TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

https://drive.google.com/file/d/1Jgtp6biGAJps4uGnjR7evJkWMekPSzHw/view?usp=drive_link

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 17 Februari 2026

LANGKAH SANG GEMBALA: Air Mata Ketaatan dan Jejak Kasih di Tanah Tentang

 

Ketua DPP dan DKP Memberikan Cendramata Kepada Pater Andreas Bisa, OFM 

TENTANG-WARTAPAROKI_Minggu, 18 Januari 2026, matahari di ufuk Timur Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang terbit dengan cahaya yang berbeda. Ada semburat kehangatan, namun ada pula kabut haru yang menyelimuti hati setiap umat yang melangkah menuju gereja. Hari itu bukan sekadar perayaan hari Minggu biasa; hari itu adalah sebuah "Estafet Kasih", sebuah babak sejarah di mana pengabdian bertemu dengan perpisahan, dan ketaatan bertemu dengan harapan baru.

Di Balik Altar: Sebuah Pengakuan Diri - Suasana syukur menyelimuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Didimus A. Mbembo (Vikep Pacar). Di barisan imam, hadir para pelayan Tuhan yang menjadi saksi bisu pergantian tongkat penggembalaan ini. Dalam keheningan homili, Romo Didi membawa umat menyelami hati Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Beliau mengingatkan bahwa seorang gembala hanyalah "suara yang berseru-seru", sebuah alat di tangan Tuhan. "Kita belajar dari Yohanes Pembaptis tentang kerendahan hati tampil untuk mewartakan tentang kedatangan sang Juru Selamat," ungkapnya. Pesan itu seolah menjadi gema bagi sosok Pater Wilibrodus Andreas Bisa, OFM (Pater Andre), sang gembala ke-18 yang telah mencurahkan seluruh hidupnya bagi Tentang selama enam tahun terakhir.

Saat Pena Menggoreskan Perpisahan_Keheningan semakin mencekam saat Pater Patris, OFM membacakan Surat Keputusan dari Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus. Setiap kata yang terbaca seolah menjadi hitungan mundur menuju perpisahan. Penandatanganan dokumen administrasi bukan sekadar prosedur formal, melainkan simbol penyerahan jiwa dan raga dari satu pelayan ke pelayan lainnya. Pater Leonardus Hendradus, OFM (Pater Hendra) berdiri tegak menyambut tugas baru ini, sementara Pater Hendrik, OFM bersiap mendampingi sebagai Vikaris. Sebuah awal baru di atas fondasi cinta yang sudah lama tertanam.

Puncak keharuan saat Bapak Falentinus Jempo (Ketua DPP) naik ke mimbar. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia mengenang bagaimana Pater Andre dan Pater Edo telah menembus terjalnya topografi stasi-stasi di Paroki Tentang, membawa sakramen ke pelosok, hingga menghidupkan ekonomi umat melalui UMKM dan gerakan ekopastoral.

"Dasor wekin koe ite lau Kalimantan, nai manga kin agu ami ce Tentang.....(Semoga ragamu saja yang berada di Kalimantan, Pater, namun hatimu tetaplah tertinggal bersama kami di sini...)," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu menyayat hati umat. Air mata mulai menetes di sela-sela bangku gereja. Sebuah pengakuan jujur bahwa Pater Andre bukan sekadar pemimpin agama, melainkan bagian dari keluarga mereka.

Isak Tangis di Atas Mimbar: Guru Sejati Adalah Umat _ Tiba saatnya Pater Andre menyampaikan kata perpisahan. Ruangan gereja yang luas itu seakan menjadi sempit oleh sesak napas haru. Sang Pastor, yang biasanya tegar, kini berdiri dengan bahu yang bergetar. "Terima kasih telah menjadi guru, sahabat, kakak, adik, dan orang tua bagi saya..." kalimatnya terhenti. Pater Andre terisak. Air matanya jatuh di atas mimbar kayu itu, membasahi teks yang mungkin tak sanggup lagi ia baca sepenuhnya. Ia teringat pesan Santu Fransiskus dari Assisi: bahwa orang kecil dan miskin adalah guru sejati. "Jangan takut belajar dan bekerja sama dengan siapa pun. Kalian telah membentuk saya menjadi seorang Fransiskan sejati. Perpisahan ini adalah wujud ketaatan saya kepada Tuhan," pesannya di tengah linangan air mata. Beliau menitipkan warisan-warisannya: Gua-Gua Maria di setiap kampung sebagai benteng doa, rumah ekonomi kreatif bagi kelompok tani, dan masa depan orang muda. Ia meminta umat untuk tidak membanding-bandingkan para imam, karena setiap zaman memiliki utusannya masing-masing.

