![]() |
| P. Andre, OFM bersama para anggota dan simpatisan Kompresjalur saat kerja di beberapa lokasi |
TENTANG_WARTAPAROKI_𝗣𝗮𝘀𝘁𝗼𝗿 𝗔𝗻𝗱𝗿𝗲𝗮𝘀 𝗕𝗶𝘀𝗮, 𝗢𝗙𝗠????? Siapa yang tidak mengenalnya. Selain sebagai pemerhati lingkungan hidup dengan memusatkan perhatian pada Pastoral Ekologi yang selalu menaruh rasa empati dan hormat kepada alam sebagai keutuhan ciptaan, ia juga dikenal sebagai sang inisiator sebuah gerakan "𝙚𝒎𝙚𝒓𝙜𝒆𝙣𝒄𝙮 𝙚𝒙𝙞𝒕". Gerakan kepeduliannya tertuju pada akses jalan menuju wilayah Tentang sampai Sirimese (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑗𝑢𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑟𝑜𝑘𝑖 𝑇𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔) yang sulit baik karena bencana alam maupun karena usia kalender jalur ini yang tak muda lagi.
𝗞𝗲𝗽𝗲𝗱𝘂𝗹𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗱𝗮𝗻𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 hanya ditunjukkan melalui pewartaan di atas agungnya mimbar tetapi hadir dan mengalami lansung; meyakinkan umatnya bahwa pembangunan bukan hanya kewajiban pemerintah namun dipundak warga-nyalah beban dan tanggung jawab ini juga di sematkan. Pastor Andre, OFM memberikan sebuah keyakinan bahwa "𝑫𝒊 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒓𝒖𝒔𝒂𝒌, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒎𝒃𝒂𝒍 𝒍𝒖𝒃𝒂𝒏𝒈, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒋𝒖𝒕 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂𝒂𝒏. 𝑻𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏-𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒌𝒕𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒈𝒐𝒕𝒐𝒏𝒈 𝒓𝒐𝒚𝒐𝒏𝒈 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒋𝒖 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂", ujarnya memberi semangat kepada warga yang sedang bergotong-royong.
𝗣𝗼𝘀𝘁𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻-𝗽𝗼𝘀𝘁𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘀𝘁𝗼𝗿 𝗔𝗻𝗱𝗿𝗲, di media sosial tentunya bukan sekadar mengisi beranda apalagi mencari sensasi dan popularitas; itu terlalu kerdil. Lebih dari itu adalah mewartakan sebuah keteladan kepemimipinan sesungguhnya melalui kepekaan terhadap jeritan umatnya saat menikmati betapa perjuangan melewati jalur ini penuh seuntaian doa yang tak terhingga agar selamat sampai tujuan. Melalui sebuah dedikasi dan keteladanannya, Pastor Andre mengajak para sopir, pemilik kendaraan dan simpatisan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk membentuk sebuah komunitas sederhana yang diberi nama "𝗞𝗢𝗠𝗣𝗥𝗘𝗦𝗝𝗔𝗟𝗨𝗥". 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗻𝗮𝗺𝗮? 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗮𝗸𝗿𝗼𝗻𝗶𝗺? 𝗦𝗶𝗺𝗮𝗸 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮. 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗸𝗼𝗺𝗶𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗱𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶 ambil bagian dalam pembangunan telah diberi nama paling keren dan bermartabat "𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍" sebagai akronim dari "𝑲𝙤𝒎𝙪𝒏𝙞𝒕𝙖𝒔 𝑷𝙚𝒅𝙪𝒍𝙞 𝙍𝒆𝙥𝒂𝙧𝒂𝙨𝒊 𝑱𝙖𝒍𝙖𝒏 𝑼𝙢𝒖𝙢 𝙍𝒖𝙨𝒂𝙠-𝙍𝒖𝙨𝒂𝙠". Renyah kan namanya? Tentu. Menggungah? Itu pasti. Menginspirasi ? Jangan tanyakan lagi. 𝘿𝙞𝙗𝙖𝙡𝙞𝙠 𝙣𝙖𝙢𝙖, 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙧𝙖𝙨𝙖 prihatin terhadap medan yang ekstrim tahun 2021-2022 silam. Saat longsor melanda dan memutuskan akses dari/dan/ke Tentang kala itu bak menayangkan film dokumenter tahun 80-an; benar-benar terasa sebuah kisah seperti diceritakan orang tua dulu tentang bagaimana sulitnya perjalanan (jalan kaki) menuju kota Ruteng. Sudahlah. Kita lanjut.
