![]() |
| P. Hendra, OFM bersama Camat Ndoso, Tua Adat dan Perwakilan Diaspora saat Acara Peletakan Batu Pertama (Rabu, 18 Maret 2026) |
TENTANG_WARTPAROKI-Rabu, 18 Maret 2026, bukan sekadar tanggal di kalender. Bagi umat Paroki Santo Fransiskus Assisi Tentang, hari ini adalah manifestasi dari sabar yang berbuah syukur. Setelah lebih dari setengah abad (75 tahun) bernaung di bawah bangunan lama, kini tiba saatnya bagi umat untuk menanam benih baru di tanah yang suci ini. Selama lima dekade, dinding-dinding gereja tua telah menjadi saksi bisu ribuan doa yang melangit, tangis yang mereda, dan tawa syukur yang membuncah. Namun, seiring waktu, bangunan itu mulai menua. Rencana besar yang telah ditenun selama lima tahun terakhir akhirnya menemukan muaranya “Peletakan Batu Pertama”.
Momen ini adalah titik nol. Sebuah janji kolektif bahwa iman tidak boleh hanya berhenti di hati, tapi harus diwujudkan dalam rumah ibadat yang layak bagi kemuliaan Tuhan. Suasana hikmat menyelimuti kemah sederhana beralaskan tikar pandan di ata la gundukan tanah galian fondasi bangunan pembangunan tempat ibadah Gereja Tentang; saat kearifan lokal menyapa langit. Dipimpin oleh Bapak Martinus Mboe, ritus adat Reis/Kapu digelar bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan dan keterbukaan hati. Umat Tentang menunjukkan bahwa membangun gereja adalah membangun persaudaraan; menyambut pemerintah, tokoh masyarakat, teknisi, hingga setiap tangan yang rela berkeringat demi tujuan mulia ini. “Bukan gedung yang megah yang kita kejar, melainkan sebuah rumah tempat setiap jiwa merasa pulang ke pelukan Tuhan."
Mengapa Kehadiran KITA Begitu Berarti?Pembangunan ini adalah sebuah perjalanan panjang yang menuntut nafas yang panjang pula. Kami menyadari bahwa "satu batu tidak akan membentuk dinding, namun ribuan batu yang disatukan oleh cinta akan membentuk tempat perlindungan."Hari ini, batu pertama telah diletakkan. Namun, batu-batu selanjutnya ada di tangan kita semua. Mari kita bahu-membahu memastikan bahwa lonceng Paroki Santo Fransiskus Assisi Tentang akan terus berdentang, memanggil setiap jiwa untuk datang dan bersyukur di rumah-Nya yang baru. Hari ini di bawah langit yang cerah, ada sebuah mimpi besar sedang dipahat. Ini bukan sekadar tentang menyusun batu bata atau mengaduk semen; ini adalah tentang membangun Rumah Tuhan, sebuah pelabuhan jiwa bagi umat di perbukitan Manggarai Barat.
Pemandangan di lokasi pembangunan sungguh menggetarkan hati. Kita melihat harmoni yang jarang ditemukan di tempat lain: Pertama ; Kehadiran Gembala, Pastor Hendra, OFM bersama komunitas Biara Santu Antonius Padua dan Suster-suster SFSC hadir membawa kesejukan doa. Kedua; Sinergi Pemerintah, Dari Kapolsek Kuwus hingga Camat Ndoso, para Kepala Desa (Tentang, Golo Bore, Golo Ru’a), hingga pimpinan UPTD dan Kapus Wae Pitak, semua hadir dalam balutan persaudaraan demi satu tujuan mulia. Ketiga; Akar Budaya, Para Tua Adat dan Tua Gendang dari Puntu, Tentang, dan Pora berdiri teguh, memastikan bahwa bangunan ini berdiri di atas fondasi iman yang menghormati leluhur. Inilah perjumpaan penuh makna bahwa “Gereja bukan hanya gedung yang megah, melainkan persekutuan hati yang saling menguatkan."
Ada pemandangan yang menyentuh nurani: Kelompok Basis Gereja (KBG) VI. Dengan peluh dan senyum, mereka memastikan tak ada pejuang pembangunan yang kelaparan. Di sisi lain, Bruder Agus, OFM, sang desainer sekaligus teknisi, terus bekerja dengan presisi, memastikan setiap jengkal bangunan ini adalah mahakarya bagi Yang Maha Kuasa. Namun, semangat besar ini membutuhkan penopang. Bruder Agus dan para tukang telah menyiapkan cetak birunya, umat telah memberikan tenaganya, dan para pemimpin telah memberikan restunya. Kini, giliran kita yang melengkapi kekurangannya.
