TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

https://drive.google.com/file/d/1Jgtp6biGAJps4uGnjR7evJkWMekPSzHw/view?usp=drive_link

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 18 Maret 2026

MEMAHAT IMAN DI ATAS BATU IKHLAS; Sebuah Panggilan dari Paroki Tentang (Peletakan Batu Pertama Pembanguan Gereja Paroki Tentang)


P. Hendra, OFM bersama Camat Ndoso, Tua Adat dan Perwakilan Diaspora saat Acara Peletakan Batu Pertama (Rabu, 18 Maret 2026)

TENTANG_WARTPAROKI-Rabu, 18 Maret 2026, bukan sekadar tanggal di kalender. Bagi umat Paroki Santo Fransiskus Assisi Tentang, hari ini adalah manifestasi dari sabar yang berbuah syukur. Setelah lebih dari setengah abad (75 tahun) bernaung di bawah bangunan lama, kini tiba saatnya bagi umat untuk menanam benih baru di tanah yang suci ini. Selama lima dekade, dinding-dinding gereja tua telah menjadi saksi bisu ribuan doa yang melangit, tangis yang mereda, dan tawa syukur yang membuncah. Namun, seiring waktu, bangunan itu mulai menua. Rencana besar yang telah ditenun selama lima tahun terakhir akhirnya menemukan muaranya “Peletakan Batu Pertama”.

Momen ini adalah titik nol. Sebuah janji kolektif bahwa iman tidak boleh hanya berhenti di hati, tapi harus diwujudkan dalam rumah ibadat yang layak bagi kemuliaan Tuhan. Suasana hikmat menyelimuti kemah sederhana beralaskan tikar pandan di ata la gundukan tanah galian fondasi bangunan pembangunan tempat ibadah Gereja Tentang; saat kearifan lokal menyapa langit. Dipimpin oleh Bapak Martinus Mboe, ritus adat Reis/Kapu digelar bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan dan keterbukaan hati. Umat Tentang menunjukkan bahwa membangun gereja adalah membangun persaudaraan; menyambut pemerintah, tokoh masyarakat, teknisi, hingga setiap tangan yang rela berkeringat demi tujuan mulia ini. “Bukan gedung yang megah yang kita kejar, melainkan sebuah rumah tempat setiap jiwa merasa pulang ke pelukan Tuhan."

Mengapa Kehadiran KITA Begitu Berarti?Pembangunan ini adalah sebuah perjalanan panjang yang menuntut nafas yang panjang pula. Kami menyadari bahwa "satu batu tidak akan membentuk dinding, namun ribuan batu yang disatukan oleh cinta akan membentuk tempat perlindungan."Hari ini, batu pertama telah diletakkan. Namun, batu-batu selanjutnya ada di tangan kita semua. Mari kita bahu-membahu memastikan bahwa lonceng Paroki Santo Fransiskus Assisi Tentang akan terus berdentang, memanggil setiap jiwa untuk datang dan bersyukur di rumah-Nya yang baru. Hari ini di bawah langit yang cerah, ada sebuah mimpi besar sedang dipahat. Ini bukan sekadar tentang menyusun batu bata atau mengaduk semen; ini adalah tentang membangun Rumah Tuhan, sebuah pelabuhan jiwa bagi umat di perbukitan Manggarai Barat.

Pemandangan di lokasi pembangunan sungguh menggetarkan hati. Kita melihat harmoni yang jarang ditemukan di tempat lain: Pertama ; Kehadiran Gembala, Pastor Hendra, OFM bersama komunitas Biara Santu Antonius Padua dan Suster-suster SFSC hadir membawa kesejukan doa. Kedua; Sinergi Pemerintah, Dari Kapolsek Kuwus hingga Camat Ndoso, para Kepala Desa (Tentang, Golo Bore, Golo Ru’a), hingga pimpinan UPTD dan Kapus Wae Pitak, semua hadir dalam balutan persaudaraan demi satu tujuan mulia. Ketiga; Akar Budaya, Para Tua Adat dan Tua Gendang dari Puntu, Tentang, dan Pora berdiri teguh, memastikan bahwa bangunan ini berdiri di atas fondasi iman yang menghormati leluhur. Inilah perjumpaan penuh makna bahwa “Gereja bukan hanya gedung yang megah, melainkan persekutuan hati yang saling menguatkan."

Ada pemandangan yang menyentuh nurani: Kelompok Basis Gereja (KBG) VI. Dengan peluh dan senyum, mereka memastikan tak ada pejuang pembangunan yang kelaparan. Di sisi lain, Bruder Agus, OFM, sang desainer sekaligus teknisi, terus bekerja dengan presisi, memastikan setiap jengkal bangunan ini adalah mahakarya bagi Yang Maha Kuasa. Namun, semangat besar ini membutuhkan penopang. Bruder Agus dan para tukang telah menyiapkan cetak birunya, umat telah memberikan tenaganya, dan para pemimpin telah memberikan restunya. Kini, giliran kita yang melengkapi kekurangannya.

Di balik megahnya sebuah bangunan suci, selalu ada kisah tentang ketulusan yang diletakkan pada batu pertamanya. Dalam suasana penuh khidmat acara Wale Reis/Kapu, sebuah momen indah tercipta; bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang cinta yang mewujud dalam aksi nyata. Ketulusan yang Menggerakkan; Bapak Kristo Wali hadir bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai saudara dalam iman. Beliau menekankan bahwa kehadirannya adalah bentuk penghormatan atas undangan panitia, membawa serta doa agar seluruh proses pembangunan dijauhkan dari marabahaya. “Kerja sama adalah fondasi, dan doa adalah pelindungnya," ungkapnya dengan penuh harapan. Sebagai bentuk dukungan awal, beliau menitipkan Rp 5.000.000 sembari melangitkan doa sederhana namun mendalam: semoga hari esok membawa rezeki yang terus mengalir untuk kebaikan ini. 

Semangat itu menular. Bak riak air di telaga yang tenang, kebaikan Bapak Kristo memicu gelombang kedermawanan lainnya. Para tamu undangan dan pimpinan unit, satu per satu, mengulurkan tangan kasih mereka. Tidak ada paksaan, hanya kerelaan hati yang murni; sebuah bukti bahwa ketika kita membangun untuk Tuhan, tidak ada hati yang merasa kekurangan. Menutup rangkaian syukur tersebut dengan penuh haru, Bapak Damianus memberikan sumbangan sebesar Rp 7.000.000. Di balik nominal tersebut, terselip sujud syukur dan harapan agar pintu-pintu rezeki selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang berani memberi dalam kekurangan maupun kelimpahan.

Pembangunan ini bukan hanya tentang menyusun bata dan semen, tetapi tentang menyusun harapan bagi umat dan masa depan. Setiap rupiah yang Anda berikan adalah benih berkah yang kita tanam bersama di ladang Tuhan. Dibalik hening kami para panitia bersujud dalam doa semoga masi ada para simpatisan, Diaspora dan siapa saya yang berbelas kasih, ikut mengukir sejarah kebaikan ini bersama kami?Sedikit dari setiap uluran tangan kasih para sahabat, sangat berarti bagi penyelesaian rumah ibadah kita. Semoga setiap uluran tangan dari siapa saja menjadi saksi kebaikan di hari-hari mendatang. Menenun Doa dalam Fondasi Gereja TentangDi bawah langit Manggarai yang sakral, sebuah suara berat dan penuh wibawa memecah kesunyian. Ia adalah Bapak Rikardus Galus, seorang Tua Adat yang malam itu berdiri bukan sekadar sebagai saksi, melainkan sebagai penyambung lidah antara bumi dan langit.

Setelah ritus Reis/Kapu usai, sebuah momen krusial dimulai “Peletakan Batu Pertama”. Watu Menggi, Naa Watu Mangar. Dalam untaian Torok (doa adat) yang syahdu, terucaplah sebuah permohonan yang menggetarkan sukma: “Weri Watu Menggi, Naa Watu Mangar.” Ini bukan sekadar menanam batu ke dalam tanah. Ini adalah simbol penanaman iman, peletakan harapan, dan permohonan restu kepada Mori Kraeng (Tuhan Sang Pencipta) serta para leluhur. Bapak Rikardus melangitkan doa agar setiap butir pasir, setiap batang besi, dan setiap keping bata tidak berdiri sendiri-sendiri. Ia memohon agar semen dan material bangunan "berdamai" dan menyatu dalam harmoni yang kokoh—sebuah metafora bagi persatuan umat. "Neka koe lehe semen, ra’as bata... porong hambors taung kudut nai ca anggit tuka ca leleng." (Janganlah sekiranya semen dan bata roboh... kiranya semua bahan bangunan berdamai hingga menyatu seia sekata agar menjadi kuat dan kokoh.)

Panggilan untuk Menjadi Bagian dari "Batu Suci" Ini. Pembangunan Gereja Tentang bukan sekadar proyek fisik bangunan. Ini adalah upaya membangun "Rumah Bernaung yang Aman" bagi jiwa-jiwa yang mencari Tuhan. Namun, doa yang indah ini membutuhkan uluran tangan kita untuk menjadi nyata. Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari Watu Menggi (batu suci) itu sendiri. Setiap donasi yang Anda berikan adalah semen yang merekatkan, kayu yang menopang, dan doa yang mewujud menjadi dinding-dinding pelindung bagi umat Allah di Gereja Tentang.

Mengapa Anda Perlu Menjadi Bagian dari Perjalanan Ini?

  • Investasi Kekal: Bangunan ini akan menjadi tempat ribuan doa dipanjatkan selama puluhan tahun ke depan.
  • Menyatu dalam Kebaikan: Seperti harapan dalam doa adat tersebut, donasi Anda adalah wujud “Nai ca anggit, tuka ca leleng” (Seia sekata, sehati sesuara) dalam kasih Tuhan.
  • Membangun Warisan Iman: Membantu pembangunan gereja adalah cara kita meninggalkan jejak kebaikan yang takkan terhapus oleh waktu. Mari Bergotong Royong (Lilik) demi Rumah TuhanMari kita wujudkan kerinduan umat Gereja Tentang untuk memiliki tempat ibadah yang layak, kokoh, dan penuh kemuliaan. Sekecil apa pun sumbangsih Anda, ia akan menjadi bagian dari "Batu Kuat" yang akan berdiri abadi di tanah ini.  "Satu bata dari Anda adalah satu langkah menuju rumah yang kokoh bagi kemuliaan-Nya."