𝙈𝙖𝙨𝙮𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙩 𝙋𝙖𝙧𝙤𝙠𝙞 𝙏𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙣𝙩𝙖𝙨𝙞 jalur Sirimese- Dahang selalu bergulat dengan jalanan lumpur saat hujan dan debu pekat saat kemarau. Akses ekonomi tersendat, tarif kendaraan pun jauh di atas normal karena jarak tak lagi diukur dengan kilometer namun satuan jam-lah yang berbicara. Anak sekolah kepayahan, dan rujukan kesehatan menjadi taruhan nyawa saat melintas jalur ini. 𝗞𝗢𝗠𝗣𝗥𝗘𝗦𝗝𝗔𝗟𝗨𝗥 𝗱𝗶𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝟬𝟵 𝗦𝗲𝗽𝘁𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟮 oleh pemilik kendaraan roda empat dan roda enam yang berdomisili di wilayah Tentang dan sekitarnya. Ruangan sayap Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang adalah saksi bisu ide maha besar ini diracik dengan merapatkan barisan secara sukarela dan gotong royong memperbaiki jalan rusak-rusak yang berada di wilayah Tentang dan sekitarnya di kecamatan Ndoso. 𝑲𝒂𝒍𝒊 𝒊𝒕𝒖 (𝒅𝒊𝒃𝒆𝒏𝒕𝒖𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒐𝒎𝒖𝒏𝒊𝒕𝒂𝒔) 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓-𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 dan menyaksikan betapa Pastor Andre, OFM berbicara dengan raut wajah keprihatinan yang tumbuh bukan dari lidah yang berucap tapi dari kedalaman hati yang sedang menangis. Saya yang ditunjuknya menjadi bendahara komunitas (kala itu) tak bisa berkata-kata, hanya anggukkan kepala menjawab kepercayaan oleh Pastor yang menatapku dengan sebuah komitmen tinggi menaruh sebuah harapan akan suksesnya komunitas ini. Tak perlu rangkaian kata-kata manis yang tertuang dalam jilidnya AD/ART, namun KOMPRESJALUR fokus kerja sukarela yaitu 'Giat Gotong Royong' memperbaiki jalan umum rusak-rusak saat ini. Sekadar memecahkan suasana saat itu, kita berguyon "𝑱𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕, 𝒔𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒃𝒖𝒕𝒖𝒉 𝒌𝒐𝒎𝒑𝒓𝒆𝒔, 𝒕𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖 𝒅𝒊𝒓𝒖𝒋𝒖𝒌 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒄𝒖𝒌𝒖𝒑 𝒕𝒊𝒏𝒅𝒂𝒌𝒂𝒏 𝑷3𝑲 (𝑷𝒆𝒓𝒕𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒄𝒊𝒍). 𝑺𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒋𝒂𝒅𝒊𝒍𝒂𝒉 𝑲𝒐𝒎𝒑𝒓𝒆𝒔𝑱𝒂𝒍𝒖𝒓 (𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒐𝒎𝒑𝒓𝒆𝒔 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂). 𝑲𝒆𝒓𝒆𝒏 𝒌𝒂𝒏 𝒆𝒕𝒊𝒎𝒐𝒍𝒐𝒈𝒊𝒏𝒚𝒂?"
