Refleksi Perjumpaan OMK di Labuan Bajo
![]() |
| Saudara Andry, dkk Saat Mengikuti Kegiatan |
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dengan dinamika kelompok yang selalu terasa menyenangkan menjadikan peserta sangat antusias serta berusaha hadir sepenuhnua untuk saling mendengarkan dan berbagi praktik baik. Saudara Andry, selalu ketua OMK dari Paroki Tentang yang juga adalah anggota Tim Komsos Paroki menuturkan rangkaian kegiatan yang telah dikutinya. Ia menyamaikan bahwa, bersama dengan ketiga teman dari OMK Paroki Tentang di utus untuk mengikuti kegiatan Seminar "EVANGELISASI DIGITAL ORANG MUDA" dengan tema: Menjadi saksi Kristus yang berani, bersahabat, dan membawa Damai yang dilaksanakan di Family Center Seminari Santi Paulus Labuan Bajo. Kegiatan ini di buka secara resmi oleh RD Rikardus Manggu selalu Vikjen Keuskupan Labuan Bajo. Dalam sambutannya RD Rikardus berpesan kepada orang-orang muda dengan sebuah pertanyaan reflektif, "Sanggupkah Saya Hadir sebagai Orang Muda Katolik di tengah-tengah pergumulan sosial tidak hanya media, tetapi juga dalam kehidupan perjumpaan kongkrit?" Pertanyaan ini memberikan sebuah tantangan berat bagi kaum muda untuk mampu menempatkan diri dan berani mewartakan kebaikan di era digital sekarang.
Selanjutnya selesai acara pembukaan peserta mengikuti sesi pertama melalui pendalaman materi pertama tentang "ORANG MUDA : MASA KINI DAN MASA DEPAN GEREJA" yang di bawakan oleh RD Sevri, Pr selalu aeksi Kepemudaan Keuskupan Labuan Bajo. Beberapa poin dan catatan penting dari materi yang disampaikan oleh RD Sevri, yakin menekankan dan mengajak peserta untuk mengubah mindset tentang anggapan bahwa OMK (Orang Muda Katolik) dekat kehidupan gereja. "kita harus menghindari pandangan tentang OMK itu tidak hanya mereka yang dekat dengan gereja, tidak hanya yang aktif di gereja, tetapi juga teman-teman kita yang muda yang belum bergabung di OMK", ungkapnya. Kepada peserta, RD. Sevri, berpesan bahwa sebagai orang muda kita juga dituntut untuk menjadi Orang Muda Katolik yang kreatif, energi, mudah beradaptasi, juga bisa membawa pengaruh dalam gereja. Selanjutnya materi kedua dalam kegiatan ini, yaitu "Sharing Praktik Baik Pendampingan Orang-orang Muda" yang disampaikan oleh Pater Viktor,SDB. Dalam pemaparan materinya Pater Viktor, SDB menggarisbawahi peran sentral kaum muda dalam Gereja. "Kaum muda itu bukan penjaga parkir, bukan susah diatur, bukan juga tidak mampu; mereka (kaum muda) adalah aset Gereja", ujarnya dengan penuh semangat. Melalui pemamparan materi yang sangat bermakna ini, para peserta betul-betul dibekali dengan pemahaman akan betapa pentingnya peran kaum muda dalam Gereja dewasa sekarang. Bukan hanya untuk melengkapi tetapi lebih dari itu untuk menjadi pewarta kabar baik bagi dunia baik melalui perjuangan langsung maupun via media sosial sebagai salah satu media pewartaan yang ampuh. Tentu kita memahami bahwa Evangelisasi sebagai pewartaan "Kabar Baik" tentang Injil (Yesus Kristus) kepada sesama, melalui kata-kata maupun tindakan, untuk mengajak mereka kepada iman dan pertobatan. Inti pewartaan adalah pesan keselamatan dan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari sehingga setiap orang bisa mengenal ajaran Yesus lebih mendalam dan mewujudkannya.
Sebuah kehormatan dalam moment seminar ini sebagai aksi nyata, bahwa salah satu peserta perwakilan dari OMK Paroki Tentang saudari Fani mendapatkan apresiasi nominasi dengan mendapat juara sebagai peserta dengan postingan terbaik dalam karya evangelisasi digital. Fany memberikan sebuah narasi tentang pewartaan kaum muda yang diinspirasi dari rangkaian kegiatan temu OMK ini, bahwa, "Orang muda Keuskupan Labuan Bajo dipanggil bukan hanya untuk hadir, tetapi bersuara. Di dunia yang bergerak cepat, di ruang digital yang tak berbatas, kita diutus menjadi terang, mewartakan harapan, membawa damai, dan menabur kabar sukacita lewat setiap jari yang menekan layar. Evangelisasi hari ini bukan lagi soal sejauh apa kaki melangkah, tapi sejauh apa hati berani membagikan kasih-Nya melalui konten, cerita, dan kesaksian hidup. Selamat Hari Kaum Muda Sedunia. Mari menjadi saksi Kristus yang kreatif, berani, dan relevan di dunia nyata maupun dunia digital."
