TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

https://drive.google.com/file/d/1Jgtp6biGAJps4uGnjR7evJkWMekPSzHw/view?usp=drive_link

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 19 Januari 2026

๐™‹๐™€๐™‡๐™๐™†๐˜ผ๐™‰ ๐˜ฟ๐™๐˜ผ ๐™Ž๐˜ผ๐™๐˜ฟ๐˜ผ๐™๐˜ผ; ๐™†๐™š๐™ฉ๐™ž๐™ ๐™– ๐™€๐™จ๐™ฉ๐™–๐™›๐™š๐™ฉ ๐™†๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™ž๐™ฉ๐™ž๐™ฅ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™…๐™š๐™Ÿ๐™–๐™ 

Pater Andre memeluk erat  Pater Hendra Sebelum Keberangkatan Ke Kalimatan (Senin, 19 Januari 2026)

TENTANG-WARTAPAROKI_Di antara isak tangis umat yang memecah pagi, ada satu pemandangan yang mendadak membuat waktu seolah berhenti berputar. Di halaman Pastoran Paroki Santu Fransiskus Assisi, dua pria dengan gaya kesederhaan berdiri berhadapan. Mereka bukan sekadar rekan sejawat; mereka adalah saudara sehina-dina (OFM) yang sedang menuliskan babak baru dalam sejarah iman umat Tentang.

๐—ฆ๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐˜‚๐˜๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ; Saat Pater Andre melangkah mendekati Pater Hendra, tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk mewakili rasa haru yang membuncah. Keduanya kemudian berpelukan; sebuah pelukan yang begitu erat, begitu lama, dan begitu dalam. ๐˜ฟ๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™™๐™š๐™ ๐™–๐™ฅ๐™–๐™ฃ ๐™ž๐™ฉ๐™ช, ๐™™๐™ช๐™ฃ๐™ž๐™– ๐™ข๐™š๐™ก๐™ž๐™๐™–๐™ฉ ๐™ก๐™š๐™—๐™ž๐™ ๐™™๐™–๐™ง๐™ž ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™™๐™–๐™ง ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ฅ๐™ž๐™จ๐™–๐™๐™–๐™ฃ. Kita melihat Pater Andre, sang gembala yang akan pergi, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu saudaranya, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya. Dari raut wajahnya yang teduh meski dibasahi air mata, terpancar sebuah pesan tanpa suara kepada Pater Hendra: "๐˜š๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜‘๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช."

๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐˜‚๐—บ ๐—ฑ๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป; Pelukan itu akhirnya terlepas, berganti dengan jabat tangan yang mantap. Mata mereka bertemu. Di sana, ada binar kesedihan karena harus berpisah, namun ada sinar keteguhan yang jauh lebih terang; itulah Ketaatan Fransiskan. ๐˜ฝ๐™–๐™œ๐™ž ๐™จ๐™š๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™ช๐™ฉ๐™ง๐™– ๐™๐™ง๐™–๐™ฃ๐™จ๐™ž๐™จ๐™ ๐™ช๐™จ, ๐™ ๐™š๐™ฉ๐™–๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™–๐™ฃ, melainkan tentang penyerahan diri total pada kehendak Tuhan. Meski hati ingin menetap, namun panggilan misi memanggil untuk melangkah. Pater Hendra membalas senyuman itu dengan kehangatan yang tak kalah murni. Lewat sorot matanya yang tenang, ia seolah menjawab keraguan saudaranya dengan janji setia: "๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ, ๐˜š๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ."

๐—ช๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ, ๐—›๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ; Umat yang menyaksikan momen itu terdiam dalam keharuan yang menyayat. Mereka sadar bahwa meski sosok yang berdiri di depan mereka kini berganti wajah, esensi pelayanannya tetaplah satu. Pater Andre dan Pater Hendra adalah dua pribadi yang berbeda, namun di dalam pembuluh darah mereka mengalir semangat yang sama: semangat kemiskinan, kerendahan hati, dan persaudaraan sejati. ๐‘บ๐’‚๐’•๐’– ๐’‹๐’–๐’ƒ๐’‚๐’‰ ๐’„๐’๐’Œ๐’†๐’๐’‚๐’• ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’†๐’“๐’†๐’Œ๐’‚ ๐’Œ๐’†๐’๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’”๐’Š๐’Ž๐’ƒ๐’๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’“๐’š๐’‚ ๐’‘๐’†๐’๐’‚๐’š๐’‚๐’๐’‚๐’ di Paroki Tentang tidak akan pernah terputus. Karya itu adalah milik Kristus, dan kedua imam ini hanyalah alat kecil di tangan-Nya.

๐—˜๐˜€๐˜๐—ฎ๐—ณ๐—ฒ๐˜ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฎ๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐˜‚๐˜€; Saat tangan mereka saling menggenggam erat untuk terakhir kalinya sebelum mobil berangkat, ada sebuah harmoni yang tercipta. Pater Andre membawa pergi kenangan indah, dan Pater Hendra membawa datang harapan baru. Persaudaraan mereka membuktikan bahwa dalam Tuhan, tidak ada perpisahan yang benar-benar memisahkan, yang ada hanyalah penugasan di ladang yang berbeda. Selamat bertugas, Pater Hendra, sang Gembala Baru. Selamat melayani di tempat baru, Pater Andre. Di bawah langit Tentang yang sama, doa kami akan selalu menyatukan kalian berdua dalam satu ikatan kasih yang abadi.

*Frengky Jamento (KOMSOS PSFAT)

Minggu, 18 Januari 2026

KETIKA JUBAH COKELAT BERPAMITAN PADA HATI YANG MENCINTAI

Penandatangan dokumen Serah Terima
Penugasan Pastor Paroki Tentang (Tentang, 18 Januari 2026)

TENTANG-WARTAPAROKI_Pagi ini Minggu, 18 Januari 2026 lonceng Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang berdentang tidak seperti biasanya. Suaranya seolah membawa getaran yang menyentuh kalbu setiap umat yang melangkah masuk. Di balik jubah-jubah cokelat yang sederhana, tersimpan sebuah narasi besar tentang ketaatan, pengabdian, dan sebuah perpisahan yang menyesakkan dada namun penuh rahmat. Hari ini bukan sekadar hari Minggu biasa melainkan sebuah hari sebagai saksi bisu sebuah "Estafet Kasih". Di atas altar suci, dua jiwa terpanggil sedang berdiri di persimpangan jalan: Pater Wilibrodus Andreas Bisa, OFM yang akrab disapa Pater Andre bersiap memberikan tongkat penggembalaannya, sementara Pater Leonardus Hendradus, OFM (Pater Hendra) bersiap memikul beban suci itu di pundaknya.

Mezbah Terakhir Sang Gembala ke-18

Suasana di dalam gereja begitu hening saat RD. Didimus A. Mbembo memulai Perayaan Ekaristi. Di barisan umat, mata-mata mulai berkaca-kaca melihat sosok Pater Andre. Ini adalah kali terakhir beliau berdiri di sana sebagai Pastor Paroki gembala ke-18 yang telah memahat namanya di dinding hati umat Tentang. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Di setiap sudut paroki ini, ada jejak kaki Pater Andre; ada bisikan doanya di telinga orang sakit, ada tawa renyahnya bersama anak-anak, dan ada tetesan keringatnya saat membangun iman umat. Kini, ia harus pergi. Bukan karena ia tak lagi cinta, tapi karena "Ketaatan Fransiskan" memanggilnya untuk menabur benih di ladang Tuhan yang lain. Keharuan semakin memuncak dengan kehadiran para imam: Pater Patris (Gardian OFM Labuan Bajo), RD. Robert (pastor paroki Waning) RD. Edy (pastor paroki Wajur) RD. Lorens (pastor paroki Ranggu), dan Pater Hendrik, OFM. Kehadiran mereka seolah menjadi pagar doa yang menguatkan. Mereka hadir untuk menyaksikan bagaimana seorang saudara melepaskan miliknya demi sebuah misi yang lebih besar. Saat prosesi serah terima berlangsung, suasana berubah menjadi begitu khidmat. Pater Hendra, OFM melangkah maju dengan wajah penuh keteguhan namun rendah hati. Ini adalah Ekaristi perdananya sebagai gembala baru. Di tangannya kini diletakkan harapan ribuan umat. Ada beban, ada syukur, dan ada tanggung jawab yang besar untuk melanjutkan warisan kasih yang ditinggalkan pendahulunya. Hari ini, langit Tentang seolah ikut tersenyum dalam haru. Sebuah estafet pelayanan telah terjadi, dan Tuhan tersenyum melihat anak-anak-Nya saling mengasihi dalam tugas perutusan yang suci. RD. Didimus A. Mbembo, sang Vikep Pacar, berdiri dengan wibawa yang lembut. Suaranya memecah keheningan, membawa pesan dari masa ribuan tahun lalu ke dalam realitas hari ini. Beliau mengajak umat menyelami hati Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis. "Kita belajar dari Nabi Yesaya," ucap Romo Didi lirih namun bertenaga. "Ia berani bukan karena ia kuat, tapi karena ia yakin ada Tuhan di balik setiap langkahnya", lanjutnya. Selain itu juga Romo Dedi, mengajak umat untuk bersyukur karena kita juga ditunjuk oleh Tuhan untuk mewartakan keselamatan sebab tugas perutusan bukan hanya untuk imam tetapi juga kepada umat telah diberikan tugas perutusan dengan segala kekuatan dan talenta. Bahwa setiap talenta yang kita miliki adalah pinjaman suci untuk mewartakan keselamatan. Namun, saat ia menyebut nama Yohanes Pembaptis, sesuai Injil yang diperdengarkan keheningan semakin mencekam. "Yohanes tahu siapa dirinya. Ia sadar ia hanyalah suara yang mempersiapkan jalan bagi Sang Juru Selamat, ungkap Romo Dedi. Pesan itu seolah menjadi pengingat bagi setiap pelayan Tuhan: bahwa pada akhirnya, kita semua akan pergi, dan hanya Kristuslah yang harus tetap tinggal di hati umat.

Pena yang Bergetar dan Tongkat yang Berpindah;

Puncak keharuan menyelimuti gereja saat Pater Patris, OFM, melangkah maju. Lembaran kertas di tangannya bukan sekadar surat keputusan (SK) dari Yang Mulia Uskup Labuan Bajo; lembaran itu adalah saksi dari sebuah perpisahan dan awal yang baru. Dengan suara yang begitu berat Pater Patris membacakan surat keputusan Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus tentang pembebasan tugas bagi Pater Andre, OFM sebagai Pastor Paroki dan Penugasan sebagai Pastor Paroki bagi Pater Hendra, OFM. Saat nama Pater Andre, OFM dibacakan untuk dibebastugaskan, ada isak kecil yang tertahan di barisan umat. Bertahun-tahun lamanya, tangan itulah yang memberkati anak-anak mereka, telinga itulah yang mendengarkan keluh kesah mereka, dan hati itulah yang menjadi rumah bagi duka mereka. Kini, tugas itu telah usai. Lalu, nama Pater Hendra, OFM menggema sebagai gembala yang baru, didampingi oleh Pater Hendrik, OFM yang akan berperan sebagai vikaris paroki. Momentum yang paling menyayat hati adalah saat penandatanganan berita acara. Suara gesekan pena di atas kertas terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang kudus. Setiap goresan tinta adalah simbol pelepasan beban dari pundak yang satu ke pundak yang lain. Pater Andre menyerahkan domba-dombanya dengan cinta, dan Pater Hendra menerimanya dengan ketaatan yang tulus.

