Foto by : Karlo Amal_TimKomsos PSFAT
Gema Gong dan Simbol Persaudaraan
Detik yang dinantikan tiba. Suara Gong yang dipukul oleh Pater Hendra memecah kesunyian, getarannya seolah merambat ke setiap sudut hati umat yang hadir. Itu adalah bunyi komitmen; sebuah tanda resmi bahwa ziarah bersama telah dimulai. Di hadapan umat, pemandangan indah tersaji. Ketua DPP, Ketua DKP, para pengurus, serta para Suster SFSC dan Komunitas Biara Antonius Padua berdiri bahu-membahu. Mereka membentangkan baliho, bukan sekadar kain dan warna, melainkan simbol dari bentangan cinta yang tak terputus. Momentum ini menegaskan sebuah visi besar: membangun Gereja bukan hanya soal semen dan batu (fisik), tetapi tentang membangun Gereja sebagai Persekutuan Hidup. Mereka berdiri Tidak sekadar membentangkan baliho dengan deretan kalimat, namun ada sarat makna yang terungkap. Ini sebuah sinergi, untuk sebuah inspirasi, yaitu : Tangan saling menggenggam untuk bekerja. Bahu siap sedia untuk memikul beban sesama. Hati selaras dalam doa yang sama. Ada sederat ungkap ribuan umat; selamat berziarah, umat Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Di bawah naungan semangat Sang Santo dari Assisi, mari kita melangkah. Sebab dalam sinergi, yang berat menjadi ringan, dan yang jauh menjadi dekat di dalam Tuhan.
Dalam Balutan Kasih: Merajut Asa dalam Pelayanan
Gema lagu syukur baru saja meluruh di sela-sela pilar Gereja. Harum dupa masih tertinggal tipis di udara, membawa sisa-sisa doa Perayaan Ekaristi ke hadirat Sang Khalik. Namun, ibadah tidak berhenti di Altar; ia berpindah rupa menjadi pengabdian nyata dalam sebuah perjumpaan yang penuh khidmat: Rapat Pleno Paroki. Di bawah kepemimpinan Bapak Falentinus Jempo, lembar demi lembar perjalanan tahun 2025 dibuka kembali. Bukan sekadar angka atau deretan kalimat, evaluasi ini adalah cermin kejujuran. Kita melihat mana benih yang telah tumbuh menjadi pohon yang rindang, dan mana tunas yang masih perlu disiram kembali di tahun 2026.
Setiap program pastoral yang telah terlaksana adalah bukti bahwa kasih Tuhan bekerja melalui tangan-tangan yang lelah namun tak menyerah. Sementara program yang tertunda bukanlah sebuah kegagalan, melainkan janji yang tertunda untuk ditepati di masa depan.
Amanah dalam Kejujuran.
Suasana semakin hening saat Bapak Frederikus Peher memaparkan bentangan angka keuangan. Di sinilah integritas diuji dalam ketulusan. Setiap rupiah yang masuk adalah tetes keringat umat; sebuah persembahan suci yang harus dijaga dengan hati. Dialog hangat terjadi saat para Ketua dan Bendahara Stasi bersinergi, menyamakan catatan, dan memastikan bahwa kejujuran adalah fondasi utama rumah Tuhan. Keselarasan angka antara Stasi dan Paroki bukan sekadar soal akuntansi, melainkan soal membangun kepercayaan di atas batu karang kebenaran.
Ruang Diskusi: Tempat Solusi Bersemi
Diskusi sempat memanjang, mencari jalan keluar bagi program yang belum tuntas dan target yang belum tergapai. Namun, di sanalah letak indahnya persaudaraan. Tidak ada nada saling menyalahkan, yang ada hanyalah bahu-membahu mencari solusi. Hambatan finansial bukanlah tembok, melainkan jembatan bagi kita untuk semakin kreatif dan bersandar pada penyelenggaraan Ilahi.
Menuju Wajah Baru Bait Suci
Kini, pandangan kita menatap jauh ke depan. Statuta disosialisasikan sebagai kompas yang mengarahkan langkah, dan rencana renovasi Gereja mulai disusun. Renovasi ini bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan, melainkan simbol semangat kita untuk merenovasi bait suci di dalam hati. Kita melangkah pulang dengan satu keyakinan "Bahwa setiap lelah dalam rapat ini adalah ibadah, dan setiap keputusan yang diambil adalah demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam)."
Dalam Nada Semangat Persaudaraan: Sebuah Persekutuan Sinergis
Matahari mungkin melewati posisi tegaknya untuk beranjak ke arah Barat; namun di dalam ruangan itu, cahaya baru justru sedang disulut. Di bawah arahan Bapak Falentinus Jempo, deretan program kerja bukan sekadar barisan kata di atas kertas. Ia adalah wujud dari niat yang tulus. Setiap draf yang disusun adalah jembatan; menghubungkan rutinitas yang setia dengan impian-impian tahun 2025 yang sempat tertunda, kini diletakkan dengan penuh khidmat di atas altar rencana tahun 2026.
Mewarisi Aturan dalam Roh yang Baru
Suasana semakin mendalam ketika Pater Hendra, OFM bersama Ketua DPP mensosialisasikan Statuta baru Keuskupan Labuan Bajo. Ini bukan sekadar urusan birokrasi gerejawi, melainkan sebuah kompas spiritual yang baru; sebuah undangan bagi umat untuk bertumbuh dalam tatanan yang lebih rapi, namun tetap berakar pada kasih.
Keteguhan hati kian nampak saat rencana renovasi Gereja dipaparkan. Di bawah panduan Wakil Ketua DPP yang juga ada salah satu ketua Pelaksana Pembangunan (Sdr. Andreas Korsini Nakung) cetak biru yang dirancang oleh tangan-tangan teknis bukan sekadar soal semen dan batu, melainkan tentang membangun "Rumah Tuhan" yang lebih kokoh untuk menampung doa-doa umat.
Sebuah "Tanya" yang Menggetarkan Jiwa
Namun, puncak dari segala rencana bukanlah pada angka atau desain teknis, melainkan pada semangat persaudaraan. Di penghujung agenda, Pater Hendra, OFM berdiri. Tatapannya hangat, membawa aura kedamaian Fransiskan yang khas. Ia tidak memberikan perintah, melainkan sebuah ajakan untuk berjalan bersama (walking together). Dalam balutan filosofi kolaborasi tanah Manggarai yang kental, sebuah pertanyaan sederhana terlontar dari bibirnya, memecah kesunyian yang penuh harap, "Asa...? Kita mulai?" (Bagaimana...? Kita mulai?).
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Ia adalah sebuah ketukan di pintu hati. Dan dalam satu tarikan napas yang selaras, ruangan itu bergetar oleh jawaban serentak yang membahana:, "Siap Mulai!"
Tepuk tangan pecah; bukan hanya sebagai tanda berakhirnya rapat, melainkan sebagai gema komitmen. Itu adalah bunyi dari tangan-tangan yang siap bekerja, kaki-kaki yang siap melangkah, dan hati yang siap melayani dalam Tahun Persekutuan Sinergis.
Berkat Kemenangan
Akhirnya, segala rencana dikembalikan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dengan tangan terangkat, Pater Hendra, OFM mengunci seluruh kesepakatan itu dengan tanda kemenangan yang abadi.
"Semua rancangan, kesepakatan, dan program ini kita tetapkan dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus."
Doa itu menjadi penutup sekaligus fajar baru. Mereka pulang bukan hanya membawa dokumen, melainkan membawa api yang siap menyala di tengah umat.
*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)






0 comments:
Posting Komentar