Melalui pesan singkat di WhatsApp Fany mengirimkan kesan inspirasi serta pesannya kepada kaum muda serta komitmen untuk menjadi pewarta di tengah tantangan dan perubahan zaman bahwa Fany mengingatkan rasa bahagia dan haru yang menyelimutinya saat moment kebersamaan dan dinamika kegiatan yang berlangsung. "Saya bahagia, saya sebagai salah satu delegasi dari bisa menghadiri kegiatan ini di Labuan Bajo. Jujur saja bahwa perkembangan dunia digital di kota ini sangat bergerak cepat, dapat merubah gaya hidup, mempengaruhi cara berpikir dan kekeringan masa depan anak muda", ungkapnya. Fani mengaku ada banyak hal yang saya dapat melalui kegiatan ini. "Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan, karena saya merasa Tuhan kembali mengingatkan saya akan panggilan ini. Bahwa saya tidak diutus hanya untuk hadir, tapi untuk melihat, merasakan, dan menyadari betapa besarnya luka-luka yang tidak tampak di hati anak-anak muda," ungkapnya melalui WhatsApp ke Tim Komsos Paroki Tentang. Inilah rasa mendalam dalam sederet kata dari sebuah perjumpaan kasih yang dialami saudari Fani. Melalui refleksi Fani tentunya merasakan betapa kuatnya keyakinan untuk menjadi saksi Kristus yang siap hadapi tantangan dengan suatu kemampuan untuk bersama berjuang ketika menegakkan kebenaran. "Saya harus bersahabat dengan hati yang rapuh, meski terkadang saya sendiri tidak kuat. Harus membawa kedamaian, bahkan ketika dunia justru memelihara konflik", ungkapnya dengan sikap berani.
Walau terkadang Saudari Fani menyadari bahwa hatinya juga merasa sedih oleh karena melihat begitu banyak anak muda mencari pengakuan, tapi kehilangan kasih. Mengejar kebebasan, tapi justru terjebak di dalamnya. Mencari jati diri, tapi malah kehilangan siapa mereka sebenarnya. Inilah refleksi bermakna yang diungkapkan saudari Fani. Tentu ini adalah rasa yang juga mewakili perasaan teman-temannya yang juga mengikuti kegiatan yang sama. Fani yakin bahwa sampai pada titik ini, Tuhan sepertinya berbicara lembut kepadanya untuk menjadi saksi Kristus dan hadir bagi sesama, menemani setiap hati yang tersesat. Menurut Fany, refleksinya ini memberikan penegasan bahwa langkah kecilnya, bahkan kehadiran, senyum serta doannya bisa menjadi cahaya bagi seseorang yang berada di titik paling gelap. Fany berjanji untuk terus belajar, terus berproses, untuk menjadi Saksi Kristus yang berani, ramah, dan membawa kedamaian mulai dari dirinya sendiri, untuk dunia muda yang sedang terluka. Di akhir refleksinya sekali lagi dengan nada penuh syukur Fany berucap, "Terimakasih Tuhan untuk peristiwa hari ini." Dalam rangkaian kegiatan temu OMK Ini juga para peserta mendapatkan kesempatan untuk menikmati udara segar sebagai bentuk refreshing dengan kegiatan sukacita orang muda Keuskupan Labuan Bajo dalam tour bersama (Mawatu -Bukit Silvya - Marina Bay - Biara KSSY- Rumah Keuskupan) untuk mempererat tali persaudaraan.
Selama kegiatan di Labuan Bajo, Saudara Andry, dkk; selalu mengirimkan informasi tentang dinamika kegiatan setiap sesi baik kepada Pastor Edo,OFM sebagai pendamping OMK Paroki maupun kepada Tim Komsos untuk mendokumentasikan dan mempublikasikannua lebih lanjut. Kepada Tim Komsos, P. Eduardus Da Silva, OFM juga memberikan beberapa rangkuman sharing dari pemaparan materi seminar berupa catatan tentang Tentang Evangelisasi digital Orang Muda. "Di dunia digital, kita tak hanya membagikan konten, kita membagikan diri. Satu hal yang Menarik dari materi yang disharing pada hari ini adalah Personal Branding. Personal branding bukan soal pencitraan, tetapi kesaksian, bahwa iman yang dirawat akan memancarkan terang. Evangelisasi digital menuntut kehadiran yang otentik menyapa dengan kasih, mengajak dengan ketulusan, dan bersaksi lewat hidup yang dijaga, dengan hati yang terus dirawat oleh doa dan refleksi", ungkapan melakukan chatting WhatsApp. Pastor Edo, juga berharap bahwa kaum muda di Paroki memahami tentang makna di setiap unggahan Pewartaan di media sosial. "Di balik setiap unggahan, ada panggilan untuk menghadirkan Kristus dalam cara kita berbicara, merespon, dan mencintai. Rawatlah dirimu, agar pesan yang kau bawa lahir dari hati yang jernih dan batin yang teduh. Sebab personal branding terbaik bukanlah yang tampak paling sempurna, melainkan yang paling mencerminkan wajah kasih-Nya", ungkapnya melalui pesan WhatsApp.
*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)




