Menuju Persekutuan Sinergis 2026

Di tengah tetesan air mata umat yang kehilangan dan harapan yang baru tumbuh, Romo Didimus menitipkan pesan terakhir untuk Tahun Pastoral 2026. Ia mengajak semua orang untuk tidak hanya terpaku pada duka perpisahan, tetapi menemukan "keunggulan diri". "Dalam persekutuan sinergis ini, carilah apa yang terbaik dalam dirimu untuk masa depan Gereja dan Paroki kita," pesannya. Gereja Tentang hari itu menjadi saksi: bahwa di dalam Tuhan, tidak ada perpisahan yang abadi. Yang ada hanyalah estafet kasih. Para pengabdi datang dan pergi, namun kasih Tuhan tetap tinggal, dipahat dalam administrasi yang tertib dan doa yang tak kunjung putus. Dalam sambutannya Bapak Falentinus Jempo selaku Ketua DPP, berdiri di mimbar dengan suara yang sesekali bergetar. Matanya menatap Pater Andre, OFM; sosok gembala yang selama ini tak hanya berkhotbah di atas mimbar, tetapi juga hadir bersama umat di setiap kampung, bekerja bersama kelompok tani demi pemberdayaan ekonomi umat (UMKM) dan menggerakkan kegiatan konservasi alam melalui gerakan Ekopastoral. "Terima kasih, Pater," bisiknya lirih, namun gema syukurnya menembus kalbu setiap orang yang hadir. "Terima kasih telah menghidupi semangat Santo Fransiskus Asisi di tanah kami. Pater tidak hanya melayani jiwa kami, tapi Pater juga mencintai alam kami dan peduli dengan kaum kecil dan sederhana." ungkapnya dengan penuh haru. Suasana semakin hening saat permohonan maaf terucap. Sebuah pengakuan jujur bahwa dalam interaksi manusiawi, ada luka-luka kecil yang mungkin tertinggal. Namun, semua itu seolah luruh oleh satu kalimat dalam bahasa Manggarai yang menyayat hati, sebuah doa yang melampaui jarak ribuan kilometer: "Dasor wekin koe ite lau Kalimantan nai manga kin agu ami ce Tentang." (Semoga raga saja yang berada di Kalimantan, namun hati tetaplah ada bersama kami di Tentang)", pesannya kepada Pater Andre. Kalimat itu jatuh seperti rintik hujan di musim kemarau. Beberapa umat nampak meneteskan air mata saat sebuah kehilangan yang nyata, namun ada pula kepasrahan religius bahwa seorang imam adalah milik Gereja, seorang utusan yang harus siap melangkah ke mana pun Roh Kudus berhembus kali ini, menuju Keuskupan Banjarmasin. Namun, di balik duka perpisahan, Gereja tetap mengajarkan tentang harapan. Kedatangan Pater Hendra, OFM dan Pater Hendrik, OFM disambut dengan tangan terbuka. Seperti sebuah tenunan, saat satu benang mencapai ujungnya, benang baru akan masuk untuk melanjutkan pola kebersamaan yang telah dirajut dengan penuh cinta. Momen puncak yang menguras air mata terjadi saat Bapak Martinus Mboe, selaku Ketua DKP, melangkah maju. Tangannya gemetar saat memegang bingkisan sederhana sebuah tanda cinta yang tak akan mampu menandingi besarnya pengabdian Pater Andre. Dengan suara parau yang nyaris pecah, ia menyampaikan kata-kata perutusan. Bingkisan itu bukan sekadar benda, melainkan sepotong hati dari umat Paroki Tentang yang dititipkan untuk menemani perjalanan Pater Andre di tanah Borneo. Pater Andre pergi membawa tas yang mungkin ringan, namun ia meninggalkan jejak yang teramat dalam di rahim tanah Tentang. Benarlah apa yang dikatakan, bahwa seorang gembala yang baik tidak akan pernah benar-benar pergi; ia hanya sedang memperluas kandangnya, sementara namanya tetap abadi dalam setiap selipan doa umat yang pernah dicintainya.

Mimbar yang Menjadi Saksi Air Mata; Ketika Sang Gembala Berpamitan

Suasana di dalam Gereja semakin terasa lebih berat dari biasanya. Udara seolah membeku, tertahan oleh sesak di dada ratusan umat yang hadir. Saat di mimbar, berdiri seorang pria bersahaja dengan jubah cokelat khas Fransiskan. Ia adalah Pater Andre, OFM untuk berpamitan di hadapan dombanya. Biasanya, suaranya tenang dan menguatkan. Namun kali ini, saat ia berdiri di balik mimbar untuk menyampaikan kata perpisahan, keheningan yang mencekam pecah oleh getaran suara yang tak mampu lagi ia bendung dan tetesan airmata terlihat jelas dari tempat duduk umatnya. "Terima kasih... telah menjadi guru, sahabat, kakak, adik, dan orang tua bagi saya," ucap Pater Andre dengan suara terbata-bata dan tetesan air mata. Butiran air mata jatuh tanpa permisi, membasahi kayu mimbar yang selama ini menjadi saksi bisu khotbah-khotbahnya yang menghidupkan jiwa. Di kursi-kursi umat, isak tangis mulai terdengar. Tidak ada yang mampu menahan lara melihat sang gembala, yang biasanya tegar, kini tersedu dalam ketulusan yang paling dalam, terlihat tak berdaya namun ia tetap berusaha untuk tegar dan tersenyum walau terasa sungguh sangat berat. Bagi Pater Andre, Paroki Tentang bukan sekadar tempat tugas. Di sini, ia belajar menjadi seorang Fransiskan sejati. Ia mengenang kembali kata-kata Santu Fransiskus dari Assisi: bahwa orang-orang kecil dan miskin adalah guru yang sesungguhya. Di wajah-wajah petani, di tangan-tangan lelah umatnya, ia melihat wajah Kristus. "Kalian sudah membentuk saya dan Saudara Edo menjadi benar-benar seorang Fransiskan. Perpisahan ini adalah wujud ketaatan kami," bisiknya di tengah tangis.

Warisan Cinta yang Tertinggal

Pater Andre tidak pergi dengan tangan kosong. Ia meninggalkan jejak-jejak iman yang nyata. Ia mengingatkan umat untuk menjaga Gua-Gua Maria di setiap kampung; sarana mereka berbisik kepada Bunda Tuhan. Ia juga menitipkan Rumah Ekonomi Kreatif (UMKM) dan Kelompok Tani (Poktan) yang telah ia rintis dengan kasih. Bagi Pater Andre, melayani Tuhan berarti juga memastikan umatnya bisa makan dan berdaya. Ia ingin semangat orang muda tetap menyala, menjadi motor penggerak gereja yang hidup. "Kalimantan dan Tentang itu tidak jauh," ujarnya berusaha memberikan senyum di balik mata yang sembab. "Media sosial akan mendekatkan kita, tapi yang lebih utama, doa akan menyatukan kita di hadapan Sang Gembala Baik." ungkapnya untuk memberikan kekuatan. Di penghujung sambutannya, Pater Andre memberikan pesan yang sangat menyentuh hati. Ia tahu bahwa akan ada penggantinya, dan ia ingin umatnya mencintai gembala baru itu sebesar mereka mencintainya. "Jangan membeda-bedakan kami para Imam. Setiap orang ada zamannya, dan setiap zaman ada orangnya. Kami semua berbeda, namun tujuannya satu: melayani kalian", pesannya dengan nada lembut. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang gemetar, ia menutup dengan kalimat yang meruntuhkan pertahanan hati siapa pun yang mendengarnya, "Sebagai manusia yang tidak sempurna, saya mohon maaf untuk segala yang melukai hati... semuanya, mohon dimaafkan." Hari itu, Paroki Tentang tidak hanya melepas seorang imam. Mereka melepas sebagian dari hati mereka. Pater Andre pergi menuju tanah Kalimantan, namun jubah cokelatnya, tawanya, dan air matanya akan selamanya menetap dalam setiap doa yang dipanjatkan di Gua Maria dan setiap butir peluh umat di Tentang. Keheningan pecah saat seorang pria berjubah cokelat khas Fransiskan berdiri. Ia adalah Pater Hendra, OFM. Suaranya rendah namun bergetar dengan ketulusan yang murni. "Saya berasal dari Paroki Pagal, dan sebelumnya saya melayani di tanah Kalimantan Barat," ucapnya mengawali kenangan. Bayangan akan perjalanan jauh dari hutan Kalimantan menuju tanah Manggarai terpancar di matanya. Ia tidak datang membawa kemegahan, ia datang membawa kerinduan untuk melayani. Dengan suara yang nyaris tertahan karena haru, ia memandang umatnya; domba-domba baru yang kini menjadi bagian dari hidupnya. "Terima kasih telah menerima saya. Di tahun Persekutuan Sinergis ini, saya mengajak kita semua, Ase Kae, (adik kakak)  untuk berjalan bersama. Mari kita lanjutkan apa yang telah ditanam dengan air mata dan keringat oleh Pater Andre dan Pater Edo. Jangan biarkan karya itu berhenti. Mari kita saling mendoakan, saling menguatkan", ungkapnya dengan penuh keyakinan. Mendengar nama Pater Andre dan Pater Edo disebut, beberapa ibu di barisan depan mulai menyeka air mata. Mereka teringat bagaimana kedua imam itu telah menyentuh tanah mereka, memberdayakan ekonomi mereka, dan mencintai jiwa mereka.

Jejak Cinta yang Takkan Terhapus

Suasana semakin syahdu saat RD Didimus A. Mbembo, sang Vikep Pacar, berdiri memberikan pesannya. Suaranya merasuk kalbu, mengingatkan semua orang bahwa gereja bukan sekadar bangunan batu, melainkan kumpulan cinta yang nyata. "Terima kasih atas segala bentuk kebaikan dan cinta yang telah umat berikan kepada para imam, bruder, dan suster Fransiskan di sini," ungkap Romo Dedi dengan nada yang dalam. Ia berhenti sejenak, memandang ke umat yang kini senang sedih. Ia mengingatkan betapa Pater Andre dan Pater Edo telah memberikan hidup mereka untuk paroki ini bukan hanya melalui mimbar, tapi melalui tanah-tanah pertanian, melalui unit-unit UMKM, dan melalui sapaan hangat di setiap rumah. "Apa yang unik di sini, mulai dari ekopastoral hingga kelompok tani, adalah persembahan nyata untuk kemuliaan Tuhan. Pertahankanlah itu, kembangkanlah itu," pesannya yang terasa seperti wasiat suci. Di akhir narasinya, Romo Dedi menyentuh relung terdalam identitas mereka sebagai orang Manggarai. Ia mengingatkan tentang "Bantang Cama"; sebuah warisan leluhur untuk selalu berkumpul, berembuk, dan bersatu. "Dalam budaya kita, kita selalu Bantang Cama. Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama dalam iman. "Mari kita berkolaborasi dengan siapa saja, memperkuat tali persaudaraan ini. Selamat datang, Pater Hendra dan Pater Hendrik. Kami bersyukur kalian ada di sini", ungkap Romo Dedi.

Penutup: Sebuah Doa yang Tak Berucap

Ketika lilin-lilin mulai meredup di akhir perayaan, ada rasa syukur yang membuncah. Umat menyadari bahwa imam bisa datang dan pergi, namun cinta Tuhan tetap tinggal di tanah Tentang. Pater Hendra kini berdiri di sana, siap untuk menjadi bapak, kakak, dan sahabat bagi mereka. Di bawah naungan langit Tentang, sebuah babak baru dimulai. Bukan tentang siapa yang memimpin, tapi tentang bagaimana mereka semua; imam dan umat berjalan bersama menuju kebahagiaan kekal. Air mata yang jatuh selain ungkapan kesedihan, namun kita yakin air mata juga wujud kelegaan dan harapan sama bahwa di tangan gembala yang baru, Tuhan tetap menyertai langkah umat paroki Tentang.  Selamat menuju tempat baru, terima kasih Pater Andre. Isak tangis mulai terdengar pelan di antara bangku-bangku gereja saat para saudara Fransiskan menumpangkan tangan ke arah Pater Andre yang berlutut di hadapan mereka untuk memohon doa restu dan perutusannya ke tanah Misi. Umat paroki Tentang sadar, setelah hari ini, mereka tak lagi melihat senyum Pater Andre di pastoran. Mereka kehilangan seorang ayah, seorang guru, dan seorang sahabat yang selama ini menjadi jembatan mereka menuju Tuhan. Namun, di balik air mata yang jatuh, ada sebuah kesadaran religius yang mendalam: Bahwa imam boleh berganti, namun Sang Imam Agung, Yesus Kristus, tetap tinggal. Pater Andre pergi meninggalkan cinta yang sudah matang, dan Pater Hendra datang membawa harapan yang baru bersemi. Keduanya adalah "Saudara Dina" yang taat pada suara Tuhan di atas keinginan pribadi. Ekaristi berakhir, namun sejarah baru baru saja dimulai. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, Paroki Tentang hari ini mengajarkan pada kita semua: bahwa mencintai berarti berani merelakan, dan melayani berarti siap diutus ke mana saja. Selamat bertugas, Pater Andre. Doa kami menyertai setiap langkah kakimu di tempat baru. Dan selamat datang, Pater Hendra. Di sini, di hati umat Tentang, engkau akan menemukan rumah dan keluarga baru yang siap berjalan bersamamu menuju Yerusalem Baru.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)


Jumat, 16 Januari 2026

Estafet Kasih Saudara Fransiskan : Sebuah Peziarahan Persaudaraan

P. Hendra, OFM bersama P. Hendrik OFM dan Fr. Andre, OFM
diterima secara Adat di Paroki Tentang 

TENTANG-WARTAPAROKI_Pada Sabtu pagi yang cerah, 17 Januari 2026, tepat saat jarum jam menunjuk pukul 11.05 WITA, langit di atas Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang seolah membuka tirainya dengan kelembutan. Matahari tidak membakar, melainkan memeluk. Di sinilah, dalam sebuah bingkai waktu yang telah diatur oleh Penyelenggaraan Ilahi, Pater Hendra, OFM menapakkan kaki untuk pertama kalinya sebagai Gembala baru, melanjutkan tongkat estafet pengabdian dari Pater Andre Bisa, OFM.

Senyum Pertama: Getaran Kasih yang Tak Bertepi-Langkah kaki Pater Hendra memasuki halaman gereja bukan sekadar perpindahan raga, melainkan sebuah ziarah hati. Di ambang pastoran, ia disambut oleh jabat tangan hangat para pengurus DPP/DKP, Ketua Stasi, serta para tokoh adat dan masyarakat. Ada getaran yang tak terucap namun terasa dalam sebuah pancaran kasih dalam senyum pertama. Di sanalah kita melihat wajah Gereja yang hidup; Gereja yang tidak dibangun dari batu, melainkan dari sapaan, penerimaan, dan ketulusan. Senyum itu adalah janji bahwa "Sang Gembala kini berada di tengah domba-dombanya."

