TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

https://drive.google.com/file/d/1Jgtp6biGAJps4uGnjR7evJkWMekPSzHw/view?usp=drive_link

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 16 Januari 2026

“Mori Sembeng”: Menakar Ketulusan Pelayanan Melalui Transparansi Keuangan di Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang

Moment Penyambutan dan Kegiatan Audit
Oleh Romo Ekonom

TENTANG-WARTAPAROKI–Gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan persekutuan umat yang hidup dalam iman dan kemandirian. Prinsip inilah yang terpancar nyata di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Keuskupan Labuan Bajo, saat menggelar agenda Audit dan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Keuangan Paroki pada Rabu (14/1/2026). Momen ini bukan sekadar urusan angka dan administrasi, melainkan sebuah "Momen Berahmat" untuk menakar sejauh mana kejujuran dan ketulusan hati dalam mengelola persembahan umat bagi kemuliaan Tuhan.

Hangatnya Persaudaraan dalam Tradisi Reis dan Kapu-Langkah kaki Romo Martinus Wiliam, Ekonom Keuskupan Labuan Bajo, disambut dengan penuh hangat di pelataran ruang tamu pastoran. Sebelum memasuki ruang audit, suasana kekeluargaan menyeruak melalui ritual adat Reis dan Kapu. Sambutan hangat ini menjadi simbol bahwa tugas audit adalah bagian dari kunjungan kasih seorang saudara, sekaligus bentuk penghormatan terhadap tata krama budaya Manggarai. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Laporan Pertanggungjawaban Keuangan oleh Bendahara Paroki, Frederikus Peher. Proses ini disaksikan langsung oleh Wakil Ketua DPP Paroki Tentang, Saudara Andreas Korsini Nakung, serta Pastor Hendrik, OFM.

Transparansi sebagai Tanggung Jawab Iman-Dalam semangat Santo Fransiskus Assisi yang mencintai kesederhanaan, pengelolaan harta materiil gereja di Paroki Tentang ditempatkan sebagai bentuk tanggung jawab iman. Audit ini menjadi cermin kemandirian umat dalam menghidupi gereja secara fisik maupun pastoral. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana persaudaraan yang kental ini membuahkan hasil yang membanggakan. Berdasarkan evaluasi auditor, Tata Kelola Keuangan Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang dinyatakan meraih “Predikat Baik”. Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa Dewan Pastoral Paroki (DPP) telah bekerja secara transparan, akuntabel, dan penuh integritas dalam mengawal setiap rupiah yang dititipkan oleh umat.

"Mori Sembeng": Doa dan Harapan di Balik Pelayanan-Pastor Paroki Tentang, Pater Andre, OFM, tidak dapat menyembunyikan rasa syukur dan apresiasinya. Beliau menyampaikan terima kasih yang berlimpah kepada seluruh jajaran DPP yang telah mendedikasikan waktu dan tenaga untuk menjaga amanah keuangan gereja. “Kunjungan Romo Ekonom adalah pengingat bagi kita semua betapa krusialnya transparansi dalam keuangan Gereja. Harta gereja adalah milik Tuhan yang dikelola untuk kepentingan umat-Nya,” ungkap Pater Andre. Di akhir sesi yang penuh berkat tersebut, Pater Andre memohon penyertaan Tuhan bagi seluruh pelayan gereja (DPP/DKP) agar tetap setia dalam jalan pengabdian. Beliau menutup rangkaian kegiatan dengan sebuah untaian doa sekaligus tagline penuh makna dalam bahasa Manggarai: “Mori Sembeng” (Tuhan Menjaga dan Memberkati). Momen audit ini pun berakhir, meninggalkan jejak inspirasi bahwa kejujuran dalam perkara kecil (materi) adalah fondasi bagi kepercayaan yang lebih besar dalam pelayanan iman.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Rabu, 14 Januari 2026

Saat Iman Merangkul Budaya: Fajar Baru di Gedung Ekopastoral Paroki Tentang

P. Andre, OFM danTua Adat dalam Pemberkatan dan Adat Wee Rumah Ekopastoral

TENTANG-WARTAPAROKI_Selasa, 13 Januari 2025, menjadi saksi bisu sebuah harmoni yang syahdu di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Keuskupan Labuan Bajo. Di bawah langit awal tahun yang penuh harapan, sebuah peristiwa sakral bertajuk "We’e Mbaru" digelar. Ini bukan sekadar seremoni pindah rumah biasa, melainkan sebuah simfoni indah di mana keteguhan iman Katolik memeluk erat kearifan lokal dalam balutan adat Manggarai.

Duduk Bersila dalam Kehangatan Persaudaraan-Suasana hikmat menyelimuti pelataran Gedung Ekopastoral. Para Tua Adat dengan busana khasnya duduk bersila, berdampingan dengan pengurus DPP/DPK, keluarga besar Biara Antonius Padua, dan Pastor Paroki, Pater Andre, OFM. Tidak ada sekat di antara mereka; yang ada hanyalah satu tujuan: mensyukuri penyertaan Tuhan melalui ritus leluhur yang dihidupkan kembali dalam terang iman Kristiani. Ritus We’e Mbaru ini menjadi penegasan bahwa membangun fisik bangunan haruslah sejalan dengan membangun jiwa. Kehadiran para tokoh adat dan agama ini melambangkan kesatuan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dari Kandang Ayam Menuju Pasar Global: Sebuah Mukjizat Ketekunan-Dibalik megahnya gedung dua lantai ini, tersimpan narasi perjuangan yang menggetarkan hati. Pater Andre, OFM mengisahkan bahwa gedung ini adalah buah dari "pergumulan panjang" yang dimulai sejak tahun 2020. "Berawal dari sebuah kandang ayam yang sederhana, perlahan bertransformasi menjadi bangunan setengah tembok berdinding seng, hingga akhirnya hari ini berdiri kokoh sebagai gedung lantai dua yang megah," tulis Pater Andre dengan nada penuh syukur. Kini, gedung tersebut bukan lagi sekadar dinding dan atap.

Lantai Dasar: Menjadi pusat ekonomi umat, tempat produksi jahe, temulawak, kunyit, hingga gula merah dengan nilai aset ratusan juta rupiah.

• Lantai Dua: Menjadi oase intelektual melalui perpustakaan dan kantor Ekopastoral yang akan menjadi otak dari pergerakan pemberdayaan umat.

Semua ini bermuara pada satu mimpi besar: membawa hasil karya UMKM lokal dengan branding “De Beo Dite” menembus pasar global.

Kado Perpisahan yang Sakral-Momen ini terasa kian emosional karena dirayakan tepat di penghujung masa karya pastoral Pater Andre di Paroki Tentang. Baginya, peresmian dan pemberkatan gedung ini adalah "kado terindah" dan tanda syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Pemberkatan ini bukan sekadar percikan air suci, melainkan permohonan agar infrastruktur ini menjadi lokus pembelajaran. Sebuah tempat di mana Orang Muda Katolik (OMK) dan Kelompok Tani (Poktan) binaan tidak hanya memproduksi barang, tetapi juga memproduksi harapan dan masa depan yang lebih mandiri.

Penutup: Cahaya dari Barat Flores-Peristiwa di Paroki Tentang mengajarkan kita bahwa Tuhan bekerja melalui ketekunan dan penghormatan terhadap akar budaya. Gedung Ekopastoral Santu Fransiskus Assisi kini berdiri sebagai simbol bahwa gereja tidak hanya bicara tentang altar, tetapi juga tentang "pasar"; tentang bagaimana meningkatkan martabat hidup umat melalui kerja nyata yang diberkati. Selamat untuk Paroki Tentang. Kiranya semangat "De Beo Dite" senantiasa membawa berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi Tuhan.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Sabtu, 10 Januari 2026

𝐏𝐄𝐋𝐔𝐇 𝐃𝐈𝐁𝐀𝐋𝐈𝐊 𝐉𝐔𝐁𝐀𝐇: 𝑺𝒂𝒂𝒕 𝑻𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑷𝒂𝒔𝒕𝒐𝒓 𝑨𝒏𝒅𝒓𝒆, 𝑶𝑭𝑴 𝑴𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈𝒌𝒖𝒍 𝑳𝒖𝒌𝒂 𝑱𝒂𝒍𝒂𝒏𝒂𝒏 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑲𝑶𝑴𝑷𝑹𝑬𝑺𝑱𝑨𝑳𝑼𝑹

 

P. Andre, OFM bersama para anggota dan simpatisan Kompresjalur saat kerja di beberapa lokasi

TENTANG_WARTAPAROKI_𝗣𝗮𝘀𝘁𝗼𝗿 𝗔𝗻𝗱𝗿𝗲𝗮𝘀 𝗕𝗶𝘀𝗮, 𝗢𝗙𝗠????? Siapa yang tidak mengenalnya. Selain sebagai pemerhati lingkungan hidup dengan memusatkan perhatian pada Pastoral Ekologi yang selalu menaruh rasa empati dan hormat kepada alam sebagai keutuhan ciptaan, ia juga dikenal sebagai sang inisiator sebuah gerakan "𝙚𝒎𝙚𝒓𝙜𝒆𝙣𝒄𝙮 𝙚𝒙𝙞𝒕". Gerakan kepeduliannya tertuju pada akses jalan menuju wilayah Tentang sampai Sirimese (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑗𝑢𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑟𝑜𝑘𝑖 𝑇𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔) yang sulit baik karena bencana alam maupun karena usia kalender jalur ini yang tak muda lagi. 

𝗞𝗲𝗽𝗲𝗱𝘂𝗹𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗱𝗮𝗻𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 hanya ditunjukkan melalui pewartaan di atas agungnya mimbar tetapi hadir dan mengalami lansung; meyakinkan umatnya bahwa pembangunan bukan hanya kewajiban pemerintah namun dipundak warga-nyalah beban dan tanggung jawab ini juga di sematkan. Pastor Andre, OFM memberikan sebuah keyakinan bahwa "𝑫𝒊 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒓𝒖𝒔𝒂𝒌, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒎𝒃𝒂𝒍 𝒍𝒖𝒃𝒂𝒏𝒈, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒋𝒖𝒕 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂𝒂𝒏. 𝑻𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏-𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒌𝒕𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒈𝒐𝒕𝒐𝒏𝒈 𝒓𝒐𝒚𝒐𝒏𝒈 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒋𝒖 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂", ujarnya memberi semangat kepada warga yang sedang bergotong-royong. 

𝗣𝗼𝘀𝘁𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻-𝗽𝗼𝘀𝘁𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘀𝘁𝗼𝗿 𝗔𝗻𝗱𝗿𝗲, di media sosial tentunya bukan sekadar mengisi beranda apalagi mencari sensasi dan popularitas; itu terlalu kerdil. Lebih dari itu adalah mewartakan sebuah keteladan kepemimipinan sesungguhnya melalui kepekaan terhadap jeritan umatnya saat menikmati betapa perjuangan melewati jalur ini penuh seuntaian doa yang tak terhingga agar selamat sampai tujuan. Melalui sebuah dedikasi dan keteladanannya, Pastor Andre mengajak para sopir, pemilik kendaraan dan simpatisan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk membentuk sebuah komunitas sederhana yang diberi nama "𝗞𝗢𝗠𝗣𝗥𝗘𝗦𝗝𝗔𝗟𝗨𝗥". 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗻𝗮𝗺𝗮? 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗮𝗸𝗿𝗼𝗻𝗶𝗺? 𝗦𝗶𝗺𝗮𝗸 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮. 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗸𝗼𝗺𝗶𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗱𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶 ambil bagian dalam pembangunan telah diberi nama paling keren dan bermartabat "𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍" sebagai akronim dari "𝑲𝙤𝒎𝙪𝒏𝙞𝒕𝙖𝒔 𝑷𝙚𝒅𝙪𝒍𝙞 𝙍𝒆𝙥𝒂𝙧𝒂𝙨𝒊 𝑱𝙖𝒍𝙖𝒏 𝑼𝙢𝒖𝙢 𝙍𝒖𝙨𝒂𝙠-𝙍𝒖𝙨𝒂𝙠". Renyah kan namanya? Tentu. Menggungah? Itu pasti. Menginspirasi ? Jangan tanyakan lagi. 𝘿𝙞𝙗𝙖𝙡𝙞𝙠 𝙣𝙖𝙢𝙖, 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙧𝙖𝙨𝙖 prihatin terhadap medan yang ekstrim tahun 2021-2022 silam. Saat longsor melanda dan memutuskan akses dari/dan/ke Tentang kala itu bak menayangkan film dokumenter tahun 80-an; benar-benar terasa sebuah kisah seperti diceritakan orang tua dulu tentang bagaimana sulitnya perjalanan (jalan kaki) menuju kota Ruteng. Sudahlah. Kita lanjut.