Menatap Masa Depan: Sinergi dalam Doa_Suasana haru itu perlahan membasuh harapan baru saat Pater Hendra, OFM memperkenalkan diri. Sebagai putra Pagal yang pernah berkarya di Kalimantan Barat, ia datang dengan kerendahan hati. "Mari kita berjalan bersama. Apa yang telah dimulai oleh Pater Andre dan Pater Edo, akan kita lanjutkan demi kemuliaan Tuhan," ajaknya lembut. RD. Didimus A. Mbembo menutup rangkaian itu dengan ajakan untuk selalu Bantang Cama; berkumpul dan berkolaborasi. Beliau menegaskan bahwa Paroki Tentang telah menjadi oase yang dikenal karena keunikan ekopastoralnya, dan itu harus terus bertumbuh di bawah gembala yang baru.

Penutup _ Matahari mulai meninggi di langit Tentang, namun kenangan akan hari ini akan tertulis abadi dalam sanubari umat. Pater Andre pergi membawa sejuta cinta, sementara Pater Hendra datang memeluk harapan baru. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, karya pelayanan tak pernah berhenti; ia hanya berpindah tangan, namun tetap dalam satu hati yang sama: Melayani Tuhan dalam diri sesama.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)


Senin, 16 Februari 2026

"Asa? Kita Mulai!": Sebuah Ikrar Sinergi Menuju Gereja yang Hidup

Foto 1 : Rapat Pleno;
Foto 2 ; Launching Tahun Persekutuan Sinergis (Minggu, 15 Februari 2026)
Foto by : Karlo Amal_TimKomsos PSFAT

TENTANG-WARTAPAROKI_
Minggu, 15 Februari 2026, bukan sekadar tanda pada kalender. Di bawah langit Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, hari itu adalah sebuah fajar baru. Udara pagi terasa lebih khidmat, membawa bisikan doa yang menyatu dengan harapan ribuan jiwa yang rindu untuk bersekutu. Suasana Gereja riuh namun teduh. Pater Hendra, OFM, berdiri di altar Tuhan, memimpin perayaan Ekaristi yang bukan sekadar ritual, melainkan sebuah simfoni iman. Dalam keheningan homilinya, sebuah pesan yang kuat menggema. Gereja sebagai fisik yang perlu kita bangun, jaga dan rawat, juga adalah kumpulan hati yang saling berpaut. Kita tidak dipanggil untuk berjalan sendiri-sendiri, melainkan untuk menjadi penopang bagi saudara di sebelah kita. Demikian halnya dalam setiap rencana pembangunan kita diajak untuk berjalan bersama. Beliau mengajak seluruh umat untuk melangkah dalam koridor Tahun Persekutuan Sinergis 2026. Segala benih kebaikan yang telah ditabur di tahun sebelumnya tidak dibiarkan layu, melainkan dipupuk kembali agar berbuah lebih lebat di tahun ini.