Jubah Coklat dan Towe Songke: Perjumpaan Dua Dunia-Di dalam Pastoran, Pater Andre Bisa, OFM telah menanti. Pemandangan ini sungguh puitis dan sarat makna religius. Jubah coklat khas Santu Fransiskus Assisi yang mereka kenakan bersanding anggun dengan balutan "Towe Songke" (kain songke). Ini adalah simbol Inkulturasi yang Sempurna: Jubah Coklat melambangkan kemiskinan dan kerendahan hati Fransiskan, dan Towe Songke melambangkan harkat, martabat, dan akar budaya Manggarai yang kuat. Pertemuan kedua putra Fransiskus ini adalah potret persaudaraan sejati (Fraternitas). Pater Andre, yang akan segera melayani di Keuskupan Banjarmasin, menyerahkan ladang pelayanan ini dengan hati lapang, sementara Pater Hendra menerimanya dengan ketaatan yang suci.

Secangkir Kopi dan Restu Semesta - Di tengah percakapan ringan tentang perjalanan dan cuaca yang begitu bersahabat, tersaji kopi hangat dari dapur Pastoran. Dalam tradisi kita, kopi bukan sekadar minuman; ia adalah simbol keramahtamahan (hospitality). Sembari menyesap kehangatan, terungkap rasa syukur bahwa semesta seolah merestui. Cuaca yang teduh bukan sebuah kebetulan, melainkan tanda bahwa Tuhan dan Santu Fransiskus Assisi sedang tersenyum, memberkati awal mula pengabdian ini. Di balik uap kopi, ada doa yang melangit, memohon penyertaan Tuhan bagi kedua imam ini dalam tugas baru mereka.

Bapak Fransikus Malur, selaku Ketua Dewan Stasi Tentang, telah merajut seluruh rangkaian acara dengan penuh ketelitian. Baginya, persiapan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Khalik. Melalui kolaborasi ritus adat Reis, Curu, dan Kapu, tradisi Manggarai bersenyawa indah dengan iman Katolik, menciptakan sebuah simfoni penyambutan yang hangat. "Peristiwa hari ini adalah momen istimewa, sebuah berkat dan rahmat Tuhan yang nyata bagi seluruh umat Paroki Tentang. Kita menyambut Sang Gembala baru dengan hati terbuka," ungkap Bapak Fransikus dengan suara yang bergetar penuh syukur.

Simbol Persaudaraan di Ambang Pintu - Di ambang pintu ruangan sayap gereja, tradisi berbicara melalui simbol. Selembar Selendang Motif Songke yang indah dikalungkan pada leher Pater Hendra, OFM, disusul oleh Pater Hendrik, OFM (Vikaris Paroki baru), dan Frater Andre, OFM. Tidak hanya selendang, Topi Manggarai pun disematkan di kepala mereka. Momen ini adalah proklamasi batin; Bahwa mulai hari ini, mereka bukan lagi orang asing, melainkan bagian dari detak jantung keluarga besar Paroki Tentang.

Di Atas "Loce": Merunduk dalam Adat, Tegak dalam Iman - Puncak dari keindahan ini terjadi di emperan Gereja. Para Tua Adat, Tokoh Masyarakat, dan pengurus gereja duduk bersila di atas "Loce" (tikar pandan). Inilah saat iman bertemu dengan budaya. Duduk bersila di atas tikar adalah bentuk kerendahan hati yang paling dalam. Dalam balutan pakaian adat Manggarai, umat Paroki Tentang menyambut Pater Hendra bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Di atas tikar pandan itu, tidak ada sekat; yang ada hanyalah musyawarah, persaudaraan, dan penyerahan diri kepada kehendak Sang Pencipta. Setelah kepulan uap kopi terakhir di ruang tamu memudar, Pater Hendra, OFM bersama rombongan melangkah pasti menuju ruangan sayap Gereja. Setiap langkah yang diambil bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan sebuah ziarah iman untuk memulai babak baru pelayanan di ladang Tuhan.

Ritus Kapu: "Menyambut Penuh Kasih - Di dalam ruangan, suasana menjadi semakin sakral. Para tokoh adat dan pengurus Gereja duduk bersila di atas Loce (tikar), melambangkan kerendahan hati dan kesetaraan. Bapak Alfons Jagom, sebagai Tokoh Adat, memulai ritus dengan untaian kata-kata puitis dalam bahasa Manggarai yang menyentuh jiwa: "Kapu lami neho wua pau, Naka nego wua nangka... Hoo Kole manuk Lalong kudut kapu agu naka Ite..."  (Kami menyambutmu penuh kasih dan persaudaraan dengan sebuah genggaman yang begitu erat dan pelukan hangat. Ini ayam jantan sebagai simbol penerimaan kami, agar engkau menjadi bapa dan pelindung yang berjalan bersama kami di jalan yang benar di Paroki Tentang ini.) Sembari menerima Robo berisi Tuak dan Manuk Kapu, Pater Hendra tersenyum penuh kasih. Baginya, ini adalah peneguhan bahwa tugas kegembalaan selalu berakar pada kearifan lokal dan persaudaraan yang tulus.

Lako Cama-Cama: Harapan Sang Gembala Baru - Dalam sambutan singkatnya, Pater Hendra tidak menjanjikan kemegahan, melainkan kesetiaan untuk berjalan bersama. Dengan bahasa Manggarai yang merakyat, ia menyampaikan kerinduan hatinya: "Tegi Daku dasor ite lako cama-cama one mose Paroki hoo...eme manga do'ong mai ga lenjong cama tombo cama...." (Permohonan saya adalah mari kita berjalan bersama dalam kehidupan paroki ini. Jika ada hambatan, mari kita bicarakan bersama dan selesaikan bersama). Pater Hendra juga menitipkan satu hal yang paling berharga yaitu saling mendoakan, "Kami mendoakan umat, dan kami mohon umat juga mendoakan kami para Imam, agar kita semua sehat pikiran, jiwa, dan raga dalam melayani Tuhan."

Kedinaan di Tengah Tantangan Topografi - Pater Andreas Bisa, OFM, yang akan melanjutkan perutusannya ke Banjarmasin, memberikan gambaran jujur tentang medan pelayanan di Tentang. Dengan 7 Stasi dan 88 KBG yang tersebar di wilayah topografi yang menantang, Tentang adalah sekolah kehidupan yang nyata. "Di sini, kaul 'Kedinaan' (Minoritas) Fransiskan sungguh menjadi nyata. Wilayah yang sulit menantang kita untuk benar-benar hadir sebagai pelayan yang rendah hati," ujar Pater Andreas. Ia berpesan agar umat terus bersatu dalam semangat sinergis, menciptakan terobosan pastoral yang relevan dengan zaman, seturut harapan Keuskupan Labuan Bajo. "Harapannya kita bisa bersatu, mewujudkan persekutuan sinergis, menemukan model-model pastoral dengan terobosan baru yang bila dirasa kontekstual dan relevan itu bisa dikembangkan bersama dengan kehadiran para tenaga pastoral. Terus membangun persaudaraan, saling mempertahankan kesatuan yang diwarnai dengan spritualitas Fransiskan. Kreatif untuk kemuliaan Allah dan kebaikan sesama, berkolaborasi dan bersinergi, " ungkap Pater Andre.

Perjamuan Kasih ; Peristiwa hari ini mengajarkan kita bahwa kepemimpinan dalam Gereja adalah sebuah pelayanan kasih. Pater Andre pergi membawa kenangan dan cinta, sementara Pater Hendra datang membawa harapan dan semangat baru. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, Paroki Tentang terus berjalan dalam cahaya iman, di mana adat dihormati dan Tuhan dimuliakan. Acara puncaknya bukan hanya tentang kata-kata, melainkan kebersamaan dalam perjamuan. Makan siang bersama menjadi penutup yang manis, berbagi cerita, dan menyatukan hati. Hari ini, Paroki Tentang tidak hanya menyambut pemimpin baru, tetapi merayakan cinta Tuhan yang terus mengalir melalui kehadiran para gembala-Nya. Semangat Fransiskan,; persaudaraan, kesederhanaan, dan sukacita kini siap bersemi lebih indah di atas bukit dan lembah Tentang.

* Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

“Mori Sembeng”: Menakar Ketulusan Pelayanan Melalui Transparansi Keuangan di Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang

Moment Penyambutan dan Kegiatan Audit
Oleh Romo Ekonom

TENTANG-WARTAPAROKI–Gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan persekutuan umat yang hidup dalam iman dan kemandirian. Prinsip inilah yang terpancar nyata di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Keuskupan Labuan Bajo, saat menggelar agenda Audit dan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Keuangan Paroki pada Rabu (14/1/2026). Momen ini bukan sekadar urusan angka dan administrasi, melainkan sebuah "Momen Berahmat" untuk menakar sejauh mana kejujuran dan ketulusan hati dalam mengelola persembahan umat bagi kemuliaan Tuhan.

Hangatnya Persaudaraan dalam Tradisi Reis dan Kapu-Langkah kaki Romo Martinus Wiliam, Ekonom Keuskupan Labuan Bajo, disambut dengan penuh hangat di pelataran ruang tamu pastoran. Sebelum memasuki ruang audit, suasana kekeluargaan menyeruak melalui ritual adat Reis dan Kapu. Sambutan hangat ini menjadi simbol bahwa tugas audit adalah bagian dari kunjungan kasih seorang saudara, sekaligus bentuk penghormatan terhadap tata krama budaya Manggarai. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Laporan Pertanggungjawaban Keuangan oleh Bendahara Paroki, Frederikus Peher. Proses ini disaksikan langsung oleh Wakil Ketua DPP Paroki Tentang, Saudara Andreas Korsini Nakung, serta Pastor Hendrik, OFM.

Transparansi sebagai Tanggung Jawab Iman-Dalam semangat Santo Fransiskus Assisi yang mencintai kesederhanaan, pengelolaan harta materiil gereja di Paroki Tentang ditempatkan sebagai bentuk tanggung jawab iman. Audit ini menjadi cermin kemandirian umat dalam menghidupi gereja secara fisik maupun pastoral. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana persaudaraan yang kental ini membuahkan hasil yang membanggakan. Berdasarkan evaluasi auditor, Tata Kelola Keuangan Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang dinyatakan meraih “Predikat Baik”. Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa Dewan Pastoral Paroki (DPP) telah bekerja secara transparan, akuntabel, dan penuh integritas dalam mengawal setiap rupiah yang dititipkan oleh umat.

"Mori Sembeng": Doa dan Harapan di Balik Pelayanan-Pastor Paroki Tentang, Pater Andre, OFM, tidak dapat menyembunyikan rasa syukur dan apresiasinya. Beliau menyampaikan terima kasih yang berlimpah kepada seluruh jajaran DPP yang telah mendedikasikan waktu dan tenaga untuk menjaga amanah keuangan gereja. “Kunjungan Romo Ekonom adalah pengingat bagi kita semua betapa krusialnya transparansi dalam keuangan Gereja. Harta gereja adalah milik Tuhan yang dikelola untuk kepentingan umat-Nya,” ungkap Pater Andre. Di akhir sesi yang penuh berkat tersebut, Pater Andre memohon penyertaan Tuhan bagi seluruh pelayan gereja (DPP/DKP) agar tetap setia dalam jalan pengabdian. Beliau menutup rangkaian kegiatan dengan sebuah untaian doa sekaligus tagline penuh makna dalam bahasa Manggarai: “Mori Sembeng” (Tuhan Menjaga dan Memberkati). Momen audit ini pun berakhir, meninggalkan jejak inspirasi bahwa kejujuran dalam perkara kecil (materi) adalah fondasi bagi kepercayaan yang lebih besar dalam pelayanan iman.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Rabu, 14 Januari 2026

Saat Iman Merangkul Budaya: Fajar Baru di Gedung Ekopastoral Paroki Tentang

P. Andre, OFM danTua Adat dalam Pemberkatan dan Adat Wee Rumah Ekopastoral

TENTANG-WARTAPAROKI_Selasa, 13 Januari 2025, menjadi saksi bisu sebuah harmoni yang syahdu di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Keuskupan Labuan Bajo. Di bawah langit awal tahun yang penuh harapan, sebuah peristiwa sakral bertajuk "We’e Mbaru" digelar. Ini bukan sekadar seremoni pindah rumah biasa, melainkan sebuah simfoni indah di mana keteguhan iman Katolik memeluk erat kearifan lokal dalam balutan adat Manggarai.

Duduk Bersila dalam Kehangatan Persaudaraan-Suasana hikmat menyelimuti pelataran Gedung Ekopastoral. Para Tua Adat dengan busana khasnya duduk bersila, berdampingan dengan pengurus DPP/DPK, keluarga besar Biara Antonius Padua, dan Pastor Paroki, Pater Andre, OFM. Tidak ada sekat di antara mereka; yang ada hanyalah satu tujuan: mensyukuri penyertaan Tuhan melalui ritus leluhur yang dihidupkan kembali dalam terang iman Kristiani. Ritus We’e Mbaru ini menjadi penegasan bahwa membangun fisik bangunan haruslah sejalan dengan membangun jiwa. Kehadiran para tokoh adat dan agama ini melambangkan kesatuan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dari Kandang Ayam Menuju Pasar Global: Sebuah Mukjizat Ketekunan-Dibalik megahnya gedung dua lantai ini, tersimpan narasi perjuangan yang menggetarkan hati. Pater Andre, OFM mengisahkan bahwa gedung ini adalah buah dari "pergumulan panjang" yang dimulai sejak tahun 2020. "Berawal dari sebuah kandang ayam yang sederhana, perlahan bertransformasi menjadi bangunan setengah tembok berdinding seng, hingga akhirnya hari ini berdiri kokoh sebagai gedung lantai dua yang megah," tulis Pater Andre dengan nada penuh syukur. Kini, gedung tersebut bukan lagi sekadar dinding dan atap.