𝙈𝙖𝙨𝙮𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙩 𝙋𝙖𝙧𝙤𝙠𝙞 𝙏𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙣𝙩𝙖𝙨𝙞 jalur Sirimese- Dahang selalu bergulat dengan jalanan lumpur saat hujan dan debu pekat saat kemarau. Akses ekonomi tersendat, tarif kendaraan pun jauh di atas normal karena jarak tak lagi diukur dengan kilometer namun satuan jam-lah yang berbicara. Anak sekolah kepayahan, dan rujukan kesehatan menjadi taruhan nyawa saat melintas jalur ini. 𝗞𝗢𝗠𝗣𝗥𝗘𝗦𝗝𝗔𝗟𝗨𝗥 𝗱𝗶𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝟬𝟵 𝗦𝗲𝗽𝘁𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟮 oleh pemilik kendaraan roda empat dan roda enam yang berdomisili di wilayah Tentang dan sekitarnya. Ruangan sayap Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang adalah saksi bisu ide maha besar ini diracik dengan merapatkan barisan secara sukarela dan gotong royong memperbaiki jalan rusak-rusak yang berada di wilayah Tentang dan sekitarnya di kecamatan Ndoso. 𝑲𝒂𝒍𝒊 𝒊𝒕𝒖 (𝒅𝒊𝒃𝒆𝒏𝒕𝒖𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒐𝒎𝒖𝒏𝒊𝒕𝒂𝒔) 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓-𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 dan menyaksikan betapa Pastor Andre, OFM berbicara dengan raut wajah keprihatinan yang tumbuh bukan dari lidah yang berucap tapi dari kedalaman hati yang sedang menangis. Saya yang ditunjuknya menjadi bendahara komunitas (kala itu) tak bisa berkata-kata, hanya anggukkan kepala menjawab kepercayaan oleh Pastor yang menatapku dengan sebuah komitmen tinggi menaruh sebuah harapan akan suksesnya komunitas ini. Tak perlu rangkaian kata-kata manis yang tertuang dalam jilidnya AD/ART, namun KOMPRESJALUR fokus kerja sukarela yaitu 'Giat Gotong Royong' memperbaiki jalan umum rusak-rusak saat ini. Sekadar memecahkan suasana saat itu, kita berguyon "𝑱𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕, 𝒔𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒃𝒖𝒕𝒖𝒉 𝒌𝒐𝒎𝒑𝒓𝒆𝒔, 𝒕𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖 𝒅𝒊𝒓𝒖𝒋𝒖𝒌 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒄𝒖𝒌𝒖𝒑 𝒕𝒊𝒏𝒅𝒂𝒌𝒂𝒏 𝑷3𝑲 (𝑷𝒆𝒓𝒕𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒄𝒊𝒍). 𝑺𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒋𝒂𝒅𝒊𝒍𝒂𝒉 𝑲𝒐𝒎𝒑𝒓𝒆𝒔𝑱𝒂𝒍𝒖𝒓 (𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒐𝒎𝒑𝒓𝒆𝒔 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂). 𝑲𝒆𝒓𝒆𝒏 𝒌𝒂𝒏 𝒆𝒕𝒊𝒎𝒐𝒍𝒐𝒈𝒊𝒏𝒚𝒂?" 

𝗕𝗲𝗿𝗺𝗼𝗱𝗮𝗹 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝗸𝗲𝗻𝗱𝗮𝗿𝗮𝗮𝗻 dan sopir tercatat awalnya ada 26 pemilik kendaraan yang berdomisili di Tentang dan sekitarnya dengan memberikan kontribusi awal berupa sumbangan pemilik kendaraan roda 4 sebesar Rp. 200.000 sedangkan roda 6 sebesar Rp. 400.000. Para simpatisan dan warga memberikan sumbangan seberapa adanya seturut mampu dan se-iklasnya. Namun sumbangan terbesar adalah tenaga dan waktu untuk hadir dalam bakti gotong royong yang nilainya melampaui segalanya. Dari pemuda hingga orang tua, semua tergerak. Mereka mengumpulkan batu satu demi satu, menyisihkan receh demi receh untuk membeli semen, dan mencurahkan keringat di bawah terik matahari. 𝘿𝙖𝙣𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙪𝙢𝙥𝙪𝙡 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙪𝙡𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙩𝙖-𝙢𝙖𝙩𝙖 untuk membeli material seperti pasir, semen, cadas dan batu. Sedangkan tenaga dan waktu para simpatisan dan warga adalah persembahan untuk bumi Pertiwi (Ndoso). Oh ada yang lupa. Bagiamana dengan teknisinya? Sudah lengkap. Sang teknisi Kae Leksi Suhardi sudah ada dalam barisan anggota komunitas ini. Tambah keren kan? 𝙆𝙚𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙪𝙢𝙖𝙩 (𝙬𝙖𝙧𝙜𝙖) dalam aksi ini atas dasar 𝙢𝙤𝙩𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞; merasakan betapa senasib dalam menanggapi parahnya jalan sebagai lintasan menuju pusat kota. Longsor di pendakian sawah Sano sebagai sanksi titik sejarah perdana aksi komunitas ini. Di atas lumpur kala itu adalah meterai saksi bersatunya komitmen cita-cita mulia komunitas ini dibentuk; atas dasar rasa prihatin mengikrarkan bulatnya tekad gotong royong para pemilik kendaraan dan simpatasan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk beraksi. 𝗞𝗼𝗺𝗽𝗿𝗲𝘀𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸? Ah jangan tanya itu Bang. Pasti iyalah, dasarnya POLITIK (𝗣ahitnya 𝗢rang me𝗟𝗜ntas d𝗜 𝗧𝗜𝗞ungan). Bercanda ya Bos Meta untuk tambah jangkauan saja. Kawan-kawan dan simpatisan telah menggarisbawahi bawah komunitas ini lahir dari satu rasa, satu tujuan, satu tekad dan satu nasib bahwa kita menikmati jalur ini menuju kota. Saya merasakan betapa di atas medan ini pertaruhkan segalanya. Bukan hanya kerja keras sopir dan kondektur namun seuntaian doa para penumpang adalah kolaborasi harmonis untuk melewatinya. Di sinilah pepatah latin '𝗢𝗿𝗮 𝗲𝘁 𝗟𝗮𝗯𝗼𝗿𝗮' terwujud. Sopir bekerja, penumpang berdoa; maka lokasi tujuan tercapai.

𝗢𝗵 s𝗮𝘆𝗮 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘆𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗹𝗲𝘄𝗮𝘁𝗶 𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗶𝗻𝗶. "Saya harus beradu ide cemerlang di sini. Tangan di stir, kaki kiri-kanan kontrol pedal gas/rem/kopling, hati bersimpul sujud kepada Pemilik Hidup agar jangan Kau matikan mesin rush ini sebab keringat darah aku memperolehnya. Tidak berhenti di situ mata harus lirik spion kiri-kanan sembari berkipir ke mana lingkaran stir ini dibanting saat napas Toyota ini menyerah dan harus mundur. Kepada sang penumpang yang adalah istri dan anak-anak tercinta yang duduk di sampingku aku berpesan sepatah berdoa terpanjat dalam hati agar bisa lewati medan ini. Itulah kisah perjalanan ini 2021 - 2022." Asyik kan? Masa!!!!!!!. Sedih sayang. Sedih.

𝗕𝗲𝗿𝘀𝘆𝘂𝗸𝘂𝗿 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮 𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 sedikitnya jeritan ini. Walaupun tetap masih belum sempurna tapi setidaknya perjuangan sampai saat ini di beberapa titik menghilangkan doa yang selalu terpanjat di setiap perjalanan. Longsor di pendakian sawah Sano adalah saksi bisu titik sejarah. Diatas lumpur Kaka itu adalah meterai satunya komitmen wadah ini dibentuk atas dasar rasa prihatin mengikrarkan bulatnya tekad gotong royong para pemilik kendaraan dan simpatisan di wilayah Tentang dan sekitarnya untuk beraksi. 𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙈𝙚𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙝𝙖𝙗𝙖𝙩, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢? Namun, alih-alih berpangku tangan menunggu uluran bantuan yang tak kunjung datang; Pater Andre, OFM melihat celah untuk membangkitkan martabat umatnya. Beliau memelopori gerakan swadaya murni. Baginya, jalan yang rusak bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan ujian bagi iman yang harus diwujudkan dalam kerja nyata. Istilah Kompresjalur menjadi sandi perjuangan. Dengan langkah kaki yang mantap dan jubah yang seringkali ternoda tanah, Pater Andre, OFM turun langsung ke lapangan. Beliau tidak hanya memegang Alkitab di mimbar, tapi juga memegang sekop dan linggis di jalanan. Sang inisiator besar Pastor Andreas Bisa, OFM; pastor paroki Santu Fransiskus Asisi Tentang adalah penggerak komunitas ini yang kini telah puluhan titik jalan rusak telah dijamah para anggota dan simpatisan komunitas ini. Pastor Andre, rela melangkah dari altar menuju jalan rusak adalah bukan sekadar menguatkan iman, tetapi ia hadir sebagai pemimpin sejati sesungguhnya. Dia tak banyak bicara tapi lebih pada memulai angkat batu, pikul skop dan linggis lalu terjun ke lumpur untuk menjadi senasib di jalan ini. Pater Andre membuktikan bahwa pemimpin sejati adalah ia yang paling depan merasakan lelah. Kehadirannya di tengah debu jalanan menghancurkan rasa skeptis dan menggantinya dengan optimisme. 𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙚𝙖𝙣𝙜𝙜𝙤𝙩𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙩𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙆𝙤𝙢𝙥𝙧𝙚𝙨𝙟𝙖𝙡𝙪𝙧 tersebar di desa-desa wilayah kecamatan Ndoso, kabupaten Manggarai Barat dengan agenda rutin yang terus menerus yakni penggalangan dana dengan pelbagai pihak, dialog dengan pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan serta giat gotong royong memperbaiki jalan umum rusak-rusak. Kami punya pekikan semangat; "𝘗𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘳, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘰𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯". Sampai saat ini ada begitu banyak ukuran tangan kasih dari para simpatasan untuk kontribusi pergerakan komunitas ini yang tak bisa disebutkan lagi dalam tulisan ini. Namun nama-nama mereka sudah tercatat di sanubari anggota komunitas dan simpatasan serta warga Ndoso. 

𝗞𝗢𝗠𝗣𝗥𝗘𝗦𝗝𝗔𝗟𝗨𝗥; 𝗚𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂, keterbatasan sumber daya bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang bisa ditaklukkan. Warisan yang Lebih dari Sekadar Aspal. Kini, jalanan di Paroki Tentang tak lagi mencekam. Aspal dan rabat beton hasil swadaya itu memang memudahkan kendaraan melintas, namun warisan sesungguhnya yang ditinggalkan Pater Andre, OFM jauh lebih dalam; rasa percaya diri dan memiliki dari masyarakat atas pembangunan wilayahnya. Mereka kini sadar bahwa masa depan mereka ada di tangan mereka sendiri. Setiap jengkal jalan yang mereka perbaiki adalah bukti cinta pada tanah kelahiran dan wujud konkret dari doa-doa yang dijawab melalui kerja keras. 𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍; "𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙙𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙡 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙧𝙩𝙖𝙗𝙖𝙩", sebuah refleksi dari semangat Kompresjalur. 𝙆𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙋𝙖𝙩𝙚𝙧 𝘼𝙣𝙙𝙧𝙚, 𝙊𝙁𝙈 dan 𝙆𝙊𝙈𝙋𝙍𝙀𝙎𝙅𝘼𝙇𝙐𝙍 di Paroki Tentang adalah pengingat bagi kita semua bahwa satu orang yang memiliki visi dan keberanian untuk memulai dapat menggerakkan ribuan orang untuk mengubah keadaan.

