TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

Minggu, 01 Februari 2026

SAPAAN KASIH DI BAWAH LANGIT LARENG: KETIKA GEMBALA MERAJUT RINDU

P. Hendra, OFM saat memimpin perayaan Ekaristi perdana di Gereja San Damiano Stasi Lareng (Minggu, 01 Februari 2026)

Lareng-WARTAPAROKI_Ada rahasia Tuhan yang terselip di balik rintik hujan pagi ini. Minggu, 1 Februari 202, langit di atas Stasi Lareng mungkin tampak abu-abu, dan bumi didekap dingin yang menusuk. Namun, bagi umat di sini, cuaca hanyalah "undangan" untuk membuktikan seberapa besar cinta mereka kepada Sang Pencipta. Hari ini bukan sekadar hari Minggu biasa. Hari ini adalah sejarah yang terukir indah. Untuk pertama kalinya, Pater Hendra, OFM, melangkahkan kaki di tanah Lareng sebagai Pastor Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Sejak resmi bertugas pada 19 Januari lalu, inilah momen yang paling dinantikan; saat sang gembala menyapa domba-dombanya secara langsung dalam Ekaristi yang suci.

Iman yang Melampaui Gerimis
Gerimis hujan pagi sempat mencoba menghalangi langkah. Namun ini tidak membuat nyali umat pudar. Beberapa memang datang terlambat, napas mereka terengah, namun ada keharuan luar biasa saat melihat mereka tetap masuk ke dalam gereja dengan sikap rendah hati. Sebab mereka tahu, Tuhan tidak melihat jam kedatangan, Tuhan melihat kerinduan yang membawa mereka sampai ke sana.

Kehangatan dari Altar
Di depan altar, Pater Hendra, OFM menyambut mereka dengan senyum yang menenangkan; seperti semangat pelindung kita Santo Fransiskus Assisi, yang mencintai alam dan sesama dalam kesederhanaan. Dalam kunjungan perdana ini, kehadiran beliau seolah menjadi matahari yang menghangatkan dinginnya pagi di Lareng. Momen Ekaristi berlangsung begitu khidmat. Suasana yang agaknya dingin justru berubah menjadi melodi pengiring doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus. Di sinilah kita belajar; bahwa berkat Tuhan seringkali datang di tengah situasi yang tidak sempurna. “Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu biru, tapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya di setiap langkah, termasuk di tengah gerimis di pagi ini.” Ada kehangatan yang menjalar di tengah dinginnya pagi ini. Bukan sekadar karena perjumpaan fisik, melainkan karena sebuah sapaan hati. "Neka gereng susa itu po Kawe Morin, Mori campek..." (Jangan menunggu saat sulit baru mencari Tuhan, Tuhan tolong aku...).
Kalimat itu meluncur lembut dalam balutan bahasa Manggarai yang kental dari bibir Pater Hendra, OFM. Seketika, suasana Gereja yang dingin berubah menjadi akrab, seolah-olah ikatan persaudaraan antara sang Pastor Paroki baru dan umatnya ini telah dirajut sejak lama. Pater Hendra tidak datang sebagai orang asing; ia datang sebagai seorang saudara yang memahami detak jantung umatnya.

Belajar dari Kesederhanaan Korintus
Dalam homilinya, Pastor yang telah mengabdikan dirinya di tanah Kapuas Hulu, Kalimantan sejak tahun 2017 ini, membawa kita kembali ke masa Santu Paulus. Ia mengingatkan bahwa perjuangan hidup umat di Lareng tidak jauh berbeda dengan jemaat di Korintus; orang-orang sederhana yang penuh perjuangan. Pesan beliau sangat dalam, “Jangan biarkan dirimu berjuang sendirian. Hadirkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidupmu, libatkan Ia dalam setiap tantanganmu.”

Berjalan Bersama di Tahun Persekutuan Sinergis 2026
Menapak pada tahun Pastoral Persekutuan Sinergis, Pater Hendra menitipkan sebuah pesan persatuan yang sangat manusiawi. Beliau sadar, dalam sebuah keluarga besar, perbedaan pendapat dan kepentingan adalah hal yang lumrah. Namun, beliau menegaskan, "Kalau kita berbeda pendapat atau keinginan, tetaplah berjalan bersama dan bersatu untuk Gereja. Saat Gereja membutuhkan waktu, pikiran, dan tenaga kita, mari kita bersatu hati. Gereja bukan hanya bangunan fisik yang kita susun batunya, tapi Gereja adalah kita; persekutuan umat yang hidup."
Kunjungan perdana ini menjadi saksi bahwa meski raga mungkin lelah menembus cuaca yang tak bersahabat, jiwa tetap haus akan siraman rohani. Pater Hendra, OFM telah memulai langkah pertamanya stasi Lareng dengan cinta yang tulus.