Lantai Dasar: Menjadi pusat ekonomi umat, tempat produksi jahe, temulawak, kunyit, hingga gula merah dengan nilai aset ratusan juta rupiah.

• Lantai Dua: Menjadi oase intelektual melalui perpustakaan dan kantor Ekopastoral yang akan menjadi otak dari pergerakan pemberdayaan umat.

Semua ini bermuara pada satu mimpi besar: membawa hasil karya UMKM lokal dengan branding “De Beo Dite” menembus pasar global.

Kado Perpisahan yang Sakral-Momen ini terasa kian emosional karena dirayakan tepat di penghujung masa karya pastoral Pater Andre di Paroki Tentang. Baginya, peresmian dan pemberkatan gedung ini adalah "kado terindah" dan tanda syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Pemberkatan ini bukan sekadar percikan air suci, melainkan permohonan agar infrastruktur ini menjadi lokus pembelajaran. Sebuah tempat di mana Orang Muda Katolik (OMK) dan Kelompok Tani (Poktan) binaan tidak hanya memproduksi barang, tetapi juga memproduksi harapan dan masa depan yang lebih mandiri.

Penutup: Cahaya dari Barat Flores-Peristiwa di Paroki Tentang mengajarkan kita bahwa Tuhan bekerja melalui ketekunan dan penghormatan terhadap akar budaya. Gedung Ekopastoral Santu Fransiskus Assisi kini berdiri sebagai simbol bahwa gereja tidak hanya bicara tentang altar, tetapi juga tentang "pasar"; tentang bagaimana meningkatkan martabat hidup umat melalui kerja nyata yang diberkati. Selamat untuk Paroki Tentang. Kiranya semangat "De Beo Dite" senantiasa membawa berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi Tuhan.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Sabtu, 10 Januari 2026

๐๐„๐‹๐”๐‡ ๐ƒ๐ˆ๐๐€๐‹๐ˆ๐Š ๐‰๐”๐๐€๐‡: ๐‘บ๐’‚๐’‚๐’• ๐‘ป๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐‘ท๐’‚๐’”๐’•๐’๐’“ ๐‘จ๐’๐’…๐’“๐’†, ๐‘ถ๐‘ญ๐‘ด ๐‘ด๐’†๐’“๐’‚๐’๐’ˆ๐’Œ๐’–๐’ ๐‘ณ๐’–๐’Œ๐’‚ ๐‘ฑ๐’‚๐’๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐‘ฉ๐’†๐’“๐’”๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐‘ฒ๐‘ถ๐‘ด๐‘ท๐‘น๐‘ฌ๐‘บ๐‘ฑ๐‘จ๐‘ณ๐‘ผ๐‘น

 

P. Andre, OFM bersama para anggota dan simpatisan Kompresjalur saat kerja di beberapa lokasi

TENTANG_WARTAPAROKI_๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐˜๐—ผ๐—ฟ ๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฎ๐˜€ ๐—•๐—ถ๐˜€๐—ฎ, ๐—ข๐—™๐— ????? Siapa yang tidak mengenalnya. Selain sebagai pemerhati lingkungan hidup dengan memusatkan perhatian pada Pastoral Ekologi yang selalu menaruh rasa empati dan hormat kepada alam sebagai keutuhan ciptaan, ia juga dikenal sebagai sang inisiator sebuah gerakan "๐™š๐’Ž๐™š๐’“๐™œ๐’†๐™ฃ๐’„๐™ฎ ๐™š๐’™๐™ž๐’•". Gerakan kepeduliannya tertuju pada akses jalan menuju wilayah Tentang sampai Sirimese (๐‘ ๐‘ก๐‘Ž๐‘ ๐‘– ๐‘ข๐‘—๐‘ข๐‘›๐‘” ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘œ๐‘˜๐‘– ๐‘‡๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘”) yang sulit baik karena bencana alam maupun karena usia kalender jalur ini yang tak muda lagi. 

๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป hanya ditunjukkan melalui pewartaan di atas agungnya mimbar tetapi hadir dan mengalami lansung; meyakinkan umatnya bahwa pembangunan bukan hanya kewajiban pemerintah namun dipundak warga-nyalah beban dan tanggung jawab ini juga di sematkan. Pastor Andre, OFM memberikan sebuah keyakinan bahwa "๐‘ซ๐’Š ๐’‹๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’“๐’–๐’”๐’‚๐’Œ, ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‰๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’ ๐’๐’–๐’ƒ๐’‚๐’๐’ˆ, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’Ž๐’†๐’“๐’‚๐’‹๐’–๐’• ๐’Œ๐’†๐’ƒ๐’†๐’“๐’”๐’‚๐’Ž๐’‚๐’‚๐’. ๐‘ป๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’-๐’•๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’ƒ๐’†๐’Œ๐’†๐’“๐’‹๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’”๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’•๐’Š๐’Œ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐’ˆ๐’๐’•๐’๐’๐’ˆ ๐’“๐’๐’š๐’๐’๐’ˆ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’‹๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’•๐’†๐’“๐’Œ๐’–๐’‚๐’• ๐’Ž๐’†๐’๐’–๐’‹๐’– ๐’Œ๐’†๐’ƒ๐’‚๐’Š๐’Œ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’”๐’‚๐’Ž๐’‚", ujarnya memberi semangat kepada warga yang sedang bergotong-royong. 

๐—ฃ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป-๐—ฝ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐˜๐—ผ๐—ฟ ๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฟ๐—ฒ, di media sosial tentunya bukan sekadar mengisi beranda apalagi mencari sensasi dan popularitas; itu terlalu kerdil. Lebih dari itu adalah mewartakan sebuah keteladan kepemimipinan sesungguhnya melalui kepekaan terhadap jeritan umatnya saat menikmati betapa perjuangan melewati jalur ini penuh seuntaian doa yang tak terhingga agar selamat sampai tujuan. Melalui sebuah dedikasi dan keteladanannya, Pastor Andre mengajak para sopir, pemilik kendaraan dan simpatisan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk membentuk sebuah komunitas sederhana yang diberi nama "๐—ž๐—ข๐— ๐—ฃ๐—ฅ๐—˜๐—ฆ๐—๐—”๐—Ÿ๐—จ๐—ฅ". ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐—ฎ? ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ๐—บ? ๐—ฆ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ธ ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ. ๐—ž๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐—ถ๐˜๐—บ๐—ฒ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ ambil bagian dalam pembangunan telah diberi nama paling keren dan bermartabat "๐™†๐™Š๐™ˆ๐™‹๐™๐™€๐™Ž๐™…๐˜ผ๐™‡๐™๐™" sebagai akronim dari "๐‘ฒ๐™ค๐’Ž๐™ช๐’๐™ž๐’•๐™–๐’” ๐‘ท๐™š๐’…๐™ช๐’๐™ž ๐™๐’†๐™ฅ๐’‚๐™ง๐’‚๐™จ๐’Š ๐‘ฑ๐™–๐’๐™–๐’ ๐‘ผ๐™ข๐’–๐™ข ๐™๐’–๐™จ๐’‚๐™ -๐™๐’–๐™จ๐’‚๐™ ". Renyah kan namanya? Tentu. Menggungah? Itu pasti. Menginspirasi ? Jangan tanyakan lagi. ๐˜ฟ๐™ž๐™—๐™–๐™ก๐™ž๐™  ๐™ฃ๐™–๐™ข๐™–, ๐™–๐™™๐™– ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™Ÿ๐™ช๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ก๐™–๐™๐™ž๐™ง ๐™™๐™–๐™ง๐™ž ๐™ง๐™–๐™จ๐™– prihatin terhadap medan yang ekstrim tahun 2021-2022 silam. Saat longsor melanda dan memutuskan akses dari/dan/ke Tentang kala itu bak menayangkan film dokumenter tahun 80-an; benar-benar terasa sebuah kisah seperti diceritakan orang tua dulu tentang bagaimana sulitnya perjalanan (jalan kaki) menuju kota Ruteng. Sudahlah. Kita lanjut.

๐™ˆ๐™–๐™จ๐™ฎ๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐™–๐™ฉ ๐™‹๐™–๐™ง๐™ค๐™ ๐™ž ๐™๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™–๐™–๐™ฉ ๐™ข๐™š๐™ก๐™ž๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™จ๐™ž jalur Sirimese- Dahang selalu bergulat dengan jalanan lumpur saat hujan dan debu pekat saat kemarau. Akses ekonomi tersendat, tarif kendaraan pun jauh di atas normal karena jarak tak lagi diukur dengan kilometer namun satuan jam-lah yang berbicara. Anak sekolah kepayahan, dan rujukan kesehatan menjadi taruhan nyawa saat melintas jalur ini. ๐—ž๐—ข๐— ๐—ฃ๐—ฅ๐—˜๐—ฆ๐—๐—”๐—Ÿ๐—จ๐—ฅ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น ๐Ÿฌ๐Ÿต ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฝ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฎ oleh pemilik kendaraan roda empat dan roda enam yang berdomisili di wilayah Tentang dan sekitarnya. Ruangan sayap Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang adalah saksi bisu ide maha besar ini diracik dengan merapatkan barisan secara sukarela dan gotong royong memperbaiki jalan rusak-rusak yang berada di wilayah Tentang dan sekitarnya di kecamatan Ndoso. ๐‘ฒ๐’‚๐’๐’Š ๐’Š๐’•๐’– (๐’…๐’Š๐’ƒ๐’†๐’๐’•๐’–๐’Œ๐’๐’š๐’‚ ๐’Œ๐’๐’Ž๐’–๐’๐’Š๐’•๐’‚๐’”) ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’“-๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’“ ๐’Ž๐’†๐’“๐’‚๐’”๐’‚ dan menyaksikan betapa Pastor Andre, OFM berbicara dengan raut wajah keprihatinan yang tumbuh bukan dari lidah yang berucap tapi dari kedalaman hati yang sedang menangis. Saya yang ditunjuknya menjadi bendahara komunitas (kala itu) tak bisa berkata-kata, hanya anggukkan kepala menjawab kepercayaan oleh Pastor yang menatapku dengan sebuah komitmen tinggi menaruh sebuah harapan akan suksesnya komunitas ini. Tak perlu rangkaian kata-kata manis yang tertuang dalam jilidnya AD/ART, namun KOMPRESJALUR fokus kerja sukarela yaitu 'Giat Gotong Royong' memperbaiki jalan umum rusak-rusak saat ini. Sekadar memecahkan suasana saat itu, kita berguyon "๐‘ฑ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’”๐’†๐’…๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’‚๐’Œ๐’Š๐’•, ๐’”๐’†๐’‰๐’Š๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’‚ ๐’ƒ๐’–๐’•๐’–๐’‰ ๐’Œ๐’๐’Ž๐’‘๐’“๐’†๐’”, ๐’•๐’‚๐’Œ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’– ๐’…๐’Š๐’“๐’–๐’‹๐’–๐’Œ ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’„๐’–๐’Œ๐’–๐’‘ ๐’•๐’Š๐’๐’…๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐‘ท3๐‘ฒ (๐‘ท๐’†๐’“๐’•๐’๐’๐’๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐‘ท๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐‘ท๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’ˆ๐’–๐’๐’‚๐’ ๐‘ฒ๐’†๐’„๐’Š๐’). ๐‘บ๐’†๐’‰๐’Š๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’‚ ๐’‹๐’‚๐’…๐’Š๐’๐’‚๐’‰ ๐‘ฒ๐’๐’Ž๐’‘๐’“๐’†๐’”๐‘ฑ๐’‚๐’๐’–๐’“ (๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’๐’Ž๐’‘๐’“๐’†๐’” ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’๐’‚). ๐‘ฒ๐’†๐’“๐’†๐’ ๐’Œ๐’‚๐’ ๐’†๐’•๐’Š๐’Ž๐’๐’๐’๐’ˆ๐’Š๐’๐’š๐’‚?" 

๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ผ๐—ฑ๐—ฎ๐—น ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—น ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป dan sopir tercatat awalnya ada 26 pemilik kendaraan yang berdomisili di Tentang dan sekitarnya dengan memberikan kontribusi awal berupa sumbangan pemilik kendaraan roda 4 sebesar Rp. 200.000 sedangkan roda 6 sebesar Rp. 400.000. Para simpatisan dan warga memberikan sumbangan seberapa adanya seturut mampu dan se-iklasnya. Namun sumbangan terbesar adalah tenaga dan waktu untuk hadir dalam bakti gotong royong yang nilainya melampaui segalanya. Dari pemuda hingga orang tua, semua tergerak. Mereka mengumpulkan batu satu demi satu, menyisihkan receh demi receh untuk membeli semen, dan mencurahkan keringat di bawah terik matahari. ๐˜ฟ๐™–๐™ฃ๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™ช๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™ก ๐™™๐™–๐™ง๐™ž ๐™ช๐™ก๐™ช๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™จ๐™š๐™ข๐™–๐™ฉ๐™–-๐™ข๐™–๐™ฉ๐™– untuk membeli material seperti pasir, semen, cadas dan batu. Sedangkan tenaga dan waktu para simpatisan dan warga adalah persembahan untuk bumi Pertiwi (Ndoso). Oh ada yang lupa. Bagiamana dengan teknisinya? Sudah lengkap. Sang teknisi Kae Leksi Suhardi sudah ada dalam barisan anggota komunitas ini. Tambah keren kan? ๐™†๐™š๐™๐™–๐™™๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™ช๐™ข๐™–๐™ฉ (๐™ฌ๐™–๐™ง๐™œ๐™–) dalam aksi ini atas dasar ๐™ข๐™ค๐™ฉ๐™ž๐™ซ๐™–๐™จ๐™ž; merasakan betapa senasib dalam menanggapi parahnya jalan sebagai lintasan menuju pusat kota. Longsor di pendakian sawah Sano sebagai sanksi titik sejarah perdana aksi komunitas ini. Di atas lumpur kala itu adalah meterai saksi bersatunya komitmen cita-cita mulia komunitas ini dibentuk; atas dasar rasa prihatin mengikrarkan bulatnya tekad gotong royong para pemilik kendaraan dan simpatasan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk beraksi. ๐—ž๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ท๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ฟ ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ? Ah jangan tanya itu Bang. Pasti iyalah, dasarnya POLITIK (๐—ฃahitnya ๐—ขrang me๐—Ÿ๐—œntas d๐—œ ๐—ง๐—œ๐—žungan). Bercanda ya Bos Meta untuk tambah jangkauan saja. Kawan-kawan dan simpatisan telah menggarisbawahi bawah komunitas ini lahir dari satu rasa, satu tujuan, satu tekad dan satu nasib bahwa kita menikmati jalur ini menuju kota. Saya merasakan betapa di atas medan ini pertaruhkan segalanya. Bukan hanya kerja keras sopir dan kondektur namun seuntaian doa para penumpang adalah kolaborasi harmonis untuk melewatinya. Di sinilah pepatah latin '๐—ข๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฒ๐˜ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ฏ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ' terwujud. Sopir bekerja, penumpang berdoa; maka lokasi tujuan tercapai.

๐—ข๐—ต s๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ท๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ฟ ๐—ถ๐—ป๐—ถ. "Saya harus beradu ide cemerlang di sini. Tangan di stir, kaki kiri-kanan kontrol pedal gas/rem/kopling, hati bersimpul sujud kepada Pemilik Hidup agar jangan Kau matikan mesin rush ini sebab keringat darah aku memperolehnya. Tidak berhenti di situ mata harus lirik spion kiri-kanan sembari berkipir ke mana lingkaran stir ini dibanting saat napas Toyota ini menyerah dan harus mundur. Kepada sang penumpang yang adalah istri dan anak-anak tercinta yang duduk di sampingku aku berpesan sepatah berdoa terpanjat dalam hati agar bisa lewati medan ini. Itulah kisah perjalanan ini 2021 - 2022." Asyik kan? Masa!!!!!!!. Sedih sayang. Sedih.

๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜†๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐™†๐™Š๐™ˆ๐™‹๐™๐™€๐™Ž๐™…๐˜ผ๐™‡๐™๐™ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป sedikitnya jeritan ini. Walaupun tetap masih belum sempurna tapi setidaknya perjuangan sampai saat ini di beberapa titik menghilangkan doa yang selalu terpanjat di setiap perjalanan. Longsor di pendakian sawah Sano adalah saksi bisu titik sejarah. Diatas lumpur Kaka itu adalah meterai satunya komitmen wadah ini dibentuk atas dasar rasa prihatin mengikrarkan bulatnya tekad gotong royong para pemilik kendaraan dan simpatisan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk beraksi. ๐™Ž๐™–๐™–๐™ฉ ๐™ˆ๐™š๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™  ๐™ก๐™–๐™œ๐™ž ๐™—๐™š๐™ง๐™จ๐™–๐™๐™–๐™—๐™–๐™ฉ, ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™™๐™ž๐™–๐™ข? Namun, alih-alih berpangku tangan menunggu uluran bantuan yang tak kunjung datang; Pater Andre, OFM melihat celah untuk membangkitkan martabat umatnya. Beliau memelopori gerakan swadaya murni. Baginya, jalan yang rusak bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan ujian bagi iman yang harus diwujudkan dalam kerja nyata. Istilah Kompresjalur menjadi sandi perjuangan. Dengan langkah kaki yang mantap dan jubah yang seringkali ternoda tanah, Pater Andre, OFM turun langsung ke lapangan. Beliau tidak hanya memegang Alkitab di mimbar, tapi juga memegang sekop dan linggis di jalanan. Sang inisiator besar Pastor Andreas Bisa, OFM; pastor paroki Santu Fransiskus Asisi Tentang adalah penggerak komunitas ini yang kini telah puluhan titik jalan rusak telah dijamah para anggota dan simpatisan komunitas ini. Pastor Andre, rela melangkah dari altar menuju jalan rusak adalah bukan sekadar menguatkan iman, tetapi ia hadir sebagai pemimpin sejati sesungguhnya. Dia tak banyak bicara tapi lebih pada memulai angkat batu, pikul skop dan linggis lalu terjun ke lumpur untuk menjadi senasib di jalan ini. Pater Andre membuktikan bahwa pemimpin sejati adalah ia yang paling depan merasakan lelah. Kehadirannya di tengah debu jalanan menghancurkan rasa skeptis dan menggantinya dengan optimisme. ๐™Ž๐™–๐™–๐™ฉ ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™ ๐™š๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ค๐™ฉ๐™–๐™–๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™ž๐™ข๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ž๐™จ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™ค๐™ข๐™ฅ๐™ง๐™š๐™จ๐™Ÿ๐™–๐™ก๐™ช๐™ง tersebar di desa-desa wilayah kecamatan Ndoso, kabupaten Manggarai Barat dengan agenda rutin yang terus menerus yakni penggalangan dana dengan pelbagai pihak, dialog dengan pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan serta giat gotong royong memperbaiki jalan umum rusak-rusak. Kami punya pekikan semangat; "๐˜—๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ณ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ". Sampai saat ini ada begitu banyak ukuran tangan kasih dari para simpatasan untuk kontribusi pergerakan komunitas ini yang tak bisa disebutkan lagi dalam tulisan ini. Namun nama-nama mereka sudah tercatat di sanubari anggota komunitas dan simpatasan serta warga Ndoso. 

๐—ž๐—ข๐— ๐—ฃ๐—ฅ๐—˜๐—ฆ๐—๐—”๐—Ÿ๐—จ๐—ฅ; ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚, keterbatasan sumber daya bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang bisa ditaklukkan. Warisan yang Lebih dari Sekadar Aspal. Kini, jalanan di Paroki Tentang tak lagi mencekam. Aspal dan rabat beton hasil swadaya itu memang memudahkan kendaraan melintas, namun warisan sesungguhnya yang ditinggalkan Pater Andre, OFM jauh lebih dalam; rasa percaya diri dan memiliki dari masyarakat atas pembangunan wilayahnya. Mereka kini sadar bahwa masa depan mereka ada di tangan mereka sendiri. Setiap jengkal jalan yang mereka perbaiki adalah bukti cinta pada tanah kelahiran dan wujud konkret dari doa-doa yang dijawab melalui kerja keras. ๐™†๐™Š๐™ˆ๐™‹๐™๐™€๐™Ž๐™…๐˜ผ๐™‡๐™๐™; "๐™†๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™จ๐™š๐™™๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™™๐™–๐™ง ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™–๐™ข๐™—๐™–๐™ก ๐™ก๐™ช๐™—๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™™๐™ž ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™–๐™, ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™จ๐™š๐™™๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™ฃ ๐™Ÿ๐™–๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ช๐™Ÿ๐™ช ๐™ ๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž๐™–๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™–๐™ง๐™ฉ๐™–๐™—๐™–๐™ฉ", sebuah refleksi dari semangat Kompresjalur. ๐™†๐™ž๐™จ๐™–๐™ ๐™‹๐™–๐™ฉ๐™š๐™ง ๐˜ผ๐™ฃ๐™™๐™ง๐™š, ๐™Š๐™๐™ˆ dan ๐™†๐™Š๐™ˆ๐™‹๐™๐™€๐™Ž๐™…๐˜ผ๐™‡๐™๐™ di Paroki Tentang adalah pengingat bagi kita semua bahwa satu orang yang memiliki visi dan keberanian untuk memulai dapat menggerakkan ribuan orang untuk mengubah keadaan.

*Frengky Jamento (KOMSOS PSFAT)

TOPI RE'A DAN SELEMPANG; Isak Tangis Umat Sirimese Melepas Sang Fransiskan ke Tanah Misi Meratus

P. Andre, OFM saat merayakan Ekaristi dan Acara Adat di Gendang Rahong - Sirimese 

SIRIMESE_WARTAPAROKI – Senja di ufuk barat Sirimese pada Sabtu, 10 Januari 2026, terasa lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Meski mentari tenggelam dengan cahaya keemasan yang indah, ada mendung kesedihan yang menggelayuti hati lebih dari 300 umat Stasi Sirimese. Di dalam Gereja kecil itu, napas doa terasa berat; Pater Andre, OFM, memimpin Ekaristi untuk terakhir kalinya. Bagi umat, Pater Andre bukan sekadar Pastor Paroki. Selama enam tahun, ia adalah anak, kakak, sekaligus gembala yang membasuh dahaga iman mereka. Kini, ketaatan sebagai seorang Fransiskan sejati memanggilnya pergi, jauh menyeberangi lautan menuju tanah misi suku Dayak di Meratus, Kalimantan Selatan. Saudara Tus yang adalah Tim Komsos di Stasi Sirimese mendokumetasi rangkaian moment acara ini dengan narasi perpisahan yang dikirim via chating WhatsApp ke media Komsos PSFAT. Dari kiriman informasinya terekam jelas moment setiap sesi berlangsung haru.

​"Kesalahan Kita, Biarlah Hanyut Bersama Aliran Air"_Suasana haru mulai pecah saat Pater Andre memberikan sambutan. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca mengenang enam tahun perjalanan cinta di Sirimese. Tak ada jarak antara altar dan umat; yang ada hanyalah ikatan batin yang tulus. Ketua Dewan Stasi Sirimese, Bapak Karolus Jemada, berdiri dengan suara parau menahan tangis. Ia mengutip sebuah pepatah tua Manggarai yang menyayat hati: "Dasor sala lampa ceot wejong selama nempung cama dasor one waes laud one lesos saled." (Semoga segala salah kata dan salah langkah kita selama bersama, biarlah hanyut bersama aliran air dan terbenam bersama matahari di ufuk barat). Kalimat itu menjadi simbol permohonan maaf yang tulus, mencuci bersih segala luka masa lalu agar kepergian sang gembala menjadi suci dan tanpa beban.

​Ritual "Wuat Lako": Cinta yang Mengalir dalam Topi Re’a_Usai misa, prosesi berlanjut ke Rumah Gendang Rahong Sirimese. Di sanalah, dalam kehangatan rumah adat, ritual Wuat Lako (utusan pergi) digelar. Suasana semakin menyayat hati ketika tetua adat, Bapak Alo Ngamal, menyampaikan pesan terakhirnya mewakili Tua Adat dan masyarakat menyampaikan  ucapan  terima kasih kepada Pater Andre OFM. "Kapu neho wua pau, naka neho wua nangka lami Ite one 6 ntaung olo. Hoo kali Ite kut lako kole ngger one tana weru, ngaji dami di'a-di'a Ite one tempat weru gitu. Neka ngger ones sangged damang ko adong de jing daat ata kut pande loak  stola  Dite. Porong Ite jadi Tuang sampe tu'a", ("Kami menyayangimu laksana manisnya buah mangga dan nangka selama enam tahun ini, Pater," ujarnya dengan nada rendah. "Pergilah ke tanah yang baru. Doa kami menyertaimu agar tidak ada roh jahat yang mengusik jubah dan stolamu. Jadilah gembala sampai tua)." ungkap Bapak Alo dengan terbata-bata.

​Puncak kesedihan meledak saat tangan lembut seorang Ende (ibu) Paulina Barabara, maju ke depan. Dengan jemari yang gemetar karena menahan isak, ia mengenakan Topi Re’a dan menyampirkan Selempang Manggarai ke tubuh Pater Andre. Momen itu terekam begitu pilu. Pater Andre menunduk dalam, seolah berat meninggalkan pelukan hangat Ende Ema (Ibu Ayah) umat Sirimese. Namun, sebagai seorang pengikut Santo Fransiskus, ketaatan adalah komitmen tertinggi. Di atas segalanya, tugas pelayanan adalah prioritas, meski hati harus teriris karena perpisahan.

​"Sayonara, Sampai Jumpa Lagi"_ Pria kelahiran Lembata, 7 November 1984 ini meminta satu hal dari umatnya: Doa. "Saya memohon doa Bapak dan Ibu untuk perjalanan tugas saya. Sebaliknya, saya akan selalu mendoakan hidup kalian di sini," ucapnya sembari menghapus air mata yang jatuh ke pipinya. Ia menitipkan pesan agar sinergi antara gereja, pemerintah, dan adat yang telah terjalin tetap dijaga. Semangat gotong royong dan cinta pada alam (JPIC) harus terus mengakar di bumi Sirimese.​"Maafkan saya jika pelayanan saya pernah melukai hati Bapak dan Ibu semua. Mewakili rekan saya, Pater Edo OFM, kami memohon maaf setinggi-tingginya. Sayonara, sampai jumpa lagi," tutupnya. Malam itu ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh kehangatan namun menyesakkan dada. Umat dari berbagai kalangan; mulai dari anak sekolah hingga Pemuda Penjaga dan Penyelamat Kampung ( P3K) Komisi Justice  Peace And Integrity Of Creation ( JPIC) OFM Indonesia bergantian memeluk dan menyalami sang gembala.