Dari setiap rangkaian acara sejak ritual adat untuk memohon restu dan menghormati leluhur, langkah demi langkah umat berlanjut ke dalam keheningan ibadat yang suci. Di sana, di antara harapan yang membumbung tinggi, Pater Hendra, OFM menyampaikan sebuah pesan yang menggetarkan jiwa. Dalam homilinya, Pater Hendra mengingatkan kita bahwa membangun sebuah Gereja bukanlah sekadar menyusun batu bata atau mengaduk semen. Ini adalah tentang membangun persekutuan. "Melalui adat dan iman, kita bersatu aksi. Meski kita berangkat dari perbedaan pandangan dan ide, di hadapan Tuhan kita adalah satu tim konstruksi surgawi," ungkapnya dengan penuh ketulusan.

Pesan beliau jelas ; Rumah Tuhan ini adalah milik kita bersama. Kita sedang menanam benih hari ini, agar di masa depan; kita berharap pada suatu hari lagi di masa mendatang, kita bisa berkumpul di bawah atap yang kokoh, merayakan kemuliaan-Nya dengan jauh lebih meriah. Sekali lagi; Mengapa Bantuan para sahabat dan keluarga sangat Berarti? Saat ini, panitia terus bekerja tanpa lelah. Diskusi panjang hingga pekan-pekan menjelang Paskah terus dilakukan untuk memastikan setiap rupiah dan setiap doa yang Anda berikan dikelola dengan amanah.

Pembangunan ini adalah sebuah estafet kasih. Kita tidak hanya membangun gedung, kita sedang menyiapkan tempat bagi anak-cucu kita untuk mengenal Tuhan, tempat bagi mereka yang lelah untuk menemukan ketenangan, dan tempat bagi komunitas untuk bertumbuh dalam kasih. Mari Berjalan Bersama Kami; Tuhan tidak melihat besarnya nominal, melainkan ketulusan hati yang menggerakkan tangan untuk berbagi. Setiap semen yang terpasang dan setiap pilar yang berdiri akan menjadi saksi bisu atas kebaikan hati Anda di hadapan Sang Pencipta.

  • Mengapa Kontribusi Anda Berarti? Setiap rupiah yang Anda sisihkan adalah:Satu Genggam Semen untuk memperkokoh dinding tempat anak-anak di Tentang belajar mengenal Tuhan.
  • Satu Paku yang menyatukan atap pelindung bagi umat yang rindu bersekutu dalam sakramen.
  • Investasi Kekal yang upahnya tidak hanya dinikmati di dunia, tapi tercatat indah di dalam Buku Kehidupan.

Tuhan tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi Ia memampukan mereka yang terpanggil. Hari ini, melalui kisah dari Paroki Tentang, Tuhan mungkin sedang mengetuk pintu hati Anda. Mari Menjadi Bagian dari Sejarah Iman Ini; Mari ulurkan tangan, bukan karena kita memiliki segalanya, tapi karena kita tahu rasanya berbagi dalam kasih Kristus. Bantuan Anda adalah jawaban atas doa-doa umat di kaki bukit Ndoso. "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Kami mengetuk pintu hati Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian untuk menjadi bagian dari sejarah ini:

  • Sumbangan Dana; Setiap rupiah yang Anda sisihkan adalah investasi abadi untuk masa depan iman generasi mendatang.
  • Sumbangan Pikiran; Ide, keahlian teknis, dan nasihat strategis Anda adalah cahaya yang menerangi proses pembangunan ini agar berjalan dengan bijak.
  • Sumbangan Doa; Kekuatan yang menguatkan tangan para tukang dan memantapkan niat para panitia.

Mari Menabur di Ladang Tuhan; Hari ini, batu pertama telah diletakkan. Namun, batu-batu selanjutnya ada di tangan kita semua. Mari kita bahu-membahu memastikan bahwa lonceng Paroki Santo Fransiskus Assisi Tentang akan terus berdentang, memanggil setiap jiwa untuk datang dan bersyukur di rumah-Nya yang baru. "Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21. “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

*Frengky Jamento (Komsos Paroki Tentang)

Sabtu, 07 Maret 2026

​MENJADI TERANG DAN GARAM DUNIA: Utusan OMK Fransiskus Assisi Menimba Ilmu di Labuan Bajo

Sdr. Erens dan Asry bersama Mgr.Maksimus Regus setelah selesai kegiatan sosialisasi penguatan kapasitas OMK di Labuan Bajo (Kamis, 5 Maret 2025)

Labuan Bajo-WARTAPAROKI_Di tengah arus zaman yang kian menantang, Orang Muda Katolik (OMK) dipanggil bukan sekadar untuk menjadi penonton, melainkan menjadi pelaku perubahan yang berakar pada iman dan pengetahuan. Semangat inilah yang dibawa oleh Saudara Erens dan Saudari Asri saat melangkah mewakili OMK Paroki Santu Fransiskus Assisi dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengurus OMK tingkat Keuskupan Labuan Bajo, pada 4-5 Maret 2026. Kegiatan yang mengusung tema besar “Peningkatan Kapasitas Pengurus OMK dan Tatap Muka Bersama Yang Mulia Uskup Labuan Bajo” ini menjadi oase bagi para pemimpin muda untuk bertumbuh.

Kabar Dari Garis Depan

Melalui dedikasi tinggi, Erens dan Asri terus terhubung dengan Tim Komsos Paroki. Lewat untaian pesan WhatsApp, mereka membagikan setiap dinamika kegiatan, memastikan api semangat di Labuan Bajo juga dirasakan oleh rekan-rekan OMK di paroki asal.

Dua Pilar Pengetahuan untuk Masa Depan

Pada hari pertama, para peserta dibekali dengan dua materi krusial yang menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritualitas:

Pertama : Menjaga Kemurnian dan Keamanan (Safeguarding):

Romo Frans Nala memaparkan sosialisasi Dokumen Safeguarding Keuskupan Labuan Bajo. Ini bukan sekadar aturan, melainkan komitmen Gereja untuk menciptakan lingkungan yang aman, bermartabat, dan penuh kasih bagi semua orang, terutama kaum muda.

 Kedua : Menghargai Bait Allah (Kesehatan Reproduksi):

Suster Ermelinda dari RS Santu Yosef Labuan Bajo memberikan pencerahan mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja. Dengan penuh kasih, Suster menekankan bahwa memahami tubuh adalah bentuk syukur kepada Tuhan. "Pemahaman yang dini adalah benteng utama bagi anak muda di Keuskupan Labuan Bajo untuk mencegah risiko negatif akibat kurangnya edukasi," pesan Suster Ermelinda.

Lelahnya hari pertama terbayar dengan kehangatan saat seluruh peserta berkumpul dalam sesi makan malam bersama. Di meja makan inilah, sekat antar paroki melebur menjadi satu persaudaraan dalam Kristus. Makan malam ini menjadi simbol bahwa perjuangan dalam pelayanan paling indah jika dilakukan dalam kebersamaan.

Selanjutnya pada hari kedua; Kamis, 5 Maret 2026, bukan sekadar tanggal di kalender bagi kami, Orang Muda Katolik Keuskupan Labuan Bajo. Hari itu adalah sebuah titik balik, sebuah momen di mana semangat muda kami dibasuh oleh doa dan diteguhkan oleh visi yang besar.

Mentari pagi Labuan Bajo menyapa saat para OMK berkumpul di sekitar altar. Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Servin, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Labuan Bajo. Dalam keheningan misa, kami diingatkan bahwa segala rencana dan gerak langkah pemuda haruslah bermula dari Tuhan. Tanpa berkat-Nya, semangat kami hanyalah euforia sesaat.


Jumpa Hati bersama Gembala: Mgr. Maximus Regus

Suasana semakin hangat dan penuh sukacita saat kami memasuki sesi tatap muka bersama Yang Mulia Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maximus Regus. Di hadapan ratusan pasang mata yang penuh antusias, Bapa Uskup memberikan "kompas" bagi perjalanan kaum muda ke depan.

Beliau tidak hanya melihat kami sebagai pelengkap atau penonton di bangku gereja. Sebaliknya, Bapa Uskup menegaskan bahwa:

Pertama; Subyek, Bukan Objek: OMK adalah mitra sejajar dalam membangun komunitas Gereja. Kami adalah rekan sekerja Allah yang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menghidupkan paroki.

Kedua ; Agen Perubahan yang Kreatif: Di tangan pemuda, Gereja harus tampil segar dan adaptif. Kreativitas OMK adalah bahan bakar utama bagi masa depan Gereja.

Tumbuh dari Keterbatasan, Berakar dalam Iman

Satu pesan yang sangat menyentuh relung hati adalah ketika Bapa Uskup menyampaikan bahwa menjadi OMK yang tangguh tidak harus berangkat dari kelebihan. Kaum muda bertumbuh bukan dari kelebihan, melainkan dari kekurangan dan keterbatasan. Di sanalah kuasa Tuhan bekerja."

Beliau mengingatkan bahwa fondasi utama pelayanan kami di paroki adalah Iman. Namun, iman yang dimaksud bukanlah sesuatu yang "melayang" atau sekadar kata-kata manis. Iman harus berakar menyentuh realitas kehidupan, membumi dalam aksi, dan teguh menghadapi badai zaman. Pesan Yang Mulia Mgr. Maximus Regus adalah mandat bagi kita, anak muda di seluruh penjuru Keuskupan Labuan Bajo. Mari pulang ke paroki masing-masing bukan sebagai pribadi yang sama, melainkan sebagai agen perubahan yang siap melayani dengan hati yang berakar pada Kristus.

Kita adalah masa depan Gereja, dan masa depan itu dimulai hari ini.


Sebuah Harapan

Mari kita dukung dan doakan agar Saudara Erens dan Saudari Asri dapat membawa pulang "api" perubahan ini ke tengah Paroki kita tercinta.

"Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).


*Kontributor : Sdr. Andri

*Editor : Frengky Jamento 


Selasa, 17 Februari 2026

LANGKAH SANG GEMBALA: Air Mata Ketaatan dan Jejak Kasih di Tanah Tentang

 

Ketua DPP dan DKP Memberikan Cendramata Kepada Pater Andreas Bisa, OFM 

TENTANG-WARTAPAROKI_Minggu, 18 Januari 2026, matahari di ufuk Timur Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang terbit dengan cahaya yang berbeda. Ada semburat kehangatan, namun ada pula kabut haru yang menyelimuti hati setiap umat yang melangkah menuju gereja. Hari itu bukan sekadar perayaan hari Minggu biasa; hari itu adalah sebuah "Estafet Kasih", sebuah babak sejarah di mana pengabdian bertemu dengan perpisahan, dan ketaatan bertemu dengan harapan baru.

Di Balik Altar: Sebuah Pengakuan Diri - Suasana syukur menyelimuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Didimus A. Mbembo (Vikep Pacar). Di barisan imam, hadir para pelayan Tuhan yang menjadi saksi bisu pergantian tongkat penggembalaan ini. Dalam keheningan homili, Romo Didi membawa umat menyelami hati Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Beliau mengingatkan bahwa seorang gembala hanyalah "suara yang berseru-seru", sebuah alat di tangan Tuhan. "Kita belajar dari Yohanes Pembaptis tentang kerendahan hati tampil untuk mewartakan tentang kedatangan sang Juru Selamat," ungkapnya. Pesan itu seolah menjadi gema bagi sosok Pater Wilibrodus Andreas Bisa, OFM (Pater Andre), sang gembala ke-18 yang telah mencurahkan seluruh hidupnya bagi Tentang selama enam tahun terakhir.