Gema Gong dan Simbol Persaudaraan
Detik yang dinantikan tiba. Suara Gong yang dipukul oleh Pater Hendra memecah kesunyian, getarannya seolah merambat ke setiap sudut hati umat yang hadir. Itu adalah bunyi komitmen; sebuah tanda resmi bahwa ziarah bersama telah dimulai. Di hadapan umat, pemandangan indah tersaji. Ketua DPP, Ketua DKP, para pengurus, serta para Suster SFSC dan Komunitas Biara Antonius Padua berdiri bahu-membahu. Mereka membentangkan baliho, bukan sekadar kain dan warna, melainkan simbol dari bentangan cinta yang tak terputus. Momentum ini menegaskan sebuah visi besar: membangun Gereja bukan hanya soal semen dan batu (fisik), tetapi tentang membangun Gereja sebagai Persekutuan Hidup. Mereka berdiri Tidak sekadar membentangkan baliho dengan deretan kalimat, namun ada sarat makna yang terungkap. Ini sebuah sinergi, untuk sebuah inspirasi, yaitu : Tangan saling menggenggam untuk bekerja. Bahu siap sedia untuk memikul beban sesama. Hati selaras dalam doa yang sama. Ada sederat ungkap ribuan umat; selamat berziarah, umat Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Di bawah naungan semangat Sang Santo dari Assisi, mari kita melangkah. Sebab dalam sinergi, yang berat menjadi ringan, dan yang jauh menjadi dekat di dalam Tuhan. 

Dalam Balutan Kasih: Merajut Asa dalam Pelayanan
Gema lagu syukur baru saja meluruh di sela-sela pilar Gereja. Harum dupa masih tertinggal tipis di udara, membawa sisa-sisa doa Perayaan Ekaristi ke hadirat Sang Khalik. Namun, ibadah tidak berhenti di Altar; ia berpindah rupa menjadi pengabdian nyata dalam sebuah perjumpaan yang penuh khidmat: Rapat Pleno Paroki. Di bawah kepemimpinan Bapak Falentinus Jempo, lembar demi lembar perjalanan tahun 2025 dibuka kembali. Bukan sekadar angka atau deretan kalimat, evaluasi ini adalah cermin kejujuran. Kita melihat mana benih yang telah tumbuh menjadi pohon yang rindang, dan mana tunas yang masih perlu disiram kembali di tahun 2026.
Setiap program pastoral yang telah terlaksana adalah bukti bahwa kasih Tuhan bekerja melalui tangan-tangan yang lelah namun tak menyerah. Sementara program yang tertunda bukanlah sebuah kegagalan, melainkan janji yang tertunda untuk ditepati di masa depan.

Amanah dalam Kejujuran.
Suasana semakin hening saat Bapak Frederikus Peher memaparkan bentangan angka keuangan. Di sinilah integritas diuji dalam ketulusan. Setiap rupiah yang masuk adalah tetes keringat umat; sebuah persembahan suci yang harus dijaga dengan hati. Dialog hangat terjadi saat para Ketua dan Bendahara Stasi bersinergi, menyamakan catatan, dan memastikan bahwa kejujuran adalah fondasi utama rumah Tuhan. Keselarasan angka antara Stasi dan Paroki bukan sekadar soal akuntansi, melainkan soal membangun kepercayaan di atas batu karang kebenaran.

Ruang Diskusi: Tempat Solusi Bersemi
Diskusi sempat memanjang, mencari jalan keluar bagi program yang belum tuntas dan target yang belum tergapai. Namun, di sanalah letak indahnya persaudaraan. Tidak ada nada saling menyalahkan, yang ada hanyalah bahu-membahu mencari solusi. Hambatan finansial bukanlah tembok, melainkan jembatan bagi kita untuk semakin kreatif dan bersandar pada penyelenggaraan Ilahi.

Menuju Wajah Baru Bait Suci
Kini, pandangan kita menatap jauh ke depan. Statuta disosialisasikan sebagai kompas yang mengarahkan langkah, dan rencana renovasi Gereja mulai disusun. Renovasi ini bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan, melainkan simbol semangat kita untuk merenovasi bait suci di dalam hati. Kita melangkah pulang dengan satu keyakinan "Bahwa setiap lelah dalam rapat ini adalah ibadah, dan setiap keputusan yang diambil adalah demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam)."