​Topi Re’a itu sebentar lagi akan berkelana ke tanah Borneo. Ia tidak hanya menjadi pelindung kepala dari terik matahari Meratus, tapi menjadi pengingat bahwa di sebuah desa kecil bernama Sirimese, ada umat yang selalu menyebut nama Pater Andre dalam setiap sujud doa mereka. Selamat sampai di tanah Misi Tuang. Jadilah garam dan terang di tanah misi yang baru.

Laporan: Saudara Tus (Komsos Stasi Sirimese) Editor: Frengky Jamento 

Jumat, 09 Januari 2026

Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Peristiwa Iman: Komitmen Baru Keuskupan Labuan Bajo Menuju 2030

Kiri ke Kanan : Fr Andre, OFM, P. HENDRIK, OFM dan Bapak Falentinus Jempo (ketua DPP PSFAT)
Foto by : Falens Jempo

Labuan Bajo-WARTAPAROKI – Semangat pembaruan dan persaudaraan menyelimuti Rumah Spiritualitas Unio Keuskupan Labuan Bajo. Dalam suasana penuh doa, para pelayan umat berkumpul untuk mengikuti Sidang Pastoral Post-Natal 2026. Mengusung tema besar “Tahun Persekutuan Sinergis : Membangun Gereja Katolik yang Sinodal dan Solid dalam Pelayanan,” kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi peziarahan iman umat di ujung barat Pulau Flores. Sidang ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah refleksi mendalam atas panggilan Gereja untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Perwakilan dari berbagai Paroki se-Keuskupan Labuan Bajo hadir dengan satu tujuan mempererat tali persekutuan demi pelayanan yang lebih menyentuh hati umat. Hadir sebagai delegasi dari Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Bapak Falentinus Jempo (Ketua DPP) bersama Pater Hendrik, OFM (Vikaris Paroki) dan Frater Andre, OFM. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen paroki dalam mendukung visi besar Keuskupan. Sepanjang kegiatan, Bapak Falens Jempo secara aktif memastikan alur komunikasi tetap terjaga dengan Tim Komsos Paroki Tentang dalam mendokumetasi seluruh rangkaian kegiatan. Keterbukaan informasi dan dokumentasi setiap sesi menjadi bukti nyata bahwa semangat sinodalitas—yakni berjalan bersama dimulai dari transparansi dan koordinasi yang baik dinykia dari kehidupan paroki.

Landasan Akademis dan Strategis - Gereja yang kuat adalah Gereja yang terencana. Untuk itulah, sidang ini juga menghadirkan para pakar sebagai Tim Perumus Rencana Strategis (Renstra) Keuskupan Labuan Bajo. Kehadiran para akademisi dari Universitas Santu Paulus Ruteng, yakni: RD Dr. Fransiskus Sawan, Dr. Marinus Mantovany Tapung, M.Pd dan Dr. Kristianus Viktor Pantaleon, M.Pd.Si. Kehadiran mereka memberikan bobot edukatif yang signifikan, menyelaraskan nilai-nilai iman dengan kajian akademis yang sistematis. Hal ini diharapkan mampu melahirkan program pastoral yang tepat sasaran, inklusif, dan visioner bagi seluruh umat di Labuan Bajo. Menuju Gereja yang Solid "Tahun Persekutuan Sinergis" ini mengajak seluruh elemen Gereja mulai dari klerus hingga awam untuk melepaskan ego sektoral dan mulai bekerja dalam harmoni. Dengan semangat "Sinodal," setiap suara didengarkan, dan dengan semangat "Solid," setiap langkah diperkuat. Melalui Sidang Pastoral Post-Natal ini, Keuskupan Labuan Bajo kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi pelita yang terang dan rumah yang hangat bagi setiap jiwa, melalui pelayanan yang profesional namun tetap berlandaskan kasih Kristiani. Tentu inilah yang telah ditegaskan oleh Santu Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Korintus "Sebab sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak... demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12). Di tengah balutan udara awal tahun yang penuh harapan, Gereja Lokal Keuskupan Labuan Bajo memulai langkah strategisnya melalui Sidang Pastoral tahun 2026. Berlangsung selama tiga hari sejak Selasa (6/1/2026), pertemuan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk mempertegas identitas Gereja yang hidup dan bergerak.

Roh yang Menghidupkan: Semilir Sabda dan Doa - Suasana khidmat menyelimuti pembukaan sidang yang diawali dengan "Semilir Sabda". Melalui renungan Kitab Suci dan pendarasan doa "Tahun Persekutuan Sinergis", para peserta diajak untuk menyadari bahwa setiap rencana manusiawi harus berakar pada kehendak Ilahi. RD Lian Angkur, mewakili panitia, menyambut hangat kehadiran Yang Mulia Bapak Uskup Maksimus Regus, Dewan Kuria, serta seluruh peserta. Di balik ucapan selamat Natal dan Tahun Baru, terselip pesan edukatif tentang kedisiplinan dan kesungguhan dalam menjalankan perutusan pastoral. Visi 3S: Sinodal, Solid, dan Solider- Salah satu pilar edukatif dalam sidang ini muncul melalui sesi rekoleksi yang dibawakan oleh RD Mathias. Ia menguraikan visi besar Keuskupan Labuan Bajo yang diringkas dalam tiga kata kunci: Sinodal, Solid, dan Solider. Tentunya Gereja yang Sinodal berarti berjalan bersama; Solid berarti kuat secara internal; dan Solider berarti memiliki kepedulian yang nyata terhadap sesama, terutama mereka yang terpinggirkan menjadi hakekat dan ciri khas kehidupan pastoral Keuskupan Labuan Bajo. Pesan ini menjadi pengingat bagi para pelayan umat bahwa struktur organisasi Gereja harus dibarengi dengan kedalaman empati dan persaudaraan.

Pesan Gembala: Gereja Harus Hidup, Bukan Sekadar Ada - Puncak inspirasi pada hari pertama hadir melalui input awal dari Yang Mulia Bapak Uskup Maksimus Regus. Beliau memberikan penegasan teologis sekaligus praktis mengenai arah gerak Gereja ke depan. Ada dua poin mendasar yang ditekankan yaitu  Pertama ; Mendengar semua suara. Gereja dipanggil untuk bergerak dalam Roh. Uskup Maksimus mengingatkan agar Gereja tidak terjebak dalam "situasi dingin" atau sikap apatis. Sebaliknya, setiap elemen harus saling menopang dan memiliki telinga yang peka baik terhadap suara yang keras, suara yang lemah, maupun mereka yang tidak bersuara sama sekali. Kedua; Saksi keselamatan. Menyadari bahwa keselamatan berasal dari Kristus, maka Gereja memiliki tugas edukatif untuk menjadi saksi hidup dari keselamatan tersebut di tengah dunia. "Persekutuan dan sinergitas tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus nyata dalam tindakan pastoral yang konkret dan relevan. Gereja bukan sekadar ada, tetapi hidup, "tegas Uskup Maksimus. Melalui sidang ini, Keuskupan Labuan Bajo sedang membangun fondasi bagi pelayanan yang lebih berdampak. Dengan demikian bahwa melalui semangat persekutuan yang sinergis, sidang ini diharapkan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang mampu menjawab tantangan zaman, menjadikan iman bukan sekadar kata-kata, melainkan gerakan cinta kasih yang nyata. Di bawah arahan Direktur Pusat Pastoral (Puspas), RD Charles, forum ini ditegaskan sebagai sebuah "Peristiwa Iman". Sebuah momentum di mana seluruh elemen Gereja lokal berhenti sejenak untuk melihat jejak Tuhan dalam pelayanan dan merajut langkah bersama menuju masa depan.

Menemukan Tuhan dalam Metode 3M-Dalam arahannya, RD Charles menekankan bahwa arah dasar sidang ini adalah peneguhan identitas Gereja yang berjalan bersama (sinodal). Untuk mencapai hal tersebut, sidang menggunakan metode 3M: Melihat, Menilai, dan Memutuskan. Metode ini bukan sekadar alat analisis organisasi, melainkan sebuah proses rohani. Melihat: Menatap dengan jujur apa yang telah dicapai. Menilai: Mengajak peserta menafsirkan realitas hidup sehari-hari dalam terang iman dan visi Gereja. Memutuskan: Merumuskan langkah konkret untuk persekutuan sinergis di tahun 2026. "Sikap dasar yang dibutuhkan adalah partisipasi aktif, keterbukaan hati, dan semangat berjalan bersama," ungkap RD Charles. Pesan ini menjadi ajakan bagi seluruh peserta untuk menanggalkan ego sektoral demi kepentingan umat yang lebih besar.

Cermin Keberhasilan: Belajar dari Paroki Tentang- Dalam laporan Monitoring dan Evaluasi (Monev) tahun 2025 bertema "Tata Kelola Partisipatif", terungkap kabar menggembirakan. Meski Gereja Keuskupan Labuan Bajo masih perlu memperdalam praktik pendampingan, kesadaran bersama umat telah terbangun dengan kuat. Salah satu permata dalam sidang kali ini adalah capaian Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Paroki ini berhasil masuk dalam jajaran lima paroki rujukan (bersama Katedral, Sok Rutung, Wae Nakeng, dan Wae Sambi) dengan tingkat keterlaksanaan program yang tinggi dan terintegrasi. Yang paling menginspirasi, Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang dinilai berhasil menampilkan wajah Gereja yang inklusif, kontekstual, dan transformatif. Gereja tidak lagi hanya berdiam di dalam gedung, tetapi hadir di tengah alam dan lumbung ekonomi umat. Fokus kuat pada Ekologi Integral dan Ekonomi Produktif Berbasis Umat di Paroki Tentang menjadi bukti nyata bahwa iman yang hidup adalah iman yang merawat bumi dan menyejahterakan sesama. Ini adalah manifestasi dari "Gereja yang Bernapas"; Gereja yang peduli pada lingkungan hidup dan kemandirian ekonomi jemaatnya. Laporan ini menjadi suplemen semangat bagi paroki-paroki lain. Bahwa dengan tata kelola yang baik dan hati yang terbuka pada Roh Kudus, Gereja mampu menjadi agen perubahan yang nyata di Labuan Bajo. Sidang Pastoral 2026 ini pada akhirnya adalah sebuah undangan: untuk mengajak setiap pribadi untuk tidak hanya menjadi penonton dalam Gereja, tetapi menjadi bagian dari persekutuan sinergis yang membawa perubahan bagi dunia.

Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo memasuki fase krusial pada hari pertama dan kedua (6-7 Januari 2026). Momentum ini menandai lahirnya peta jalan (roadmap) bagi umat Katolik di ujung barat Pulau Flores untuk lima tahun ke depan. Hari pertama ditutup dengan simbolisme yang kuat. Yang Mulia Mgr. Maksimus Regus secara resmi meluncurkan Dokumen Kebijakan Keuskupan Labuan Bajo. Langkah ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah komitmen pelayanan yang kemudian dibawa ke hadapan Tuhan melalui Perayaan Ekaristi pembukaan yang dipimpin oleh RD Yuvens dan RD Mathias. Mendaraskan doa di altar, seluruh rencana manusiawi diserahkan sepenuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi, menegaskan bahwa setiap strategi Gereja harus berakar pada Kristus sebagai sang Gembala Utama.

Membedah Realitas: Suka Duka yang Menjadi Berkat - Memasuki hari kedua, Rabu (7/1/2026), fokus sidang beralih pada penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2026-2030. Sekjen Keuskupan, RD Frans Nala, memberikan fondasi yang kokoh melalui landasan Biblis-Teologis. Beliau mengingatkan bahwa Renstra ini adalah alat untuk mewujudkan Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider. Ketajaman analisis hadir melalui pemaparan Dr. Mantovany Tapung. Berdasarkan hasil penelitian yang mendalam, ia membeberkan realitas kehidupan masyarakat Manggarai Barat mulai dari peluang, tantangan, hingga "suka duka dan kecemasan" umat. Di sinilah sisi edukatif sidang menonjol bahwa Gereja diajak tidak menutup mata terhadap realitas sosial, melainkan menjadikannya ladang pengabdian.

Dream, Design, Destiny: Lima Pilar Masa Depan. Dalam kesempatan tersebut, RD Frans Sawan menguraikan lima tujuan strategis yang akan menjadi kompas pelayanan hingga tahun 2030. Ada lima hakekat hidup menggereja yang ingin dicapai yaitu Iman dan Liturgi yang menghidupkan, Gereja Sinodal yang kolegial dan komunikatif, Pelayanan Solider yang transformatif, Tata Kelola Solid yang akuntabel dan Pewartaan Injil yang kontekstual dan digital. Untuk menggapai visi besar ini, para peserta diajak berefleksi melalui tiga pertanyaan kunci : Dream: Ke mana kita akan pergi? (Mimpi kolektif umat). Design: Bagaimana kita bisa sampai ke sana? (Strategi dan kerja nyata). Destiny: Bagaimana kita tahu kita telah sampai? (Evaluasi dan buah pelayanan). Puncak acara hari kedua ditandai dengan penyerahan naskah Renstra dari Tim Penyusun kepada Bapak Uskup Mgr. Maksimus Regus. Penyerahan ini adalah simbol penyerahan seluruh jerih payah pikiran dan hati para pelayan Tuhan untuk direstui dan dilaksanakan sebagai gerakan bersama.

