![]() |
| Foto by : Ran Pranatalion |
KALO-WARTAPAROKI – Sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat dan udara sejuk khas pedesaan mulai menyelimuti perbukitan, lonceng gereja di Stasi Kalo berdentang dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar penanda waktu, dentang itu adalah undangan bagi umat di Kampung Purek dan War untuk menjemput sebuah peristiwa iman yang tak terlupakan. Tepat pukul 16.00 WITA, perayaan Ekaristi Malam Natal dimulai. Di tengah kesederhanaan suasana desa, sekitar lebih dari 400 umat berkumpul dengan hati yang penuh rindu. Di sana, telah menanti seorang gembala senior, Pater Hendrik, OFM, yang datang membawa warta sukacita.
Kehangatan Bahasa Manggarai: Membawa Surga ke Dalam Hati; Sebagaimana dilaporkan oleh Saudara Ran Pranatalion, Seksi Komsos Stasi Kalo, suasana spiritual malam itu terasa begitu intim. Pater Hendrik, dengan gaya yang khas, memilih untuk melepaskan sekat jarak antara altar dan umat dengan menggunakan bahasa Manggarai sepanjang homilinya. Bagi umat di pelosok, mendengar Kabar Gembira dalam bahasa ibu adalah seperti merasakan dekapan Tuhan secara langsung. Pater Hendrik menekankan bahwa Yesus yang lahir di palungan bukanlah sosok yang jauh, melainkan seorang "Tamu Agung" (Meka) yang datang dari Surga khusus untuk mengunjungi mereka. "Leso ho ite mai meka eta mai Surga, mai latang sanggen taung ite ba dai di'ad..." (Hari ini kita kedatangan tamu dari Surga, yang datang membawa kebaikan bagi kita semua...), ucap Pater Hendrik dengan suara yang bergetar penuh kasih.
Membasuh Hati dari Debu Kebencian; Lebih jauh, pesan Pater Hendrik menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar. Ia mengajak seluruh umat Stasi Kalo untuk menjadikan kedatangan "Tamu Agung" ini sebagai momentum pembersihan diri. Natal bukan tentang baju baru, melainkan tentang hati yang baru. Dalam petuahnya yang mendalam, ia meminta umat untuk membuang segala hal yang merusak persaudaraan, "...oke taung toe di'a agu hae ata, iri hati agu ata, porong mai Diha ga pande Nggeluk taung nai dite sanggen taung umat ce stasi Kalo." (Buanglah semua yang tidak baik terhadap sesama, jauhkan iri hati, dan biarlah Dia yang datang menyucikan seluruh hati kita semua umat di Stasi Kalo ini). Mendengar pesan tersebut, keheningan menyelimuti gereja. Banyak umat tertunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari lisan sang gembala. Ada rasa haru yang membuncah ketika menyadari bahwa di stasi kecil ini, Tuhan mau hadir dan menyapa mereka dengan bahasa yang mereka cintai.
Natal yang Bersahaja namun Berbekas; Perayaan di Stasi Kalo menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Natal tidak diukur dari gemerlap lampu atau megahnya bangunan, melainkan dari ketulusan hati umat yang menyambut Tuhannya. Di bawah pimpinan Pater Hendrik, Natal tahun 2025 di Kalo telah bertransformasi menjadi sebuah "perjamuan suci" di mana kebencian dikalahkan oleh kasih, dan iri hati dibasuh oleh kerendahan hati. Ketika Misa berakhir dan umat melangkah pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan malam pedesaan, mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada cahaya "Tamu Agung" yang kini menyala terang di dalam hati setiap orang yang hadir.
Kontributor: Ran - Editor: Frengky Jamento







0 comments:
Posting Komentar