Dalam Nada Semangat Persaudaraan: Sebuah Persekutuan Sinergis
Matahari mungkin melewati posisi tegaknya untuk beranjak ke arah Barat; namun di dalam ruangan itu, cahaya baru justru sedang disulut. Di bawah arahan Bapak Falentinus Jempo, deretan program kerja bukan sekadar barisan kata di atas kertas. Ia adalah wujud dari niat yang tulus. Setiap draf yang disusun adalah jembatan; menghubungkan rutinitas yang setia dengan impian-impian tahun 2025 yang sempat tertunda, kini diletakkan dengan penuh khidmat di atas altar rencana tahun 2026.

Mewarisi Aturan dalam Roh yang Baru
Suasana semakin mendalam ketika Pater Hendra, OFM bersama Ketua DPP mensosialisasikan Statuta baru Keuskupan Labuan Bajo. Ini bukan sekadar urusan birokrasi gerejawi, melainkan sebuah kompas spiritual yang baru; sebuah undangan bagi umat untuk bertumbuh dalam tatanan yang lebih rapi, namun tetap berakar pada kasih.
Keteguhan hati kian nampak saat rencana renovasi Gereja dipaparkan. Di bawah panduan Wakil Ketua DPP yang juga ada salah satu ketua Pelaksana Pembangunan (Sdr. Andreas Korsini Nakung) cetak biru yang dirancang oleh tangan-tangan teknis bukan sekadar soal semen dan batu, melainkan tentang membangun "Rumah Tuhan" yang lebih kokoh untuk menampung doa-doa umat.

Sebuah "Tanya" yang Menggetarkan Jiwa
Namun, puncak dari segala rencana bukanlah pada angka atau desain teknis, melainkan pada semangat persaudaraan. Di penghujung agenda, Pater Hendra, OFM berdiri. Tatapannya hangat, membawa aura kedamaian Fransiskan yang khas. Ia tidak memberikan perintah, melainkan sebuah ajakan untuk berjalan bersama (walking together). Dalam balutan filosofi kolaborasi tanah Manggarai yang kental, sebuah pertanyaan sederhana terlontar dari bibirnya, memecah kesunyian yang penuh harap, "Asa...? Kita mulai?" (Bagaimana...? Kita mulai?).
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Ia adalah sebuah ketukan di pintu hati. Dan dalam satu tarikan napas yang selaras, ruangan itu bergetar oleh jawaban serentak yang membahana:, "Siap Mulai!"
Tepuk tangan pecah; bukan hanya sebagai tanda berakhirnya rapat, melainkan sebagai gema komitmen. Itu adalah bunyi dari tangan-tangan yang siap bekerja, kaki-kaki yang siap melangkah, dan hati yang siap melayani dalam Tahun Persekutuan Sinergis.

Berkat Kemenangan
Akhirnya, segala rencana dikembalikan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dengan tangan terangkat, Pater Hendra, OFM mengunci seluruh kesepakatan itu dengan tanda kemenangan yang abadi.
"Semua rancangan, kesepakatan, dan program ini kita tetapkan dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus."
Doa itu menjadi penutup sekaligus fajar baru. Mereka pulang bukan hanya membawa dokumen, melainkan membawa api yang siap menyala di tengah umat.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Senin, 02 Februari 2026

RAPAT PRA PLENO; DPP/DKP Memantapkan Agenda Renovasi Gereja Mulai Maret 2026

Panitia dan DPP/DKP Saat Rapat Pemantapan Pembangunan Gereja (Tentang, 1 Februari 2026)
Tentang-WARTAPAROKI_Minggu, 01 Februari 2026 adalah moment bersejarah dan berahmat. Ada dua agenda besar yang didiskusikan yaitu pemantapan persiapan Pleno Paroki yang mencakup evaluasi program tahun Pastoral Tata Kelola Partisipatif 2025 serta menyusun draft program tahun Pastoral Persekutuan Sinergis 2026. Dalam draft penyusuan program dibahas rencana pemilihan kepengurus Dewan Pastoral pada pertengahan tahun 2026 sesuai amanat dari statuta terbaru dari Keusukupan Labuan Bajo. Agenda kedua yang menjadi moment sejarah adalah mematangkan rencana pembangunan (renovasi total) Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang yang sudah berdiri menghampiri setengah abad.
Hadir dalam rapat ini Pastor Paroki Pater Hendra, OFM bersama para pengurus DPP dan DKP, tokoh masyarakat dan Panitia Pembangunan Gereja Santu Fransikus Assisi Tentang yang sudah dibentuk pada rapat sebelumnya dan sudah mulai bekerja. Evaluasi program dan penyusunan draf program pastoral berlangsung dengan penuh dinamika untuk melihat progres program tahun sebelumnya sembari menyusun strategi untuk program yang belum dituntaskan.