𝗕𝗲𝗿𝗺𝗼𝗱𝗮𝗹 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝗸𝗲𝗻𝗱𝗮𝗿𝗮𝗮𝗻 dan sopir tercatat awalnya ada 26 pemilik kendaraan yang berdomisili di Tentang dan sekitarnya dengan memberikan kontribusi awal berupa sumbangan pemilik kendaraan roda 4 sebesar Rp. 200.000 sedangkan roda 6 sebesar Rp. 400.000. Para simpatisan dan warga memberikan sumbangan seberapa adanya seturut mampu dan se-iklasnya. Namun sumbangan terbesar adalah tenaga dan waktu untuk hadir dalam bakti gotong royong yang nilainya melampaui segalanya. Dari pemuda hingga orang tua, semua tergerak. Mereka mengumpulkan batu satu demi satu, menyisihkan receh demi receh untuk membeli semen, dan mencurahkan keringat di bawah terik matahari. 𝘿𝙖𝙣𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙪𝙢𝙥𝙪𝙡 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙪𝙡𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙩𝙖-𝙢𝙖𝙩𝙖 untuk membeli material seperti pasir, semen, cadas dan batu. Sedangkan tenaga dan waktu para simpatisan dan warga adalah persembahan untuk bumi Pertiwi (Ndoso). Oh ada yang lupa. Bagiamana dengan teknisinya? Sudah lengkap. Sang teknisi Kae Leksi Suhardi sudah ada dalam barisan anggota komunitas ini. Tambah keren kan? 𝙆𝙚𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙪𝙢𝙖𝙩 (𝙬𝙖𝙧𝙜𝙖) dalam aksi ini atas dasar 𝙢𝙤𝙩𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞; merasakan betapa senasib dalam menanggapi parahnya jalan sebagai lintasan menuju pusat kota. Longsor di pendakian sawah Sano sebagai sanksi titik sejarah perdana aksi komunitas ini. Di atas lumpur kala itu adalah meterai saksi bersatunya komitmen cita-cita mulia komunitas ini dibentuk; atas dasar rasa prihatin mengikrarkan bulatnya tekad gotong royong para pemilik kendaraan dan simpatasan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk beraksi. 𝗞𝗼𝗺𝗽𝗿𝗲𝘀𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸? Ah jangan tanya itu Bang. Pasti iyalah, dasarnya POLITIK (𝗣ahitnya 𝗢rang me𝗟𝗜ntas d𝗜 𝗧𝗜𝗞ungan). Bercanda ya Bos Meta untuk tambah jangkauan saja. Kawan-kawan dan simpatisan telah menggarisbawahi bawah komunitas ini lahir dari satu rasa, satu tujuan, satu tekad dan satu nasib bahwa kita menikmati jalur ini menuju kota. Saya merasakan betapa di atas medan ini pertaruhkan segalanya. Bukan hanya kerja keras sopir dan kondektur namun seuntaian doa para penumpang adalah kolaborasi harmonis untuk melewatinya. Di sinilah pepatah latin '𝗢𝗿𝗮 𝗲𝘁 𝗟𝗮𝗯𝗼𝗿𝗮' terwujud. Sopir bekerja, penumpang berdoa; maka lokasi tujuan tercapai.
𝗢𝗵 s𝗮𝘆𝗮 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘆𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗹𝗲𝘄𝗮𝘁𝗶 𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗶𝗻𝗶. "Saya harus beradu ide cemerlang di sini. Tangan di stir, kaki kiri-kanan kontrol pedal gas/rem/kopling, hati bersimpul sujud kepada Pemilik Hidup agar jangan Kau matikan mesin rush ini sebab keringat darah aku memperolehnya. Tidak berhenti di situ mata harus lirik spion kiri-kanan sembari berkipir ke mana lingkaran stir ini dibanting saat napas Toyota ini menyerah dan harus mundur. Kepada sang penumpang yang adalah istri dan anak-anak tercinta yang duduk di sampingku aku berpesan sepatah berdoa terpanjat dalam hati agar bisa lewati medan ini. Itulah kisah perjalanan ini 2021 - 2022." Asyik kan? Masa!!!!!!!. Sedih sayang. Sedih.
