 |
| Foto by : Tim Komsos |
Tentang-WARTAPAROKI– Di balik riuh rendah lonceng gereja dan gemerlap lilin altar, Natal di Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang tahun ini menyimpan sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui sekadar rutinitas liturgi. Natal kali ini bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang sejauh mana seorang gembala bersedia melangkah demi domba-dombanya. Demi memastikan setiap umat dapat mengecap sukacita kelahiran Kristus, Paroki Tentang mengambil langkah berani dengan membagi perayaan Ekaristi ke tujuh titik lokasi yang berbeda. Mulai dari Pusat Paroki (Stasi Tentang), hingga menjangkau Stasi Lareng, Kalo, Raca, Sirimese, Lumut, dan Reca. Langkah ini bukanlah perkara mudah. Hal ini menuntut pengorbanan dan dedikasi penuh dari para imam yang melayani. Sosok Pater Andreas Bisa, OFM, Pater Eduardus Da Silva, OFM, Pater Hendrik, OFM, Pater Dion, dan Romo Coky, Pr menjadi potret nyata dari apa yang disebut sebagai "pelayanan total". Mereka tidak menunggu umat datang, melainkan mereka yang mendatangi umat. Melalui medan yang mungkin tak selalu mudah, para gembala ini membawa pesan damai Natal hingga ke sudut-sudut stasi agar tak ada satu pun jiwa yang merasa terlupakan di hari yang kudus ini. "Natal bukanlah sekadar putaran kalender. Ia adalah perjumpaan. Dan hari ini, para imam kami menunjukkan bahwa hakekat Natal adalah kehadiran yang nyata," ungkap salah seorang umat dengan mata berkaca-kaca. Kontributor Tim Komsos Paroki Tentang melaporkan beragam momen haru dari lapangan. Kehadiran imam di setiap lokasi disambut hangat dan bahagia umat yang merasa begitu diperhatikan, juga cerita tentang kesederhanaan kandang Natal di stasi-stasi justru menambah kekhusyukan yang tak ternilai harganya. Setiap lokasi memiliki ceritanya sendiri, ada tawa anak-anak, ada doa khusyuk para lansia, ada semangat gotong royong yang dibangun dalam menyiapkan perayaan. Namun, benang merahnya tetap sama; Syukur dan Damai.
Natal di Stasi Raca; Merayakan Ketidaksempurnaan dengan Cinta.
Di bawah naungan langit malam yang tenang di Stasi Raca, ribuan hati berkumpul dalam sebuah harmoni iman yang luar biasa. Perayaan Natal tahun 2025 di stasi ini tidak hanya menjadi rutinitas doa, tetapi menjelma menjadi momen refleksi mendalam tentang cinta, persaudaraan, dan kesederhanaan seorang anak kecil yang membawa keselamatan bagi dunia. Perayaan dimulai pada Malam Natal, Rabu (24/12), pukul 19.00 WITA. Sebanyak 800 umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati gereja dengan khusyuk. Di bawah arahan liturgi dari umat Dusun Kaput, suasana terasa begitu hidup dan syahdu. Pater Andre, OFM, yang memimpin Ekaristi malam itu, memberikan siraman rohani yang menyentuh relung hati umat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal adalah perayaan persaudaraan yang melintasi batas semesta. "Mari kita menumbuhkan dalam diri kita cinta kepada sesama. Sadarilah bahwa tidak ada anak, pasangan, ataupun sesama yang sempurna. Di dalam ketidaksempurnaan itulah, kasih Natal memanggil kita untuk saling menerima," pesan Pater Andre sebagaimana didokumentasikan oleh kontributor Komsos, Leksan Serdi. Sukacita berlanjut pada puncak Hari Raya Natal, Kamis (25/12). Sejak pukul 07.30 WITA, lebih dari 600 umat termasuk para lansia yang datang dengan langkah perlahan namun penuh semangat; telah memenuhi ruangan. Alunan koor dari umat Dusun Ting membubung tinggi, menambah kekhidmatan suasana. Pater Eduardus Da Silva, OFM (Pater Edo), yang memimpin perayaan pagi itu, membawa pesan yang sangat puitis namun nyata. Ia mengingatkan umat bahwa Tuhan memilih hadir sebagai anak kecil, sebuah simbol kemurnian yang tanpa noda kebencian. "Tuhan hadir sebagai anak kecil membawa keselamatan tanpa ada kebencian. Sebab, kebencian biasanya baru tumbuh ketika orang menjadi dewasa," ungkap Pater Edo, yang disambut anggukan reflektif dari ribuan umat yang hadir. Natal tahun 2025 ini juga terasa istimewa karena sebuah "kebetulan" yang cantik. Pater Edo menyoroti keunikan angka 5 yang muncul secara berulang; tanggal 25, tahun 2025. Keunikan ini menjadi inspirasi filosofis bagi Stasi Raca untuk menghadirkan lima buah pohon natal yang berdiri anggun, melambangkan berbagai makna mendalam dalam kehidupan dan iman. Filosofi angka lima ini bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat akan keseimbangan dan kelengkapan dalam melayani sesama. Di penghujung perayaan, Ketua Dewan Stasi Raca, Bapak Nikolaus Danggur, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Ia mengapresiasi totalitas para imam dan kerja keras seluruh umat yang telah bahu-membahu menyukseskan perayaan ini. "Terima kasih kepada Pater Andre dan Pater Edo yang telah melayani kami dalam Ekaristi Natal tahun 2025. Terima kasih juga untuk panitia dan seluruh umat yang telah bekerja keras. Kehadiran para Pastor adalah kado Natal terindah bagi iman kami di Stasi Raca," pungkasnya dalam sambutan yang penuh haru. Perayaan Natal di Stasi Raca tahun ini menjadi bukti bahwa di tengah kesederhanaan, jika cinta dan kerja sama menjadi landasannya, sukacita surga benar-benar bisa dirasakan di bum
Natal di Stasi Lareng; Sapaan Lembut "Tamu Agung" dalam Bahasa Manggarai. Perayaan Natal di Stasi Lareng tahun ini menyisakan jejak spiritual yang mendalam bagi umatnya. Bukan sekadar perayaan rutin yang berlalu bersama riuh rendah lagu Natal, namun sebuah perjumpaan batin yang dikemas dalam dua cara istimewa: melalui ketegasan iman seorang gembala muda dan kelembutan bahasa ibu dari seorang gembala senior. Saudara Satri Darmon, selaku seksi komsos di Stasi Lareng menyampaikan kisah perayaan Natal yang berkesan ini. Romo Coky, Pr: Natal Adalah Revolusi Diri; Malam Natal di Stasi Lareng dipimpin oleh Romo Coky, Pr. Sosoknya menarik perhatian bukan hanya karena jubah yang dikenakannya, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai seorang polisi aktif. Di balik wibawa kedisiplinannya, Romo Coky membawa pesan transformasi yang kuat. Dalam homilinya, ia menekankan bahwa Natal bukanlah sekadar rutinitas seremoni tahunan. "Perayaan Natal yang diadakan setiap tahun bukan sebuah seremoni atau kegiatan rutin. Kita harus memaknai Natal itu sebenarnya, yaitu menjadi Manusia Baru di tengah keluarga dan masyarakat," tegas Pastor muda ini. Baginya, kelahiran Kristus harus menjadi momentum bagi setiap umat untuk meninggalkan tabiat lama dan hadir sebagai sosok yang baru, membawa damai serta ketertiban mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Pemandangan berbeda namun tak kalah menyentuh terjadi pada Misa Hari Raya Natal (25/12). Kali ini, Pater Hendrik, OFM, gembala senior yang dikenal sarat pengalaman, menyuguhkan siraman rohani yang sangat personal. Sepanjang khotbahnya, Pater Hendrik memilih menggunakan bahasa Manggarai; bahasa yang menyentuh akar terdalam budaya dan perasaan umat setempat. Dengan nada yang teduh, ia mengibaratkan kelahiran Yesus sebagai kehadiran seorang Tamu Agung yang datang dari tempat tinggi untuk mengunjungi setiap pribadi. "Leso ho'o dite manga cai meka, meka eta mai Surga ata manga nuk agu ngoeng latang ite neteng-neteng weki," (Hari ini kita kedatangan tamu, tamu dari Surga yang memiliki pikiran dan kerinduan untuk kita masing-masing), ungkap Pastor Tua ini dengan penuh perasaan. Gaya bahasa yang membumi ini memberikan penegasan bahwa Tuhan tidak jauh. Ia adalah tamu yang rindu mengetuk pintu rumah setiap umat di Stasi Lareng, tanpa terkecuali. Stasi Lareng telah menunjukkan betapa indahnya keberagaman pelayanan. Kehadiran Romo Coky dengan seruan pembaharuan dirinya, serta Pater Hendrik dengan pendekatan kultural yang menyentuh, menjadi perpaduan sempurna bagi pertumbuhan iman umat. Di bawah langit Lareng, Natal tahun ini benar-benar menjadi momen di mana umat merasa dipanggil secara pribadi untuk pulang ke pelukan Tuhan—baik sebagai manusia baru yang disiplin dalam kasih, maupun sebagai tuan rumah yang layak bagi Sang Tamu Agung dari Surga.