*Frengky Jamento (KOMSOS PSFAT)

TOPI RE'A DAN SELEMPANG; Isak Tangis Umat Sirimese Melepas Sang Fransiskan ke Tanah Misi Meratus

P. Andre, OFM saat merayakan Ekaristi dan Acara Adat di Gendang Rahong - Sirimese 

SIRIMESE_WARTAPAROKI – Senja di ufuk barat Sirimese pada Sabtu, 10 Januari 2026, terasa lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Meski mentari tenggelam dengan cahaya keemasan yang indah, ada mendung kesedihan yang menggelayuti hati lebih dari 300 umat Stasi Sirimese. Di dalam Gereja kecil itu, napas doa terasa berat; Pater Andre, OFM, memimpin Ekaristi untuk terakhir kalinya. Bagi umat, Pater Andre bukan sekadar Pastor Paroki. Selama enam tahun, ia adalah anak, kakak, sekaligus gembala yang membasuh dahaga iman mereka. Kini, ketaatan sebagai seorang Fransiskan sejati memanggilnya pergi, jauh menyeberangi lautan menuju tanah misi suku Dayak di Meratus, Kalimantan Selatan. Saudara Tus yang adalah Tim Komsos di Stasi Sirimese mendokumetasi rangkaian moment acara ini dengan narasi perpisahan yang dikirim via chating WhatsApp ke media Komsos PSFAT. Dari kiriman informasinya terekam jelas moment setiap sesi berlangsung haru.

​"Kesalahan Kita, Biarlah Hanyut Bersama Aliran Air"_Suasana haru mulai pecah saat Pater Andre memberikan sambutan. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca mengenang enam tahun perjalanan cinta di Sirimese. Tak ada jarak antara altar dan umat; yang ada hanyalah ikatan batin yang tulus. Ketua Dewan Stasi Sirimese, Bapak Karolus Jemada, berdiri dengan suara parau menahan tangis. Ia mengutip sebuah pepatah tua Manggarai yang menyayat hati: "Dasor sala lampa ceot wejong selama nempung cama dasor one waes laud one lesos saled." (Semoga segala salah kata dan salah langkah kita selama bersama, biarlah hanyut bersama aliran air dan terbenam bersama matahari di ufuk barat). Kalimat itu menjadi simbol permohonan maaf yang tulus, mencuci bersih segala luka masa lalu agar kepergian sang gembala menjadi suci dan tanpa beban.

​Ritual "Wuat Lako": Cinta yang Mengalir dalam Topi Re’a_Usai misa, prosesi berlanjut ke Rumah Gendang Rahong Sirimese. Di sanalah, dalam kehangatan rumah adat, ritual Wuat Lako (utusan pergi) digelar. Suasana semakin menyayat hati ketika tetua adat, Bapak Alo Ngamal, menyampaikan pesan terakhirnya mewakili Tua Adat dan masyarakat menyampaikan  ucapan  terima kasih kepada Pater Andre OFM. "Kapu neho wua pau, naka neho wua nangka lami Ite one 6 ntaung olo. Hoo kali Ite kut lako kole ngger one tana weru, ngaji dami di'a-di'a Ite one tempat weru gitu. Neka ngger ones sangged damang ko adong de jing daat ata kut pande loak  stola  Dite. Porong Ite jadi Tuang sampe tu'a", ("Kami menyayangimu laksana manisnya buah mangga dan nangka selama enam tahun ini, Pater," ujarnya dengan nada rendah. "Pergilah ke tanah yang baru. Doa kami menyertaimu agar tidak ada roh jahat yang mengusik jubah dan stolamu. Jadilah gembala sampai tua)." ungkap Bapak Alo dengan terbata-bata.

​Puncak kesedihan meledak saat tangan lembut seorang Ende (ibu) Paulina Barabara, maju ke depan. Dengan jemari yang gemetar karena menahan isak, ia mengenakan Topi Re’a dan menyampirkan Selempang Manggarai ke tubuh Pater Andre. Momen itu terekam begitu pilu. Pater Andre menunduk dalam, seolah berat meninggalkan pelukan hangat Ende Ema (Ibu Ayah) umat Sirimese. Namun, sebagai seorang pengikut Santo Fransiskus, ketaatan adalah komitmen tertinggi. Di atas segalanya, tugas pelayanan adalah prioritas, meski hati harus teriris karena perpisahan.

​"Sayonara, Sampai Jumpa Lagi"_ Pria kelahiran Lembata, 7 November 1984 ini meminta satu hal dari umatnya: Doa. "Saya memohon doa Bapak dan Ibu untuk perjalanan tugas saya. Sebaliknya, saya akan selalu mendoakan hidup kalian di sini," ucapnya sembari menghapus air mata yang jatuh ke pipinya. Ia menitipkan pesan agar sinergi antara gereja, pemerintah, dan adat yang telah terjalin tetap dijaga. Semangat gotong royong dan cinta pada alam (JPIC) harus terus mengakar di bumi Sirimese.​"Maafkan saya jika pelayanan saya pernah melukai hati Bapak dan Ibu semua. Mewakili rekan saya, Pater Edo OFM, kami memohon maaf setinggi-tingginya. Sayonara, sampai jumpa lagi," tutupnya. Malam itu ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh kehangatan namun menyesakkan dada. Umat dari berbagai kalangan; mulai dari anak sekolah hingga Pemuda Penjaga dan Penyelamat Kampung ( P3K) Komisi Justice  Peace And Integrity Of Creation ( JPIC) OFM Indonesia bergantian memeluk dan menyalami sang gembala.

​Topi Re’a itu sebentar lagi akan berkelana ke tanah Borneo. Ia tidak hanya menjadi pelindung kepala dari terik matahari Meratus, tapi menjadi pengingat bahwa di sebuah desa kecil bernama Sirimese, ada umat yang selalu menyebut nama Pater Andre dalam setiap sujud doa mereka. Selamat sampai di tanah Misi Tuang. Jadilah garam dan terang di tanah misi yang baru.

Laporan: Saudara Tus (Komsos Stasi Sirimese) Editor: Frengky Jamento 

Jumat, 09 Januari 2026

Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Peristiwa Iman: Komitmen Baru Keuskupan Labuan Bajo Menuju 2030

Kiri ke Kanan : Fr Andre, OFM, P. HENDRIK, OFM dan Bapak Falentinus Jempo (ketua DPP PSFAT)
Foto by : Falens Jempo

Labuan Bajo-WARTAPAROKI – Semangat pembaruan dan persaudaraan menyelimuti Rumah Spiritualitas Unio Keuskupan Labuan Bajo. Dalam suasana penuh doa, para pelayan umat berkumpul untuk mengikuti Sidang Pastoral Post-Natal 2026. Mengusung tema besar “Tahun Persekutuan Sinergis : Membangun Gereja Katolik yang Sinodal dan Solid dalam Pelayanan,” kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi peziarahan iman umat di ujung barat Pulau Flores. Sidang ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah refleksi mendalam atas panggilan Gereja untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Perwakilan dari berbagai Paroki se-Keuskupan Labuan Bajo hadir dengan satu tujuan mempererat tali persekutuan demi pelayanan yang lebih menyentuh hati umat. Hadir sebagai delegasi dari Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang, Bapak Falentinus Jempo (Ketua DPP) bersama Pater Hendrik, OFM (Vikaris Paroki) dan Frater Andre, OFM. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen paroki dalam mendukung visi besar Keuskupan. Sepanjang kegiatan, Bapak Falens Jempo secara aktif memastikan alur komunikasi tetap terjaga dengan Tim Komsos Paroki Tentang dalam mendokumetasi seluruh rangkaian kegiatan. Keterbukaan informasi dan dokumentasi setiap sesi menjadi bukti nyata bahwa semangat sinodalitas—yakni berjalan bersama dimulai dari transparansi dan koordinasi yang baik dinykia dari kehidupan paroki.

Landasan Akademis dan Strategis - Gereja yang kuat adalah Gereja yang terencana. Untuk itulah, sidang ini juga menghadirkan para pakar sebagai Tim Perumus Rencana Strategis (Renstra) Keuskupan Labuan Bajo. Kehadiran para akademisi dari Universitas Santu Paulus Ruteng, yakni: RD Dr. Fransiskus Sawan, Dr. Marinus Mantovany Tapung, M.Pd dan Dr. Kristianus Viktor Pantaleon, M.Pd.Si. Kehadiran mereka memberikan bobot edukatif yang signifikan, menyelaraskan nilai-nilai iman dengan kajian akademis yang sistematis. Hal ini diharapkan mampu melahirkan program pastoral yang tepat sasaran, inklusif, dan visioner bagi seluruh umat di Labuan Bajo. Menuju Gereja yang Solid "Tahun Persekutuan Sinergis" ini mengajak seluruh elemen Gereja mulai dari klerus hingga awam untuk melepaskan ego sektoral dan mulai bekerja dalam harmoni. Dengan semangat "Sinodal," setiap suara didengarkan, dan dengan semangat "Solid," setiap langkah diperkuat. Melalui Sidang Pastoral Post-Natal ini, Keuskupan Labuan Bajo kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi pelita yang terang dan rumah yang hangat bagi setiap jiwa, melalui pelayanan yang profesional namun tetap berlandaskan kasih Kristiani. Tentu inilah yang telah ditegaskan oleh Santu Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Korintus "Sebab sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak... demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12). Di tengah balutan udara awal tahun yang penuh harapan, Gereja Lokal Keuskupan Labuan Bajo memulai langkah strategisnya melalui Sidang Pastoral tahun 2026. Berlangsung selama tiga hari sejak Selasa (6/1/2026), pertemuan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk mempertegas identitas Gereja yang hidup dan bergerak.

Roh yang Menghidupkan: Semilir Sabda dan Doa - Suasana khidmat menyelimuti pembukaan sidang yang diawali dengan "Semilir Sabda". Melalui renungan Kitab Suci dan pendarasan doa "Tahun Persekutuan Sinergis", para peserta diajak untuk menyadari bahwa setiap rencana manusiawi harus berakar pada kehendak Ilahi. RD Lian Angkur, mewakili panitia, menyambut hangat kehadiran Yang Mulia Bapak Uskup Maksimus Regus, Dewan Kuria, serta seluruh peserta. Di balik ucapan selamat Natal dan Tahun Baru, terselip pesan edukatif tentang kedisiplinan dan kesungguhan dalam menjalankan perutusan pastoral. Visi 3S: Sinodal, Solid, dan Solider- Salah satu pilar edukatif dalam sidang ini muncul melalui sesi rekoleksi yang dibawakan oleh RD Mathias. Ia menguraikan visi besar Keuskupan Labuan Bajo yang diringkas dalam tiga kata kunci: Sinodal, Solid, dan Solider. Tentunya Gereja yang Sinodal berarti berjalan bersama; Solid berarti kuat secara internal; dan Solider berarti memiliki kepedulian yang nyata terhadap sesama, terutama mereka yang terpinggirkan menjadi hakekat dan ciri khas kehidupan pastoral Keuskupan Labuan Bajo. Pesan ini menjadi pengingat bagi para pelayan umat bahwa struktur organisasi Gereja harus dibarengi dengan kedalaman empati dan persaudaraan.