𝗕𝗲𝗿𝘀𝘆𝘂𝗸𝘂𝗿 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮 𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 sedikitnya jeritan ini. Walaupun tetap masih belum sempurna tapi setidaknya perjuangan sampai saat ini di beberapa titik menghilangkan doa yang selalu terpanjat di setiap perjalanan. Longsor di pendakian sawah Sano adalah saksi bisu titik sejarah. Diatas lumpur Kaka itu adalah meterai satunya komitmen wadah ini dibentuk atas dasar rasa prihatin mengikrarkan bulatnya tekad gotong royong para pemilik kendaraan dan simpatisan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk beraksi. 𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙈𝙚𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙝𝙖𝙗𝙖𝙩, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢? Namun, alih-alih berpangku tangan menunggu uluran bantuan yang tak kunjung datang; Pater Andre, OFM melihat celah untuk membangkitkan martabat umatnya. Beliau memelopori gerakan swadaya murni. Baginya, jalan yang rusak bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan ujian bagi iman yang harus diwujudkan dalam kerja nyata. Istilah Kompresjalur menjadi sandi perjuangan. Dengan langkah kaki yang mantap dan jubah yang seringkali ternoda tanah, Pater Andre, OFM turun langsung ke lapangan. Beliau tidak hanya memegang Alkitab di mimbar, tapi juga memegang sekop dan linggis di jalanan. Sang inisiator besar Pastor Andreas Bisa, OFM; pastor paroki Santu Fransiskus Asisi Tentang adalah penggerak komunitas ini yang kini telah puluhan titik jalan rusak telah dijamah para anggota dan simpatisan komunitas ini. Pastor Andre, rela melangkah dari altar menuju jalan rusak adalah bukan sekadar menguatkan iman, tetapi ia hadir sebagai pemimpin sejati sesungguhnya. Dia tak banyak bicara tapi lebih pada memulai angkat batu, pikul skop dan linggis lalu terjun ke lumpur untuk menjadi senasib di jalan ini. Pater Andre membuktikan bahwa pemimpin sejati adalah ia yang paling depan merasakan lelah. Kehadirannya di tengah debu jalanan menghancurkan rasa skeptis dan menggantinya dengan optimisme. 𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙚𝙖𝙣𝙜𝙜𝙤𝙩𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙩𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙆𝙤𝙢𝙥𝙧𝙚𝙨𝙟𝙖𝙡𝙪𝙧 tersebar di desa-desa wilayah kecamatan Ndoso, kabupaten Manggarai Barat dengan agenda rutin yang terus menerus yakni penggalangan dana dengan pelbagai pihak, dialog dengan pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan serta giat gotong royong memperbaiki jalan umum rusak-rusak. Kami punya pekikan semangat; "𝘗𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘳, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘰𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯". Sampai saat ini ada begitu banyak ukuran tangan kasih dari para simpatasan untuk kontribusi pergerakan komunitas ini yang tak bisa disebutkan lagi dalam tulisan ini. Namun nama-nama mereka sudah tercatat di sanubari anggota komunitas dan simpatasan serta warga Ndoso.
𝗞𝗢𝗠𝗣𝗥𝗘𝗦𝗝𝗔𝗟𝗨𝗥; 𝗚𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂, keterbatasan sumber daya bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang bisa ditaklukkan. Warisan yang Lebih dari Sekadar Aspal. Kini, jalanan di Paroki Tentang tak lagi mencekam. Aspal dan rabat beton hasil swadaya itu memang memudahkan kendaraan melintas, namun warisan sesungguhnya yang ditinggalkan Pater Andre, OFM jauh lebih dalam; rasa percaya diri dan memiliki dari masyarakat atas pembangunan wilayahnya. Mereka kini sadar bahwa masa depan mereka ada di tangan mereka sendiri. Setiap jengkal jalan yang mereka perbaiki adalah bukti cinta pada tanah kelahiran dan wujud konkret dari doa-doa yang dijawab melalui kerja keras. 𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍; "𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙙𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙡 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙧𝙩𝙖𝙗𝙖𝙩", sebuah refleksi dari semangat Kompresjalur. 𝙆𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙋𝙖𝙩𝙚𝙧 𝘼𝙣𝙙𝙧𝙚, 𝙊𝙁𝙈 dan 𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍 di Paroki Tentang adalah pengingat bagi kita semua bahwa satu orang yang memiliki visi dan keberanian untuk memulai dapat menggerakkan ribuan orang untuk mengubah keadaan.
*Frengky Jamento (KOMSOS PSFAT)






