Sidang Pastoral ini memberikan pesan kua bahwa Gereja Labuan Bajo sedang bertransformasi. Dari Gereja yang sekadar "menjaga tradisi" menjadi Gereja yang berani bermimpi, merancang masa depan, dan merangkul teknologi digital tanpa kehilangan kedalaman spiritualitasnya. Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo hari kedua, Rabu (7/1/2026), menjadi sebuah perjalanan yang tidak hanya mengasah pikiran melalui diskusi strategis, tetapi juga menyentuh hati melalui perjumpaan nyata dengan sesama. Dari ruang sidang hingga ke sudut-sudut pengabdian masyarakat, seluruh peserta diajak untuk melihat wajah Kristus dalam pelayanan yang konkret. Kegiatan dimulai dengan diskusi kelompok yang terbagi dalam lima komisi. Di sini, semangat Sinodalitas (berjalan bersama) benar-benar dipraktikkan. Para peserta duduk melingkar untuk membedah progres program tahun 2025. Dengan jujur, mereka melihat keberhasilan untuk disyukuri dan kegagalan untuk diperbaiki. Diskusi ini bukan sekadar mengevaluasi angka, melainkan mencari kehendak Tuhan di tengah tantangan dan peluang. Hasil refleksi ini akan menjadi fondasi kokoh bagi penyusunan program di "Tahun Persekutuan Sinergis 2026". Sebuah pesan kuat muncul: bahwa untuk melangkah jauh ke depan, kita harus berani berkaca pada jejak-jejak yang telah ditinggalkan.

Momen haru terjadi saat RD Frans Sawan, mewakili UNIKA St. Paulus Ruteng, menyerahkan cendramata kepada Yang Mulia Mgr. Maksimus Regus. Penyerahan ini merupakan simbol terima kasih atas kepercayaan Keuskupan Labuan Bajo kepada institusi pendidikan untuk melakukan penelitian dan penyusunan Renstra 2026-2030.

Ini adalah perpaduan harmonis antara Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi). Gereja menunjukkan sisi edukatifnya dengan melibatkan riset ilmiah dalam merancang masa depan umat, membuktikan bahwa pelayanan pastoral di era modern harus dijalankan secara profesional namun tetap rendah hati.

"City Tour" Kemanusiaan: Melihat Wajah Kristus yang Menenun-Usai santap siang, suasana sidang berganti dari diskusi formal menjadi kunjungan kasih (city tour). Dengan dukungan kendaraan dari Korps Brimob dan TNI-AD sebuah simbol sinergi luar biasa antara Gereja dan alat negara—para peserta menuju Susteran KSSY Gorontalo. Di sana, para peserta sidang disuguhi pemandangan yang menyentuh jiwa aktivitas anak-anak dari kelompok rentan. Di tangan-tangan yang dianggap lemah oleh dunia, lahir karya-karya indah melalui jemari yang menenun dan semangat membuat gorengan untuk kemandirian. "Melalui kunjungan ini, para peserta diajak menyadari bahwa inti dari sinergi adalah merangkul yang lemah agar mereka merasa memiliki martabat yang sama dalam persekutuan Gereja." Perjalanan berlanjut menyisiri keindahan Labuan Bajo, mulai dari kawasan MAWATU hingga ke arah Pelabuhan Pelindo. Di bawah langit sore yang mulai memerah, para peserta kembali dengan satu kesadaran baru: bahwa program-program yang disusun di ruang sidang harus bermuara pada kesejahteraan umat dan kelestarian lingkungan. Sidang hari kedua ini mengajarkan satu hal religius yang mendalam: bahwa doa yang paling tinggi adalah kerja nyata bagi sesama, dan strategi yang paling hebat adalah strategi yang melibatkan kasih.

Menuju Gereja yang Melayani dan Transparan: Puncak Sidang Pastoral -Memasuki hari ketiga sekaligus penutup, Kamis (8/1/2026), Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo semakin menajamkan arah pelayanannya. Fokus utama hari ini adalah merumuskan "Program Pastoral Tahun Persekutuan Sinergis 2026", sebuah peta jalan yang mengajak seluruh umat; dari altar hingga ke pasar untuk bergerak dalam harmoni yang sama. Sidang diawali dengan pengantar inspiratif dari Dr. Kristianus Viktor Pantaleon, akademisi dari UNIKA St. Paulus Ruteng. Ia menekankan bahwa sebuah program sukses bukan karena kecanggihan konsepnya, melainkan karena keterlibatan semua pihak. "Keberhasilan pastoral adalah buah dari kerja sama agen pastoral yang tertahbis (kaum klerus) dan agen pastoral yang terbaptis (umat awam)," ungkapnya. Pesan ini menjadi pengingat edukatif bahwa setiap orang memiliki peran unik dalam membangun Tubuh Mistik Kristus. Peluang, mimpi, dan keberhasilan masa lalu dikumpulkan menjadi bahan bakar untuk menyalakan api pelayanan di tahun 2026. Dalam dinamika diskusi enam kelompok, termasuk kelompok Forum Komunikasi Kelompok Rentan (FKKR), sebuah kesadaran religius yang kuat muncul ke permukaan. Mayoritas peserta sepakat bahwa jantung dari seluruh pelayanan adalah Iman dan Liturgi yang Menghidupkan.

Gereja menyadari bahwa tanpa akar iman yang kuat dalam liturgi, segala program sosial hanyalah aktivitas kemanusiaan biasa. Namun, iman tersebut haruslah iman yang bergerak (faith in action). Hal ini tercermin dari fokus program yang diusulkan: Pembekalan dan pelatihan bagi agen pastoral awam; Pemberdayaan kaum muda sebagai tulang punggung Gereja masa depan dan Perhatian khusus dan pendampingan bagi kelompok rentan. Momen yang sangat menarik dan progresif terjadi ketika spiritualitas bertemu dengan profesionalisme. Keuskupan Labuan Bajo secara resmi melakukan penandatanganan kerja sama dan peluncuran CMS (Cash Management System) dengan BRI Cabang Labuan Bajo. Langkah ini bukan sekadar urusan perbankan, melainkan bentuk pertanggungjawaban iman dalam tata kelola keuangan yang solid dan akuntabel. Dengan sistem digital ini, Gereja ingin memberikan teladan tentang kejujuran dan transparansi, membuktikan bahwa "harta Gereja adalah harta orang miskin" yang harus dikelola dengan penuh integritas.

Penutup ; Dari Rekomendasi Menjadi Aksi - Tim Perumus dari UNIKA St. Paulus Ruteng memberikan catatan penutup yang menegaskan bahwa hasil pleno ini akan segera dikristalisasi menjadi rekomendasi resmi sidang. Sidang Pastoral 2026 ini berakhir dengan sebuah keyakinan: bahwa dengan sinergitas antara gembala dan domba, serta dukungan teknologi dan tata kelola yang modern, Keuskupan Labuan Bajo siap menjadi garam dan terang yang nyata bagi masyarakat Manggarai Barat.


Sumber/Kontributor: Falentinus Jempo

Editor : Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Sabtu, 27 Desember 2025

MENEMBUS BATAS, MELAYANI DENGAN HATI: Kisah Lima Gembala yang Membawa Terang Natal ke Pelosok Paroki Tentang

Foto by : Tim Komsos

Tentang-WARTAPAROKI– Di balik riuh rendah lonceng gereja dan gemerlap lilin altar, Natal di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang tahun ini menyimpan sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui sekadar rutinitas liturgi. Natal kali ini bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang sejauh mana seorang gembala bersedia melangkah demi domba-dombanya. Demi memastikan setiap umat dapat mengecap sukacita kelahiran Kristus, Paroki Tentang mengambil langkah berani dengan membagi perayaan Ekaristi ke tujuh titik lokasi yang berbeda. Mulai dari Pusat Paroki (Stasi Tentang), hingga menjangkau Stasi Lareng, Kalo, Raca, Sirimese, Lumut, dan Reca. Langkah ini bukanlah perkara mudah. Hal ini menuntut pengorbanan dan dedikasi penuh dari para imam yang melayani. Sosok Pater Andreas Bisa, OFM, Pater Eduardus Da Silva, OFM, Pater Hendrik, OFM, Pater Dion, dan Romo Coky, Pr menjadi potret nyata dari apa yang disebut sebagai "pelayanan total". Mereka tidak menunggu umat datang, melainkan mereka yang mendatangi umat. Melalui medan yang mungkin tak selalu mudah, para gembala ini membawa pesan damai Natal hingga ke sudut-sudut stasi agar tak ada satu pun jiwa yang merasa terlupakan di hari yang kudus ini.  "Natal bukanlah sekadar putaran kalender. Ia adalah perjumpaan. Dan hari ini, para imam kami menunjukkan bahwa hakekat Natal adalah kehadiran yang nyata," ungkap salah seorang umat dengan mata berkaca-kaca. Kontributor Tim Komsos Paroki Tentang melaporkan beragam momen haru dari lapangan. Kehadiran imam di setiap lokasi disambut hangat dan bahagia umat yang merasa begitu diperhatikan, juga cerita tentang kesederhanaan kandang Natal di stasi-stasi justru menambah kekhusyukan yang tak ternilai harganya. Setiap lokasi memiliki ceritanya sendiri, ada tawa anak-anak, ada doa khusyuk para lansia, ada semangat gotong royong yang dibangun dalam menyiapkan perayaan. Namun, benang merahnya tetap sama; Syukur dan Damai. 

Natal di Stasi Raca; Merayakan Ketidaksempurnaan dengan Cinta.

Di bawah naungan langit malam yang tenang di Stasi Raca, ribuan hati berkumpul dalam sebuah harmoni iman yang luar biasa. Perayaan Natal tahun 2025 di stasi ini tidak hanya menjadi rutinitas doa, tetapi menjelma menjadi momen refleksi mendalam tentang cinta, persaudaraan, dan kesederhanaan seorang anak kecil yang membawa keselamatan bagi dunia. Perayaan dimulai pada Malam Natal, Rabu (24/12), pukul 19.00 WITA. Sebanyak 800 umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati gereja dengan khusyuk. Di bawah arahan liturgi dari umat Dusun Kaput, suasana terasa begitu hidup dan syahdu. Pater Andre, OFM, yang memimpin Ekaristi malam itu, memberikan siraman rohani yang menyentuh relung hati umat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal adalah perayaan persaudaraan yang melintasi batas semesta. "Mari kita menumbuhkan dalam diri kita cinta kepada sesama. Sadarilah bahwa tidak ada anak, pasangan, ataupun sesama yang sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itulah, kasih Natal memanggil kita untuk saling menerima," pesan Pater Andre sebagaimana didokumentasikan oleh kontributor Komsos, Leksan Serdi. Sukacita berlanjut pada puncak Hari Raya Natal, Kamis (25/12). Sejak pukul 07.30 WITA, lebih dari 600 umat termasuk para lansia yang datang dengan langkah perlahan namun penuh semangat; telah memenuhi ruangan. Alunan koor dari umat Dusun Ting membubung tinggi, menambah kekhidmatan suasana. Pater Eduardus Da Silva, OFM (Pater Edo), yang memimpin perayaan pagi itu, membawa pesan yang sangat puitis namun nyata. Ia mengingatkan umat bahwa Tuhan memilih hadir sebagai anak kecil, sebuah simbol kemurnian yang tanpa noda kebencian. "Tuhan hadir sebagai anak kecil membawa keselamatan tanpa ada kebencian. Sebab, kebencian biasanya baru tumbuh ketika orang menjadi dewasa," ungkap Pater Edo, yang disambut anggukan reflektif dari ribuan umat yang hadir. Natal tahun 2025 ini juga terasa istimewa karena sebuah "kebetulan" yang cantik. Pater Edo menyoroti keunikan angka 5 yang muncul secara berulang; tanggal 25, tahun 2025. Keunikan ini menjadi inspirasi filosofis bagi Stasi Raca untuk menghadirkan lima buah pohon natal yang berdiri anggun, melambangkan berbagai makna mendalam dalam kehidupan dan iman. Filosofi angka lima ini bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat akan keseimbangan dan kelengkapan dalam melayani sesama. Di penghujung perayaan, Ketua Dewan Stasi Raca, Bapak Nikolaus Danggur, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Ia mengapresiasi totalitas para imam dan kerja keras seluruh umat yang telah bahu-membahu menyukseskan perayaan ini. "Terima kasih kepada Pater Andre dan Pater Edo yang telah melayani kami dalam Ekaristi Natal tahun 2025. Terima kasih juga untuk panitia dan seluruh umat yang telah bekerja keras. Kehadiran para Pastor adalah kado Natal terindah bagi iman kami di Stasi Raca," pungkasnya dalam sambutan yang penuh haru. Perayaan Natal di Stasi Raca tahun ini menjadi bukti bahwa di tengah kesederhanaan, jika cinta dan kerja sama menjadi landasannya, sukacita surga benar-benar bisa dirasakan di bum