Perbaikilah Rumah-Ku": Napas Baru untuk Gereja Tua
Rapat menyita fokus perhatian adalah pemantapan rencana persiapan Pembangunan Gereja (renovasi total). 
Bapak Andreas Korsini Nakung selalu ketua pelaksana 1 bersama Ketua Umum (Bapak Falentinus Jempo) memandu jalannya rapat. Mewakili anggota Panitia Saudara Korsin, menyampaikan gambar dan progres persiapan dana yang sudah terkumpul dari tahun sebelumnya yaitu pada kisaran 400 juta-an. Target kita pada dari total anggaran pembangunan 2,3 M kita targetkan kontribusi umat 1 M untuk tahun 2026. Sedangkan selebihnya panitia bekerja keras untuk menghimpun para Diaspora dan Donatur.

Merapikan Barisan, Menyatukan Visi
Beberapa hal menjadi fokus adalah memantapkan struktur kepanitiaan pembangunan yaitu :
Pertama; Revisi struktur dan penempatan personilia keanggotaan panitia sebab kepanitiaan yang dibuat saat masih bergabung dengan keuskupan Ruteng termasuk ada pergantian kompoisis karena pergantian pastor Vikaris Paroki yang berperan sebagai Bendahara umum.
Kedua; Menambah struktur komposisi kepanitian bermaksud untuk memperlancar segala urusan pembangun, termasuk melakukan rekapan anggota Diaspora Tentang yang berada di luar paroki Tentang. Hal lain juga mervisi kepanitiaan dilakukan karena beberapa anggota panitia yang sudah sudah tidak berada lagi di paroki Tentang karena pindah domisili.

Arsitektur Iman: Sentuhan Bruder Agus, OFM
Rapat yang dipusatkan pada hal teknis Perencananaan, pengawasan dan tehnik yang disampaikan oleh Bruder Agus, OFM. Kehadiran Bruder Agus, OFM selalu setiap dan memberikan motivasi dan spirit sebagai aktor utama dalam desain gambar Gereja diamksud. 
Bruder Agus, OFM selalu yang mendesain bangunan yang berperan sebagai pengawas dan perancangan pembangun yang telah mendesain gambar hadir memberikan beberapa hal termasuk mekanisme pembangun, yaitu :
Bruder Agus, OFM dalam rapat ini menyampaikan secara detail alur kegiatan dan kerja tim, yaitu :
Pertama; Kerja tim dimulai dengan saling koordinasi memberikan masukan baik di awal seperti hari ini makin pada setiap pekan untuk melakukan melihat progres sekaligus merencanakan kerja pada pekan berikutnya.
Kedua; Berkaitan hal teknis pembongkaran; kita akan melihat kekuatan finansial. Kita selalu mulai dari dana yang terkumpul setiap minggu atau progresnua sehingga target pekan berikut sesuaikan lagi dengan dana sehingga pembangunan akan berjalan lancar.
Ketiga; Pembangunan akan melalui 3 tahapan berlanjut. Ketiga tahap  tersebut yaitu (1) Pengerjaan Struktur, (2) Pengerjaan Rrtektur, dan (3) Pengerjaan Perlengkapan (Sarana dan prasarana)
Keempat; Pengerjaan ini kita target dalam  3 tahun kerja; sehingga besaran dana setiap tahun target minimal 800 juta-an, kalau lebih terkumpul maka selesai lebih cepat dari rencana.
Kelima; Teknis pengerjaan terdiri dari 2 bagian, terdiri dari, bagian utama yaitu pertama ; mengubah bagian depan (balkon) dengan desain 2 lantai. Hal ini menjadi target pertama karena bagian ini terpisah dengan bagian bangunan sehingga bagian bangunan masih bisa dimanfaatkan sebelum dibongkar. Kedua; Bagian belakang yang pembongkarannya mulai dari depan kemudian atap dan paling terakhir bagian sayap.  
Keenam; Dalam pembagian ini tengah kerja mengutamakan tenaga lokal dan partisipasi umat  dengan pengaturan kerja sehari akan diatur Panitia. Sedangkan tenaga tukang dari luar (Jawa) akan diatur sesuai perencanaan dan gambar.
Ketujuh; Setiap Minggu selalu ada hari kerja umum yang melibatkan umat dengan tetap dipandu oleh tukang utama 
Kedelapan; Kerja tim sangat dibutuhkan dalam pembangunan ini untuk selalu meminta masukan dari kita semua, di tengah perjalanan bisa saling memberi masukan untuk mempercepat progres.