Pesan Gembala: Gereja Harus Hidup, Bukan Sekadar Ada - Puncak inspirasi pada hari pertama hadir melalui input awal dari Yang Mulia Bapak Uskup Maksimus Regus. Beliau memberikan penegasan teologis sekaligus praktis mengenai arah gerak Gereja ke depan. Ada dua poin mendasar yang ditekankan yaitu  Pertama ; Mendengar semua suara. Gereja dipanggil untuk bergerak dalam Roh. Uskup Maksimus mengingatkan agar Gereja tidak terjebak dalam "situasi dingin" atau sikap apatis. Sebaliknya, setiap elemen harus saling menopang dan memiliki telinga yang peka baik terhadap suara yang keras, suara yang lemah, maupun mereka yang tidak bersuara sama sekali. Kedua; Saksi keselamatan. Menyadari bahwa keselamatan berasal dari Kristus, maka Gereja memiliki tugas edukatif untuk menjadi saksi hidup dari keselamatan tersebut di tengah dunia. "Persekutuan dan sinergitas tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus nyata dalam tindakan pastoral yang konkret dan relevan. Gereja bukan sekadar ada, tetapi hidup, "tegas Uskup Maksimus. Melalui sidang ini, Keuskupan Labuan Bajo sedang membangun fondasi bagi pelayanan yang lebih berdampak. Dengan demikian bahwa melalui semangat persekutuan yang sinergis, sidang ini diharapkan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang mampu menjawab tantangan zaman, menjadikan iman bukan sekadar kata-kata, melainkan gerakan cinta kasih yang nyata. Di bawah arahan Direktur Pusat Pastoral (Puspas), RD Charles, forum ini ditegaskan sebagai sebuah "Peristiwa Iman". Sebuah momentum di mana seluruh elemen Gereja lokal berhenti sejenak untuk melihat jejak Tuhan dalam pelayanan dan merajut langkah bersama menuju masa depan.

Menemukan Tuhan dalam Metode 3M-Dalam arahannya, RD Charles menekankan bahwa arah dasar sidang ini adalah peneguhan identitas Gereja yang berjalan bersama (sinodal). Untuk mencapai hal tersebut, sidang menggunakan metode 3M: Melihat, Menilai, dan Memutuskan. Metode ini bukan sekadar alat analisis organisasi, melainkan sebuah proses rohani. Melihat: Menatap dengan jujur apa yang telah dicapai. Menilai: Mengajak peserta menafsirkan realitas hidup sehari-hari dalam terang iman dan visi Gereja. Memutuskan: Merumuskan langkah konkret untuk persekutuan sinergis di tahun 2026. "Sikap dasar yang dibutuhkan adalah partisipasi aktif, keterbukaan hati, dan semangat berjalan bersama," ungkap RD Charles. Pesan ini menjadi ajakan bagi seluruh peserta untuk menanggalkan ego sektoral demi kepentingan umat yang lebih besar.

Cermin Keberhasilan: Belajar dari Paroki Tentang- Dalam laporan Monitoring dan Evaluasi (Monev) tahun 2025 bertema "Tata Kelola Partisipatif", terungkap kabar menggembirakan. Meski Gereja Keuskupan Labuan Bajo masih perlu memperdalam praktik pendampingan, kesadaran bersama umat telah terbangun dengan kuat. Salah satu permata dalam sidang kali ini adalah capaian Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Paroki ini berhasil masuk dalam jajaran lima paroki rujukan (bersama Katedral, Sok Rutung, Wae Nakeng, dan Wae Sambi) dengan tingkat keterlaksanaan program yang tinggi dan terintegrasi. Yang paling menginspirasi, Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang dinilai berhasil menampilkan wajah Gereja yang inklusif, kontekstual, dan transformatif. Gereja tidak lagi hanya berdiam di dalam gedung, tetapi hadir di tengah alam dan lumbung ekonomi umat. Fokus kuat pada Ekologi Integral dan Ekonomi Produktif Berbasis Umat di Paroki Tentang menjadi bukti nyata bahwa iman yang hidup adalah iman yang merawat bumi dan menyejahterakan sesama. Ini adalah manifestasi dari "Gereja yang Bernapas"; Gereja yang peduli pada lingkungan hidup dan kemandirian ekonomi jemaatnya. Laporan ini menjadi suplemen semangat bagi paroki-paroki lain. Bahwa dengan tata kelola yang baik dan hati yang terbuka pada Roh Kudus, Gereja mampu menjadi agen perubahan yang nyata di Labuan Bajo. Sidang Pastoral 2026 ini pada akhirnya adalah sebuah undangan: untuk mengajak setiap pribadi untuk tidak hanya menjadi penonton dalam Gereja, tetapi menjadi bagian dari persekutuan sinergis yang membawa perubahan bagi dunia.

Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo memasuki fase krusial pada hari pertama dan kedua (6-7 Januari 2026). Momentum ini menandai lahirnya peta jalan (roadmap) bagi umat Katolik di ujung barat Pulau Flores untuk lima tahun ke depan. Hari pertama ditutup dengan simbolisme yang kuat. Yang Mulia Mgr. Maksimus Regus secara resmi meluncurkan Dokumen Kebijakan Keuskupan Labuan Bajo. Langkah ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah komitmen pelayanan yang kemudian dibawa ke hadapan Tuhan melalui Perayaan Ekaristi pembukaan yang dipimpin oleh RD Yuvens dan RD Mathias. Mendaraskan doa di altar, seluruh rencana manusiawi diserahkan sepenuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi, menegaskan bahwa setiap strategi Gereja harus berakar pada Kristus sebagai sang Gembala Utama.

Membedah Realitas: Suka Duka yang Menjadi Berkat - Memasuki hari kedua, Rabu (7/1/2026), fokus sidang beralih pada penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2026-2030. Sekjen Keuskupan, RD Frans Nala, memberikan fondasi yang kokoh melalui landasan Biblis-Teologis. Beliau mengingatkan bahwa Renstra ini adalah alat untuk mewujudkan Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider. Ketajaman analisis hadir melalui pemaparan Dr. Mantovany Tapung. Berdasarkan hasil penelitian yang mendalam, ia membeberkan realitas kehidupan masyarakat Manggarai Barat mulai dari peluang, tantangan, hingga "suka duka dan kecemasan" umat. Di sinilah sisi edukatif sidang menonjol bahwa Gereja diajak tidak menutup mata terhadap realitas sosial, melainkan menjadikannya ladang pengabdian.

Dream, Design, Destiny: Lima Pilar Masa Depan. Dalam kesempatan tersebut, RD Frans Sawan menguraikan lima tujuan strategis yang akan menjadi kompas pelayanan hingga tahun 2030. Ada lima hakekat hidup menggereja yang ingin dicapai yaitu Iman dan Liturgi yang menghidupkan, Gereja Sinodal yang kolegial dan komunikatif, Pelayanan Solider yang transformatif, Tata Kelola Solid yang akuntabel dan Pewartaan Injil yang kontekstual dan digital. Untuk menggapai visi besar ini, para peserta diajak berefleksi melalui tiga pertanyaan kunci : Dream: Ke mana kita akan pergi? (Mimpi kolektif umat). Design: Bagaimana kita bisa sampai ke sana? (Strategi dan kerja nyata). Destiny: Bagaimana kita tahu kita telah sampai? (Evaluasi dan buah pelayanan). Puncak acara hari kedua ditandai dengan penyerahan naskah Renstra dari Tim Penyusun kepada Bapak Uskup Mgr. Maksimus Regus. Penyerahan ini adalah simbol penyerahan seluruh jerih payah pikiran dan hati para pelayan Tuhan untuk direstui dan dilaksanakan sebagai gerakan bersama.

Sidang Pastoral ini memberikan pesan kua bahwa Gereja Labuan Bajo sedang bertransformasi. Dari Gereja yang sekadar "menjaga tradisi" menjadi Gereja yang berani bermimpi, merancang masa depan, dan merangkul teknologi digital tanpa kehilangan kedalaman spiritualitasnya. Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo hari kedua, Rabu (7/1/2026), menjadi sebuah perjalanan yang tidak hanya mengasah pikiran melalui diskusi strategis, tetapi juga menyentuh hati melalui perjumpaan nyata dengan sesama. Dari ruang sidang hingga ke sudut-sudut pengabdian masyarakat, seluruh peserta diajak untuk melihat wajah Kristus dalam pelayanan yang konkret. Kegiatan dimulai dengan diskusi kelompok yang terbagi dalam lima komisi. Di sini, semangat Sinodalitas (berjalan bersama) benar-benar dipraktikkan. Para peserta duduk melingkar untuk membedah progres program tahun 2025. Dengan jujur, mereka melihat keberhasilan untuk disyukuri dan kegagalan untuk diperbaiki. Diskusi ini bukan sekadar mengevaluasi angka, melainkan mencari kehendak Tuhan di tengah tantangan dan peluang. Hasil refleksi ini akan menjadi fondasi kokoh bagi penyusunan program di "Tahun Persekutuan Sinergis 2026". Sebuah pesan kuat muncul: bahwa untuk melangkah jauh ke depan, kita harus berani berkaca pada jejak-jejak yang telah ditinggalkan.

Momen haru terjadi saat RD Frans Sawan, mewakili UNIKA St. Paulus Ruteng, menyerahkan cendramata kepada Yang Mulia Mgr. Maksimus Regus. Penyerahan ini merupakan simbol terima kasih atas kepercayaan Keuskupan Labuan Bajo kepada institusi pendidikan untuk melakukan penelitian dan penyusunan Renstra 2026-2030.

Ini adalah perpaduan harmonis antara Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi). Gereja menunjukkan sisi edukatifnya dengan melibatkan riset ilmiah dalam merancang masa depan umat, membuktikan bahwa pelayanan pastoral di era modern harus dijalankan secara profesional namun tetap rendah hati.

"City Tour" Kemanusiaan: Melihat Wajah Kristus yang Menenun-Usai santap siang, suasana sidang berganti dari diskusi formal menjadi kunjungan kasih (city tour). Dengan dukungan kendaraan dari Korps Brimob dan TNI-AD sebuah simbol sinergi luar biasa antara Gereja dan alat negara—para peserta menuju Susteran KSSY Gorontalo. Di sana, para peserta sidang disuguhi pemandangan yang menyentuh jiwa aktivitas anak-anak dari kelompok rentan. Di tangan-tangan yang dianggap lemah oleh dunia, lahir karya-karya indah melalui jemari yang menenun dan semangat membuat gorengan untuk kemandirian. "Melalui kunjungan ini, para peserta diajak menyadari bahwa inti dari sinergi adalah merangkul yang lemah agar mereka merasa memiliki martabat yang sama dalam persekutuan Gereja." Perjalanan berlanjut menyisiri keindahan Labuan Bajo, mulai dari kawasan MAWATU hingga ke arah Pelabuhan Pelindo. Di bawah langit sore yang mulai memerah, para peserta kembali dengan satu kesadaran baru: bahwa program-program yang disusun di ruang sidang harus bermuara pada kesejahteraan umat dan kelestarian lingkungan. Sidang hari kedua ini mengajarkan satu hal religius yang mendalam: bahwa doa yang paling tinggi adalah kerja nyata bagi sesama, dan strategi yang paling hebat adalah strategi yang melibatkan kasih.

Menuju Gereja yang Melayani dan Transparan: Puncak Sidang Pastoral -Memasuki hari ketiga sekaligus penutup, Kamis (8/1/2026), Sidang Pastoral Keuskupan Labuan Bajo semakin menajamkan arah pelayanannya. Fokus utama hari ini adalah merumuskan "Program Pastoral Tahun Persekutuan Sinergis 2026", sebuah peta jalan yang mengajak seluruh umat; dari altar hingga ke pasar untuk bergerak dalam harmoni yang sama. Sidang diawali dengan pengantar inspiratif dari Dr. Kristianus Viktor Pantaleon, akademisi dari UNIKA St. Paulus Ruteng. Ia menekankan bahwa sebuah program sukses bukan karena kecanggihan konsepnya, melainkan karena keterlibatan semua pihak. "Keberhasilan pastoral adalah buah dari kerja sama agen pastoral yang tertahbis (kaum klerus) dan agen pastoral yang terbaptis (umat awam)," ungkapnya. Pesan ini menjadi pengingat edukatif bahwa setiap orang memiliki peran unik dalam membangun Tubuh Mistik Kristus. Peluang, mimpi, dan keberhasilan masa lalu dikumpulkan menjadi bahan bakar untuk menyalakan api pelayanan di tahun 2026. Dalam dinamika diskusi enam kelompok, termasuk kelompok Forum Komunikasi Kelompok Rentan (FKKR), sebuah kesadaran religius yang kuat muncul ke permukaan. Mayoritas peserta sepakat bahwa jantung dari seluruh pelayanan adalah Iman dan Liturgi yang Menghidupkan.

