Pesan Menggugah dari Pastor Edo, OFM pada HUT PGRI Kecamatan Ndoso
Rewas-WartaParoki; Perayaan akbar Ulang Tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional Tahun 2025 tingkat cabang Ndoso di Rewas pada Senin, 24 November 2025, berlangsung penuh inspirasi. Sebagai ungkapan syukur untuk momentum berahmat ini, perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Eduardus Da Silva, OFM, yang akrab disapa Pastor Edo, OFM, berlangsung di Gereja Stasi Rewas. Misa yang dihadiri oleh anggota PGRI Kecamatan Ndoso serta umat Rewas dan Wahang sangat meriah. Dekorasi sederhana namun khidmat dengan balutan bunga, serta bendera kebanggaan PGRI dan Merah Putih yang dipancangkan di sisi kiri dan kanan ruangan Gereja. Kelancaran liturgi tak lepas dari kerja keras seksi liturgi yang dikoordinir oleh Saudara Ferdi Amat, Hila Efendi, dan rekan-rekan lainnya. Kekaguman perayaan juga diperkuat dengan lantunan koor memukau dari anggota PGRI gabungan gugus SD Sirimese, SMPN 2 Ndoso, SMPN 7 Ndoso, dan SMKN 1 Ndoso. Pastor Edo, OFM, yang merupakan imam Fransiskan dan berkarya di Paroki Santu Fransiskus Asisi Tentang, hadir menggantikan Pastor Paroki Kristoforus Waning yang berhalangan karena agenda pelayanan lain yang sudah lebih dahulu.
Guru: Panggilan Hati dan Keteladanan Sejati; Dalam homilinya, Pastor Edo, OFM, menggarisbawahi dua pokok penting sebagai pedoman bagi tugas pelayanan para Guru. Mengutip pesan-pesan dari bacaan suci, beliau menekankan bahwa tugas guru harus dilihat "Tidak hanya dilihat sebagai pekerja, namun lebih dari itu sebagai tugas pelayanan panggilan hati dan meneladani Sang Guru Sejati yaitu Yesus Kristus."ungkapnya. Pastor yang sudah lama berkarya di Manggarai ini tak lupa mengingatkan kembali falsafah panggilan orang Manggarai: "Hanya ada 2 (dua) panggilan Tuang (Tuan) di Manggarai, Tuang Guru dan Tuang Pastor." lanjutnya. Pesan ini menegaskan betapa profesi Guru ditempatkan pada posisi terhormat, disejajarkan dengan pelayanan imam (pejabat rohani umat Katolik). Oleh karena itu, beliau berpesan bahwa; panggilan menjadi guru adalah panggilan hati. Jadilah guru yang pernah menjadi murid (tidak berhenti untuk belajar). Olahraga banyak jangan lupa olah rohani. Juga menjadi Guru adalah keteladan, bukan hanya kata-kata. Pastor Edo, OFM, menegaskan bahwa di zaman modern ini, nasihat melalui kata-kata sudah kurang memberi pengaruh yang kuat. "Menunjukkan keteladanan adalah nasihat dan pengajaran yang sesungguhnya. Anak (murid) akan mudah menuruti dari keteladanan sang gurunya." Ujarnya
Ilustrasi Gelas: Isi Pikiran dengan Hal Positif; Puncak dari homili yang menggugah adalah ilustrasi sederhana yang diperagakan Pastor Edo, OFM, yang dikenal dengan gaya kotbahnya yang menarik dengan melakukan ilustrasi sederhana. Beliau mengambil sebuah gelas berisi setengah air dan selembar kertas putih. Sambil menuruni altar, Pastor Edo meletakkan kertas menutup mulut gelas, lalu bertanya kepada para guru, "Apakah air akan tumpah bila saya membalikkan gelas ini?" Setelah beberapa saat keheningan, dan beberapa jawaban ragu, Pastor Edo membalikkan gelas. Tepuk tangan riuh terdengar karena ternyata air tidak tumpah! Beliau kemudian menjelaskan pesan di baliknya: "Mengapa air tidak tumpah? Itu karena di dalam gelas masih ada ruang kosong. Sehingga ruang kosong itu yang menahan kertas sehingga air tidak tumpah." Selanjutnya, pesan inspiratif pun disampaikan: "Biarkan dalam pikiran kita tetap memiliki ruang kosong, yang kita isi ruang kosong dengan hal positif, bukan dengan hal yang negatif, apalagi dengan hal menceritakan kesalahan orang lain." Mengakhiri homilinya, beliau berpesan agar kepada sesama profesi yang mungkin keliru atau berbuat salah, "janganlah menceritakannya, namun berdoalah agar kita juga tidak mengalami hal yang sama."
Harapan Persatuan dalam "Nai Ca Anggit Tuke Ca Leleng"; Rasa haru dalam perayaan ini bertambah saat Bapak Honoratus Jelalut, S.Pd, Kepala SMKN 1 Ndoso, menampilkan Torok Tae (doa persembahan) dalam bahasa daerah Manggarai melalui Go'et (ungkapan puitis) penuh makna.
Beliau menarasikan sebuah harapan besar untuk organisasi PGRI Ndoso: "Porong PGRI Ndoso Rao Nego Ajo Cawi Neho Wua, Nai Ca Anggit Tuke Ca Leleng". Ungkapan filosofis ini merujuk pada visi dan pencapaian tertinggi dalam hidup orang Manggarai, yakni Persatuan dan Kesatuan. Saudara Yono, yang juga dikenal sebagai pemain caci dengan julukan "𝑾𝒆𝒍𝒂 𝑻𝒆𝒅𝒆𝒏𝒈 𝑨𝒏𝒂𝒌 𝑺𝒂𝒕𝒂𝒓 𝑴𝒆𝒔𝒆, mewakili isi hati seluruh anggota PGRI Ndoso, menaruh harapan agar organisasi ini senantiasa menunjukkan identitas dan integritasnya di kecamatan Ndoso, berlandaskan persaudaraan, kekeluargaan, keakraban, dan kekuatan yang dicapai melalui persatuan. Dalam sesi sambutan, Bapak Yakobus Lamar, S.Pd, Kepala SMPN 5 Ndoso sekaligus Panitia, menyampaikan terima kasih mendalam kepada Pastor Edo, OFM, dan seluruh pihak yang terlibat. Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan sesi foto bersama anggota PGRI dari setiap gugus. Pastor Edo, OFM, kemudian melanjutkan acara dengan makan malam bersama pengurus inti PGRI dan Panitia di rumah ketua Stasi Rewas, di mana acara adat Reis dan Kapu dilaksanakan dengan hikmat sebagai simbol penerimaan dan penghargaan kepada beliau. Pesan inspiratif dari Pastor Edo, OFM, pada perayaan HUT PGRI ini menjadi pengingat bagi setiap guru di Ndoso, bahwa profesi mereka adalah Panggilan Hati yang harus diisi dengan Keteladanan sejati dan pikiran Positif, menjadi teladan yang berjalan bagi generasi penerus bangsa.
*Frengky Jamento (seksi komsos PSFAS)




