Saat Pena Menggoreskan Perpisahan_Keheningan semakin mencekam saat Pater Patris, OFM membacakan Surat Keputusan dari Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus. Setiap kata yang terbaca seolah menjadi hitungan mundur menuju perpisahan. Penandatanganan dokumen administrasi bukan sekadar prosedur formal, melainkan simbol penyerahan jiwa dan raga dari satu pelayan ke pelayan lainnya. Pater Leonardus Hendradus, OFM (Pater Hendra) berdiri tegak menyambut tugas baru ini, sementara Pater Hendrik, OFM bersiap mendampingi sebagai Vikaris. Sebuah awal baru di atas fondasi cinta yang sudah lama tertanam.

Puncak keharuan saat Bapak Falentinus Jempo (Ketua DPP) naik ke mimbar. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia mengenang bagaimana Pater Andre dan Pater Edo telah menembus terjalnya topografi stasi-stasi di Paroki Tentang, membawa sakramen ke pelosok, hingga menghidupkan ekonomi umat melalui UMKM dan gerakan ekopastoral.

"Dasor wekin koe ite lau Kalimantan, nai manga kin agu ami ce Tentang.....(Semoga ragamu saja yang berada di Kalimantan, Pater, namun hatimu tetaplah tertinggal bersama kami di sini...)," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu menyayat hati umat. Air mata mulai menetes di sela-sela bangku gereja. Sebuah pengakuan jujur bahwa Pater Andre bukan sekadar pemimpin agama, melainkan bagian dari keluarga mereka.

Isak Tangis di Atas Mimbar: Guru Sejati Adalah Umat _ Tiba saatnya Pater Andre menyampaikan kata perpisahan. Ruangan gereja yang luas itu seakan menjadi sempit oleh sesak napas haru. Sang Pastor, yang biasanya tegar, kini berdiri dengan bahu yang bergetar. "Terima kasih telah menjadi guru, sahabat, kakak, adik, dan orang tua bagi saya..." kalimatnya terhenti. Pater Andre terisak. Air matanya jatuh di atas mimbar kayu itu, membasahi teks yang mungkin tak sanggup lagi ia baca sepenuhnya. Ia teringat pesan Santu Fransiskus dari Assisi: bahwa orang kecil dan miskin adalah guru sejati. "Jangan takut belajar dan bekerja sama dengan siapa pun. Kalian telah membentuk saya menjadi seorang Fransiskan sejati. Perpisahan ini adalah wujud ketaatan saya kepada Tuhan," pesannya di tengah linangan air mata. Beliau menitipkan warisan-warisannya: Gua-Gua Maria di setiap kampung sebagai benteng doa, rumah ekonomi kreatif bagi kelompok tani, dan masa depan orang muda. Ia meminta umat untuk tidak membanding-bandingkan para imam, karena setiap zaman memiliki utusannya masing-masing.

Menatap Masa Depan: Sinergi dalam Doa_Suasana haru itu perlahan membasuh harapan baru saat Pater Hendra, OFM memperkenalkan diri. Sebagai putra Pagal yang pernah berkarya di Kalimantan Barat, ia datang dengan kerendahan hati. "Mari kita berjalan bersama. Apa yang telah dimulai oleh Pater Andre dan Pater Edo, akan kita lanjutkan demi kemuliaan Tuhan," ajaknya lembut. RD. Didimus A. Mbembo menutup rangkaian itu dengan ajakan untuk selalu Bantang Cama; berkumpul dan berkolaborasi. Beliau menegaskan bahwa Paroki Tentang telah menjadi oase yang dikenal karena keunikan ekopastoralnya, dan itu harus terus bertumbuh di bawah gembala yang baru.

Penutup _ Matahari mulai meninggi di langit Tentang, namun kenangan akan hari ini akan tertulis abadi dalam sanubari umat. Pater Andre pergi membawa sejuta cinta, sementara Pater Hendra datang memeluk harapan baru. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, karya pelayanan tak pernah berhenti; ia hanya berpindah tangan, namun tetap dalam satu hati yang sama: Melayani Tuhan dalam diri sesama.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)


Senin, 16 Februari 2026

"Asa? Kita Mulai!": Sebuah Ikrar Sinergi Menuju Gereja yang Hidup

Foto 1 : Rapat Pleno;
Foto 2 ; Launching Tahun Persekutuan Sinergis (Minggu, 15 Februari 2026)
Foto by : Karlo Amal_TimKomsos PSFAT

TENTANG-WARTAPAROKI_
Minggu, 15 Februari 2026, bukan sekadar tanda pada kalender. Di bawah langit Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, hari itu adalah sebuah fajar baru. Udara pagi terasa lebih khidmat, membawa bisikan doa yang menyatu dengan harapan ribuan jiwa yang rindu untuk bersekutu. Suasana Gereja riuh namun teduh. Pater Hendra, OFM, berdiri di altar Tuhan, memimpin perayaan Ekaristi yang bukan sekadar ritual, melainkan sebuah simfoni iman. Dalam keheningan homilinya, sebuah pesan yang kuat menggema. Gereja sebagai fisik yang perlu kita bangun, jaga dan rawat, juga adalah kumpulan hati yang saling berpaut. Kita tidak dipanggil untuk berjalan sendiri-sendiri, melainkan untuk menjadi penopang bagi saudara di sebelah kita. Demikian halnya dalam setiap rencana pembangunan kita diajak untuk berjalan bersama. Beliau mengajak seluruh umat untuk melangkah dalam koridor Tahun Persekutuan Sinergis 2026. Segala benih kebaikan yang telah ditabur di tahun sebelumnya tidak dibiarkan layu, melainkan dipupuk kembali agar berbuah lebih lebat di tahun ini.

Gema Gong dan Simbol Persaudaraan
Detik yang dinantikan tiba. Suara Gong yang dipukul oleh Pater Hendra memecah kesunyian, getarannya seolah merambat ke setiap sudut hati umat yang hadir. Itu adalah bunyi komitmen; sebuah tanda resmi bahwa ziarah bersama telah dimulai. Di hadapan umat, pemandangan indah tersaji. Ketua DPP, Ketua DKP, para pengurus, serta para Suster SFSC dan Komunitas Biara Antonius Padua berdiri bahu-membahu. Mereka membentangkan baliho, bukan sekadar kain dan warna, melainkan simbol dari bentangan cinta yang tak terputus. Momentum ini menegaskan sebuah visi besar: membangun Gereja bukan hanya soal semen dan batu (fisik), tetapi tentang membangun Gereja sebagai Persekutuan Hidup. Mereka berdiri Tidak sekadar membentangkan baliho dengan deretan kalimat, namun ada sarat makna yang terungkap. Ini sebuah sinergi, untuk sebuah inspirasi, yaitu : Tangan saling menggenggam untuk bekerja. Bahu siap sedia untuk memikul beban sesama. Hati selaras dalam doa yang sama. Ada sederat ungkap ribuan umat; selamat berziarah, umat Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Di bawah naungan semangat Sang Santo dari Assisi, mari kita melangkah. Sebab dalam sinergi, yang berat menjadi ringan, dan yang jauh menjadi dekat di dalam Tuhan. 

Dalam Balutan Kasih: Merajut Asa dalam Pelayanan
Gema lagu syukur baru saja meluruh di sela-sela pilar Gereja. Harum dupa masih tertinggal tipis di udara, membawa sisa-sisa doa Perayaan Ekaristi ke hadirat Sang Khalik. Namun, ibadah tidak berhenti di Altar; ia berpindah rupa menjadi pengabdian nyata dalam sebuah perjumpaan yang penuh khidmat: Rapat Pleno Paroki. Di bawah kepemimpinan Bapak Falentinus Jempo, lembar demi lembar perjalanan tahun 2025 dibuka kembali. Bukan sekadar angka atau deretan kalimat, evaluasi ini adalah cermin kejujuran. Kita melihat mana benih yang telah tumbuh menjadi pohon yang rindang, dan mana tunas yang masih perlu disiram kembali di tahun 2026.
Setiap program pastoral yang telah terlaksana adalah bukti bahwa kasih Tuhan bekerja melalui tangan-tangan yang lelah namun tak menyerah. Sementara program yang tertunda bukanlah sebuah kegagalan, melainkan janji yang tertunda untuk ditepati di masa depan.

Amanah dalam Kejujuran.
Suasana semakin hening saat Bapak Frederikus Peher memaparkan bentangan angka keuangan. Di sinilah integritas diuji dalam ketulusan. Setiap rupiah yang masuk adalah tetes keringat umat; sebuah persembahan suci yang harus dijaga dengan hati. Dialog hangat terjadi saat para Ketua dan Bendahara Stasi bersinergi, menyamakan catatan, dan memastikan bahwa kejujuran adalah fondasi utama rumah Tuhan. Keselarasan angka antara Stasi dan Paroki bukan sekadar soal akuntansi, melainkan soal membangun kepercayaan di atas batu karang kebenaran.

Ruang Diskusi: Tempat Solusi Bersemi
Diskusi sempat memanjang, mencari jalan keluar bagi program yang belum tuntas dan target yang belum tergapai. Namun, di sanalah letak indahnya persaudaraan. Tidak ada nada saling menyalahkan, yang ada hanyalah bahu-membahu mencari solusi. Hambatan finansial bukanlah tembok, melainkan jembatan bagi kita untuk semakin kreatif dan bersandar pada penyelenggaraan Ilahi.

Menuju Wajah Baru Bait Suci
Kini, pandangan kita menatap jauh ke depan. Statuta disosialisasikan sebagai kompas yang mengarahkan langkah, dan rencana renovasi Gereja mulai disusun. Renovasi ini bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan, melainkan simbol semangat kita untuk merenovasi bait suci di dalam hati. Kita melangkah pulang dengan satu keyakinan "Bahwa setiap lelah dalam rapat ini adalah ibadah, dan setiap keputusan yang diambil adalah demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam)."

Dalam Nada Semangat Persaudaraan: Sebuah Persekutuan Sinergis
Matahari mungkin melewati posisi tegaknya untuk beranjak ke arah Barat; namun di dalam ruangan itu, cahaya baru justru sedang disulut. Di bawah arahan Bapak Falentinus Jempo, deretan program kerja bukan sekadar barisan kata di atas kertas. Ia adalah wujud dari niat yang tulus. Setiap draf yang disusun adalah jembatan; menghubungkan rutinitas yang setia dengan impian-impian tahun 2025 yang sempat tertunda, kini diletakkan dengan penuh khidmat di atas altar rencana tahun 2026.