Awal yang Kudus: Ekaristi sebagai Fondasi
Segala rencana besar manusia akan menemukan maknanya ketika diletakkan di bawah kaki Tuhan. Itulah mengapa, pembangunan ini tidak dimulai dengan dentuman palu, melainkan dengan keheningan doa. Selanjutnya dalam penentuan jadwal pengerjaan ditarget pengerjaan dimulai pada pada hari Senin, 02 Maret 2026 yang diawali perayaan Ekaristi Minggu 01 Maret 2026. Selamat kurun waktu sampai pada awal Maret segala urusan hal teknis akan diselesaikan oleh Panitia Pembangunan bersama para pengurus DKP, DKP dan Pastor Paroki.
Untuk memperkuat semua jadwal ini Pater Hendra, OFM mengajak panitia agar  semua dokumen sudah selesai sebelum tanggal 15 Februari.  Sehingga segala teknis segala akan segera selesai. 

Pesan Peneguhan dari Pater Hendra Menjadi Lentera bagi Kita Semua; 
Di akhir sesi Pater Hendra, OFM memberikan peneguhan, " Mari kita saling mendukung,m, dan kerja sama, kita sebagai perwakilan umat kita untuk berjalan bersama. Boleh berbeda pendapat namun apa yang menjadi kesepakatan itulah yang kita laksanakan. Berharap yang yang sudah direncanakan tetap dilaksanakan tetap saling mengingatkan satu sama lain, saling komunikasi agar segala informasinya bersumber dari kita sama sampai di umat. Rapat diakhiri dengan doandan berkat penutup oleh Pater Hendra, OFM.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Minggu, 01 Februari 2026

SAPAAN KASIH DI BAWAH LANGIT LARENG: KETIKA GEMBALA MERAJUT RINDU

P. Hendra, OFM saat memimpin perayaan Ekaristi perdana di Gereja San Damiano Stasi Lareng (Minggu, 01 Februari 2026)

Lareng-WARTAPAROKI_Ada rahasia Tuhan yang terselip di balik rintik hujan pagi ini. Minggu, 1 Februari 202, langit di atas Stasi Lareng mungkin tampak abu-abu, dan bumi didekap dingin yang menusuk. Namun, bagi umat di sini, cuaca hanyalah "undangan" untuk membuktikan seberapa besar cinta mereka kepada Sang Pencipta. Hari ini bukan sekadar hari Minggu biasa. Hari ini adalah sejarah yang terukir indah. Untuk pertama kalinya, Pater Hendra, OFM, melangkahkan kaki di tanah Lareng sebagai Pastor Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Sejak resmi bertugas pada 19 Januari lalu, inilah momen yang paling dinantikan; saat sang gembala menyapa domba-dombanya secara langsung dalam Ekaristi yang suci.

Iman yang Melampaui Gerimis
Gerimis hujan pagi sempat mencoba menghalangi langkah. Namun ini tidak membuat nyali umat pudar. Beberapa memang datang terlambat, napas mereka terengah, namun ada keharuan luar biasa saat melihat mereka tetap masuk ke dalam gereja dengan sikap rendah hati. Sebab mereka tahu, Tuhan tidak melihat jam kedatangan, Tuhan melihat kerinduan yang membawa mereka sampai ke sana.