Natal di Stasi Lareng; Sapaan Lembut "Tamu Agung" dalam Bahasa Manggarai. Perayaan Natal di Stasi Lareng tahun ini menyisakan jejak spiritual yang mendalam bagi umatnya. Bukan sekadar perayaan rutin yang berlalu bersama riuh rendah lagu Natal, namun sebuah perjumpaan batin yang dikemas dalam dua cara istimewa: melalui ketegasan iman seorang gembala muda dan kelembutan bahasa ibu dari seorang gembala senior. Saudara Satri Darmon, selaku seksi komsos di Stasi Lareng menyampaikan kisah perayaan Natal yang berkesan ini. Romo Coky, Pr: Natal Adalah Revolusi Diri; Malam Natal di Stasi Lareng dipimpin oleh Romo Coky, Pr. Sosoknya menarik perhatian bukan hanya karena jubah yang dikenakannya, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai seorang polisi aktif. Di balik wibawa kedisiplinannya, Romo Coky membawa pesan transformasi yang kuat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal bukanlah sekadar rutinitas seremoni tahunan. "Perayaan Natal yang diadakan setiap tahun bukan sebuah seremoni atau kegiatan rutin. Kita harus memaknai Natal itu sebenarnya, yaitu menjadi Manusia Baru di tengah keluarga dan masyarakat," tegas Pastor muda ini. Baginya, kelahiran Kristus harus menjadi momentum bagi setiap umat untuk meninggalkan tabiat lama dan hadir sebagai sosok yang baru, membawa damai serta ketertiban mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Pemandangan berbeda namun tak kalah menyentuh terjadi pada Misa Hari Raya Natal (25/12). Kali ini, Pater Hendrik, OFM, gembala senior yang dikenal sarat pengalaman, menyuguhkan siraman rohani yang sangat personal. Sepanjang khotbahnya, Pater Hendrik memilih menggunakan bahasa Manggarai; bahasa yang menyentuh akar terdalam budaya dan perasaan umat setempat. Dengan nada yang teduh, ia mengibaratkan kelahiran Yesus sebagai kehadiran seorang Tamu Agung yang datang dari tempat tinggi untuk mengunjungi setiap pribadi. "Leso ho'o dite manga cai meka, meka eta mai Surga ata manga nuk agu ngoeng latang ite neteng-neteng weki," (Hari ini kita kedatangan tamu, tamu dari Surga yang memiliki pikiran dan kerinduan untuk kita masing-masing), ungkap Pastor Tua ini dengan penuh perasaan. Gaya bahasa yang membumi ini memberikan penegasan bahwa Tuhan tidak jauh. Ia adalah tamu yang rindu mengetuk pintu rumah setiap umat di Stasi Lareng, tanpa terkecuali. Stasi Lareng telah menunjukkan betapa indahnya keberagaman pelayanan. Kehadiran Romo Coky dengan seruan pembaharuan dirinya, serta Pater Hendrik dengan pendekatan kultural yang menyentuh, menjadi perpaduan sempurna bagi pertumbuhan iman umat. Di bawah langit Lareng, Natal tahun ini benar-benar menjadi momen di mana umat merasa dipanggil secara pribadi untuk pulang ke pelukan Tuhan—baik sebagai manusia baru yang disiplin dalam kasih, maupun sebagai tuan rumah yang layak bagi Sang Tamu Agung dari Surga.


Natal di Stasi Sirimese; Simponi Persatuan.

Jarak geografis boleh saja menempatkan Stasi Sirimese di titik paling ujung Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Namun, dalam urusan iman dan semangat persaudaraan, umat di stasi ini membuktikan bahwa mereka adalah jantung yang berdetak kencang dengan sukacita Natal yang luar biasa. Melalui laporan Saudara Tus, Seksi Komsos Stasi Sirimese, tergambar jelas bagaimana perayaan kelahiran Sang Juru Selamat tahun ini menjadi panggung kolaborasi yang penuh haru dan kekhidmatan. Perayaan Malam Natal dimulai pada pukul 16.00 WITA yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Namun, ada pemandangan unik yang mencuri perhatian dan menggetarkan hati umat. Sebuah kolaborasi indah lahir dari rahim tiga Komunitas Basis Gerejani (KBG), yakni KBG Santu Mikael, Fransiskus, dan Gabriel, yang melebur menjadi satu kelompok koor bernama MIFAGA (Mikael, Fransikus dan Gabriel). Sekitar 600 umat yang hadir menyaksikan betapa perbedaan nama KBG bukan penghalang untuk melantunkan satu nada pujian yang sama. Suara-suara mereka membubung tinggi, mengisi ruang gereja, seolah menegaskan bahwa Natal adalah tentang menyatukan yang terpisah. Pada puncak perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember, suasana spiritual di Sirimese semakin terasa istimewa. Misa dipimpin oleh Romo Coky, Pr, imam Diosesan asal Paroki Tentang yang sedang dalam masa liburan. Di tengah waktu istirahatnya, pastor muda yang juga merupakan seorang anggota polisi ini memilih untuk memberikan dirinya, melayani umat di garis batas paroki. Jika Malam Natal dimeriahkan oleh MIFAGA, pada Misa Hari Raya ini, giliran paduan suara dari gabungan KBG Santu Antonius, Yohanes, dan Santa Matildis yang mengiringi langkah sekitar 600 umat dalam kekhusyukan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo Coky membawa pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk memperluas makna damai, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam ciptaan. "Mari kita saling berdamai dengan sesama dan seluruh makhluk Tuhan yang terkecil," ungkap Romo Coky dengan nada persuasif yang menyentuh hati. Kedamaian yang Inklusif; Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat di Sirimese bahwa Natal tidak berhenti di dalam gedung gereja. Damai Natal harus dibawa pulang ke rumah, ke kebun-kebun, dan ke tengah masyarakat, bahkan ditujukan kepada makhluk ciptaan yang paling kecil sekalipun. Meski berada di ujung wilayah pelayanan, Stasi Sirimese telah menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dengan jarak kilometer dari pusat paroki, melainkan dari kedekatan hati antar sesama melalui kolaborasi dan kerendahan hati untuk saling berdamai. Natal di Sirimese tahun ini adalah bukti bahwa di tempat yang paling jauh sekalipun, kasih Tuhan tetap hadir secara utuh, nyata, dan penuh kehangatan.


Natal di Stasi Lumut; Kabar Sukacita di Tengah Kegelapan; 

Di bawah langit Stasi Lumut yang tenang, sebuah peristiwa iman yang menggetarkan jiwa baru saja berlangsung. Perayaan Natal tahun ini di Stasi Lumut bukan sekadar pengulangan tradisi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa umat dari Kampung Lumut dan Kakor merenung jauh ke dalam batin, menjemput Terang yang telah lama dijanjikan. Saudara Sil selalu seksi komsos Stasi Lumut yang selalu setia mendokumentasikan moment berahmat ini, menyampaikan kisahnya tentang perayaan Natal yang berlangsung hikmat dan berkesan. Suasana penuh kegembiraan menyelimuti gereja saat perayaan Malam Natal dimulai. Kehadiran Pater Dion, putra Paroki Tentang yang sedang dalam masa libur namun memilih mengabdikan waktunya untuk melayani umat, memberikan warna tersendiri. Bagi umat, kehadiran imam yang "pulang kampung" untuk melayani adalah kado Natal yang menghangatkan. Dalam homilinya yang sarat akan makna puitis sekaligus teologis, Pater Dion mengingatkan umat bahwa Natal adalah jawaban Allah atas keputus-asaan dunia."Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan dunia ini tenggelam dalam kegelapan. Ia datang, hadir, dan menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus. Terang itu menembus dosa, kebohongan, dan keputusasaan," ungkap Pater Dion dengan nada yang penuh keyakinan. Pesan ini seolah menjadi pelita bagi umat, menegaskan bahwa seberat apa pun beban hidup, kegelapan tidak akan pernah bisa menguasai Terang sejati yang telah lahir di palungan hati. Sukacita terus mengalir hingga puncak Hari Raya Natal yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Berbeda dengan malam sebelumnya, Pater Edo membawa umat pada sebuah permenungan yang lebih intim dan reflektif. Dikenal dengan gaya berkotbah yang dialogis, ia tidak menyuapi umat dengan jawaban, melainkan mengetuk pintu kesadaran mereka melalui sebuah pertanyaan sederhana namun sangat dalam. "Sudah pantaskah saya menerima kehadiran Yesus?" tanya Pater Edo lembut. Pertanyaan itu menggantung di udara gereja, menciptakan keheningan yang suci. Pater Edo melanjutkan, "Jawabannya ada pada diri kita masing-masing." Ruangan seketika dipenuhi anggukan kepala umat; sebuah tanda bahwa pesan tersebut telah mendarat tepat di relung hati mereka, memicu pemeriksaan batin yang jujur di hari yang kudus tersebut. Keberhasilan perayaan yang khidmat ini tak lepas dari kerja keras banyak tangan. Ketua Dewan Stasi Lumut, Bapak Stef Jon, dengan penuh haru menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia mengapresiasi totalitas Pater Edo dan Pater Dion, serta kehadiran Suster dan Frater yang memperkaya suasana rohani di stasi tersebut. "Terima kasih kepada para Pastor, Suster, Frater, serta anak-anak putra-putri altar dan seluruh umat yang telah terlibat. Kerja keras dan kehadiran Anda semua telah memperlancar jalan bagi perayaan Ekaristi ini," ungkap Bapak Stef Jon dalam sambutannya yang penuh apresiasi. Natal di Stasi Lumut tahun ini ditutup dengan sebuah pemahaman baru: bahwa Kristus telah datang sebagai Terang, namun apakah kita sudah cukup layak menyediakan tempat bagi-Nya? Di antara Kampung Lumut dan Kakor, pertanyaan reflektif itu kini dibawa pulang oleh umat, menjadi bekal untuk menjalani hari-hari mendatang dengan hati yang lebih murni.


Natal di Stasi Kalo; Membasuh Hati dari Debu Kebencian.

Sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat dan udara sejuk khas pedesaan mulai menyelimuti perbukitan, lonceng gereja di Stasi Kalo berdentang dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar penanda waktu, dentang itu adalah undangan bagi umat di Kampung Purek dan War untuk menjemput sebuah peristiwa iman yang tak terlupakan. Tepat pukul 16.00 WITA, perayaan Ekaristi Malam Natal dimulai. Di tengah kesederhanaan suasana desa, sekitar lebih dari 400 umat berkumpul dengan hati yang penuh rindu. Di sana, telah menanti seorang gembala senior, Pater Hendrik, OFM, yang datang membawa warta sukacita. Sebagaimana dilaporkan oleh Saudara Ran Pranatalion, Seksi Komsos Stasi Kalo, suasana spiritual malam itu terasa begitu intim. Pater Hendrik, dengan gaya yang khas, memilih untuk melepaskan sekat jarak antara altar dan umat dengan menggunakan bahasa Manggarai sepanjang homilinya. Bagi umat di pelosok, mendengar Kabar Gembira dalam bahasa ibu adalah seperti merasakan dekapan Tuhan secara langsung. Pater Hendrik menekankan bahwa Yesus yang lahir di palungan bukanlah sosok yang jauh, melainkan seorang "Tamu Agung" (Meka) yang datang dari Surga khusus untuk mengunjungi mereka. "Leso ho ite mai meka eta mai Surga, mai latang sanggen taung ite ba dai di'ad..." (Hari ini kita kedatangan tamu dari Surga, yang datang membawa kebaikan bagi kita semua...), ucap Pater Hendrik dengan suara yang bergetar penuh kasih. Lebih jauh, pesan Pater Hendrik menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar. Ia mengajak seluruh umat Stasi Kalo untuk menjadikan kedatangan "Tamu Agung" ini sebagai momentum pembersihan diri. Natal bukan tentang baju baru, melainkan tentang hati yang baru. Dalam petuahnya yang mendalam, ia meminta umat untuk membuang segala hal yang merusak persaudaraan, "...oke taung toe di'a agu hae ata, iri hati agu ata, porong mai Diha ga pande Nggeluk taung nai dite sanggen taung umat ce stasi Kalo." (Buanglah semua yang tidak baik terhadap sesama, jauhkan iri hati, dan biarlah Dia yang datang menyucikan seluruh hati kita semua umat di Stasi Kalo ini). Mendengar pesan tersebut, keheningan menyelimuti gereja. Banyak umat tertunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari lisan sang gembala. Ada rasa haru yang membuncah ketika menyadari bahwa di stasi kecil ini, Tuhan mau hadir dan menyapa mereka dengan bahasa yang mereka cintai. Perayaan di Stasi Kalo menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Natal tidak diukur dari gemerlap lampu atau megahnya bangunan, melainkan dari ketulusan hati umat yang menyambut Tuhannya. Di bawah pimpinan Pater Hendrik, Natal tahun 2025 di Kalo telah bertransformasi menjadi sebuah "perjamuan suci" di mana kebencian dikalahkan oleh kasih, dan iri hati dibasuh oleh kerendahan hati. Ketika Misa berakhir dan umat melangkah pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan malam pedesaan, mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada cahaya "Tamu Agung" yang kini menyala terang di dalam hati setiap orang yang hadir.

Pesan Keteleladaan dari Sang Gembala.

Apa yang telah ditunjukkan oleh sang gembala umat Pater Andre dan rekan-rekan imam lainnya di Paroki Tentang adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa pelayanan sejati tidak mengenal jarak dan kenyamanan pribadi. Dengan terjangkaunya seluruh stasi, Paroki Tentang telah berhasil menghidupkan hakekat Natal yang inklusif Natal yang menyapa semua orang tanpa terkecuali. Luar biasa. Sebuah teladan yang membuktikan bahwa ketika kasih menjadi dasar, maka kelelahan fisik akan kalah oleh sukacita melihat umat tersenyum menyambut Sang Juru Selamat.

*Frengky Jamento (komsos Paroki Tentang)