Mewarisi Aturan dalam Roh yang Baru
Suasana semakin mendalam ketika Pater Hendra, OFM bersama Ketua DPP mensosialisasikan Statuta baru Keuskupan Labuan Bajo. Ini bukan sekadar urusan birokrasi gerejawi, melainkan sebuah kompas spiritual yang baru; sebuah undangan bagi umat untuk bertumbuh dalam tatanan yang lebih rapi, namun tetap berakar pada kasih.
Keteguhan hati kian nampak saat rencana renovasi Gereja dipaparkan. Di bawah panduan Wakil Ketua DPP yang juga ada salah satu ketua Pelaksana Pembangunan (Sdr. Andreas Korsini Nakung) cetak biru yang dirancang oleh tangan-tangan teknis bukan sekadar soal semen dan batu, melainkan tentang membangun "Rumah Tuhan" yang lebih kokoh untuk menampung doa-doa umat.

Sebuah "Tanya" yang Menggetarkan Jiwa
Namun, puncak dari segala rencana bukanlah pada angka atau desain teknis, melainkan pada semangat persaudaraan. Di penghujung agenda, Pater Hendra, OFM berdiri. Tatapannya hangat, membawa aura kedamaian Fransiskan yang khas. Ia tidak memberikan perintah, melainkan sebuah ajakan untuk berjalan bersama (walking together). Dalam balutan filosofi kolaborasi tanah Manggarai yang kental, sebuah pertanyaan sederhana terlontar dari bibirnya, memecah kesunyian yang penuh harap, "Asa...? Kita mulai?" (Bagaimana...? Kita mulai?).
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Ia adalah sebuah ketukan di pintu hati. Dan dalam satu tarikan napas yang selaras, ruangan itu bergetar oleh jawaban serentak yang membahana:, "Siap Mulai!"
Tepuk tangan pecah; bukan hanya sebagai tanda berakhirnya rapat, melainkan sebagai gema komitmen. Itu adalah bunyi dari tangan-tangan yang siap bekerja, kaki-kaki yang siap melangkah, dan hati yang siap melayani dalam Tahun Persekutuan Sinergis.

Berkat Kemenangan
Akhirnya, segala rencana dikembalikan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dengan tangan terangkat, Pater Hendra, OFM mengunci seluruh kesepakatan itu dengan tanda kemenangan yang abadi.
"Semua rancangan, kesepakatan, dan program ini kita tetapkan dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus."
Doa itu menjadi penutup sekaligus fajar baru. Mereka pulang bukan hanya membawa dokumen, melainkan membawa api yang siap menyala di tengah umat.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Senin, 02 Februari 2026

RAPAT PRA PLENO; DPP/DKP Memantapkan Agenda Renovasi Gereja Mulai Maret 2026

Panitia dan DPP/DKP Saat Rapat Pemantapan Pembangunan Gereja (Tentang, 1 Februari 2026)
Tentang-WARTAPAROKI_Minggu, 01 Februari 2026 adalah moment bersejarah dan berahmat. Ada dua agenda besar yang didiskusikan yaitu pemantapan persiapan Pleno Paroki yang mencakup evaluasi program tahun Pastoral Tata Kelola Partisipatif 2025 serta menyusun draft program tahun Pastoral Persekutuan Sinergis 2026. Dalam draft penyusuan program dibahas rencana pemilihan kepengurus Dewan Pastoral pada pertengahan tahun 2026 sesuai amanat dari statuta terbaru dari Keusukupan Labuan Bajo. Agenda kedua yang menjadi moment sejarah adalah mematangkan rencana pembangunan (renovasi total) Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang yang sudah berdiri menghampiri setengah abad.
Hadir dalam rapat ini Pastor Paroki Pater Hendra, OFM bersama para pengurus DPP dan DKP, tokoh masyarakat dan Panitia Pembangunan Gereja Santu Fransikus Assisi Tentang yang sudah dibentuk pada rapat sebelumnya dan sudah mulai bekerja. Evaluasi program dan penyusunan draf program pastoral berlangsung dengan penuh dinamika untuk melihat progres program tahun sebelumnya sembari menyusun strategi untuk program yang belum dituntaskan.

Perbaikilah Rumah-Ku": Napas Baru untuk Gereja Tua
Rapat menyita fokus perhatian adalah pemantapan rencana persiapan Pembangunan Gereja (renovasi total). 
Bapak Andreas Korsini Nakung selalu ketua pelaksana 1 bersama Ketua Umum (Bapak Falentinus Jempo) memandu jalannya rapat. Mewakili anggota Panitia Saudara Korsin, menyampaikan gambar dan progres persiapan dana yang sudah terkumpul dari tahun sebelumnya yaitu pada kisaran 400 juta-an. Target kita pada dari total anggaran pembangunan 2,3 M kita targetkan kontribusi umat 1 M untuk tahun 2026. Sedangkan selebihnya panitia bekerja keras untuk menghimpun para Diaspora dan Donatur.

Merapikan Barisan, Menyatukan Visi
Beberapa hal menjadi fokus adalah memantapkan struktur kepanitiaan pembangunan yaitu :
Pertama; Revisi struktur dan penempatan personilia keanggotaan panitia sebab kepanitiaan yang dibuat saat masih bergabung dengan keuskupan Ruteng termasuk ada pergantian kompoisis karena pergantian pastor Vikaris Paroki yang berperan sebagai Bendahara umum.
Kedua; Menambah struktur komposisi kepanitian bermaksud untuk memperlancar segala urusan pembangun, termasuk melakukan rekapan anggota Diaspora Tentang yang berada di luar paroki Tentang. Hal lain juga mervisi kepanitiaan dilakukan karena beberapa anggota panitia yang sudah sudah tidak berada lagi di paroki Tentang karena pindah domisili.

Arsitektur Iman: Sentuhan Bruder Agus, OFM
Rapat yang dipusatkan pada hal teknis Perencananaan, pengawasan dan tehnik yang disampaikan oleh Bruder Agus, OFM. Kehadiran Bruder Agus, OFM selalu setiap dan memberikan motivasi dan spirit sebagai aktor utama dalam desain gambar Gereja diamksud. 
Bruder Agus, OFM selalu yang mendesain bangunan yang berperan sebagai pengawas dan perancangan pembangun yang telah mendesain gambar hadir memberikan beberapa hal termasuk mekanisme pembangun, yaitu :
Bruder Agus, OFM dalam rapat ini menyampaikan secara detail alur kegiatan dan kerja tim, yaitu :
Pertama; Kerja tim dimulai dengan saling koordinasi memberikan masukan baik di awal seperti hari ini makin pada setiap pekan untuk melakukan melihat progres sekaligus merencanakan kerja pada pekan berikutnya.
Kedua; Berkaitan hal teknis pembongkaran; kita akan melihat kekuatan finansial. Kita selalu mulai dari dana yang terkumpul setiap minggu atau progresnua sehingga target pekan berikut sesuaikan lagi dengan dana sehingga pembangunan akan berjalan lancar.
Ketiga; Pembangunan akan melalui 3 tahapan berlanjut. Ketiga tahap  tersebut yaitu (1) Pengerjaan Struktur, (2) Pengerjaan Rrtektur, dan (3) Pengerjaan Perlengkapan (Sarana dan prasarana)
Keempat; Pengerjaan ini kita target dalam  3 tahun kerja; sehingga besaran dana setiap tahun target minimal 800 juta-an, kalau lebih terkumpul maka selesai lebih cepat dari rencana.
Kelima; Teknis pengerjaan terdiri dari 2 bagian, terdiri dari, bagian utama yaitu pertama ; mengubah bagian depan (balkon) dengan desain 2 lantai. Hal ini menjadi target pertama karena bagian ini terpisah dengan bagian bangunan sehingga bagian bangunan masih bisa dimanfaatkan sebelum dibongkar. Kedua; Bagian belakang yang pembongkarannya mulai dari depan kemudian atap dan paling terakhir bagian sayap.  
Keenam; Dalam pembagian ini tengah kerja mengutamakan tenaga lokal dan partisipasi umat  dengan pengaturan kerja sehari akan diatur Panitia. Sedangkan tenaga tukang dari luar (Jawa) akan diatur sesuai perencanaan dan gambar.
Ketujuh; Setiap Minggu selalu ada hari kerja umum yang melibatkan umat dengan tetap dipandu oleh tukang utama 
Kedelapan; Kerja tim sangat dibutuhkan dalam pembangunan ini untuk selalu meminta masukan dari kita semua, di tengah perjalanan bisa saling memberi masukan untuk mempercepat progres.

Awal yang Kudus: Ekaristi sebagai Fondasi
Segala rencana besar manusia akan menemukan maknanya ketika diletakkan di bawah kaki Tuhan. Itulah mengapa, pembangunan ini tidak dimulai dengan dentuman palu, melainkan dengan keheningan doa. Selanjutnya dalam penentuan jadwal pengerjaan ditarget pengerjaan dimulai pada pada hari Senin, 02 Maret 2026 yang diawali perayaan Ekaristi Minggu 01 Maret 2026. Selamat kurun waktu sampai pada awal Maret segala urusan hal teknis akan diselesaikan oleh Panitia Pembangunan bersama para pengurus DKP, DKP dan Pastor Paroki.
Untuk memperkuat semua jadwal ini Pater Hendra, OFM mengajak panitia agar  semua dokumen sudah selesai sebelum tanggal 15 Februari.  Sehingga segala teknis segala akan segera selesai. 

Pesan Peneguhan dari Pater Hendra Menjadi Lentera bagi Kita Semua; 
Di akhir sesi Pater Hendra, OFM memberikan peneguhan, " Mari kita saling mendukung,m, dan kerja sama, kita sebagai perwakilan umat kita untuk berjalan bersama. Boleh berbeda pendapat namun apa yang menjadi kesepakatan itulah yang kita laksanakan. Berharap yang yang sudah direncanakan tetap dilaksanakan tetap saling mengingatkan satu sama lain, saling komunikasi agar segala informasinya bersumber dari kita sama sampai di umat. Rapat diakhiri dengan doandan berkat penutup oleh Pater Hendra, OFM.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Minggu, 01 Februari 2026

SAPAAN KASIH DI BAWAH LANGIT LARENG: KETIKA GEMBALA MERAJUT RINDU

P. Hendra, OFM saat memimpin perayaan Ekaristi perdana di Gereja San Damiano Stasi Lareng (Minggu, 01 Februari 2026)

Lareng-WARTAPAROKI_Ada rahasia Tuhan yang terselip di balik rintik hujan pagi ini. Minggu, 1 Februari 202, langit di atas Stasi Lareng mungkin tampak abu-abu, dan bumi didekap dingin yang menusuk. Namun, bagi umat di sini, cuaca hanyalah "undangan" untuk membuktikan seberapa besar cinta mereka kepada Sang Pencipta. Hari ini bukan sekadar hari Minggu biasa. Hari ini adalah sejarah yang terukir indah. Untuk pertama kalinya, Pater Hendra, OFM, melangkahkan kaki di tanah Lareng sebagai Pastor Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Sejak resmi bertugas pada 19 Januari lalu, inilah momen yang paling dinantikan; saat sang gembala menyapa domba-dombanya secara langsung dalam Ekaristi yang suci.