Gereja menyadari bahwa tanpa akar iman yang kuat dalam liturgi, segala program sosial hanyalah aktivitas kemanusiaan biasa. Namun, iman tersebut haruslah iman yang bergerak (faith in action). Hal ini tercermin dari fokus program yang diusulkan: Pembekalan dan pelatihan bagi agen pastoral awam; Pemberdayaan kaum muda sebagai tulang punggung Gereja masa depan dan Perhatian khusus dan pendampingan bagi kelompok rentan. Momen yang sangat menarik dan progresif terjadi ketika spiritualitas bertemu dengan profesionalisme. Keuskupan Labuan Bajo secara resmi melakukan penandatanganan kerja sama dan peluncuran CMS (Cash Management System) dengan BRI Cabang Labuan Bajo. Langkah ini bukan sekadar urusan perbankan, melainkan bentuk pertanggungjawaban iman dalam tata kelola keuangan yang solid dan akuntabel. Dengan sistem digital ini, Gereja ingin memberikan teladan tentang kejujuran dan transparansi, membuktikan bahwa "harta Gereja adalah harta orang miskin" yang harus dikelola dengan penuh integritas.

Penutup ; Dari Rekomendasi Menjadi Aksi - Tim Perumus dari UNIKA St. Paulus Ruteng memberikan catatan penutup yang menegaskan bahwa hasil pleno ini akan segera dikristalisasi menjadi rekomendasi resmi sidang. Sidang Pastoral 2026 ini berakhir dengan sebuah keyakinan: bahwa dengan sinergitas antara gembala dan domba, serta dukungan teknologi dan tata kelola yang modern, Keuskupan Labuan Bajo siap menjadi garam dan terang yang nyata bagi masyarakat Manggarai Barat.


Sumber/Kontributor: Falentinus Jempo

Editor : Frengky Jamento (Komsos PSFAT)

Sabtu, 27 Desember 2025

MENEMBUS BATAS, MELAYANI DENGAN HATI: Kisah Lima Gembala yang Membawa Terang Natal ke Pelosok Paroki Tentang

Foto by : Tim Komsos

Tentang-WARTAPAROKI– Di balik riuh rendah lonceng gereja dan gemerlap lilin altar, Natal di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang tahun ini menyimpan sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui sekadar rutinitas liturgi. Natal kali ini bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang sejauh mana seorang gembala bersedia melangkah demi domba-dombanya. Demi memastikan setiap umat dapat mengecap sukacita kelahiran Kristus, Paroki Tentang mengambil langkah berani dengan membagi perayaan Ekaristi ke tujuh titik lokasi yang berbeda. Mulai dari Pusat Paroki (Stasi Tentang), hingga menjangkau Stasi Lareng, Kalo, Raca, Sirimese, Lumut, dan Reca. Langkah ini bukanlah perkara mudah. Hal ini menuntut pengorbanan dan dedikasi penuh dari para imam yang melayani. Sosok Pater Andreas Bisa, OFM, Pater Eduardus Da Silva, OFM, Pater Hendrik, OFM, Pater Dion, dan Romo Coky, Pr menjadi potret nyata dari apa yang disebut sebagai "pelayanan total". Mereka tidak menunggu umat datang, melainkan mereka yang mendatangi umat. Melalui medan yang mungkin tak selalu mudah, para gembala ini membawa pesan damai Natal hingga ke sudut-sudut stasi agar tak ada satu pun jiwa yang merasa terlupakan di hari yang kudus ini.  "Natal bukanlah sekadar putaran kalender. Ia adalah perjumpaan. Dan hari ini, para imam kami menunjukkan bahwa hakekat Natal adalah kehadiran yang nyata," ungkap salah seorang umat dengan mata berkaca-kaca. Kontributor Tim Komsos Paroki Tentang melaporkan beragam momen haru dari lapangan. Kehadiran imam di setiap lokasi disambut hangat dan bahagia umat yang merasa begitu diperhatikan, juga cerita tentang kesederhanaan kandang Natal di stasi-stasi justru menambah kekhusyukan yang tak ternilai harganya. Setiap lokasi memiliki ceritanya sendiri, ada tawa anak-anak, ada doa khusyuk para lansia, ada semangat gotong royong yang dibangun dalam menyiapkan perayaan. Namun, benang merahnya tetap sama; Syukur dan Damai. 

Natal di Stasi Raca; Merayakan Ketidaksempurnaan dengan Cinta.

Di bawah naungan langit malam yang tenang di Stasi Raca, ribuan hati berkumpul dalam sebuah harmoni iman yang luar biasa. Perayaan Natal tahun 2025 di stasi ini tidak hanya menjadi rutinitas doa, tetapi menjelma menjadi momen refleksi mendalam tentang cinta, persaudaraan, dan kesederhanaan seorang anak kecil yang membawa keselamatan bagi dunia. Perayaan dimulai pada Malam Natal, Rabu (24/12), pukul 19.00 WITA. Sebanyak 800 umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati gereja dengan khusyuk. Di bawah arahan liturgi dari umat Dusun Kaput, suasana terasa begitu hidup dan syahdu. Pater Andre, OFM, yang memimpin Ekaristi malam itu, memberikan siraman rohani yang menyentuh relung hati umat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal adalah perayaan persaudaraan yang melintasi batas semesta. "Mari kita menumbuhkan dalam diri kita cinta kepada sesama. Sadarilah bahwa tidak ada anak, pasangan, ataupun sesama yang sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itulah, kasih Natal memanggil kita untuk saling menerima," pesan Pater Andre sebagaimana didokumentasikan oleh kontributor Komsos, Leksan Serdi. Sukacita berlanjut pada puncak Hari Raya Natal, Kamis (25/12). Sejak pukul 07.30 WITA, lebih dari 600 umat termasuk para lansia yang datang dengan langkah perlahan namun penuh semangat; telah memenuhi ruangan. Alunan koor dari umat Dusun Ting membubung tinggi, menambah kekhidmatan suasana. Pater Eduardus Da Silva, OFM (Pater Edo), yang memimpin perayaan pagi itu, membawa pesan yang sangat puitis namun nyata. Ia mengingatkan umat bahwa Tuhan memilih hadir sebagai anak kecil, sebuah simbol kemurnian yang tanpa noda kebencian. "Tuhan hadir sebagai anak kecil membawa keselamatan tanpa ada kebencian. Sebab, kebencian biasanya baru tumbuh ketika orang menjadi dewasa," ungkap Pater Edo, yang disambut anggukan reflektif dari ribuan umat yang hadir. Natal tahun 2025 ini juga terasa istimewa karena sebuah "kebetulan" yang cantik. Pater Edo menyoroti keunikan angka 5 yang muncul secara berulang; tanggal 25, tahun 2025. Keunikan ini menjadi inspirasi filosofis bagi Stasi Raca untuk menghadirkan lima buah pohon natal yang berdiri anggun, melambangkan berbagai makna mendalam dalam kehidupan dan iman. Filosofi angka lima ini bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat akan keseimbangan dan kelengkapan dalam melayani sesama. Di penghujung perayaan, Ketua Dewan Stasi Raca, Bapak Nikolaus Danggur, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Ia mengapresiasi totalitas para imam dan kerja keras seluruh umat yang telah bahu-membahu menyukseskan perayaan ini. "Terima kasih kepada Pater Andre dan Pater Edo yang telah melayani kami dalam Ekaristi Natal tahun 2025. Terima kasih juga untuk panitia dan seluruh umat yang telah bekerja keras. Kehadiran para Pastor adalah kado Natal terindah bagi iman kami di Stasi Raca," pungkasnya dalam sambutan yang penuh haru. Perayaan Natal di Stasi Raca tahun ini menjadi bukti bahwa di tengah kesederhanaan, jika cinta dan kerja sama menjadi landasannya, sukacita surga benar-benar bisa dirasakan di bum

Natal di Stasi Lareng; Sapaan Lembut "Tamu Agung" dalam Bahasa Manggarai. Perayaan Natal di Stasi Lareng tahun ini menyisakan jejak spiritual yang mendalam bagi umatnya. Bukan sekadar perayaan rutin yang berlalu bersama riuh rendah lagu Natal, namun sebuah perjumpaan batin yang dikemas dalam dua cara istimewa: melalui ketegasan iman seorang gembala muda dan kelembutan bahasa ibu dari seorang gembala senior. Saudara Satri Darmon, selaku seksi komsos di Stasi Lareng menyampaikan kisah perayaan Natal yang berkesan ini. Romo Coky, Pr: Natal Adalah Revolusi Diri; Malam Natal di Stasi Lareng dipimpin oleh Romo Coky, Pr. Sosoknya menarik perhatian bukan hanya karena jubah yang dikenakannya, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai seorang polisi aktif. Di balik wibawa kedisiplinannya, Romo Coky membawa pesan transformasi yang kuat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal bukanlah sekadar rutinitas seremoni tahunan. "Perayaan Natal yang diadakan setiap tahun bukan sebuah seremoni atau kegiatan rutin. Kita harus memaknai Natal itu sebenarnya, yaitu menjadi Manusia Baru di tengah keluarga dan masyarakat," tegas Pastor muda ini. Baginya, kelahiran Kristus harus menjadi momentum bagi setiap umat untuk meninggalkan tabiat lama dan hadir sebagai sosok yang baru, membawa damai serta ketertiban mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Pemandangan berbeda namun tak kalah menyentuh terjadi pada Misa Hari Raya Natal (25/12). Kali ini, Pater Hendrik, OFM, gembala senior yang dikenal sarat pengalaman, menyuguhkan siraman rohani yang sangat personal. Sepanjang khotbahnya, Pater Hendrik memilih menggunakan bahasa Manggarai; bahasa yang menyentuh akar terdalam budaya dan perasaan umat setempat. Dengan nada yang teduh, ia mengibaratkan kelahiran Yesus sebagai kehadiran seorang Tamu Agung yang datang dari tempat tinggi untuk mengunjungi setiap pribadi. "Leso ho'o dite manga cai meka, meka eta mai Surga ata manga nuk agu ngoeng latang ite neteng-neteng weki," (Hari ini kita kedatangan tamu, tamu dari Surga yang memiliki pikiran dan kerinduan untuk kita masing-masing), ungkap Pastor Tua ini dengan penuh perasaan. Gaya bahasa yang membumi ini memberikan penegasan bahwa Tuhan tidak jauh. Ia adalah tamu yang rindu mengetuk pintu rumah setiap umat di Stasi Lareng, tanpa terkecuali. Stasi Lareng telah menunjukkan betapa indahnya keberagaman pelayanan. Kehadiran Romo Coky dengan seruan pembaharuan dirinya, serta Pater Hendrik dengan pendekatan kultural yang menyentuh, menjadi perpaduan sempurna bagi pertumbuhan iman umat. Di bawah langit Lareng, Natal tahun ini benar-benar menjadi momen di mana umat merasa dipanggil secara pribadi untuk pulang ke pelukan Tuhan—baik sebagai manusia baru yang disiplin dalam kasih, maupun sebagai tuan rumah yang layak bagi Sang Tamu Agung dari Surga.


Natal di Stasi Sirimese; Simponi Persatuan.