Di balik megahnya sebuah bangunan suci, selalu ada kisah tentang ketulusan yang diletakkan pada batu pertamanya. Dalam suasana penuh khidmat acara Wale Reis/Kapu, sebuah momen indah tercipta; bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang cinta yang mewujud dalam aksi nyata. Ketulusan yang Menggerakkan; Bapak Kristo Wali hadir bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai saudara dalam iman. Beliau menekankan bahwa kehadirannya adalah bentuk penghormatan atas undangan panitia, membawa serta doa agar seluruh proses pembangunan dijauhkan dari marabahaya. “Kerja sama adalah fondasi, dan doa adalah pelindungnya," ungkapnya dengan penuh harapan. Sebagai bentuk dukungan awal, beliau menitipkan Rp 5.000.000 sembari melangitkan doa sederhana namun mendalam: semoga hari esok membawa rezeki yang terus mengalir untuk kebaikan ini.
Semangat itu menular. Bak riak air di telaga yang tenang, kebaikan Bapak Kristo memicu gelombang kedermawanan lainnya. Para tamu undangan dan pimpinan unit, satu per satu, mengulurkan tangan kasih mereka. Tidak ada paksaan, hanya kerelaan hati yang murni; sebuah bukti bahwa ketika kita membangun untuk Tuhan, tidak ada hati yang merasa kekurangan. Menutup rangkaian syukur tersebut dengan penuh haru, Bapak Damianus memberikan sumbangan sebesar Rp 7.000.000. Di balik nominal tersebut, terselip sujud syukur dan harapan agar pintu-pintu rezeki selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang berani memberi dalam kekurangan maupun kelimpahan.
Pembangunan ini bukan hanya tentang menyusun bata dan semen, tetapi tentang menyusun harapan bagi umat dan masa depan. Setiap rupiah yang Anda berikan adalah benih berkah yang kita tanam bersama di ladang Tuhan. Dibalik hening kami para panitia bersujud dalam doa semoga masi ada para simpatisan, Diaspora dan siapa saya yang berbelas kasih, ikut mengukir sejarah kebaikan ini bersama kami?Sedikit dari setiap uluran tangan kasih para sahabat, sangat berarti bagi penyelesaian rumah ibadah kita. Semoga setiap uluran tangan dari siapa saja menjadi saksi kebaikan di hari-hari mendatang. Menenun Doa dalam Fondasi Gereja Tentang; Di bawah langit Manggarai yang sakral, sebuah suara berat dan penuh wibawa memecah kesunyian. Ia adalah Bapak Rikardus Galus, seorang Tua Adat yang malam itu berdiri bukan sekadar sebagai saksi, melainkan sebagai penyambung lidah antara bumi dan langit.
Setelah ritus Reis/Kapu usai, sebuah momen krusial dimulai “Peletakan Batu Pertama”. Watu Menggi, Naa Watu Mangar. Dalam untaian Torok (doa adat) yang syahdu, terucaplah sebuah permohonan yang menggetarkan sukma: “Weri Watu Menggi, Naa Watu Mangar.” Ini bukan sekadar menanam batu ke dalam tanah. Ini adalah simbol penanaman iman, peletakan harapan, dan permohonan restu kepada Mori Kraeng (Tuhan Sang Pencipta) serta para leluhur. Bapak Rikardus melangitkan doa agar setiap butir pasir, setiap batang besi, dan setiap keping bata tidak berdiri sendiri-sendiri. Ia memohon agar semen dan material bangunan "berdamai" dan menyatu dalam harmoni yang kokoh—sebuah metafora bagi persatuan umat. "Neka koe lehe semen, ra’as bata... porong hambors taung kudut nai ca anggit tuka ca leleng." (Janganlah sekiranya semen dan bata roboh... kiranya semua bahan bangunan berdamai hingga menyatu seia sekata agar menjadi kuat dan kokoh.)
Panggilan untuk Menjadi Bagian dari "Batu Suci" Ini. Pembangunan Gereja Tentang bukan sekadar proyek fisik bangunan. Ini adalah upaya membangun "Rumah Bernaung yang Aman" bagi jiwa-jiwa yang mencari Tuhan. Namun, doa yang indah ini membutuhkan uluran tangan kita untuk menjadi nyata. Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari Watu Menggi (batu suci) itu sendiri. Setiap donasi yang Anda berikan adalah semen yang merekatkan, kayu yang menopang, dan doa yang mewujud menjadi dinding-dinding pelindung bagi umat Allah di Gereja Tentang.
Mengapa Anda Perlu Menjadi Bagian dari Perjalanan Ini?
- Investasi Kekal: Bangunan ini akan menjadi tempat ribuan doa dipanjatkan selama puluhan tahun ke depan.
- Menyatu dalam Kebaikan: Seperti harapan dalam doa adat tersebut, donasi Anda adalah wujud “Nai ca anggit, tuka ca leleng” (Seia sekata, sehati sesuara) dalam kasih Tuhan.