Iman yang Melampaui Gerimis
Gerimis hujan pagi sempat mencoba menghalangi langkah. Namun ini tidak membuat nyali umat pudar. Beberapa memang datang terlambat, napas mereka terengah, namun ada keharuan luar biasa saat melihat mereka tetap masuk ke dalam gereja dengan sikap rendah hati. Sebab mereka tahu, Tuhan tidak melihat jam kedatangan, Tuhan melihat kerinduan yang membawa mereka sampai ke sana.

Kehangatan dari Altar
Di depan altar, Pater Hendra, OFM menyambut mereka dengan senyum yang menenangkan; seperti semangat pelindung kita Santo Fransiskus Assisi, yang mencintai alam dan sesama dalam kesederhanaan. Dalam kunjungan perdana ini, kehadiran beliau seolah menjadi matahari yang menghangatkan dinginnya pagi di Lareng. Momen Ekaristi berlangsung begitu khidmat. Suasana yang agaknya dingin justru berubah menjadi melodi pengiring doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus. Di sinilah kita belajar; bahwa berkat Tuhan seringkali datang di tengah situasi yang tidak sempurna. “Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu biru, tapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya di setiap langkah, termasuk di tengah gerimis di pagi ini.” Ada kehangatan yang menjalar di tengah dinginnya pagi ini. Bukan sekadar karena perjumpaan fisik, melainkan karena sebuah sapaan hati. "Neka gereng susa itu po Kawe Morin, Mori campek..." (Jangan menunggu saat sulit baru mencari Tuhan, Tuhan tolong aku...).
Kalimat itu meluncur lembut dalam balutan bahasa Manggarai yang kental dari bibir Pater Hendra, OFM. Seketika, suasana Gereja yang dingin berubah menjadi akrab, seolah-olah ikatan persaudaraan antara sang Pastor Paroki baru dan umatnya ini telah dirajut sejak lama. Pater Hendra tidak datang sebagai orang asing; ia datang sebagai seorang saudara yang memahami detak jantung umatnya.

Belajar dari Kesederhanaan Korintus
Dalam homilinya, Pastor yang telah mengabdikan dirinya di tanah Kapuas Hulu, Kalimantan sejak tahun 2017 ini, membawa kita kembali ke masa Santu Paulus. Ia mengingatkan bahwa perjuangan hidup umat di Lareng tidak jauh berbeda dengan jemaat di Korintus; orang-orang sederhana yang penuh perjuangan. Pesan beliau sangat dalam, “Jangan biarkan dirimu berjuang sendirian. Hadirkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidupmu, libatkan Ia dalam setiap tantanganmu.”

Berjalan Bersama di Tahun Persekutuan Sinergis 2026
Menapak pada tahun Pastoral Persekutuan Sinergis, Pater Hendra menitipkan sebuah pesan persatuan yang sangat manusiawi. Beliau sadar, dalam sebuah keluarga besar, perbedaan pendapat dan kepentingan adalah hal yang lumrah. Namun, beliau menegaskan, "Kalau kita berbeda pendapat atau keinginan, tetaplah berjalan bersama dan bersatu untuk Gereja. Saat Gereja membutuhkan waktu, pikiran, dan tenaga kita, mari kita bersatu hati. Gereja bukan hanya bangunan fisik yang kita susun batunya, tapi Gereja adalah kita; persekutuan umat yang hidup."
Kunjungan perdana ini menjadi saksi bahwa meski raga mungkin lelah menembus cuaca yang tak bersahabat, jiwa tetap haus akan siraman rohani. Pater Hendra, OFM telah memulai langkah pertamanya stasi Lareng dengan cinta yang tulus.

Suara Umat, Doa untuk Sang Pastor
Mewakili seluruh hati umat Stasi Lareng, Bapak Simon Cabut berdiri dengan penuh takzim. Kata-katanya sederhana namun dalam, "Kami bersyukur hari ini karena mendapat kunjungan perdana dari Pastor Paroki Baru. Selamat datang, selamat berkunjung di Stasi Lareng Pater.....dan selamat berkarya di Paroki Tentang... ." Sebuah ucapan selamat datang yang lebih terdengar seperti doa, agar langkah Pater Hendra, OFM di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang selalu dalam lindungan-Nya.

Akar yang Kuat, Sayap yang Telah Terbang Jauh
Namun, suasana semakin menyentuh ketika Pater Hendra berdiri untuk memperkenalkan dirinya. Di balik jubah cokelat Fransiskan yang ia kenakan, terungkaplah sebuah kisah perjalanan iman yang luar biasa. "Nama saya Leonardus Hendradus, OFM," ujarnya memulai kisah. Ternyata, ia bukanlah orang asing. Ia adalah putra asli dari tanah ini; lahir dan besar di Pagal, dengan garis keturunan dari Kampung Pinggang. Ada rasa bangga sekaligus haru di mata umat; melihat seorang anak daerah yang kini kembali untuk menggembalakan sesamanya.

Delapan Tahun Menabur Benih di Tanah Kalimantan
Perjalanannya sebagai imam tidaklah singkat. Sejak ditahbiskan pada tahun 2017, delapan tahun lamanya ia menghabiskan waktu di Badau, Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat. Di sana, di garis depan misi yang penuh tantangan, ia belajar tentang kesetiaan, ketabahan, dan kasih yang tak bertepi.
Kini, setelah melanglang buana di tanah Borneo, Tuhan menuntun langkahnya kembali ke Manggarai. Ia membawa pengalaman, ia membawa kerendahan hati, dan ia membawa semangat Santu Fransiskus Assisi untuk melayani dengan sukacita.

Sebuah Harapan Baru
Perkenalan ini menjadi jembatan batin yang kuat. Umat tidak lagi melihatnya sebagai "Pastor baru", melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang telah kembali pulang membawa api iman. 
Di penghujung Ekaristi perdana yang penuh rahmat itu, ada suasana yang mendadak hening dan menyentuh kalbu. Pater Hendra, OFM, Sang Gembala yang baru saja menginjakkan kaki di paroki kita, berdiri dengan kerendahan hati yang luar biasa. "Mohon Doakan Saya..."
Bukan perintah yang ia berikan, melainkan sebuah permohonan tulus. Beliau mengajak kita semua; umat di Paroki, stasi, hingga di lingkup terkecil yaitu keluarga untuk berjalan bersama. Namun yang paling menggetarkan hati adalah saat beliau berkata, "Mohon doa untuk saya dan para imam agar tetap sehat dan kuat, serta mampu memberikan diri sepenuhnya dalam pelayanan sakramen dan karya pastoral di paroki kita." Kalimat ini menjadi pengingat bagi kita bahwa seorang Imam, meski ia adalah saluran rahmat Tuhan, tetaplah manusia yang membutuhkan topangan doa dari domba-dombanya. Kekuatan pelayanan mereka adalah buah dari lutut-lutut umat yang bertelut mendoakannya.

Ekaristi: Perjamuan Suci yang Utuh
Sebagai seorang Gembala yang mengasihi domba-domabnya, Pater Hendra juga menitipkan "catatan cinta" mengenai kedisplinan kita dalam merayakan Ekaristi. Beliau mengingatkan bahwa Misa bukanlah sekadar rutinitas yang bisa diikuti setengah-setengah. Ekaristi adalah sebuah kesatuan. Dari tanda salib pembuka hingga berkat penutup, semuanya adalah satu nafas ibadah. Beliau menjelaskan dengan penuh perhatian bahwa kehadiran umat sejak awal sangat menentukan persiapan teknis seperti jumlah hosti yang disiapkan; namun yang lebih utama adalah persiapan batin kita untuk menyambut Tuhan secara utuh.
Pesan Pater Hendra jelas; Kita sedang membangun Gereja yang bukan fisik tapi Gereja yang hidup dalam hati kita masing-masing. Mari kita jawab kerendahan hati beliau dengan kesetiaan. Setia mendoakan para Imam kita, dan setia hadir tepat waktu di hadirat Tuhan. Karena cinta yang sejati selalu ingin hadir lebih awal dan pulang paling akhir.
Terima kasih Pater Hendra, OFM. Kami siap berjalan bersamamu. Biarlah akar keberadaanmu di tanah ini dan pengalaman misimu di Kalimantan menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan yang lebih erat di Paroki Tentang.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Minggu, 25 Januari 2026

MELINTASI SAMUDRA, MERAJUT PERSAUDARAAN; Cahaya "Pax et Bonum di Lembah Tentang


P. Eryk, OFM saat berada di Paroki Tentang 

TENTANG-WARTAPAROKI_Di bawah naungan langit Ndoso yang teduh, sebuah kisah tentang kasih universal baru saja terukir. Bukan sekadar kunjungan biasa, kedatangan Pater Eryk Kapala, OFM dari tanah Jerman menuju Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang adalah sebuah ziarah hati; sebuah pembuktian bahwa bagi seorang Fransiskan, tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk sebuah persaudaraan.

Kehangatan Budaya, Pelukan Iman; Minggu, 25 Januari, menjadi hari dimana dua dunia bertemu dalam harmoni. Pater Eryk disambut dengan ritus adat Manggarai yang sarat makna: "Curu, Reis, dan Kapu". Dalam balutan tradisi, terpancar penghormatan yang melampaui kata-kata. Di sana, iman Katolik dan kearifan lokal berpadu indah, menyambut sang saudara sebagai bagian dari keluarga besar Lembah Tentang. Kehadiran komunitas Biara Santu Antonius Padua, para Suster SFSC, Ketua DPP, serta dekapan hangat dari Pastor Paroki, Pater Hendra, OFM dan Pater Hendrik, OFM, menciptakan atmosfer surgawi yang begitu kental. Puncak dari segala syukur itu pecah dalam keheningan yang agung saat Pater Eryk merayakan Ekaristi Kudus bersama umat. Di altar yang sama, meski bahasa berbeda, mereka bicara dalam satu bahasa yang sama: Kasih Kristus.