Natal di Stasi Sirimese; Simponi Persatuan.
Jarak geografis boleh saja menempatkan Stasi Sirimese di titik paling ujung Paroki Santu Fransiskus Assisi Tentang. Namun, dalam urusan iman dan semangat persaudaraan, umat di stasi ini membuktikan bahwa mereka adalah jantung yang berdetak kencang dengan sukacita Natal yang luar biasa. Melalui laporan Saudara Tus, Seksi Komsos Stasi Sirimese, tergambar jelas bagaimana perayaan kelahiran Sang Juru Selamat tahun ini menjadi panggung kolaborasi yang penuh haru dan kekhidmatan. Perayaan Malam Natal dimulai pada pukul 16.00 WITA yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Namun, ada pemandangan unik yang mencuri perhatian dan menggetarkan hati umat. Sebuah kolaborasi indah lahir dari rahim tiga Komunitas Basis Gerejani (KBG), yakni KBG Santu Mikael, Fransiskus, dan Gabriel, yang melebur menjadi satu kelompok koor bernama MIFAGA (Mikael, Fransikus dan Gabriel). Sekitar 600 umat yang hadir menyaksikan betapa perbedaan nama KBG bukan penghalang untuk melantunkan satu nada pujian yang sama. Suara-suara mereka membubung tinggi, mengisi ruang gereja, seolah menegaskan bahwa Natal adalah tentang menyatukan yang terpisah. Pada puncak perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember, suasana spiritual di Sirimese semakin terasa istimewa. Misa dipimpin oleh Romo Coky, Pr, imam Diosesan asal Paroki Tentang yang sedang dalam masa liburan. Di tengah waktu istirahatnya, pastor muda yang juga merupakan seorang anggota polisi ini memilih untuk memberikan dirinya, melayani umat di garis batas paroki. Jika Malam Natal dimeriahkan oleh MIFAGA, pada Misa Hari Raya ini, giliran paduan suara dari gabungan KBG Santu Antonius, Yohanes, dan Santa Matildis yang mengiringi langkah sekitar 600 umat dalam kekhusyukan Ekaristi. Dalam homilinya, Romo Coky membawa pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk memperluas makna damai, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam ciptaan. "Mari kita saling berdamai dengan sesama dan seluruh makhluk Tuhan yang terkecil," ungkap Romo Coky dengan nada persuasif yang menyentuh hati. Kedamaian yang Inklusif; Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat di Sirimese bahwa Natal tidak berhenti di dalam gedung gereja. Damai Natal harus dibawa pulang ke rumah, ke kebun-kebun, dan ke tengah masyarakat, bahkan ditujukan kepada makhluk ciptaan yang paling kecil sekalipun. Meski berada di ujung wilayah pelayanan, Stasi Sirimese telah menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dengan jarak kilometer dari pusat paroki, melainkan dari kedekatan hati antar sesama melalui kolaborasi dan kerendahan hati untuk saling berdamai. Natal di Sirimese tahun ini adalah bukti bahwa di tempat yang paling jauh sekalipun, kasih Tuhan tetap hadir secara utuh, nyata, dan penuh kehangatan.