Jarak geografis boleh saja menempatkan Stasi Sirimese di titik paling ujung Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Namun, dalam urusan iman dan semangat persaudaraan, umat di stasi ini membuktikan bahwa mereka adalah jantung yang berdetak kencang dengan sukacita Natal yang luar biasa. Melalui laporan Saudara Tus, Seksi Komsos Stasi Sirimese, tergambar jelas bagaimana perayaan kelahiran Sang Juru Selamat tahun ini menjadi panggung kolaborasi yang penuh haru dan kekhidmatan. Perayaan Malam Natal dimulai pada pukul 16.00 WITA yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Namun, ada pemandangan unik yang mencuri perhatian dan menggetarkan hati umat. Sebuah kolaborasi indah lahir dari rahim tiga Komunitas Basis Gerejani (KBG), yakni KBG Santu Mikael, Fransiskus, dan Gabriel, yang melebur menjadi satu kelompok koor bernama MIFAGA (Mikael, Fransikus dan Gabriel). Sekitar 600 umat yang hadir menyaksikan betapa perbedaan nama KBG bukan penghalang untuk melantunkan satu nada pujian yang sama. Suara-suara mereka membubung tinggi, mengisi ruang gereja, seolah menegaskan bahwa Natal adalah tentang menyatukan yang terpisah. Pada puncak perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember, suasana spiritual di Sirimese semakin terasa istimewa. Misa dipimpin oleh Romo Coky, Pr, imam Diosesan asal Paroki Tentang yang sedang dalam masa liburan. Di tengah waktu istirahatnya, pastor muda yang juga merupakan seorang anggota polisi ini memilih untuk memberikan dirinya, melayani umat di garis batas paroki. Jika Malam Natal dimeriahkan oleh MIFAGA, pada Misa Hari Raya ini, giliran paduan suara dari gabungan KBG Santu Antonius, Yohanes, dan Santa Matildis yang mengiringi langkah sekitar 600 umat dalam kekhusyukan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo Coky membawa pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk memperluas makna damai, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam ciptaan. "Mari kita saling berdamai dengan sesama dan seluruh makhluk Tuhan yang terkecil," ungkap Romo Coky dengan nada persuasif yang menyentuh hati. Kedamaian yang Inklusif; Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat di Sirimese bahwa Natal tidak berhenti di dalam gedung gereja. Damai Natal harus dibawa pulang ke rumah, ke kebun-kebun, dan ke tengah masyarakat, bahkan ditujukan kepada makhluk ciptaan yang paling kecil sekalipun. Meski berada di ujung wilayah pelayanan, Stasi Sirimese telah menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dengan jarak kilometer dari pusat paroki, melainkan dari kedekatan hati antar sesama melalui kolaborasi dan kerendahan hati untuk saling berdamai. Natal di Sirimese tahun ini adalah bukti bahwa di tempat yang paling jauh sekalipun, kasih Tuhan tetap hadir secara utuh, nyata, dan penuh kehangatan.


Natal di Stasi Lumut; Kabar Sukacita di Tengah Kegelapan; 

Di bawah langit Stasi Lumut yang tenang, sebuah peristiwa iman yang menggetarkan jiwa baru saja berlangsung. Perayaan Natal tahun ini di Stasi Lumut bukan sekadar pengulangan tradisi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa umat dari Kampung Lumut dan Kakor merenung jauh ke dalam batin, menjemput Terang yang telah lama dijanjikan. Saudara Sil selalu seksi komsos Stasi Lumut yang selalu setia mendokumentasikan moment berahmat ini, menyampaikan kisahnya tentang perayaan Natal yang berlangsung hikmat dan berkesan. Suasana penuh kegembiraan menyelimuti gereja saat perayaan Malam Natal dimulai. Kehadiran Pater Dion, putra Paroki Tentang yang sedang dalam masa libur namun memilih mengabdikan waktunya untuk melayani umat, memberikan warna tersendiri. Bagi umat, kehadiran imam yang "pulang kampung" untuk melayani adalah kado Natal yang menghangatkan. Dalam homilinya yang sarat akan makna puitis sekaligus teologis, Pater Dion mengingatkan umat bahwa Natal adalah jawaban Allah atas keputus-asaan dunia."Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan dunia ini tenggelam dalam kegelapan. Ia datang, hadir, dan menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus. Terang itu menembus dosa, kebohongan, dan keputusasaan," ungkap Pater Dion dengan nada yang penuh keyakinan. Pesan ini seolah menjadi pelita bagi umat, menegaskan bahwa seberat apa pun beban hidup, kegelapan tidak akan pernah bisa menguasai Terang sejati yang telah lahir di palungan hati. Sukacita terus mengalir hingga puncak Hari Raya Natal yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Berbeda dengan malam sebelumnya, Pater Edo membawa umat pada sebuah permenungan yang lebih intim dan reflektif. Dikenal dengan gaya berkotbah yang dialogis, ia tidak menyuapi umat dengan jawaban, melainkan mengetuk pintu kesadaran mereka melalui sebuah pertanyaan sederhana namun sangat dalam. "Sudah pantaskah saya menerima kehadiran Yesus?" tanya Pater Edo lembut. Pertanyaan itu menggantung di udara gereja, menciptakan keheningan yang suci. Pater Edo melanjutkan, "Jawabannya ada pada diri kita masing-masing." Ruangan seketika dipenuhi anggukan kepala umat; sebuah tanda bahwa pesan tersebut telah mendarat tepat di relung hati mereka, memicu pemeriksaan batin yang jujur di hari yang kudus tersebut. Keberhasilan perayaan yang khidmat ini tak lepas dari kerja keras banyak tangan. Ketua Dewan Stasi Lumut, Bapak Stef Jon, dengan penuh haru menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia mengapresiasi totalitas Pater Edo dan Pater Dion, serta kehadiran Suster dan Frater yang memperkaya suasana rohani di stasi tersebut. "Terima kasih kepada para Pastor, Suster, Frater, serta anak-anak putra-putri altar dan seluruh umat yang telah terlibat. Kerja keras dan kehadiran Anda semua telah memperlancar jalan bagi perayaan Ekaristi ini," ungkap Bapak Stef Jon dalam sambutannya yang penuh apresiasi. Natal di Stasi Lumut tahun ini ditutup dengan sebuah pemahaman baru: bahwa Kristus telah datang sebagai Terang, namun apakah kita sudah cukup layak menyediakan tempat bagi-Nya? Di antara Kampung Lumut dan Kakor, pertanyaan reflektif itu kini dibawa pulang oleh umat, menjadi bekal untuk menjalani hari-hari mendatang dengan hati yang lebih murni.


Natal di Stasi Kalo; Membasuh Hati dari Debu Kebencian.

Sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat dan udara sejuk khas pedesaan mulai menyelimuti perbukitan, lonceng gereja di Stasi Kalo berdentang dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar penanda waktu, dentang itu adalah undangan bagi umat di Kampung Purek dan War untuk menjemput sebuah peristiwa iman yang tak terlupakan. Tepat pukul 16.00 WITA, perayaan Ekaristi Malam Natal dimulai. Di tengah kesederhanaan suasana desa, sekitar lebih dari 400 umat berkumpul dengan hati yang penuh rindu. Di sana, telah menanti seorang gembala senior, Pater Hendrik, OFM, yang datang membawa warta sukacita. Sebagaimana dilaporkan oleh Saudara Ran Pranatalion, Seksi Komsos Stasi Kalo, suasana spiritual malam itu terasa begitu intim. Pater Hendrik, dengan gaya yang khas, memilih untuk melepaskan sekat jarak antara altar dan umat dengan menggunakan bahasa Manggarai sepanjang homilinya. Bagi umat di pelosok, mendengar Kabar Gembira dalam bahasa ibu adalah seperti merasakan dekapan Tuhan secara langsung. Pater Hendrik menekankan bahwa Yesus yang lahir di palungan bukanlah sosok yang jauh, melainkan seorang "Tamu Agung" (Meka) yang datang dari Surga khusus untuk mengunjungi mereka. "Leso ho ite mai meka eta mai Surga, mai latang sanggen taung ite ba dai di'ad..." (Hari ini kita kedatangan tamu dari Surga, yang datang membawa kebaikan bagi kita semua...), ucap Pater Hendrik dengan suara yang bergetar penuh kasih. Lebih jauh, pesan Pater Hendrik menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar. Ia mengajak seluruh umat Stasi Kalo untuk menjadikan kedatangan "Tamu Agung" ini sebagai momentum pembersihan diri. Natal bukan tentang baju baru, melainkan tentang hati yang baru. Dalam petuahnya yang mendalam, ia meminta umat untuk membuang segala hal yang merusak persaudaraan, "...oke taung toe di'a agu hae ata, iri hati agu ata, porong mai Diha ga pande Nggeluk taung nai dite sanggen taung umat ce stasi Kalo." (Buanglah semua yang tidak baik terhadap sesama, jauhkan iri hati, dan biarlah Dia yang datang menyucikan seluruh hati kita semua umat di Stasi Kalo ini). Mendengar pesan tersebut, keheningan menyelimuti gereja. Banyak umat tertunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari lisan sang gembala. Ada rasa haru yang membuncah ketika menyadari bahwa di stasi kecil ini, Tuhan mau hadir dan menyapa mereka dengan bahasa yang mereka cintai. Perayaan di Stasi Kalo menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Natal tidak diukur dari gemerlap lampu atau megahnya bangunan, melainkan dari ketulusan hati umat yang menyambut Tuhannya. Di bawah pimpinan Pater Hendrik, Natal tahun 2025 di Kalo telah bertransformasi menjadi sebuah "perjamuan suci" di mana kebencian dikalahkan oleh kasih, dan iri hati dibasuh oleh kerendahan hati. Ketika Misa berakhir dan umat melangkah pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan malam pedesaan, mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada cahaya "Tamu Agung" yang kini menyala terang di dalam hati setiap orang yang hadir.

Pesan Keteleladaan dari Sang Gembala.

Apa yang telah ditunjukkan oleh sang gembala umat Pater Andre dan rekan-rekan imam lainnya di Paroki Tentang adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa pelayanan sejati tidak mengenal jarak dan kenyamanan pribadi. Dengan terjangkaunya seluruh stasi, Paroki Tentang telah berhasil menghidupkan hakekat Natal yang inklusif Natal yang menyapa semua orang tanpa terkecuali. Luar biasa. Sebuah teladan yang membuktikan bahwa ketika kasih menjadi dasar, maka kelelahan fisik akan kalah oleh sukacita melihat umat tersenyum menyambut Sang Juru Selamat.

*Frengky Jamento (komsos Paroki Tentang)


Kamis, 25 Desember 2025

Sapaan Lembut di Kaki Langit Kalo: Kala "Tamu Agung" Bertamu dalam Bahasa Ibu

 

Foto by : Ran Pranatalion 

KALO-WARTAPAROKI – Sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat dan udara sejuk khas pedesaan mulai menyelimuti perbukitan, lonceng gereja di Stasi Kalo berdentang dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar penanda waktu, dentang itu adalah undangan bagi umat di Kampung Purek dan War untuk menjemput sebuah peristiwa iman yang tak terlupakan. Tepat pukul 16.00 WITA, perayaan Ekaristi Malam Natal dimulai. Di tengah kesederhanaan suasana desa, sekitar lebih dari 400 umat berkumpul dengan hati yang penuh rindu. Di sana, telah menanti seorang gembala senior, Pater Hendrik, OFM, yang datang membawa warta sukacita.

Kehangatan Bahasa Manggarai: Membawa Surga ke Dalam Hati; Sebagaimana dilaporkan oleh Saudara Ran Pranatalion, Seksi Komsos Stasi Kalo, suasana spiritual malam itu terasa begitu intim. Pater Hendrik, dengan gaya yang khas, memilih untuk melepaskan sekat jarak antara altar dan umat dengan menggunakan bahasa Manggarai sepanjang homilinya. Bagi umat di pelosok, mendengar Kabar Gembira dalam bahasa ibu adalah seperti merasakan dekapan Tuhan secara langsung. Pater Hendrik menekankan bahwa Yesus yang lahir di palungan bukanlah sosok yang jauh, melainkan seorang "Tamu Agung" (Meka) yang datang dari Surga khusus untuk mengunjungi mereka. "Leso ho ite mai meka eta mai Surga, mai latang sanggen taung ite ba dai di'ad..." (Hari ini kita kedatangan tamu dari Surga, yang datang membawa kebaikan bagi kita semua...), ucap Pater Hendrik dengan suara yang bergetar penuh kasih.