Jejak Ekopastoral: Merawat Ibu Bumi; Pater Eryk tidak hanya membawa raga, tetapi juga membawa visi besar Santo Fransiskus Assisi tentang menjaga semesta. Sebagai sosok di balik dukungan pembangunan Karya Ekopastoral di Paroki Tentang, ia hadir untuk melihat langsung bagaimana benih-benih kebaikan tumbuh. Dari rimbunnya tanaman di lahan Ekopastoral hingga tawa anak-anak di persekolahan dan asrama, Pater Eryk menyaksikan sebuah pelayanan yang hidup. Baginya, setiap jengkal tanah dan setiap senyum siswa adalah wujud nyata dari "Laudato Si" Pujian bagi Sang Pencipta melalui pemeliharaan ciptaan-Nya.

Perjumpaan yang Menghidupkan Jiwa; Sukacita semakin meluap ketika Pater Eryk duduk melingkar bersama kelompok kategorial: Kelompok Devosi Kerahiman Ilahi, OFS (Ordo Fransiskan Sekular), dan Legion Maria. Dalam dialog yang penuh kekeluargaan, terjadi pertukaran energi iman. Ada sharing tentang karya, perutusan, dan bagaimana menjadi saksi Allah di tengah tantangan zaman. Kunjungan ini meninggalkan pesan mendalam bagi kita semua: bahwa Gereja adalah satu tubuh. Jerman dan Tentang mungkin dipisahkan oleh ribuan mil, namun dalam semangat Pax et Bonum (Damai dan Kebaikan), mereka adalah saudara yang berjalan beriringan. "Persaudaraan sejati tidak diukur dari kedekatan geografis, melainkan dari ketulusan hati untuk melayani dan berbagi beban bersama." Semoga api semangat yang dibawa Pater Eryk Kapala, OFM terus menyala di hati umat Paroki Tentang, menginspirasi kita semua untuk terus merawat persaudaraan dan melestarikan alam ciptaan-Nya.

Pax et Bonum!

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Kamis, 22 Januari 2026

MENGAWALI TAHUN PERSEKUTUAN SINERGIS; DPP/DKP Santu Fransiskus Assisi Tentang Mengadakan Rapat Pra-Pleno

 

Pastor Hendra, OFM bersama pengurus DPP/DKP saat rapat pra-pleno (Kamis, 22 Januari 2016)

TENTANG-WARTAPAROKI_Kamis, 22 Januari 2026 bertempat di ruangan sayap Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi, berlangsung Rapat Pra Pleno Paroki yang dihari oleh Para pengurus DPP/DKP, Panitia Pembangunan Gereja Paroki Tentang, Frater bersama Pastor Paroki Pater Hendra, OFM, Vikaris Paroki Pater Hendrik, OFM dan Frater Hendra, OFM. Ada tiga agenda yang dibahas, yaitu Evaluasi program tahun Pastoral Tata Kelola Partisipatif 2025; Penyusunan program tahun Pastoral Persekutuan Sinergis 2026; dan Persiapan pembangun Gereja Paroki Tentang. Bapak Falentinus Jempo selaku Ketua DPP memimpin alur pembahasan agenda yang diawali dengan doa pembuka oleh Frater Andre, OFM. Setelah Doa pembuka , Pater Hendra selalu Pastor Paroki, dalam kata pengantarnya menyampaikan beberapa hal agar pembahasan agenda dapat berjalan lancar dan memastikan pelaksanaan program yang disusun bisa dilaksanakan. "Sebagai Pastor Paroki saya yakin sudah banyak program yang dimulai dan dikembangkan, oleh karena itu saya berharap untuk kita belajar bersama, perlu banyak diskusi dan komunikasi untuk melanjutkan segala program yang sudah baik. Selain itu sesuai arah tahun Pastoral Persekutuan Sinergis 2026; kita diajak untuk saling diskusi secara terbuka, melibatkan diri dalam program yang kita rencanakan", ungkapnya. 

Dalam sesi evaluasi program Bapak Falentinus Jempo memandu mengevalusi keterlaksanaan program tahun 2025. Peserta rapat memberikan masukan dan evaluasi tentang  gambar kegiatan yang sudah dilaksanakan serta yang belum maksimal bahkan yang belum sempat laksanakan. Secara umum program kegiatan telah dijalankan sesuai harapan. Walaupun disadari bahwa masih ada beberapa program yang belum dicapai secara maksimal, misalnya "Gerakan Jumat Tobat dengan menyediakan waktu pengakuan dosa setiap Jumat belum maksimal. Hal demikian dari aspek respon umat yang terlibat dalam memanfaatkan moment yang telah disediakan ini. Kegiatan ini sudah disosialisaikan namun respon umat untuk bisa memanfaatkan kesempatan masih minim. Gerakan 1 (satu) keluarga 1 (satu) kitab suci belum sampai maksimal. Hanya beberapa keluarga yang memiliki kitab suci sementara beberapa keluarga lainnya hanya menunggu moment Penerimaan sakramen komunikasi bari menyiapkannya. Selain itu program "Kegiatan Lomba Sekolah Hijau" dan KBG Sehat" belum dilaksanakan di tahun 2025 sehingga piala bergilir kejuaraan tahun 2024 masih menetap di sekolah dan KBG yang juara. Selain evaluasi program, Bendahara DKP  Bapak Frederikus Peher menyampaikan laporan keuangan tahun 2025 yang masih belum mencapai target. Aik tingkat Paroki maupun tingkat Stasi yang masih belum maksimal. Inilah yang menjadi harapan dan pekerjaan rumah bagi para pengurus di tahun 2026.

Agenda kedua yaitu penyusun program. Setelah evaluasi, dilanjutkan agenda penyusunan program tahun 2025. Perencanaan program dimulai dari penentuan jadwal "Launching Tahun Pastoral Persekutuan Sinergis 2026 dan Rapat Pleno yaitu pada hari Minggu, 15 Februari 2026. Pleno dan Launching direncanakan menghadirkan seluruh ketua dan pengurus inti stasi serta undangan lainnya. Dalam pleno ini akan diagendakan juga rapat persiapan Paskah Tahun 2026. Agenda ketiga, yaitu pembangunan/renovasi Gereja yang dipimpin oleh ketua Pelaksana Pembangunan Bapak Andreas Korsini Nakung. Rapat memutuskan bahwa tahun 2026 ini agenda renovasi sudah dieksekusi. Beberapa hal yang direvisi berkaitan dengan struktur kepanitiaan dengan meminta kesediaan dan kerelaan anggota Diaspora Tentang yang berada di luar paroki Tentang dimasukan dalam keanggotaan panitia. Rapat lebih spesifik berkaitan dengan alur, penyusunan jadwal kegiatan renovasi serta penetapan kontribusi pembangun di tahun 2026 akan dilaksanakan pada hari Minggu, 1 Februari 2026 sebagai rapat panitia pembangunan Gereja pada pukul 09.00 WITA sesudah misa.

Dalam sesi penutup, P. Hendra, OFM mengajak para peserta rapat  agar tetap saling bekerja sama dan diskusi bersama. "Kita berusaha untuk menggerakkan seluruh kemampuan untuk menyukseskan pembangunan gereja. Tetap kita berjalan bersama. Kita kerja keras lagi dengan hal yang sudah kita rancang, kita memberi keyakinan kepada umat bahwa merenovasi Gereja ini menjadi cita-cita bersama." ungkapnya. Tak kalah juga dalam sesi Pater Hendra, OFM mempertegas lagi masukan dari peserta rapat bahwa agar seluruh dokumentasi kegiatan pastoral dan dokumentasi lainnya bisa diinput dalam media blog komsos Paroki yang sudah dibuat agar bisa terus  diwartakan. Pastor Hendra, OFM menutup seluruh rangkaian rapat dengan memberikan penenguhan melalui sebuah motivasi untuk saling mengingatkan bahwa, "Kita boleh silang pendapat di ruangan rapat, namun keluarnya kita satu suara terhadap hal yang sudah kita putuskan bersama." Di akhir sesi dalam kata penutupnya Bapak Falentinus Jempo selaku Ketua DPP mengucapkan terima kasih atas kehadiran dari peserta rapat kehadiran walaupun cuaca kurang baik dan tetap mengharapkan kehadiran peserta dalam rapat-rapat selanjutnya sesuai agenda. Rangkaian rapat diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin Fr. Andre, OFM dilanjutkan berkat penutup oleh Pater Hendrik, OFM.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)





Senin, 19 Januari 2026

𝙋𝙀𝙇𝙐𝙆𝘼𝙉 𝘿𝙐𝘼 𝙎𝘼𝙐𝘿𝘼𝙍𝘼; 𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙀𝙨𝙩𝙖𝙛𝙚𝙩 𝙆𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙈𝙚𝙣𝙞𝙩𝙞𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠

Pater Andre memeluk erat  Pater Hendra Sebelum Keberangkatan Ke Kalimatan (Senin, 19 Januari 2026)

TENTANG-WARTAPAROKI_Di antara isak tangis umat yang memecah pagi, ada satu pemandangan yang mendadak membuat waktu seolah berhenti berputar. Di halaman Pastoran Paroki Santu Fransiskus Assisi, dua pria dengan gaya kesederhaan berdiri berhadapan. Mereka bukan sekadar rekan sejawat; mereka adalah saudara sehina-dina (OFM) yang sedang menuliskan babak baru dalam sejarah iman umat Tentang.

𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗣𝗲𝗹𝘂𝗸𝗮𝗻, 𝗦𝗲𝗷𝘂𝘁𝗮 𝗠𝗮𝗸𝗻𝗮; Saat Pater Andre melangkah mendekati Pater Hendra, tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk mewakili rasa haru yang membuncah. Keduanya kemudian berpelukan; sebuah pelukan yang begitu erat, begitu lama, dan begitu dalam. 𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙙𝙖𝙧 𝙥𝙚𝙧𝙥𝙞𝙨𝙖𝙝𝙖𝙣. Kita melihat Pater Andre, sang gembala yang akan pergi, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu saudaranya, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya. Dari raut wajahnya yang teduh meski dibasahi air mata, terpancar sebuah pesan tanpa suara kepada Pater Hendra: "𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘬𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘶𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘪. 𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘭 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘛𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."

𝗦𝗲𝗻𝘆𝘂𝗺 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗞𝗲𝘁𝗮𝗮𝘁𝗮𝗻; Pelukan itu akhirnya terlepas, berganti dengan jabat tangan yang mantap. Mata mereka bertemu. Di sana, ada binar kesedihan karena harus berpisah, namun ada sinar keteguhan yang jauh lebih terang; itulah Ketaatan Fransiskan. 𝘽𝙖𝙜𝙞 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖 𝙁𝙧𝙖𝙣𝙨𝙞𝙨𝙠𝙪𝙨, 𝙠𝙚𝙩𝙖𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙠𝙨𝙖𝙖𝙣, melainkan tentang penyerahan diri total pada kehendak Tuhan. Meski hati ingin menetap, namun panggilan misi memanggil untuk melangkah. Pater Hendra membalas senyuman itu dengan kehangatan yang tak kalah murni. Lewat sorot matanya yang tenang, ia seolah menjawab keraguan saudaranya dengan janji setia: "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵𝘪𝘳, 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪, 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘮, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘪𝘳𝘢𝘮𝘪 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘮𝘱𝘢𝘩."