Natal di Stasi Lumut; Kabar Sukacita di Tengah Kegelapan;
Di bawah langit Stasi Lumut yang tenang, sebuah peristiwa iman yang menggetarkan jiwa baru saja berlangsung. Perayaan Natal tahun ini di Stasi Lumut bukan sekadar pengulangan tradisi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa umat dari Kampung Lumut dan Kakor merenung jauh ke dalam batin, menjemput Terang yang telah lama dijanjikan. Saudara Sil selalu seksi komsos Stasi Lumut yang selalu setia mendokumentasikan moment berahmat ini, menyampaikan kisahnya tentang perayaan Natal yang berlangsung hikmat dan berkesan. Suasana penuh kegembiraan menyelimuti gereja saat perayaan Malam Natal dimulai. Kehadiran Pater Dion, putra Paroki Tentang yang sedang dalam masa libur namun memilih mengabdikan waktunya untuk melayani umat, memberikan warna tersendiri. Bagi umat, kehadiran imam yang "pulang kampung" untuk melayani adalah kado Natal yang menghangatkan. Dalam homilinya yang sarat akan makna puitis sekaligus teologis, Pater Dion mengingatkan umat bahwa Natal adalah jawaban Allah atas keputus-asaan dunia."Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan dunia ini tenggelam dalam kegelapan. Ia datang, hadir, dan menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus. Terang itu menembus dosa, kebohongan, dan keputusasaan," ungkap Pater Dion dengan nada yang penuh keyakinan. Pesan ini seolah menjadi pelita bagi umat, menegaskan bahwa seberat apa pun beban hidup, kegelapan tidak akan pernah bisa menguasai Terang sejati yang telah lahir di palungan hati. Sukacita terus mengalir hingga puncak Hari Raya Natal yang dipimpin oleh Pater Edo, OFM. Berbeda dengan malam sebelumnya, Pater Edo membawa umat pada sebuah permenungan yang lebih intim dan reflektif. Dikenal dengan gaya berkotbah yang dialogis, ia tidak menyuapi umat dengan jawaban, melainkan mengetuk pintu kesadaran mereka melalui sebuah pertanyaan sederhana namun sangat dalam. "Sudah pantaskah saya menerima kehadiran Yesus?" tanya Pater Edo lembut. Pertanyaan itu menggantung di udara gereja, menciptakan keheningan yang suci. Pater Edo melanjutkan, "Jawabannya ada pada diri kita masing-masing." Ruangan seketika dipenuhi anggukan kepala umat; sebuah tanda bahwa pesan tersebut telah mendarat tepat di relung hati mereka, memicu pemeriksaan batin yang jujur di hari yang kudus tersebut. Keberhasilan perayaan yang khidmat ini tak lepas dari kerja keras banyak tangan. Ketua Dewan Stasi Lumut, Bapak Stef Jon, dengan penuh haru menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia mengapresiasi totalitas Pater Edo dan Pater Dion, serta kehadiran Suster dan Frater yang memperkaya suasana rohani di stasi tersebut. "Terima kasih kepada para Pastor, Suster, Frater, serta anak-anak putra-putri altar dan seluruh umat yang telah terlibat. Kerja keras dan kehadiran Anda semua telah memperlancar jalan bagi perayaan Ekaristi ini," ungkap Bapak Stef Jon dalam sambutannya yang penuh apresiasi. Natal di Stasi Lumut tahun ini ditutup dengan sebuah pemahaman baru: bahwa Kristus telah datang sebagai Terang, namun apakah kita sudah cukup layak menyediakan tempat bagi-Nya? Di antara Kampung Lumut dan Kakor, pertanyaan reflektif itu kini dibawa pulang oleh umat, menjadi bekal untuk menjalani hari-hari mendatang dengan hati yang lebih murni.
Natal di Stasi Kalo; Membasuh Hati dari Debu Kebencian.