Kehangatan dari Altar
Di depan altar, Pater Hendra, OFM menyambut mereka dengan senyum yang menenangkan; seperti semangat pelindung kita Santo Fransiskus Assisi, yang mencintai alam dan sesama dalam kesederhanaan. Dalam kunjungan perdana ini, kehadiran beliau seolah menjadi matahari yang menghangatkan dinginnya pagi di Lareng. Momen Ekaristi berlangsung begitu khidmat. Suasana yang agaknya dingin justru berubah menjadi melodi pengiring doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus. Di sinilah kita belajar; bahwa berkat Tuhan seringkali datang di tengah situasi yang tidak sempurna. “Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu biru, tapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya di setiap langkah, termasuk di tengah gerimis di pagi ini.” Ada kehangatan yang menjalar di tengah dinginnya pagi ini. Bukan sekadar karena perjumpaan fisik, melainkan karena sebuah sapaan hati. "Neka gereng susa itu po Kawe Morin, Mori campek..." (Jangan menunggu saat sulit baru mencari Tuhan, Tuhan tolong aku...).
Kalimat itu meluncur lembut dalam balutan bahasa Manggarai yang kental dari bibir Pater Hendra, OFM. Seketika, suasana Gereja yang dingin berubah menjadi akrab, seolah-olah ikatan persaudaraan antara sang Pastor Paroki baru dan umatnya ini telah dirajut sejak lama. Pater Hendra tidak datang sebagai orang asing; ia datang sebagai seorang saudara yang memahami detak jantung umatnya.

Belajar dari Kesederhanaan Korintus
Dalam homilinya, Pastor yang telah mengabdikan dirinya di tanah Kapuas Hulu, Kalimantan sejak tahun 2017 ini, membawa kita kembali ke masa Santu Paulus. Ia mengingatkan bahwa perjuangan hidup umat di Lareng tidak jauh berbeda dengan jemaat di Korintus; orang-orang sederhana yang penuh perjuangan. Pesan beliau sangat dalam, “Jangan biarkan dirimu berjuang sendirian. Hadirkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidupmu, libatkan Ia dalam setiap tantanganmu.”

Berjalan Bersama di Tahun Persekutuan Sinergis 2026
Menapak pada tahun Pastoral Persekutuan Sinergis, Pater Hendra menitipkan sebuah pesan persatuan yang sangat manusiawi. Beliau sadar, dalam sebuah keluarga besar, perbedaan pendapat dan kepentingan adalah hal yang lumrah. Namun, beliau menegaskan, "Kalau kita berbeda pendapat atau keinginan, tetaplah berjalan bersama dan bersatu untuk Gereja. Saat Gereja membutuhkan waktu, pikiran, dan tenaga kita, mari kita bersatu hati. Gereja bukan hanya bangunan fisik yang kita susun batunya, tapi Gereja adalah kita; persekutuan umat yang hidup."
Kunjungan perdana ini menjadi saksi bahwa meski raga mungkin lelah menembus cuaca yang tak bersahabat, jiwa tetap haus akan siraman rohani. Pater Hendra, OFM telah memulai langkah pertamanya stasi Lareng dengan cinta yang tulus.

Suara Umat, Doa untuk Sang Pastor
Mewakili seluruh hati umat Stasi Lareng, Bapak Simon Cabut berdiri dengan penuh takzim. Kata-katanya sederhana namun dalam, "Kami bersyukur hari ini karena mendapat kunjungan perdana dari Pastor Paroki Baru. Selamat datang, selamat berkunjung di Stasi Lareng Pater.....dan selamat berkarya di Paroki Tentang... ." Sebuah ucapan selamat datang yang lebih terdengar seperti doa, agar langkah Pater Hendra, OFM di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang selalu dalam lindungan-Nya.