𝗪𝗮𝗷𝗮𝗵 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮, 𝗛𝗮𝘁𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗺𝗮; Umat yang menyaksikan momen itu terdiam dalam keharuan yang menyayat. Mereka sadar bahwa meski sosok yang berdiri di depan mereka kini berganti wajah, esensi pelayanannya tetaplah satu. Pater Andre dan Pater Hendra adalah dua pribadi yang berbeda, namun di dalam pembuluh darah mereka mengalir semangat yang sama: semangat kemiskinan, kerendahan hati, dan persaudaraan sejati. 𝑺𝒂𝒕𝒖 𝒋𝒖𝒃𝒂𝒉 𝒄𝒐𝒌𝒆𝒍𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒊𝒎𝒃𝒐𝒍 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒚𝒂𝒏𝒂𝒏 di Paroki Tentang tidak akan pernah terputus. Karya itu adalah milik Kristus, dan kedua imam ini hanyalah alat kecil di tangan-Nya.

𝗘𝘀𝘁𝗮𝗳𝗲𝘁 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗣𝘂𝘁𝘂𝘀; Saat tangan mereka saling menggenggam erat untuk terakhir kalinya sebelum mobil berangkat, ada sebuah harmoni yang tercipta. Pater Andre membawa pergi kenangan indah, dan Pater Hendra membawa datang harapan baru. Persaudaraan mereka membuktikan bahwa dalam Tuhan, tidak ada perpisahan yang benar-benar memisahkan, yang ada hanyalah penugasan di ladang yang berbeda. Selamat bertugas, Pater Hendra, sang Gembala Baru. Selamat melayani di tempat baru, Pater Andre. Di bawah langit Tentang yang sama, doa kami akan selalu menyatukan kalian berdua dalam satu ikatan kasih yang abadi.

*Frengky Jamento (KOMSOS PSFAT)

Minggu, 18 Januari 2026

KETIKA JUBAH COKELAT BERPAMITAN PADA HATI YANG MENCINTAI

Penandatangan dokumen Serah Terima
Penugasan Pastor Paroki Tentang (Tentang, 18 Januari 2026)

TENTANG-WARTAPAROKI_Pagi ini Minggu, 18 Januari 2026 lonceng Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang berdentang tidak seperti biasanya. Suaranya seolah membawa getaran yang menyentuh kalbu setiap umat yang melangkah masuk. Di balik jubah-jubah cokelat yang sederhana, tersimpan sebuah narasi besar tentang ketaatan, pengabdian, dan sebuah perpisahan yang menyesakkan dada namun penuh rahmat. Hari ini bukan sekadar hari Minggu biasa melainkan sebuah hari sebagai saksi bisu sebuah "Estafet Kasih". Di atas altar suci, dua jiwa terpanggil sedang berdiri di persimpangan jalan: Pater Wilibrodus Andreas Bisa, OFM yang akrab disapa Pater Andre bersiap memberikan tongkat penggembalaannya, sementara Pater Leonardus Hendradus, OFM (Pater Hendra) bersiap memikul beban suci itu di pundaknya.

Mezbah Terakhir Sang Gembala ke-18

Suasana di dalam gereja begitu hening saat RD. Didimus A. Mbembo memulai Perayaan Ekaristi. Di barisan umat, mata-mata mulai berkaca-kaca melihat sosok Pater Andre. Ini adalah kali terakhir beliau berdiri di sana sebagai Pastor Paroki gembala ke-18 yang telah memahat namanya di dinding hati umat Tentang. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Di setiap sudut paroki ini, ada jejak kaki Pater Andre; ada bisikan doanya di telinga orang sakit, ada tawa renyahnya bersama anak-anak, dan ada tetesan keringatnya saat membangun iman umat. Kini, ia harus pergi. Bukan karena ia tak lagi cinta, tapi karena "Ketaatan Fransiskan" memanggilnya untuk menabur benih di ladang Tuhan yang lain. Keharuan semakin memuncak dengan kehadiran para imam: Pater Patris (Gardian OFM Labuan Bajo), RD. Robert (pastor paroki Waning) RD. Edy (pastor paroki Wajur) RD. Lorens (pastor paroki Ranggu), dan Pater Hendrik, OFM. Kehadiran mereka seolah menjadi pagar doa yang menguatkan. Mereka hadir untuk menyaksikan bagaimana seorang saudara melepaskan miliknya demi sebuah misi yang lebih besar. Saat prosesi serah terima berlangsung, suasana berubah menjadi begitu khidmat. Pater Hendra, OFM melangkah maju dengan wajah penuh keteguhan namun rendah hati. Ini adalah Ekaristi perdananya sebagai gembala baru. Di tangannya kini diletakkan harapan ribuan umat. Ada beban, ada syukur, dan ada tanggung jawab yang besar untuk melanjutkan warisan kasih yang ditinggalkan pendahulunya. Hari ini, langit Tentang seolah ikut tersenyum dalam haru. Sebuah estafet pelayanan telah terjadi, dan Tuhan tersenyum melihat anak-anak-Nya saling mengasihi dalam tugas perutusan yang suci. RD. Didimus A. Mbembo, sang Vikep Pacar, berdiri dengan wibawa yang lembut. Suaranya memecah keheningan, membawa pesan dari masa ribuan tahun lalu ke dalam realitas hari ini. Beliau mengajak umat menyelami hati Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis. "Kita belajar dari Nabi Yesaya," ucap Romo Didi lirih namun bertenaga. "Ia berani bukan karena ia kuat, tapi karena ia yakin ada Tuhan di balik setiap langkahnya", lanjutnya. Selain itu juga Romo Dedi, mengajak umat untuk bersyukur karena kita juga ditunjuk oleh Tuhan untuk mewartakan keselamatan sebab tugas perutusan bukan hanya untuk imam tetapi juga kepada umat telah diberikan tugas perutusan dengan segala kekuatan dan talenta. Bahwa setiap talenta yang kita miliki adalah pinjaman suci untuk mewartakan keselamatan. Namun, saat ia menyebut nama Yohanes Pembaptis, sesuai Injil yang diperdengarkan keheningan semakin mencekam. "Yohanes tahu siapa dirinya. Ia sadar ia hanyalah suara yang mempersiapkan jalan bagi Sang Juru Selamat, ungkap Romo Dedi. Pesan itu seolah menjadi pengingat bagi setiap pelayan Tuhan: bahwa pada akhirnya, kita semua akan pergi, dan hanya Kristuslah yang harus tetap tinggal di hati umat.

Pena yang Bergetar dan Tongkat yang Berpindah;

Puncak keharuan menyelimuti gereja saat Pater Patris, OFM, melangkah maju. Lembaran kertas di tangannya bukan sekadar surat keputusan (SK) dari Yang Mulia Uskup Labuan Bajo; lembaran itu adalah saksi dari sebuah perpisahan dan awal yang baru. Dengan suara yang begitu berat Pater Patris membacakan surat keputusan Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus tentang pembebasan tugas bagi Pater Andre, OFM sebagai Pastor Paroki dan Penugasan sebagai Pastor Paroki bagi Pater Hendra, OFM. Saat nama Pater Andre, OFM dibacakan untuk dibebastugaskan, ada isak kecil yang tertahan di barisan umat. Bertahun-tahun lamanya, tangan itulah yang memberkati anak-anak mereka, telinga itulah yang mendengarkan keluh kesah mereka, dan hati itulah yang menjadi rumah bagi duka mereka. Kini, tugas itu telah usai. Lalu, nama Pater Hendra, OFM menggema sebagai gembala yang baru, didampingi oleh Pater Hendrik, OFM yang akan berperan sebagai vikaris paroki. Momentum yang paling menyayat hati adalah saat penandatanganan berita acara. Suara gesekan pena di atas kertas terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang kudus. Setiap goresan tinta adalah simbol pelepasan beban dari pundak yang satu ke pundak yang lain. Pater Andre menyerahkan domba-dombanya dengan cinta, dan Pater Hendra menerimanya dengan ketaatan yang tulus.

Menuju Persekutuan Sinergis 2026

Di tengah tetesan air mata umat yang kehilangan dan harapan yang baru tumbuh, Romo Didimus menitipkan pesan terakhir untuk Tahun Pastoral 2026. Ia mengajak semua orang untuk tidak hanya terpaku pada duka perpisahan, tetapi menemukan "keunggulan diri". "Dalam persekutuan sinergis ini, carilah apa yang terbaik dalam dirimu untuk masa depan Gereja dan Paroki kita," pesannya. Gereja Tentang hari itu menjadi saksi: bahwa di dalam Tuhan, tidak ada perpisahan yang abadi. Yang ada hanyalah estafet kasih. Para pengabdi datang dan pergi, namun kasih Tuhan tetap tinggal, dipahat dalam administrasi yang tertib dan doa yang tak kunjung putus. Dalam sambutannya Bapak Falentinus Jempo selaku Ketua DPP, berdiri di mimbar dengan suara yang sesekali bergetar. Matanya menatap Pater Andre, OFM; sosok gembala yang selama ini tak hanya berkhotbah di atas mimbar, tetapi juga hadir bersama umat di setiap kampung, bekerja bersama kelompok tani demi pemberdayaan ekonomi umat (UMKM) dan menggerakkan kegiatan konservasi alam melalui gerakan Ekopastoral. "Terima kasih, Pater," bisiknya lirih, namun gema syukurnya menembus kalbu setiap orang yang hadir. "Terima kasih telah menghidupi semangat Santo Fransiskus Asisi di tanah kami. Pater tidak hanya melayani jiwa kami, tapi Pater juga mencintai alam kami dan peduli dengan kaum kecil dan sederhana." ungkapnya dengan penuh haru. Suasana semakin hening saat permohonan maaf terucap. Sebuah pengakuan jujur bahwa dalam interaksi manusiawi, ada luka-luka kecil yang mungkin tertinggal. Namun, semua itu seolah luruh oleh satu kalimat dalam bahasa Manggarai yang menyayat hati, sebuah doa yang melampaui jarak ribuan kilometer: "Dasor wekin koe ite lau Kalimantan nai manga kin agu ami ce Tentang." (Semoga raga saja yang berada di Kalimantan, namun hati tetaplah ada bersama kami di Tentang)", pesannya kepada Pater Andre. Kalimat itu jatuh seperti rintik hujan di musim kemarau. Beberapa umat nampak meneteskan air mata saat sebuah kehilangan yang nyata, namun ada pula kepasrahan religius bahwa seorang imam adalah milik Gereja, seorang utusan yang harus siap melangkah ke mana pun Roh Kudus berhembus kali ini, menuju Keuskupan Banjarmasin. Namun, di balik duka perpisahan, Gereja tetap mengajarkan tentang harapan. Kedatangan Pater Hendra, OFM dan Pater Hendrik, OFM disambut dengan tangan terbuka. Seperti sebuah tenunan, saat satu benang mencapai ujungnya, benang baru akan masuk untuk melanjutkan pola kebersamaan yang telah dirajut dengan penuh cinta. Momen puncak yang menguras air mata terjadi saat Bapak Martinus Mboe, selaku Ketua DKP, melangkah maju. Tangannya gemetar saat memegang bingkisan sederhana sebuah tanda cinta yang tak akan mampu menandingi besarnya pengabdian Pater Andre. Dengan suara parau yang nyaris pecah, ia menyampaikan kata-kata perutusan. Bingkisan itu bukan sekadar benda, melainkan sepotong hati dari umat Paroki Tentang yang dititipkan untuk menemani perjalanan Pater Andre di tanah Borneo. Pater Andre pergi membawa tas yang mungkin ringan, namun ia meninggalkan jejak yang teramat dalam di rahim tanah Tentang. Benarlah apa yang dikatakan, bahwa seorang gembala yang baik tidak akan pernah benar-benar pergi; ia hanya sedang memperluas kandangnya, sementara namanya tetap abadi dalam setiap selipan doa umat yang pernah dicintainya.