Membasuh Hati dari Debu Kebencian; Lebih jauh, pesan Pater Hendrik menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar. Ia mengajak seluruh umat Stasi Kalo untuk menjadikan kedatangan "Tamu Agung" ini sebagai momentum pembersihan diri. Natal bukan tentang baju baru, melainkan tentang hati yang baru. Dalam petuahnya yang mendalam, ia meminta umat untuk membuang segala hal yang merusak persaudaraan, "...oke taung toe di'a agu hae ata, iri hati agu ata, porong mai Diha ga pande Nggeluk taung nai dite sanggen taung umat ce stasi Kalo." (Buanglah semua yang tidak baik terhadap sesama, jauhkan iri hati, dan biarlah Dia yang datang menyucikan seluruh hati kita semua umat di Stasi Kalo ini). Mendengar pesan tersebut, keheningan menyelimuti gereja. Banyak umat tertunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari lisan sang gembala. Ada rasa haru yang membuncah ketika menyadari bahwa di stasi kecil ini, Tuhan mau hadir dan menyapa mereka dengan bahasa yang mereka cintai.

Natal yang Bersahaja namun Berbekas; Perayaan di Stasi Kalo menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Natal tidak diukur dari gemerlap lampu atau megahnya bangunan, melainkan dari ketulusan hati umat yang menyambut Tuhannya. Di bawah pimpinan Pater Hendrik, Natal tahun 2025 di Kalo telah bertransformasi menjadi sebuah "perjamuan suci" di mana kebencian dikalahkan oleh kasih, dan iri hati dibasuh oleh kerendahan hati. Ketika Misa berakhir dan umat melangkah pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan malam pedesaan, mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada cahaya "Tamu Agung" yang kini menyala terang di dalam hati setiap orang yang hadir.

Kontributor: Ran - Editor: Frengky Jamento

Cahaya di Palungan Lumut: Kala Terang Sejati Menembus Kegelapan dan Mengetuk Pintu Hati

Foto by : Saudara Sil

LUMUT-WARTAPAROKI – Di bawah langit Stasi Lumut yang tenang, sebuah peristiwa iman yang menggetarkan jiwa baru saja berlangsung. Perayaan Natal tahun ini di Stasi Lumut bukan sekadar pengulangan tradisi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa umat dari Kampung Lumut dan Kakor merenung jauh ke dalam batin, menjemput Terang yang telah lama dijanjikan. Saudara Sil selalu seksi komsos Stasi Lumut yang selalu setia mendokumentasikan moment berahmat ini, menyampaikan kisahnya tentang perayaan Natal yang berlangsung hikmat dan berkesan.

Malam Natal: Kabar Sukacita di Tengah Kegelapan; Suasana penuh kegembiraan menyelimuti gereja saat perayaan Malam Natal dimulai. Kehadiran Pater Dion, putra Paroki Tentang yang sedang dalam masa libur namun memilih mengabdikan waktunya untuk melayani umat, memberikan warna tersendiri. Bagi umat, kehadiran imam yang "pulang kampung" untuk melayani adalah kado Natal yang menghangatkan.

Dalam homilinya yang sarat akan makna puitis sekaligus teologis, Pater Dion mengingatkan umat bahwa Natal adalah jawaban Allah atas keputus-asaan dunia."Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan dunia ini tenggelam dalam kegelapan. Ia datang, hadir, dan menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus. Terang itu menembus dosa, kebohongan, dan keputusasaan," ungkap Pater Dion dengan nada yang penuh keyakinan. Pesan ini seolah menjadi pelita bagi umat, menegaskan bahwa seberat apa pun beban hidup, kegelapan tidak akan pernah bisa menguasai Terang sejati yang telah lahir di palungan hati.

Pagi Natal: Sebuah Pertanyaan yang Mengetuk Nurani; Sukacita terus mengalir hingga puncak Hari Raya Natal yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Berbeda dengan malam sebelumnya, Pater Edo membawa umat pada sebuah permenungan yang lebih intim dan reflektif. Dikenal dengan gaya berkotbah yang dialogis, ia tidak menyuapi umat dengan jawaban, melainkan mengetuk pintu kesadaran mereka melalui sebuah pertanyaan sederhana namun sangat dalam. "Sudah pantaskah saya menerima kehadiran Yesus?" tanya Pater Edo lembut. Pertanyaan itu menggantung di udara gereja, menciptakan keheningan yang suci. Pater Edo melanjutkan, "Jawabannya ada pada diri kita masing-masing." Ruangan seketika dipenuhi anggukan kepala umat; sebuah tanda bahwa pesan tersebut telah mendarat tepat di relung hati mereka, memicu pemeriksaan batin yang jujur di hari yang kudus tersebut.

Syukur dari Ujung Pelayanan; Keberhasilan perayaan yang khidmat ini tak lepas dari kerja keras banyak tangan. Ketua Dewan Stasi Lumut, Bapak Stef Jon, dengan penuh haru menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia mengapresiasi totalitas Pater Edo dan Pater Dion, serta kehadiran Suster dan Frater yang memperkaya suasana rohani di stasi tersebut. "Terima kasih kepada para Pastor, Suster, Frater, serta anak-anak putra-putri altar dan seluruh umat yang telah terlibat. Kerja keras dan kehadiran Anda semua telah memperlancar jalan bagi perayaan Ekaristi ini," ungkap Bapak Stef Jon dalam sambutannya yang penuh apresiasi.

Refleksi Natal di Lumut; Natal di Stasi Lumut tahun ini ditutup dengan sebuah pemahaman baru: bahwa Kristus telah datang sebagai Terang, namun apakah kita sudah cukup layak menyediakan tempat bagi-Nya? Di antara Kampung Lumut dan Kakor, pertanyaan reflektif itu kini dibawa pulang oleh umat, menjadi bekal untuk menjalani hari-hari mendatang dengan hati yang lebih murni.

* Kontributor: Sil / Editor: Frengky Jamento 


Cahaya dari Ujung Paroki: Harmoni "MIFAGA" dan Pesan Damai Romo Polisi di Stasi Sirimese

Foto by : Tus 

SIRIMESE-WARTAPAROKI– Jarak geografis boleh saja menempatkan Stasi Sirimese di titik paling ujung Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Namun, dalam urusan iman dan semangat persaudaraan, umat di stasi ini membuktikan bahwa mereka adalah jantung yang berdetak kencang dengan sukacita Natal yang luar biasa. Melalui laporan Saudara Tus, Seksi Komsos Stasi Sirimese, tergambar jelas bagaimana perayaan kelahiran Sang Juru Selamat tahun ini menjadi panggung kolaborasi yang penuh haru dan kekhidmatan.

MIFAGA: Simponi Persatuan di Malam Natal; Perayaan Malam Natal dimulai pada pukul 16.00 WITA yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Namun, ada pemandangan unik yang mencuri perhatian dan menggetarkan hati umat. Sebuah kolaborasi indah lahir dari rahim tiga Komunitas Basis Gerejani (KBG), yakni KBG Santu Mikael, Fransiskus, dan Gabriel, yang melebur menjadi satu kelompok koor bernama MIFAGA (Mikael, Fransikus dan Gabriel). Sekitar 600 umat yang hadir menyaksikan betapa perbedaan nama KBG bukan penghalang untuk melantunkan satu nada pujian yang sama. Suara-suara mereka membubung tinggi, mengisi ruang gereja, seolah menegaskan bahwa Natal adalah tentang menyatukan yang terpisah.

Pulang untuk Melayani: Pesan Damai Romo Coky, Pr; Pada puncak perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember, suasana spiritual di Sirimese semakin terasa istimewa. Misa dipimpin oleh Romo Coky, Pr, imam Diosesan asal Paroki Tentang yang sedang dalam masa liburan. Di tengah waktu istirahatnya, pastor muda yang juga merupakan seorang anggota polisi ini memilih untuk memberikan dirinya, melayani umat di garis batas paroki.

Jika Malam Natal dimeriahkan oleh MIFAGA, pada Misa Hari Raya ini, giliran paduan suara dari gabungan KBG Santu Antonius, Yohanes, dan Santa Matildis yang mengiringi langkah sekitar 600 umat dalam kekhusyukan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo Coky membawa pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk memperluas makna damai, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam ciptaan. "Mari kita saling berdamai dengan sesama dan seluruh makhluk Tuhan yang terkecil," ungkap Romo Coky dengan nada persuasif yang menyentuh hati.

Kedamaian yang Inklusif; Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat di Sirimese bahwa Natal tidak berhenti di dalam gedung gereja. Damai Natal harus dibawa pulang ke rumah, ke kebun-kebun, dan ke tengah masyarakat, bahkan ditujukan kepada makhluk ciptaan yang paling kecil sekalipun. Meski berada di ujung wilayah pelayanan, Stasi Sirimese telah menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dengan jarak kilometer dari pusat paroki, melainkan dari kedekatan hati antar sesama melalui kolaborasi dan kerendahan hati untuk saling berdamai. Natal di Sirimese tahun ini adalah bukti bahwa di tempat yang paling jauh sekalipun, kasih Tuhan tetap hadir secara utuh, nyata, dan penuh kehangatan.

Kontributor:  Tus / Editor: Frengky Jamento 

Dua Sisi Kasih di Stasi Lareng: Dari Transformasi "Manusia Baru" hingga Sapaan Hangat Sang Tamu Agung

Foto by : Satri Darmon

LARENG-WARTAPAROKI– Perayaan Natal di Stasi Lareng tahun ini menyisakan jejak spiritual yang mendalam bagi umatnya. Bukan sekadar perayaan rutin yang berlalu bersama riuh rendah lagu Natal, namun sebuah perjumpaan batin yang dikemas dalam dua cara istimewa: melalui ketegasan iman seorang gembala muda dan kelembutan bahasa ibu dari seorang gembala senior. Saudara Satri Darmon, selaku seksi komsos di Stasi Lareng menyampaikan kisah perayaan Natal yang berkesan ini.

Romo Coky, Pr: Natal Adalah Revolusi Diri; Malam Natal di Stasi Lareng dipimpin oleh Romo Coky, Pr. Sosoknya menarik perhatian bukan hanya karena jubah yang dikenakannya, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai seorang polisi aktif. Di balik wibawa kedisiplinannya, Romo Coky membawa pesan transformasi yang kuat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal bukanlah sekadar rutinitas seremoni tahunan. "Perayaan Natal yang diadakan setiap tahun bukan sebuah seremoni atau kegiatan rutin. Kita harus memaknai Natal itu sebenarnya, yaitu menjadi Manusia Baru di tengah keluarga dan masyarakat," tegas Pastor muda ini. Baginya, kelahiran Kristus harus menjadi momentum bagi setiap umat untuk meninggalkan tabiat lama dan hadir sebagai sosok yang baru, membawa damai serta ketertiban mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.

Pater Hendrik, OFM: Sapaan Lembut "Tamu Agung" dalam Bahasa Manggarai.

Pemandangan berbeda namun tak kalah menyentuh terjadi pada Misa Hari Raya Natal (25/12). Kali ini, Pater Hendrik, OFM, gembala senior yang dikenal sarat pengalaman, menyuguhkan siraman rohani yang sangat personal. Sepanjang khotbahnya, Pater Hendrik memilih menggunakan bahasa Manggarai; bahasa yang menyentuh akar terdalam budaya dan perasaan umat setempat. Dengan nada yang teduh, ia mengibaratkan kelahiran Yesus sebagai kehadiran seorang Tamu Agung yang datang dari tempat tinggi untuk mengunjungi setiap pribadi. "Leso ho'o dite manga cai meka, meka eta mai Surga ata manga nuk agu ngoeng latang ite neteng-neteng weki," (Hari ini kita kedatangan tamu, tamu dari Surga yang memiliki pikiran dan kerinduan untuk kita masing-masing), ungkap Pastor Tua ini dengan penuh perasaan. Gaya bahasa yang membumi ini memberikan penegasan bahwa Tuhan tidak jauh. Ia adalah tamu yang rindu mengetuk pintu rumah setiap umat di Stasi Lareng, tanpa terkecuali.

