflik", ungkapnya dengan sikap berani.

Walau terkadang Saudari Fani menyadari bahwa hatinya juga merasa sedih oleh karena melihat begitu banyak anak muda mencari pengakuan, tapi kehilangan kasih. Mengejar kebebasan, tapi justru terjebak di dalamnya. Mencari jati diri, tapi malah kehilangan siapa mereka sebenarnya. Inilah refleksi bermakna yang diungkapkan saudari Fani. Tentu ini adalah rasa yang juga mewakili perasaan teman-temannya yang juga mengikuti kegiatan yang sama. Fani yakin bahwa sampai pada titik ini, Tuhan sepertinya berbicara lembut kepadanya untuk menjadi  saksi Kristus dan hadir bagi sesama, menemani setiap hati yang tersesat. Menurut Fany, refleksinya ini memberikan penegasan bahwa langkah kecilnya, bahkan kehadiran, senyum serta doannya bisa menjadi cahaya bagi seseorang yang berada di titik paling gelap. Fany berjanji untuk terus belajar, terus berproses, untuk menjadi Saksi Kristus yang berani, ramah, dan membawa kedamaian mulai dari dirinya sendiri, untuk dunia muda yang sedang terluka. Di akhir refleksinya sekali lagi dengan nada penuh syukur Fany berucap, "Terimakasih Tuhan untuk peristiwa hari ini." Dalam rangkaian kegiatan temu OMK Ini juga para peserta mendapatkan kesempatan untuk menikmati udara segar sebagai bentuk refreshing dengan kegiatan sukacita orang muda Keuskupan Labuan Bajo dalam tour bersama (Mawatu -Bukit Silvya - Marina Bay - Biara KSSY- Rumah Keuskupan) untuk mempererat tali persaudaraan.

Selama kegiatan di Labuan Bajo, Saudara Andry, dkk; selalu mengirimkan informasi tentang dinamika kegiatan setiap sesi baik kepada Pastor Edo,OFM sebagai pendamping OMK Paroki maupun kepada Tim Komsos untuk mendokumentasikan dan mempublikasikannua  lebih lanjut. Kepada Tim Komsos, P. Eduardus Da Silva, OFM juga memberikan beberapa rangkuman sharing dari pemaparan materi seminar berupa catatan tentang Tentang Evangelisasi digital Orang Muda. "Di dunia digital, kita tak hanya membagikan konten, kita membagikan diri. Satu hal yang Menarik dari materi yang disharing pada hari ini adalah Personal Branding. Personal branding bukan soal pencitraan, tetapi kesaksian, bahwa iman yang dirawat akan memancarkan terang. Evangelisasi digital menuntut kehadiran yang otentik menyapa dengan kasih, mengajak dengan ketulusan, dan bersaksi lewat hidup yang dijaga, dengan hati yang terus dirawat oleh doa dan refleksi", ungkapan melakukan chatting WhatsApp. Pastor Edo, juga berharap bahwa kaum muda di Paroki memahami tentang makna di setiap unggahan Pewartaan di media sosial. "Di balik setiap unggahan, ada panggilan untuk menghadirkan Kristus dalam cara kita berbicara, merespon, dan mencintai. Rawatlah dirimu, agar pesan yang kau bawa lahir dari hati yang jernih dan batin yang teduh. Sebab personal branding terbaik bukanlah yang tampak paling sempurna, melainkan yang paling mencerminkan wajah kasih-Nya", ungkapnya melalui pesan WhatsApp.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)