Mimbar yang Menjadi Saksi Air Mata; Ketika Sang Gembala Berpamitan

Suasana di dalam Gereja semakin terasa lebih berat dari biasanya. Udara seolah membeku, tertahan oleh sesak di dada ratusan umat yang hadir. Saat di mimbar, berdiri seorang pria bersahaja dengan jubah cokelat khas Fransiskan. Ia adalah Pater Andre, OFM untuk berpamitan di hadapan dombanya. Biasanya, suaranya tenang dan menguatkan. Namun kali ini, saat ia berdiri di balik mimbar untuk menyampaikan kata perpisahan, keheningan yang mencekam pecah oleh getaran suara yang tak mampu lagi ia bendung dan tetesan airmata terlihat jelas dari tempat duduk umatnya. "Terima kasih... telah menjadi guru, sahabat, kakak, adik, dan orang tua bagi saya," ucap Pater Andre dengan suara terbata-bata dan tetesan air mata. Butiran air mata jatuh tanpa permisi, membasahi kayu mimbar yang selama ini menjadi saksi bisu khotbah-khotbahnya yang menghidupkan jiwa. Di kursi-kursi umat, isak tangis mulai terdengar. Tidak ada yang mampu menahan lara melihat sang gembala, yang biasanya tegar, kini tersedu dalam ketulusan yang paling dalam, terlihat tak berdaya namun ia tetap berusaha untuk tegar dan tersenyum walau terasa sungguh sangat berat. Bagi Pater Andre, Paroki Tentang bukan sekadar tempat tugas. Di sini, ia belajar menjadi seorang Fransiskan sejati. Ia mengenang kembali kata-kata Santu Fransiskus dari Assisi: bahwa orang-orang kecil dan miskin adalah guru yang sesungguhya. Di wajah-wajah petani, di tangan-tangan lelah umatnya, ia melihat wajah Kristus. "Kalian sudah membentuk saya dan Saudara Edo menjadi benar-benar seorang Fransiskan. Perpisahan ini adalah wujud ketaatan kami," bisiknya di tengah tangis.

Warisan Cinta yang Tertinggal

Pater Andre tidak pergi dengan tangan kosong. Ia meninggalkan jejak-jejak iman yang nyata. Ia mengingatkan umat untuk menjaga Gua-Gua Maria di setiap kampung; sarana mereka berbisik kepada Bunda Tuhan. Ia juga menitipkan Rumah Ekonomi Kreatif (UMKM) dan Kelompok Tani (Poktan) yang telah ia rintis dengan kasih. Bagi Pater Andre, melayani Tuhan berarti juga memastikan umatnya bisa makan dan berdaya. Ia ingin semangat orang muda tetap menyala, menjadi motor penggerak gereja yang hidup. "Kalimantan dan Tentang itu tidak jauh," ujarnya berusaha memberikan senyum di balik mata yang sembab. "Media sosial akan mendekatkan kita, tapi yang lebih utama, doa akan menyatukan kita di hadapan Sang Gembala Baik." ungkapnya untuk memberikan kekuatan. Di penghujung sambutannya, Pater Andre memberikan pesan yang sangat menyentuh hati. Ia tahu bahwa akan ada penggantinya, dan ia ingin umatnya mencintai gembala baru itu sebesar mereka mencintainya. "Jangan membeda-bedakan kami para Imam. Setiap orang ada zamannya, dan setiap zaman ada orangnya. Kami semua berbeda, namun tujuannya satu: melayani kalian", pesannya dengan nada lembut. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang gemetar, ia menutup dengan kalimat yang meruntuhkan pertahanan hati siapa pun yang mendengarnya, "Sebagai manusia yang tidak sempurna, saya mohon maaf untuk segala yang melukai hati... semuanya, mohon dimaafkan." Hari itu, Paroki Tentang tidak hanya melepas seorang imam. Mereka melepas sebagian dari hati mereka. Pater Andre pergi menuju tanah Kalimantan, namun jubah cokelatnya, tawanya, dan air matanya akan selamanya menetap dalam setiap doa yang dipanjatkan di Gua Maria dan setiap butir peluh umat di Tentang. Keheningan pecah saat seorang pria berjubah cokelat khas Fransiskan berdiri. Ia adalah Pater Hendra, OFM. Suaranya rendah namun bergetar dengan ketulusan yang murni. "Saya berasal dari Paroki Pagal, dan sebelumnya saya melayani di tanah Kalimantan Barat," ucapnya mengawali kenangan. Bayangan akan perjalanan jauh dari hutan Kalimantan menuju tanah Manggarai terpancar di matanya. Ia tidak datang membawa kemegahan, ia datang membawa kerinduan untuk melayani. Dengan suara yang nyaris tertahan karena haru, ia memandang umatnya; domba-domba baru yang kini menjadi bagian dari hidupnya. "Terima kasih telah menerima saya. Di tahun Persekutuan Sinergis ini, saya mengajak kita semua, Ase Kae, (adik kakak)  untuk berjalan bersama. Mari kita lanjutkan apa yang telah ditanam dengan air mata dan keringat oleh Pater Andre dan Pater Edo. Jangan biarkan karya itu berhenti. Mari kita saling mendoakan, saling menguatkan", ungkapnya dengan penuh keyakinan. Mendengar nama Pater Andre dan Pater Edo disebut, beberapa ibu di barisan depan mulai menyeka air mata. Mereka teringat bagaimana kedua imam itu telah menyentuh tanah mereka, memberdayakan ekonomi mereka, dan mencintai jiwa mereka.

Jejak Cinta yang Takkan Terhapus

Suasana semakin syahdu saat RD Didimus A. Mbembo, sang Vikep Pacar, berdiri memberikan pesannya. Suaranya merasuk kalbu, mengingatkan semua orang bahwa gereja bukan sekadar bangunan batu, melainkan kumpulan cinta yang nyata. "Terima kasih atas segala bentuk kebaikan dan cinta yang telah umat berikan kepada para imam, bruder, dan suster Fransiskan di sini," ungkap Romo Dedi dengan nada yang dalam. Ia berhenti sejenak, memandang ke umat yang kini senang sedih. Ia mengingatkan betapa Pater Andre dan Pater Edo telah memberikan hidup mereka untuk paroki ini bukan hanya melalui mimbar, tapi melalui tanah-tanah pertanian, melalui unit-unit UMKM, dan melalui sapaan hangat di setiap rumah. "Apa yang unik di sini, mulai dari ekopastoral hingga kelompok tani, adalah persembahan nyata untuk kemuliaan Tuhan. Pertahankanlah itu, kembangkanlah itu," pesannya yang terasa seperti wasiat suci. Di akhir narasinya, Romo Dedi menyentuh relung terdalam identitas mereka sebagai orang Manggarai. Ia mengingatkan tentang "Bantang Cama"; sebuah warisan leluhur untuk selalu berkumpul, berembuk, dan bersatu. "Dalam budaya kita, kita selalu Bantang Cama. Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama dalam iman. "Mari kita berkolaborasi dengan siapa saja, memperkuat tali persaudaraan ini. Selamat datang, Pater Hendra dan Pater Hendrik. Kami bersyukur kalian ada di sini", ungkap Romo Dedi.

Penutup: Sebuah Doa yang Tak Berucap

Ketika lilin-lilin mulai meredup di akhir perayaan, ada rasa syukur yang membuncah. Umat menyadari bahwa imam bisa datang dan pergi, namun cinta Tuhan tetap tinggal di tanah Tentang. Pater Hendra kini berdiri di sana, siap untuk menjadi bapak, kakak, dan sahabat bagi mereka. Di bawah naungan langit Tentang, sebuah babak baru dimulai. Bukan tentang siapa yang memimpin, tapi tentang bagaimana mereka semua; imam dan umat berjalan bersama menuju kebahagiaan kekal. Air mata yang jatuh selain ungkapan kesedihan, namun kita yakin air mata juga wujud kelegaan dan harapan sama bahwa di tangan gembala yang baru, Tuhan tetap menyertai langkah umat paroki Tentang.  Selamat menuju tempat baru, terima kasih Pater Andre. Isak tangis mulai terdengar pelan di antara bangku-bangku gereja saat para saudara Fransiskan menumpangkan tangan ke arah Pater Andre yang berlutut di hadapan mereka untuk memohon doa restu dan perutusannya ke tanah Misi. Umat paroki Tentang sadar, setelah hari ini, mereka tak lagi melihat senyum Pater Andre di pastoran. Mereka kehilangan seorang ayah, seorang guru, dan seorang sahabat yang selama ini menjadi jembatan mereka menuju Tuhan. Namun, di balik air mata yang jatuh, ada sebuah kesadaran religius yang mendalam: Bahwa imam boleh berganti, namun Sang Imam Agung, Yesus Kristus, tetap tinggal. Pater Andre pergi meninggalkan cinta yang sudah matang, dan Pater Hendra datang membawa harapan yang baru bersemi. Keduanya adalah "Saudara Dina" yang taat pada suara Tuhan di atas keinginan pribadi. Ekaristi berakhir, namun sejarah baru baru saja dimulai. Di bawah naungan Santu Fransiskus Assisi, Paroki Tentang hari ini mengajarkan pada kita semua: bahwa mencintai berarti berani merelakan, dan melayani berarti siap diutus ke mana saja. Selamat bertugas, Pater Andre. Doa kami menyertai setiap langkah kakimu di tempat baru. Dan selamat datang, Pater Hendra. Di sini, di hati umat Tentang, engkau akan menemukan rumah dan keluarga baru yang siap berjalan bersamamu menuju Yerusalem Baru.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)