Akar yang Kuat, Sayap yang Telah Terbang Jauh
Namun, suasana semakin menyentuh ketika Pater Hendra berdiri untuk memperkenalkan dirinya. Di balik jubah cokelat Fransiskan yang ia kenakan, terungkaplah sebuah kisah perjalanan iman yang luar biasa. "Nama saya Leonardus Hendradus, OFM," ujarnya memulai kisah. Ternyata, ia bukanlah orang asing. Ia adalah putra asli dari tanah ini; lahir dan besar di Pagal, dengan garis keturunan dari Kampung Pinggang. Ada rasa bangga sekaligus haru di mata umat; melihat seorang anak daerah yang kini kembali untuk menggembalakan sesamanya.

Delapan Tahun Menabur Benih di Tanah Kalimantan
Perjalanannya sebagai imam tidaklah singkat. Sejak ditahbiskan pada tahun 2017, delapan tahun lamanya ia menghabiskan waktu di Badau, Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat. Di sana, di garis depan misi yang penuh tantangan, ia belajar tentang kesetiaan, ketabahan, dan kasih yang tak bertepi.
Kini, setelah melanglang buana di tanah Borneo, Tuhan menuntun langkahnya kembali ke Manggarai. Ia membawa pengalaman, ia membawa kerendahan hati, dan ia membawa semangat Santu Fransiskus Assisi untuk melayani dengan sukacita.

Sebuah Harapan Baru
Perkenalan ini menjadi jembatan batin yang kuat. Umat tidak lagi melihatnya sebagai "Pastor baru", melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang telah kembali pulang membawa api iman. 
Di penghujung Ekaristi perdana yang penuh rahmat itu, ada suasana yang mendadak hening dan menyentuh kalbu. Pater Hendra, OFM, Sang Gembala yang baru saja menginjakkan kaki di paroki kita, berdiri dengan kerendahan hati yang luar biasa. "Mohon Doakan Saya..."
Bukan perintah yang ia berikan, melainkan sebuah permohonan tulus. Beliau mengajak kita semua; umat di Paroki, stasi, hingga di lingkup terkecil yaitu keluarga untuk berjalan bersama. Namun yang paling menggetarkan hati adalah saat beliau berkata, "Mohon doa untuk saya dan para imam agar tetap sehat dan kuat, serta mampu memberikan diri sepenuhnya dalam pelayanan sakramen dan karya pastoral di paroki kita." Kalimat ini menjadi pengingat bagi kita bahwa seorang Imam, meski ia adalah saluran rahmat Tuhan, tetaplah manusia yang membutuhkan topangan doa dari domba-dombanya. Kekuatan pelayanan mereka adalah buah dari lutut-lutut umat yang bertelut mendoakannya.

Ekaristi: Perjamuan Suci yang Utuh
Sebagai seorang Gembala yang mengasihi domba-domabnya, Pater Hendra juga menitipkan "catatan cinta" mengenai kedisplinan kita dalam merayakan Ekaristi. Beliau mengingatkan bahwa Misa bukanlah sekadar rutinitas yang bisa diikuti setengah-setengah. Ekaristi adalah sebuah kesatuan. Dari tanda salib pembuka hingga berkat penutup, semuanya adalah satu nafas ibadah. Beliau menjelaskan dengan penuh perhatian bahwa kehadiran umat sejak awal sangat menentukan persiapan teknis seperti jumlah hosti yang disiapkan; namun yang lebih utama adalah persiapan batin kita untuk menyambut Tuhan secara utuh.
Pesan Pater Hendra jelas; Kita sedang membangun Gereja yang bukan fisik tapi Gereja yang hidup dalam hati kita masing-masing. Mari kita jawab kerendahan hati beliau dengan kesetiaan. Setia mendoakan para Imam kita, dan setia hadir tepat waktu di hadirat Tuhan. Karena cinta yang sejati selalu ingin hadir lebih awal dan pulang paling akhir.
Terima kasih Pater Hendra, OFM. Kami siap berjalan bersamamu. Biarlah akar keberadaanmu di tanah ini dan pengalaman misimu di Kalimantan menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan yang lebih erat di Paroki Tentang.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)