TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

Selasa, 17 Februari 2026

LANGKAH SANG GEMBALA: Air Mata Ketaatan dan Jejak Kasih di Tanah Tentang

 

Ketua DPP dan DKP Memberikan Cendramata Kepada Pater Andreas Bisa, OFM 

TENTANG-WARTAPAROKI_Minggu, 18 Januari 2026, matahari di ufuk Timur Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang terbit dengan cahaya yang berbeda. Ada semburat kehangatan, namun ada pula kabut haru yang menyelimuti hati setiap umat yang melangkah menuju gereja. Hari itu bukan sekadar perayaan hari Minggu biasa; hari itu adalah sebuah "Estafet Kasih", sebuah babak sejarah di mana pengabdian bertemu dengan perpisahan, dan ketaatan bertemu dengan harapan baru.

Di Balik Altar: Sebuah Pengakuan Diri - Suasana syukur menyelimuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Didimus A. Mbembo (Vikep Pacar). Di barisan imam, hadir para pelayan Tuhan yang menjadi saksi bisu pergantian tongkat penggembalaan ini. Dalam keheningan homili, Romo Didi membawa umat menyelami hati Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Beliau mengingatkan bahwa seorang gembala hanyalah "suara yang berseru-seru", sebuah alat di tangan Tuhan. "Kita belajar dari Yohanes Pembaptis tentang kerendahan hati tampil untuk mewartakan tentang kedatangan sang Juru Selamat," ungkapnya. Pesan itu seolah menjadi gema bagi sosok Pater Wilibrodus Andreas Bisa, OFM (Pater Andre), sang gembala ke-18 yang telah mencurahkan seluruh hidupnya bagi Tentang selama enam tahun terakhir.

Saat Pena Menggoreskan Perpisahan_Keheningan semakin mencekam saat Pater Patris, OFM membacakan Surat Keputusan dari Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus. Setiap kata yang terbaca seolah menjadi hitungan mundur menuju perpisahan. Penandatanganan dokumen administrasi bukan sekadar prosedur formal, melainkan simbol penyerahan jiwa dan raga dari satu pelayan ke pelayan lainnya. Pater Leonardus Hendradus, OFM (Pater Hendra) berdiri tegak menyambut tugas baru ini, sementara Pater Hendrik, OFM bersiap mendampingi sebagai Vikaris. Sebuah awal baru di atas fondasi cinta yang sudah lama tertanam.

Puncak keharuan saat Bapak Falentinus Jempo (Ketua DPP) naik ke mimbar. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia mengenang bagaimana Pater Andre dan Pater Edo telah menembus terjalnya topografi stasi-stasi di Paroki Tentang, membawa sakramen ke pelosok, hingga menghidupkan ekonomi umat melalui UMKM dan gerakan ekopastoral.

"Dasor wekin koe ite lau Kalimantan, nai manga kin agu ami ce Tentang.....(Semoga ragamu saja yang berada di Kalimantan, Pater, namun hatimu tetaplah tertinggal bersama kami di sini...)," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu menyayat hati umat. Air mata mulai menetes di sela-sela bangku gereja. Sebuah pengakuan jujur bahwa Pater Andre bukan sekadar pemimpin agama, melainkan bagian dari keluarga mereka.

Isak Tangis di Atas Mimbar: Guru Sejati Adalah Umat _ Tiba saatnya Pater Andre menyampaikan kata perpisahan. Ruangan gereja yang luas itu seakan menjadi sempit oleh sesak napas haru. Sang Pastor, yang biasanya tegar, kini berdiri dengan bahu yang bergetar. "Terima kasih telah menjadi guru, sahabat, kakak, adik, dan orang tua bagi saya..." kalimatnya terhenti. Pater Andre terisak. Air matanya jatuh di atas mimbar kayu itu, membasahi teks yang mungkin tak sanggup lagi ia baca sepenuhnya. Ia teringat pesan Santu Fransiskus dari Assisi: bahwa orang kecil dan miskin adalah guru sejati. "Jangan takut belajar dan bekerja sama dengan siapa pun. Kalian telah membentuk saya menjadi seorang Fransiskan sejati. Perpisahan ini adalah wujud ketaatan saya kepada Tuhan," pesannya di tengah linangan air mata. Beliau menitipkan warisan-warisannya: Gua-Gua Maria di setiap kampung sebagai benteng doa, rumah ekonomi kreatif bagi kelompok tani, dan masa depan orang muda. Ia meminta umat untuk tidak membanding-bandingkan para imam, karena setiap zaman memiliki utusannya masing-masing.

Menatap Masa Depan: Sinergi dalam Doa_Suasana haru itu perlahan membasuh harapan baru saat Pater Hendra, OFM memperkenalkan diri. Sebagai putra Pagal yang pernah berkarya di Kalimantan Barat, ia datang dengan kerendahan hati. "Mari kita berjalan bersama. Apa yang telah dimulai oleh Pater Andre dan Pater Edo, akan kita lanjutkan demi kemuliaan Tuhan," ajaknya lembut. RD. Didimus A. Mbembo menutup rangkaian itu dengan ajakan untuk selalu Bantang Cama; berkumpul dan berkolaborasi. Beliau menegaskan bahwa Paroki Tentang telah menjadi oase yang dikenal karena keunikan ekopastoralnya, dan itu harus terus bertumbuh di bawah gembala yang baru.

Penutup _ Matahari mulai meninggi di langit Tentang, namun kenangan akan hari ini akan tertulis abadi dalam sanubari umat. Pater Andre pergi membawa sejuta cinta, sementara Pater Hendra datang memeluk harapan baru. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, karya pelayanan tak pernah berhenti; ia hanya berpindah tangan, namun tetap dalam satu hati yang sama: Melayani Tuhan dalam diri sesama.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)


0 comments:

Posting Komentar