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat dan udara sejuk khas pedesaan mulai menyelimuti perbukitan, lonceng gereja di Stasi Kalo berdentang dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar penanda waktu, dentang itu adalah undangan bagi umat di Kampung Purek dan War untuk menjemput sebuah peristiwa iman yang tak terlupakan. Tepat pukul 16.00 WITA, perayaan Ekaristi Malam Natal dimulai. Di tengah kesederhanaan suasana desa, sekitar lebih dari 400 umat berkumpul dengan hati yang penuh rindu. Di sana, telah menanti seorang gembala senior, Pater Hendrik, OFM, yang datang membawa warta sukacita. Sebagaimana dilaporkan oleh Saudara Ran Pranatalion, Seksi Komsos Stasi Kalo, suasana spiritual malam itu terasa begitu intim. Pater Hendrik, dengan gaya yang khas, memilih untuk melepaskan sekat jarak antara altar dan umat dengan menggunakan bahasa Manggarai sepanjang homilinya. Bagi umat di pelosok, mendengar Kabar Gembira dalam bahasa ibu adalah seperti merasakan dekapan Tuhan secara langsung. Pater Hendrik menekankan bahwa Yesus yang lahir di palungan bukanlah sosok yang jauh, melainkan seorang "Tamu Agung" (Meka) yang datang dari Surga khusus untuk mengunjungi mereka. "Leso ho ite mai meka eta mai Surga, mai latang sanggen taung ite ba dai di'ad..." (Hari ini kita kedatangan tamu dari Surga, yang datang membawa kebaikan bagi kita semua...), ucap Pater Hendrik dengan suara yang bergetar penuh kasih. Lebih jauh, pesan Pater Hendrik menyentuh aspek kemanusiaan yang paling mendasar. Ia mengajak seluruh umat Stasi Kalo untuk menjadikan kedatangan "Tamu Agung" ini sebagai momentum pembersihan diri. Natal bukan tentang baju baru, melainkan tentang hati yang baru. Dalam petuahnya yang mendalam, ia meminta umat untuk membuang segala hal yang merusak persaudaraan, "...oke taung toe di'a agu hae ata, iri hati agu ata, porong mai Diha ga pande Nggeluk taung nai dite sanggen taung umat ce stasi Kalo." (Buanglah semua yang tidak baik terhadap sesama, jauhkan iri hati, dan biarlah Dia yang datang menyucikan seluruh hati kita semua umat di Stasi Kalo ini). Mendengar pesan tersebut, keheningan menyelimuti gereja. Banyak umat tertunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari lisan sang gembala. Ada rasa haru yang membuncah ketika menyadari bahwa di stasi kecil ini, Tuhan mau hadir dan menyapa mereka dengan bahasa yang mereka cintai. Perayaan di Stasi Kalo menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Natal tidak diukur dari gemerlap lampu atau megahnya bangunan, melainkan dari ketulusan hati umat yang menyambut Tuhannya. Di bawah pimpinan Pater Hendrik, Natal tahun 2025 di Kalo telah bertransformasi menjadi sebuah "perjamuan suci" di mana kebencian dikalahkan oleh kasih, dan iri hati dibasuh oleh kerendahan hati. Ketika Misa berakhir dan umat melangkah pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan malam pedesaan, mereka tidak lagi berjalan sendiri. Ada cahaya "Tamu Agung" yang kini menyala terang di dalam hati setiap orang yang hadir.
Pesan Keteleladaan dari Sang Gembala.
Apa yang telah ditunjukkan oleh sang gembala umat Pater Andre dan rekan-rekan imam lainnya di Paroki Tentang adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa pelayanan sejati tidak mengenal jarak dan kenyamanan pribadi. Dengan terjangkaunya seluruh stasi, Paroki Tentang telah berhasil menghidupkan hakekat Natal yang inklusif Natal yang menyapa semua orang tanpa terkecuali. Luar biasa. Sebuah teladan yang membuktikan bahwa ketika kasih menjadi dasar, maka kelelahan fisik akan kalah oleh sukacita melihat umat tersenyum menyambut Sang Juru Selamat.
*Frengky Jamento (komsos Paroki Tentang)