- Membangun Warisan Iman: Membantu pembangunan gereja adalah cara kita meninggalkan jejak kebaikan yang takkan terhapus oleh waktu. Mari Bergotong Royong (Lilik) demi Rumah Tuhan. Mari kita wujudkan kerinduan umat Gereja Tentang untuk memiliki tempat ibadah yang layak, kokoh, dan penuh kemuliaan. Sekecil apa pun sumbangsih Anda, ia akan menjadi bagian dari "Batu Kuat" yang akan berdiri abadi di tanah ini. "Satu bata dari Anda adalah satu langkah menuju rumah yang kokoh bagi kemuliaan-Nya."
Dari setiap rangkaian acara sejak ritual adat untuk memohon restu dan menghormati leluhur, langkah demi langkah umat berlanjut ke dalam keheningan ibadat yang suci. Di sana, di antara harapan yang membumbung tinggi, Pater Hendra, OFM menyampaikan sebuah pesan yang menggetarkan jiwa. Dalam homilinya, Pater Hendra mengingatkan kita bahwa membangun sebuah Gereja bukanlah sekadar menyusun batu bata atau mengaduk semen. Ini adalah tentang membangun persekutuan. "Melalui adat dan iman, kita bersatu aksi. Meski kita berangkat dari perbedaan pandangan dan ide, di hadapan Tuhan kita adalah satu tim konstruksi surgawi," ungkapnya dengan penuh ketulusan.
Pesan beliau jelas ; Rumah Tuhan ini adalah milik kita bersama. Kita sedang menanam benih hari ini, agar di masa depan; kita berharap pada suatu hari lagi di masa mendatang, kita bisa berkumpul di bawah atap yang kokoh, merayakan kemuliaan-Nya dengan jauh lebih meriah. Sekali lagi; Mengapa Bantuan para sahabat dan keluarga sangat Berarti? Saat ini, panitia terus bekerja tanpa lelah. Diskusi panjang hingga pekan-pekan menjelang Paskah terus dilakukan untuk memastikan setiap rupiah dan setiap doa yang Anda berikan dikelola dengan amanah.
Pembangunan ini adalah sebuah estafet kasih. Kita tidak hanya membangun gedung, kita sedang menyiapkan tempat bagi anak-cucu kita untuk mengenal Tuhan, tempat bagi mereka yang lelah untuk menemukan ketenangan, dan tempat bagi komunitas untuk bertumbuh dalam kasih. Mari Berjalan Bersama Kami; Tuhan tidak melihat besarnya nominal, melainkan ketulusan hati yang menggerakkan tangan untuk berbagi. Setiap semen yang terpasang dan setiap pilar yang berdiri akan menjadi saksi bisu atas kebaikan hati Anda di hadapan Sang Pencipta.
- Mengapa Kontribusi Anda Berarti? Setiap rupiah yang Anda sisihkan adalah:Satu Genggam Semen untuk memperkokoh dinding tempat anak-anak di Tentang belajar mengenal Tuhan.
- Satu Paku yang menyatukan atap pelindung bagi umat yang rindu bersekutu dalam sakramen.
- Investasi Kekal yang upahnya tidak hanya dinikmati di dunia, tapi tercatat indah di dalam Buku Kehidupan.
Tuhan tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi Ia memampukan mereka yang terpanggil. Hari ini, melalui kisah dari Paroki Tentang, Tuhan mungkin sedang mengetuk pintu hati Anda. Mari Menjadi Bagian dari Sejarah Iman Ini; Mari ulurkan tangan, bukan karena kita memiliki segalanya, tapi karena kita tahu rasanya berbagi dalam kasih Kristus. Bantuan Anda adalah jawaban atas doa-doa umat di kaki bukit Ndoso. "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)
Kami mengetuk pintu hati Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian untuk menjadi bagian dari sejarah ini:
- Sumbangan Dana; Setiap rupiah yang Anda sisihkan adalah investasi abadi untuk masa depan iman generasi mendatang.
- Sumbangan Pikiran; Ide, keahlian teknis, dan nasihat strategis Anda adalah cahaya yang menerangi proses pembangunan ini agar berjalan dengan bijak.
- Sumbangan Doa; Kekuatan yang menguatkan tangan para tukang dan memantapkan niat para panitia.
Mari Menabur di Ladang Tuhan; Hari ini, batu pertama telah diletakkan. Namun, batu-batu selanjutnya ada di tangan kita semua. Mari kita bahu-membahu memastikan bahwa lonceng Paroki Santo Fransiskus Assisi Tentang akan terus berdentang, memanggil setiap jiwa untuk datang dan bersyukur di rumah-Nya yang baru. "Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21. “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."
*Frengky Jamento (Komsos Paroki Tentang)




