Suara Umat, Doa untuk Sang Pastor
Mewakili seluruh hati umat Stasi Lareng, Bapak Simon Cabut berdiri dengan penuh takzim. Kata-katanya sederhana namun dalam, "Kami bersyukur hari ini karena mendapat kunjungan perdana dari Pastor Paroki Baru. Selamat datang, selamat berkunjung di Stasi Lareng Pater.....dan selamat berkarya di Paroki Tentang... ." Sebuah ucapan selamat datang yang lebih terdengar seperti doa, agar langkah Pater Hendra, OFM di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang selalu dalam lindungan-Nya.

Akar yang Kuat, Sayap yang Telah Terbang Jauh
Namun, suasana semakin menyentuh ketika Pater Hendra berdiri untuk memperkenalkan dirinya. Di balik jubah cokelat Fransiskan yang ia kenakan, terungkaplah sebuah kisah perjalanan iman yang luar biasa. "Nama saya Leonardus Hendradus, OFM," ujarnya memulai kisah. Ternyata, ia bukanlah orang asing. Ia adalah putra asli dari tanah ini; lahir dan besar di Pagal, dengan garis keturunan dari Kampung Pinggang. Ada rasa bangga sekaligus haru di mata umat; melihat seorang anak daerah yang kini kembali untuk menggembalakan sesamanya.

Delapan Tahun Menabur Benih di Tanah Kalimantan
Perjalanannya sebagai imam tidaklah singkat. Sejak ditahbiskan pada tahun 2017, delapan tahun lamanya ia menghabiskan waktu di Badau, Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat. Di sana, di garis depan misi yang penuh tantangan, ia belajar tentang kesetiaan, ketabahan, dan kasih yang tak bertepi.
Kini, setelah melanglang buana di tanah Borneo, Tuhan menuntun langkahnya kembali ke Manggarai. Ia membawa pengalaman, ia membawa kerendahan hati, dan ia membawa semangat Santu Fransiskus Assisi untuk melayani dengan sukacita.

Sebuah Harapan Baru
Perkenalan ini menjadi jembatan batin yang kuat. Umat tidak lagi melihatnya sebagai "Pastor baru", melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang telah kembali pulang membawa api iman. 
Di penghujung Ekaristi perdana yang penuh rahmat itu, ada suasana yang mendadak hening dan menyentuh kalbu. Pater Hendra, OFM, Sang Gembala yang baru saja menginjakkan kaki di paroki kita, berdiri dengan kerendahan hati yang luar biasa. "Mohon Doakan Saya..."
Bukan perintah yang ia berikan, melainkan sebuah permohonan tulus. Beliau mengajak kita semua; umat di Paroki, stasi, hingga di lingkup terkecil yaitu keluarga untuk berjalan bersama. Namun yang paling menggetarkan hati adalah saat beliau berkata, "Mohon doa untuk saya dan para imam agar tetap sehat dan kuat, serta mampu memberikan diri sepenuhnya dalam pelayanan sakramen dan karya pastoral di paroki kita." Kalimat ini menjadi pengingat bagi kita bahwa seorang Imam, meski ia adalah saluran rahmat Tuhan, tetaplah manusia yang membutuhkan topangan doa dari domba-dombanya. Kekuatan pelayanan mereka adalah buah dari lutut-lutut umat yang bertelut mendoakannya.

Ekaristi: Perjamuan Suci yang Utuh
Sebagai seorang Gembala yang mengasihi domba-domabnya, Pater Hendra juga menitipkan "catatan cinta" mengenai kedisplinan kita dalam merayakan Ekaristi. Beliau mengingatkan bahwa Misa bukanlah sekadar rutinitas yang bisa diikuti setengah-setengah. Ekaristi adalah sebuah kesatuan. Dari tanda salib pembuka hingga berkat penutup, semuanya adalah satu nafas ibadah. Beliau menjelaskan dengan penuh perhatian bahwa kehadiran umat sejak awal sangat menentukan persiapan teknis seperti jumlah hosti yang disiapkan; namun yang lebih utama adalah persiapan batin kita untuk menyambut Tuhan secara utuh.
Pesan Pater Hendra jelas; Kita sedang membangun Gereja yang bukan fisik tapi Gereja yang hidup dalam hati kita masing-masing. Mari kita jawab kerendahan hati beliau dengan kesetiaan. Setia mendoakan para Imam kita, dan setia hadir tepat waktu di hadirat Tuhan. Karena cinta yang sejati selalu ingin hadir lebih awal dan pulang paling akhir.
Terima kasih Pater Hendra, OFM. Kami siap berjalan bersamamu. Biarlah akar keberadaanmu di tanah ini dan pengalaman misimu di Kalimantan menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan yang lebih erat di Paroki Tentang.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

0 comments:

Posting Komentar