Harmoni Antar Generasi; Stasi Lareng telah menunjukkan betapa indahnya keberagaman pelayanan. Kehadiran Romo Coky dengan seruan pembaharuan dirinya, serta Pater Hendrik dengan pendekatan kultural yang menyentuh, menjadi perpaduan sempurna bagi pertumbuhan iman umat. Di bawah langit Lareng, Natal tahun ini benar-benar menjadi momen di mana umat merasa dipanggil secara pribadi untuk pulang ke pelukan Tuhan—baik sebagai manusia baru yang disiplin dalam kasih, maupun sebagai tuan rumah yang layak bagi Sang Tamu Agung dari Surga.

*Kontributor: Satri Darmon/Editor : Frengky Jamento 

Natal di Stasi Raca: Dari Pesan Persaudaraan Hingga Filosofi "Angka Lima" yang Memikat Hati

Foto by : Leksan

RACA-WARTAPAROKI – Di bawah naungan langit malam yang tenang di Stasi Raca, ribuan hati berkumpul dalam sebuah harmoni iman yang luar biasa. Perayaan Natal tahun 2025 di stasi ini tidak hanya menjadi rutinitas doa, tetapi menjelma menjadi momen refleksi mendalam tentang cinta, persaudaraan, dan kesederhanaan seorang anak kecil yang membawa keselamatan bagi dunia.

Malam Natal: Merayakan Ketidaksempurnaan dengan Cinta.
Perayaan dimulai pada Malam Natal, Rabu (24/12), pukul 19.00 WITA. Sebanyak 800 umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati gereja dengan khusyuk. Di bawah arahan liturgi dari umat Dusun Kaput, suasana terasa begitu hidup dan syahdu. Pater Andre, OFM, yang memimpin Ekaristi malam itu, memberikan siraman rohani yang menyentuh relung hati umat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal adalah perayaan persaudaraan yang melintasi batas semesta. ​"Mari kita menumbuhkan dalam diri kita cinta kepada sesama. Sadarilah bahwa tidak ada anak, pasangan, ataupun sesama yang sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itulah, kasih Natal memanggil kita untuk saling menerima," pesan Pater Andre sebagaimana didokumentasikan oleh kontributor Komsos, Leksan Serdi.

Pagi Natal: Kehadiran Tuhan dalam Sosok Anak Kecil. Sukacita berlanjut pada puncak Hari Raya Natal, Kamis (25/12). Sejak pukul 07.30 WITA, lebih dari 600 umat termasuk para lansia yang datang dengan langkah perlahan namun penuh semangat; telah memenuhi ruangan. Alunan koor dari umat Dusun Ting membubung tinggi, menambah kekhidmatan suasana. Pater Eduardus Da Silva, OFM (Pater Edo), yang memimpin perayaan pagi itu, membawa pesan yang sangat puitis namun nyata. Ia mengingatkan umat bahwa Tuhan memilih hadir sebagai anak kecil, sebuah simbol kemurnian yang tanpa noda kebencian. ​"Tuhan hadir sebagai anak kecil membawa keselamatan tanpa ada kebencian. Sebab, kebencian biasanya baru tumbuh ketika orang menjadi dewasa," ungkap Pater Edo, yang disambut anggukan reflektif dari ribuan umat yang hadir.
Keunikan Angka Lima dan Lima Pohon Natal.
Natal tahun 2025 ini juga terasa istimewa karena sebuah "kebetulan" yang cantik. Pater Edo menyoroti keunikan angka 5 yang muncul secara berulang; tanggal 25, tahun 2025. Keunikan ini menjadi inspirasi filosofis bagi Stasi Raca untuk menghadirkan lima buah pohon natal yang berdiri anggun, melambangkan berbagai makna mendalam dalam kehidupan dan iman. Filosofi angka lima ini bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat akan keseimbangan dan kelengkapan dalam melayani sesama.
Apresiasi dan Rasa Syukur;
Di penghujung perayaan, Ketua Dewan Stasi Raca, Bapak Nikolaus Danggur, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Ia mengapresiasi totalitas para imam dan kerja keras seluruh umat yang telah bahu-membahu menyukseskan perayaan ini. ​"Terima kasih kepada Pater Andre dan Pater Edo yang telah melayani kami dalam Ekaristi Natal tahun 2025. Terima kasih juga untuk panitia dan seluruh umat yang telah bekerja keras. Kehadiran para Pastor adalah kado Natal terindah bagi iman kami di Stasi Raca," pungkasnya dalam sambutan yang penuh haru. Perayaan Natal di Stasi Raca tahun ini menjadi bukti bahwa di tengah kesederhanaan, jika cinta dan kerja sama menjadi landasannya, sukacita surga benar-benar bisa dirasakan di bumi.

*Kontributor: Leksan Serdi
*Editor : Frengky Jamento 

Rabu, 17 Desember 2025

"Kematian Bukanlah Kehilangan Segalanya"

 Pastor Hendrik OFM Teguhkan Keluarga Bapak Nikolaus Sanggur

Foto by: Satri
PACI, WARTA PAROKI – Senja di hari Rabu (17/12/2025) menjadi saksi bisu duka yang menyelimuti Kampung Paci. Tepat pukul 17.00 WITA, Bapak Nikolaus Sanggur mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan seorang istri terkasih dan empat orang buah hati yang kini harus menapaki hari tanpa sosok ayah secara fisik. Namun, di tengah kabut duka itu, cahaya iman Katolik hadir memberikan kekuatan. Pada hari Kamis (18/12/2025), suasana haru menyelimuti rumah duka saat umat Kampung Paci berkumpul untuk menghadiri Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh P. Hendrik, OFM. Misa yang dimulai pukul 10.30 WITA ini menjadi momen sakral untuk menghantar jiwa Bapak Nikolaus kembali ke pangkuan Bapa.

"Kematian Bukan Akhir Segalanya". Dalam homilinya yang dibawakan dengan sentuhan gaya bahasa Manggarai yang khas dan menyentuh hati, Pastor Hendrik, OFM hadir bukan sekadar sebagai pemimpin ibadat, melainkan sebagai peneguh hati bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia menekankan bahwa air mata perpisahan adalah wajar, namun iman Kristen menawarkan perspektif yang lebih agung. ​"Kita berkumpul berdoa untuk menghantar kepergian saudara kita, sebab kita yakini bahwa kematian bukanlah kehilangan segalanya. Hanya badan yang tidak bersama kita, namun rohnya tetap bersama kita," ujar Pastor Hendrik dengan lembut. Kata-kata tersebut seolah menjadi oase di tengah gurun kesedihan keluarga. Pastor Hendrik menegaskan bahwa kematian adalah sebuah "jalan pulang". Layaknya awal kehidupan di mana manusia diciptakan karena cinta Tuhan, maka kepulangannya pun adalah panggilan cinta yang sama dari Sang Pencipta.

Janji Kebangkitan- Lebih jauh, Pastor Hendrik mengajak seluruh umat yang hadir untuk memeluk erat iman Katolik. Ia mengingatkan kembali akan janji Kristus yang telah mengalahkan maut dan bangkit pada hari ketiga. Dasar iman inilah yang menjadi pelita harapan bagi Bapak Nikolaus. "Tuhan sangat mencintai umat-Nya, dan kematian merupakan kehidupan kembali yang lebih besar," tegas Pastor Hendrik. Ia mengajak umat untuk tidak membiarkan kesedihan berlarut-larut, melainkan mengubah rindu menjadi doa. ​Sebagai penutup homili yang penuh makna tersebut, Pastor Hendrik menitipkan pesan suci kepada kita yang masih berziarah di dunia ini. ​"Sekarang Bapak Nikolaus sudah tidak ada bersama kita secara fisik, mari kita merawatnya dengan doa." 

Misa arwah ini didokumentasikan oleh Saudara Satri Darmon, tim Komsos Stasi Lareng yang setia mewartakan kabar umat. Kepergian Bapak Nikolaus Sanggur mungkin meninggalkan ruang kosong di meja makan keluarga, namun iman yang diteguhkan hari ini memastikan bahwa jiwanya kini telah utuh dalam dekapan kasih Ilahi. Selamat jalan, Bapak Nikolaus. Doa kami menyertai perjalananmu menuju keabadian.

Informasi Redaksi

  • Kontributor: Satri Darmon (Komsos Stasi Lareng)
  • Editor: Frengky Jamento

Senin, 15 Desember 2025

KASIH DARI TENTANG; Aksi Solidaritas OMK dan SEKAMI untuk Sesama Saudara di Sumatra

Foto by ; Andry

TENTANG- WARTAPAROKI_Minggu itu, 14 Desember 2025, suasana di depan Gereja Santu Fransiskus Assisi Tentang terasa berbeda. Di tengah lilin merah muda yang menyala menandakan Minggu Adven III atau minggu sukacita (Gaudete), sebuah gerakan kemanusiaan sederhana namun bermakna besar lahir dari tangan-tangan orang muda. Ketika saudara-saudara di Sumatra sedang berjuang bangkit dari puing-puing bencana alam, jarak ribuan kilometer tidak menyurutkan semangat bela rasa dari pelosok Paroki Tentang. Dimotori oleh Orang Muda Katolik (OMK) dan Serikat Kepausan Anak Misioner (SEKAMI), pendopo gereja disulap menjadi ladang amal melalui sebuah bazaar sederhana.

Bukan Sekadar Sumbangan, Tapi Keringat dan Cinta. Apa yang membuat aksi ini begitu menyentuh bukanlah nominal uang yang terkumpul semata, melainkan usaha yang diberikan. Mereka tidak sekadar menadahkan tangan meminta donasi. Sejak pagi, para pemuda dan anak-anak ini telah sibuk menyiapkan bungkusna sajian daging untuk jembatan aksi solidaritas penggalangan dana. Aroma sedap olahan daging dan aneka snack racikan lokal memenuhi udara, mengundang umat yang baru saja selesai merayakan Ekaristi untuk singgah. Setiap porsi makanan yang terjual adalah wujud kepedulian yang nyata. Sajian menu sekadar ya itu dijual dengan harga Rp. 25.000 per bungkus. Hasil jualan daging dan sumbangan spontan dari umat yang hadir  terkumpul dengan total Ro. 2.500.000. Tentu hasil ini sangat luar biasa bagi kontek lokal gerakan kepedulian anak muda. Handry, Ketua OMK Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang, dengan mata berbinar menjelaskan bahwa kegiatan ini murni inisiatif solidaritas. ​"Kami mengolah daging ini dengan racikan standar lokal untuk dijual kepada umat setelah perayaan Ekaristi. Ini bukan tentang jualan, ini adalah sebagian bentuk solidaritas kami—keringat kami—untuk sesama umat yang terkena musibah di Sumatra," ungkap Handry dengan penuh semangat.

Hal Kecil dengan Cinta yang Besar. Pemandangan di bazaar tersebut sungguh menggetarkan hati. Melihat anak-anak SEKAMI yang masih belia berdiri berdampingan dengan kakak-kakak OMK, menawarkan dagangan dengan senyum tulus, seolah menegaskan pesan Bunda Teresa yang menjadi jiwa kegiatan ini: "Lakukanlah perbuatan yang kecil (sederhana) dengan cinta yang besar." ​Umat paroki pun menyambut dengan antusias. Mereka membeli bukan hanya karena lapar, tapi karena ingin menitipkan kasih sayang mereka untuk saudara di Sumatra melalui setiap suapan makanan yang disajikan oleh anak-anak mereka sendiri.​ Aksi solidaritas OMK - SEKAMI Stasi Tentang ini menjadi bukti bahwa empati tidak mengenal batas wilayah. Di Minggu penantian ini, mereka tidak hanya menanti kedatangan Kristus di altar, tetapi juga menghadirkan wajah Kristus yang peduli kepada mereka yang menderita. Semoga langkah kecil dari Paroki Tentang ini menjadi riak air yang menyebar luas, menggerakkan lebih banyak orang muda dan umat Katolik di mana pun untuk berani berbagi. Dari Tentang untuk Sumatra, doa dan kasih itu telah dikirimkan.

*Frengky Jamento (Komsos PSFAT)